
...~~~...
Mentari telah tergantikan dengan rembulan, hembusan angin malam yang lembut menyapa seorang gadis membuat gadis itu hampir terlelap jika saja suara seseorang tidak menganggu indra pendengarannya.
"Zilian! Apa kau sudah bersiap? Ingat besok kita akan berangkat, kenapa kau malah ada disini sudah kubilangkan udaranya semakin lama semakin dingin? Kau bisa sakit nanti" ujarnya disertai ocehannya yang ternyata itu adalah Brant.
Brant terduduk lemas diatas padang rumput yang dimana ada Zilian disana terbaring menikmati suasana malam yang tenang dan damai.
Gadis itu hanya memberi tanda dengan jarinya menandakan semuanya telah ia lakukan tanpa ada kesalahan sedikitpun.
Gadis itu adalah Zilian, Zilian baru saja akan menutup matanya di kamarnya hanya saja sesuatu menganggu pikirannya dan berakhirlah Zilian kembali ketaman sekedar untuk mencari ketenangan batin.
"Kenapa kau ada disini? "Tanya Brant tidak habis pikir dengan Zilian.
"Hanya ingin saja" balas Zilian santai.
Brant mengeleng pelan lalu ikut berbaring disebelah Zilian, tatapannya menatap kearah bulan yang ditemani dengan hamburan ribuan bintang di langit malam yang gelap.
Senyuman manis terukir diwajah tampan Brant yang begitu terlihat lembut dan penuh kasih sayang, pria itu tampak puas dan menikmati waktunya sampai pada akhirnya pria itu menatap kesamping tepatnya kearah Zilian yang masih setia menutup matanya sejak kedatangannya kemari.
"Apa kau siap menerima resiko apapun mulai saat ini? "Tanya Brant, ia terus menatap Zilian yang memasang wajah datarnya.
Gadis pemilik rambut putih panjang itu akhirnya membuka matanya, terlihat jelas dari tatapan yang gadis itu pancarkan terlihat begitu kosong saat menatap langit malam.
"Entahlah, aku hanya akan bertindak sesuai situasi saja lagi pula tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya, persiapkan saja" ujar Zilian tanpa ada reaksi apapun yang ia tunjukan.
"Bagaimana jika kelak aku mati, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan menerimanya atau malah melakukan sesuatu untuk itu? "Tanya Brant, entah kenapa pertanyaan itu lolos dari bibirnya yang menggoda.
"Aneh, tidak ada orang yang mendo'akan dirinya sendiri untuk mati seperti itu kecuali kau" ujar Zilian berbalik menatap kearah Brant yang sama menatap kearahnya dengan pandangan yang rumit.
Mata keduanya saling bertegur sapa satu sama lain, tampak jelas keduanya mencoba mencari kebenaran dibalik tatapan mereka masing masing.
Brant terkekeh pelan, Zilian satu satunya wanita yang berhasil mengukir senyum diwajah tampannya sejak ia datang kehutan ini, yah hanya Zilian bahkan sejak ia masih berada di tempat lamanya tidak ada satupun wanita yang membuatnya tersenyum.
"Apa kau sedang mencemaskanku? "Ujar Brant memutuskan kontak mata begitu pula dengan Zilian yang menatap kearah langit.
"Huh, siapa yang mencemaskanmu? "Kesal Zilian, pria disampingnya memang sesuatu pikirnya.
"Kita terhubung, Zilian" ujar Brant berusaha menahan tawa.
"Ck, baiklah kau menang sekarang" ujar Zilian kembali menutup matanya rapat.
"Meski aku pergi jauh suatu saat nanti kuharap kau bersikap tak pernah mengenalku, mungkin saja ada banyak hal pahit yang menunggu kedepannya salah satunya kematian yang tidak akan pernah berubah, dia akan selalu menemani dimana pun kita berada" ujar Brant mengepal erat tangannya, ramalan itu kembali mengingatkan dirinya akan takdir yang akan ia alami bersama dengan Zilian, tapi ia memilih untuk diam saja lebih baik hanya dirinya yang tahu jangan Zilian.
Zilian tak berkutik, apa yang Brant katakan memang benar adanya, kematian akan selalu menemani setiap mahluk hidup, siap atau tidak, mau atau tidak, bahkan yang terparah adalah disaat kematian itu merengut nyawa seseorang dihadapan matamu terlebih dia adalah orang yang kita sayangi, yah kesiapan antara dua belah pihak antara yang pergi dan yang dekat dengan yang akan pergi, Zilian tidak berani membayangkannya, biarlah semuanya berjalan menyesuaikan alurnya.
Brant tersenyum tipis sangat tipis mungkin hanya dirinya yang tahu dengan apa yang ia lakukan.
"Di dunia ini tidak ada hal menyenangkan yang bersifat abadi semua akan menghampiri kesedihan, rasa sakit, dan juga dapat memicu rasa ingin membunuh yang di sebabkan oleh rasa sakit dan dendam itu sendiri, aku hanya berharap kau dapat menerima apapun yang akan terjadi kedepannya jangan membuat dirimu sendiri tertekan" ujar Brant, tersirat nada sedih didalamnya.
