Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
PART 19 : MATA MATA


__ADS_3

Medeia menatap kesal wanita itu yang ternyata adalah Cestania putri negara inggris. Medeia memaling kan wajahnya tidak suka dengan tinggkah Cestania yang selalu membuatnya terlihat seperti orang lain seperti sekarang.


"Maaf Medeia, aku hanya bercanda saja"tawa Cestania.


"Kau tahu karakter ku seperti apa, mengapa kau membuat ku kesal sekarang? "Ujar Medeia tidak suka.


"Anggap saja seperti permainan tebak tebak kan, kau seharusnya senang bisa melihat ku sekuat ini bukan? "Ejek Cestania.


"Oh iya, dia adalah adik ipar ku loh"senyum Cestania.


Seketika semburan teh menghiasi wajah Cestania yang tersemyum lembut menjadi senyuman yang suram.


"Uhuk uhuk..... Apa? Adik? Ipar? Siapa? "Bingung Medeia.


"Aku menyukai kakak mu, wajar saja kalau kau belum tahu, ya sudahlah nanti kau tahu juga kok"ujar Cestania menyembunyi kan raut suramnya dengan senyuman palsu.


"Terserah aku tidak peduli dengan apa pun yang penting mencari ibu adalah yang utama"ujar Medeia menekan setiap kalimat.


"Aku mengerti, ingat apa yang ku beri tahu kan pada mu selalu waspada adalah kunci untuk tujuan mu"peringat Cestania.


"Tentu"ujar Medeia meminum tehnya.


Beberapa anggota menatap Medeia tidak suka, merasa seperti ada saingan, tapi Medeia sama sekali tidak mempedulikannya lagian itu sama sekali tidak ada untungnya bagi Medeia.


"Tunggu aku di taman setelah makan, aku akan kembali secepat mungkin"ujar Cestania yang tiba tiba bangkit dan meninggal kan Medeia dan teman temannya.


Medeia mengangguk saja, setelah Cestania pergi suasana menjadi sunyi hanya ada suara sendok dan garpu yang saling bertabrakan.


Setelah selesai makan Medeia membungkuk lalu pergi dari tempat yang tidak ada tanda kehidupannya itu. Medeia menyandar kan punggungnya di tembok bangunan bermotif kan bunga itu.


Lainnya tengah sibuk memetik berbagai bunga untuk di buat menjadi karya, ketika Medeia asik melihat mereka sibuk bertengkar merebut kan bunga Medeia tiba tiba di sambut dengan sayatan pedang yang hampir mengenainya.


Medeia menghindari sayatan itu dengan santai, Medeia melepas kekuatannya ke arah pohon rindang hingga pohon itu ambruk ke tanah.


"Begini kah temperamen anggota inti group kalian? Tuan Siko? "Ujar Medeia menatap tajam Siko yang juga menatapnya dengan tajam.


"Ada hubungan apa kau dengan wakil ketua? "Dingin Siko.


"Hanya sebatas teman, memangnya kenapa? Ada masalah apa kau sampai melaku kan hal seperti ini pada orang yang dia kenal? "Santai Medeia.


"Jangan berbohong, aku dengar dia memanggil mu dengan adik ipar? Pasti ini ada hubungannya dengan kakak mu?! "Ketus Siko.


"Terlalu berlebihan, aku dengannya hanya sebatas teman, oh iya kau harus lebih teliti lagi, sebelum kau melaku kan hal seperti ini kau harus memasti kan apa benar lawan yang kau lawan saat ini memiliki kakak lelaki atau tidak, jika tidak bukan kah kau yang akan terbukti salah? "


"Jangan terlalu gegabah tuan Siko"dingin Medeia.


"Sebelumnya aku tidak mendengar kalau keluarga bangsawan Beliard memiliki keturunan lelaki, maaf atas kecerobohan ku"ujar Siko yang meminta maaf.


"Lupakan saja, kita ini sudah termaksud anggota jika baru pertama kali bertemu dan memiliki hubungan yang tidak baik maka itu akan semakin sulit untuk kedepannya"ujar Medeia menasehati.


"Saya akan mendengar nasehat anda"sopan Siko.


"Hah.... Tidak asik, ku kira akan ada pertunjuk kan yang menarik tahu tahunya malah berdamai deh"murung Cestania.