"Berhentilah mengatakan hal yang belum terjadi jika kau ingin mengatakannya setidaknya katakanlah hal hal yang positif kenapa kau mengatakan hal negatif begitu? Belum tentu juga itu akan terjadi" kesal Zilian.
Zilian bangkit dan terduduk menatap kesal kearah Brant yang menatapnya lembut.
"Jika apa yang kau katakan akan terjadi maka aku Zilian, aku sendirilah yang akan mengubah takdir itu bahkan jika menentang peraturan yang ada aku akan tetap melakukannya bagiku kau telah menjadi bagian dari orang yang masuk ke dalam daftar untuk ku lindungi" batin Zilian tegas.
"Bagaimana jika itu terjadi? "Tanya Brant yang ikut terduduk.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi aku akan mencobanya tapi maukah kau berjanji satu hal padaku? Bisakah kau tetap hidup? "Ujar Zilian mengembungkan kedua pipinya saat melihat Brant menutup wajahnya.
"Hey! "Teriak Zilian saat Brant menertawai dirinya.
"Semua orang akan mati, kata abadi itu memang ada tapi tetap saja meski dia abadi dia tetap akan merasakan kematian walau pada akhirnya dia akan di bangkitkan kembali setelah waktunya, alam tidak membiarkan ketidakseimbangan terjadi dialam semesta" ujar Brant sendu.
"Bisakah kau berjanji saja? "Ujar Zilian mulai tidak tahan dengan jawaban Brant, jika begini terus Zilian pastikan emosinya akan segera meledak.
Brant menghela nafas sejenak lalu kembali menatap rembulan yang tengah menyebarkan sinarnya kepada apa yang ada dibawahnya, menjalankan tugasnya menyinari suasana gelap menggantikan sang mentari.
"Yah aku akan tetap hidup dan berusaha tetap berdiri disampingmu, melindungi patner pertamaku. Bagaimana apakau puas sekarang? "Ujar Brant tersenyum kearah Zilian yang mengangguk puas.
"Tetap saja kau harus tetap hidup untuk bertemu dengan tuan brengsekmu itu! Lihat saja jika aku menemukannya akan kubuat dia meminta maaf padamu, jika perlu akan kubuat dia berlutut" ujar Zilian antusias.
"Kau yakin? Dia orang terkuat disini bisa dibilang dia tak terkalahkan" ujar Brant menatap Zilian yang tampak berfikir sesaat setelahnya menganggkat dagunya angkuh.
"Sekuat apapun dia pasti memiliki kelemahan, kau tunggulah hingga saat itu" ujar Zilian mengedipkan matanya gemas.
"Tunggu dia hingga tua maka kau akan ligat betapa hebatnya aku nanti" batin Zilian tersenyum licik.
"Tentu saja, aku akan menunggunya bersamamu" balas Brant tak kalah antusiasnya.
"Hey, apa kau mau melihat wujud asliku? "Tanya Zilian mendadak, ingin rasanya Zilian mengatakan yang sebenarnya tapi entah kenapa juga ia merasa harus menahannya sebentar lagi.
"Kau tidak keberatan? "Tanya Brant terkejut.
"Tentu saja" ujar Zilian bangga, ia bangkit lalu berdiri memainkan jari jemarinya.
Sebuah sinar putih mengelilingi tubuh Zilian, cahaya itu semakin lama semakin pekat hingga beberapa saat setelahnya cahaya itu memudar menyisakan seekor rubah berbulu putih bersih dengan sembilan ekor yang tengah melambai lambai kearah Brant.
Brant mengangga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, selain baru pertama melihat Zilian juga miliki aurah yang begitu memikat selain dari penampilannya bulunya yang lembut membuat Brant mau tidak mau menerima tekanan itu.
"Bagaimana, cantik tidak? "Ujar Zilian menyugingkan senyuman, dengan langkah cepat Zilian melompat ke pangkuan Brant lalu duduk dengan nyamannya.
"Apa boleh ku elus? "Tanya Brant masih dengan wajah kagumnya.
"Tentu saja" jawab Zilian antusias.
Brant yang sedari tadi memang penasaran langsung saja mengelus bulu Zilian yang halus dan lembut itu membuat siapapun ingin terus mengelusnya, itulah yang Brant rasakan.
"Kau ini siluman apa? "Tanya Brant, tangannya tak henti henti mengelus kepala Zilian, Brant bahkan memainkan ekor juga kupingnya.
"Rubah itu sebutan untukku, tunggu kau belum pernah lihat? Memangnya disini tidak ada yah? "Ujar Zilian menatap Brant tidak percaya.
Apa benar hanya dia satu satunya? Atau mungkin wujudnya ini memang tidak pernah ada?
"Tidak ada, ini pertamakalinya aku melihat" ujar Brant mengelengkan kepalanya.
"Apakah bisa besok menggunakan tubuh ini saja? Ini lebih ringan" pinta Zilian.
"sebaiknya tubuh manusia saja jika kau menggunakan wujudmu saat ini itu akan menarik perhatian orang orang" ujar Brant menganggkat kedua bahunya.