"Sudah ku duga ini ide busuk mu"kesal Medeia menatap tajam Cestania.


"Maaf, hehehe aku tadi mendapat info bahwa ada mata mata yang masuk ke lawasan kita sebaiknya kita sedikit berhati hati untuk ini, hei Siko kau katakan pada anggota lain untuk waspada selalu"perintah Cestania.


"Untuk saat ini sebaiknya jangan ada yang bertindak gegabah, ingat lakukan semuanya seperti biasa jangan sampai memberi celah untuknya menyadari kelakuan kita"ujar Medeia menepuk pundak Cestania.


".... "


"Medeia mari kembali ke ruangan"ajak Chaiden menarik lengan Medeja menjauh.


"Menarik"batin seseorang.


Setelah sampai di ruangan Medeia duduk diam memikir kan solusi untuk masalah yang baru datang menyerang organisasi ini, apakah perlu anggota Royal untuk turun tangan?


"Medeia! Coba lihat karangan bunga yang aku buat kan untuk mu, cantik tidak? "Senang Medusa.


"Ck, ratu paling suka dengan bunga Meriygold untuk apa kau mengarang bunga mawar biru itu? "Ejek Eva.


"Aku ini sampai merelakan tangan indah ku tertusuk durinya hanya untuk membuat karangan bunga untuk sahabat ku"ujar Medusa memelas.


Medeia mengerut kan dahinya pusing, di saat ia sibuk memikir kan rencana ada saja gangguan dari kedua orang ini.


"Semuanya terlihat bagus, kalian letak kan saja di atas meja lalu keluarlah"perintah Medeia dengan nada dingin.

__ADS_1


"Ingat untuk posting di cerita Wechat yah"ujar Medusa mengingat kan.


"Dia ini terlalu cepat memahami dan beradaptasi dengan lingkungan baru, hanya beberapa hari saja sudah mulai mengguna kan teknologi bagaimana untuk seterusnya? "Geleng Medeia.


Baru saja kedua orang itu keluar sesuatu yang baru kembali mengusik Medeia yang akhirnya naik darah.


"Aku tidak suka kau terus mengganggu Medeia! Sebaiknya kau menjauh saja sana"usir Cahiden.


"Aku sudah janjian dengan Medeia, dia mengundang ku untuk makan makanan buatannya hari ini! "Kesal Kelvin.


"Lalu kenapa? Dia tidak akan keberatan kalau aku bergabung"kesal Chaiden.


"Kalian!!! Untuk hari ini semuanya tidak ada makan buatan ku!!! "Kesal Medeia memukul meja dengan keras hingga ambruk.


"KELUAR DARI RUANGAN KU! SEKARANG JUGA!!! "TERIAK MEDEIA.


"Baik ratu"kompak Chaiden dan Kelvin.


"Ini gara gara kau, ku peringati kau untuk menjauhinnya"perintah Chaiden.


"Heh? Menjauh kau bilang? Mimpi, bagaimana kalau kita bersaing dengan normal? Jika kau bisa memenang kan hatinya maka aku akan menyerah jika aku memenang kan hatinya maka kau harus berjanji untuk tidak mengusik ku dengannya"ujar Kelvin membuat kesepakatan.


"Oke, mari kita lihat siapa di antara kita yang akan menang"remeh Chaiden.


"Tentu, mari kita tunggu"ujar Kelvin tersenyum licik.


Keesok kan harinya setelah Medeia selesai mandi ia turun dan menemui para anggota lainnya yang tengah makan bersama.


"Jadi dia yang kau kata kan Cestania? "Dingin Exel.


"Benar, dia orang yang penting bagi ku, bantu aku menjaganya selama aku bertugas di daerah selatan markas kita"ujar Cestania.


"Heh..... Tidak semudah itu, kita lihat sampai di mana dia akan bertahan dengan serangan ku nantinya"ujar Exel berdiri dan meninggal kan ruang makan setelah Medeia duduk bersama dengan teman temannya.


"Selamat datang Medeia, senang bekerja sama dengan mu"senang Askar ketua organisasi.


"Begitu pula dengan saya, tidak perlu memperlaku kan saya begitu berbeda, saya adalah anggota maka perlakukanlah seperti anda memperlaku kan anggota lainnya"ujar Medeia.


"Tentu, di mana Exel? Mengapa tidak datang menyambut anggota baru kita? "Kesal Askar.


"Sifatnya terlalu keras kepala! Jika dia terus melaku kan segalanya sesuka hatinya mungkin anda harus mempertimbangkannya lagi ketua"protes Reina.


"Kalau begitu, anda tidak perlu memikirkannya dia memang keras kepala, tapi selama dia patuh dan tidak membahaya kan organisasi maka tidak ada yang perlu di khawatir kan"ujar Cestania angkat bicara.


"Yang di kata kan wakil ketua memang tidak ada salahnya"bela Siko.


"Kau.... Ya sudahlah, keberadaan ku sepertinya tidak lagi di anggap ada yah"marah Reina.


"Nona Reina bukan seperti itu, menurut saya anda juga ada benarnya dan pendapat dari wakil ketua juga tidak sepenuhnya salah, maka dari itu saya meminta izin untuk berbicara soal pendapat saya, ketua"ujar Medeia.


"Tentu, silahkan"ujar Askar mempersilah kan.


"Sifat keras kepalanya memang terlalu menjengkel kan tapi kemampuannya sebanding dengan sifatnya, untuk mengatasi ini maka kita perlu memahami karakternya seperti apa dengan begitu mungkin akan memperingan dan mempernyaman dirinya untuk berada di sini"ujar Medeia.


Terlihat bahwa Askar tampak puas dengan masuk kan dari Medeia yang juga menyelesai kan kesalah pahaman Reina.


"Bagimana pendapat mu tentang mata mata dari lawan? "Ujar Askar penasaran dengan pendapat Medeia.


"Jangan khawatir, mereka tidak akan membocor kan informasi dari kita, mereka hanya bereaksi di malam hari tepat di tengah malam untuk menyelidiki indentitas setiap anggota inti, malam ini saya melihatnya"


"Saya tidak bertindak apa pun karena takut mereka akan semakin curiga dan waspada, biar kan mereka senang dengan informasi palsu yang mereka dapat kan setelah peperangan di mulai beri kan mereka kejutan"ujar Medeia menyandar kan dirinya di kursi.


"Hebat sekali, bersikap tenang adalah yang paling ampuh untuk menyerang balik musuh"puas Askar menepuk tangan dengan gembira.


"Saya mengaku kalah untuk bersaing dengan anda nona Medeia"pasrah Siko.


"Saya sama sekali tidak ingin mengundang keributan, sudah saya kata kan pada awalnya bukan? Oh iya saya tidak suka mengulang perkataan yang sebelumnya saya ucap kan jadi dengarkanlah dengan baik"peringat Medeia.


"Sudahlah, kita sedang sarapan kenapa malah rapat dewan sih? "Kesal Cestania.


"Haish.... Kau ini, ya sudahlah..... Mari makan "ajak Askar.


"Dengan senang hati"ujar mereka semua bersamaan.


Setelah selesai makan Medeia di ajak oleh Cestania untuk melihat harta berharga di organisasi mereka tapi malah di halangi oleh Exel.


"Kenapa kau membawa orang asing untuk melihat batu itu? Ingat situasi markas saat ini masih belum aman"halang Exel.

__ADS_1


"Kau berani melawan ku? "Kesal Cestania.


"Jangan bertindak ceroboh Cestania"lembut Exel.


"Hal ini tidak ada hubungannya dengan mu! Jika aku ingin membawa Medeia melihatnya yah aku akan membawanya lagian dia adalah kenalan ku! "Ketus Cestania.


"Bukan berarti kalau dia kenalan mu kau bebas membawanya sesuka hati mu seperti semuanya ada di bawah kendali mu! "Sarkas Exel.


"Aku tau kau adalah penjaga dari ruangan penyimpanan batu itu, tapi aku memiliki akses untuk datang dan mengendali kan kekuatannya yang meluap"ujar Cestania menahan emosinya.


"Cukup! Aku tidak akan melihat batu itu jika kau keberatan! Lagian cepat atau lambat batu itu akan jatuh ke tangan ku"ujar Medeia menaik kan nada suaranya.


"Jika kau ingin mengambilnya maka kau harus berhadapan dengan ku, bukti kan jika kau memang mampu untuk menjadi tuan dari batu ini maka akh juga akan ikut tunduk, bukti kan di peperangan nanti"tantang Exel.


"Tentu"setuju Medeia.


"Medeia, apa kau yakin? "Khawatir Cestania.


"Aku tau apa yang harus ku lakukan dan tidak harus aku lakukan"ujar Medeia meyakin kan Cestania.


"Baiklah, ingat untuk terus berhati hati"peringat Cestania.


Melihat kedekatan Cestania dan medeia membuat Exel memanas, ia tau Cestania akan meninggal kan tempat ini cepat atau lambat, karena dia di takdir kan untuk melindungi dan menjaga Medeia.


Setelah perdebatan itu Medeia memutus kan untuk ke taman melurus kan pikirannya yang tengah kacau balau karena kejadian tadi.


"Tidak lama lagi, waktunya mulai dekat"ujar Medeia duduk di bawah kerindangan pohon yang ada di tengah tengah taman.


"Kenapa kau ada di sini? "Ujar Chaiden yang duduk di atas batang pohon itu.


"Melurus kan pikiran saja"ujar Medeia.


"Semuanya akan berjalan dengan lancar, aku akan membantu mu menyelesai kan masalah mu hingga selesai, bahkan dengan nyawa pun tidak masalah"ujar Chaiden tersenyum tulus.


"Tidak perlu, aku tidak membutuh kan perlindungan mu"dingin Medeia.


"Benar kah? Lalu mengapa kau membawa ku untuk bergabung ke dalam urusan mu ini? "Tanya Chaiden.


"Aku tidak mau kalian di salah gunakan oleh pihak lain yang memiliki niat buruk, jika itu terjadi maka dunia manusia ini ada kemungkinan akan hancur"ujar Medeia menghela nafas.


"What? Apa kalian sedang kencan? "Ujar Cestania yang tiba tiba muncul di hadapan Medeia.


"Ada apa kau datang kemari lagi? Apa ada masalah? "Ujar Medeia.


"Benar, ada berita baik dan buruk untuk mu"ujar Cestania dengan senyuman manisnya.


"Jangan berfikir aneh aneh"kesal Medeia.


"Katakan apa yang ingin kau katakan! "Lanjut Medeia.


Cestania menarik nafas dengan dalam berusaha menenang kan dirinya sendiri lalu kembali menatap Medeia dengan tatapan sedikit mempertimbang kan keputusannya.


"Oke aku rasa kau memang pamtas mengetahuinya"ujar Cestania menghela nafas.


"Katakan dengan cepat"kesal Medeia.


"Oke, yang mana yang ingin kau dengar dulu? "Tanya Cestania.


"Berita buruk"ujar Medeia.


"Oke, berita buruknya perhitungan ku ternyata salah, bulan purnama itu akan muncul tepat saat kita nanti perang dan batu itu hehehe sedikit retak, maaf"ujar Cestania menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Berita baik"ujar Medeia.


"Baiknya adalah ketua juga turun tangan untuk membantu kita dalam peperangan kali ini jadi kita bisa memanfaat kan momen ini untuk melakukannya sesuai dengan rencana bukan? "Senang Cestania.


"Soal retakannya tidaklah masalah yang masalah itu terletak di Exel"ujar Medeia.


"Benar, aku berfikir dia sama sekali tidak berada di pihak mana pun sejak awal dan ada kemungkinan dia juga bagian dari rencana ketua bukan? Kau ingat saat makan malam itu? Ketua membelannya"kesal Cestania.


"Jika kau memiliki pemikiran yang sama dengan ku, maka lakukan apa yang ssedang kau pikir kan sekarang"perintah Medeia.


"Tenang saja semuanya akan berada dalam kendali ku, drama akan segera di mulai"senyuman licik Cestania membuat Medeia berkidik ngeri.


Biasanya jika Cestania sudah turun tangan pasti akan ada pertunjuk kan dan akan adada yang menjadi kambing hitam.


Bagaimana pun ini semua juga termaksud rencana untuk menghancur kan koneksi hubungan organisasi ini dan organisasi Royal milik Medeia.

__ADS_1


Pertunjuk kan akan segera di mulai


__ADS_2