"Ya, sudah" ujar Zilian patuh, bagaimanapun dia belum mengenal dunia ini secara keseluruhan lebih baik menghindari masalah sekecil apapun dari pada mengabaikannya dan malah menjadi masalah yang bisa saja menghancurkannya kelak.
Brant mengangguk saja, dia sibuk mengagumi wujud Zilian yang begitu menarik, terlalu indah dan nyaman untuk dilepaskan dan terlalu rugi jika tak dinikmati.
Yakin, Brant sangat yakin jika Zilian pergi menggunakan wujud rubahnya semua orang pasti akan mengaguminya hingga lupa diri.
__ADS_1
"Pria ini benar benar tampan, heh beruntung sekali dia menjadi patnerku" batin Zilian bangga pada dirinya sendiri.
Brant bangkit dari posisi duduknya sambil membawa Zilian memasuki gubuk didalam gendongannya.
Masih dengan tangan yang setia mengelus kepala Zilian manja.
"Angin mulai kencang jangan sampai kau sakit" ujar Brant saat telah masuk ke dalam gubuk bak istana miliknya.
"Terserah kau saja" balas Zilian santai, begitu nyaman rasanya dielus pria tampan seperti Brant hingga membuat Zilian sendiri malas untuk meninggalkan Brant.
Brant menurunkan Zilian saat sampai didepan pintu kamar Zilian, itupun Zilian terlihat lesuh tak bersemangat ketika turun.
"Jangan lupa cek barang yang ingin dibawa jangan sampai melupakan sesuatu, ingat untuk beristirahat dengan baik" peringat Brant mengelus kepala Zilian yang telah berubah kewujud manusianya.
Sebelum Zilian memasuki kamarnya ia berbalik lalu tersenyum manis kearah Brant tidak lupa Zilian dengan kelakuan nakalnya melayangkan ciuman dari jauh setelahnya menutup pintu kamar.
Brant mengelengkan kepalanya sambil tersenyum manis, bohong jika dia tidak malu bagaimanapun Brant itu pria normal berbeda dengan tuannya yang sedigin es itu, Brant pribadi yang hangat dan lembut jadi wajar saja bukan?
"Sadarlah, Brant. Gadis itu adalah takdir dunia ini, jangan merebutnya dari takdir yang telah menunggunya setelah sekian lamanya ia menunggu kedatangannya" Batin Brant menghela nafas berat.
Zilian bagaikan angin dingin yang berhembus dilangit nan sunyi tanpa di temani sosok rembulan dan bintang.
Dia yang bebas, dia yang tidak dapat digenggam dan dikendalikan pada akhirnya tidak akan ada yang dapat mempermainkannya dan juga tidak dapat dianggap remeh oleh siapapun.
Kalian tahu apa sebabnya? Kenapa angin yang terdengar begitu sederhana ini dan sering kali dianggap remeh oleh orang orang tidak sekalipun dari mereka yang mampu mengendalikan bahkan mengenggamnya pun sulit padahal mereka sendiri bilang angin tidak ada apa apanya?
"Dia selalu bebas" ujar Brant menatap ke arah pintu kamar Zilian tampaknya Brant masih betah menatap pintu kamar Zilian.
"Meski dia bersifat bebas tetap saja karena rasa bebas itu juga membuatnya merasa kesepian karena tak seorangpun yang dapat mengendalikannya, sama persis dengan kepribadian Zilian terlihat begitu ceria tapi disaat yang bersamaan terlihat begitu kosong" gumam Brant membalikkan badannya berlalu dari sana.
Brant tahu betul setiap sifat yang mendasar dari seseorang yang ia ajak berbicara, Brant juga peka akan lingkungannya dan terlalu sering mengkhawatirkan sekelilingnya.
Itulah Brant, pria yang selalu membawa cahaya bagi orang orang yang terperangkap dalam kegelapan satu satunya keturunan murni para bangsa Elf.
Menyatu dengan alam, merasakan kehadiran setiap mahluk hidup yang berada di atas tanah, memahami sifat dan wujud yang ada disana.
Asal kalian tahu Brant adalah perwujudan murni dari alam dan menerima berkat dari alam itu sendiri jadi tidak heran jika dia menjadi incaran para penyihir, selain dirinya yang paham betul akan alam bakatnya melihat masa depan tentu saja menjadi keinginan terbesar para penyihir itu untuk mewujudkan rencana mereka.
Brant juga tahu betul bagaimana kelemahan setiap element yang ada, sihir juga termaksud didalamnya, kecerdasannya memang berkat tapi karena itu juga mengundang malapetaka untuk dirinya, bangsa dan dunia ini.
Jika saja dia tidak terlahir mungkin dunia ini bisa tenang tapi takdir berkata lain, Brant terlahir dengan banyak bakat membuat para penyihir iri sekaligus ingin memanfaatkan Brant agar mencapai tujuan mereka.
Berat bukan? Brant sendiri tidak mau hidup seperti ini jika memilih Brant ingin mati saja sayang sekali dia harus membuang pemikiran itu jauh jauh karena itu tidak mungkin, rohnya terikat pada dunia ini untuk tidak menghilang sampai tujuan yang sebenarnya tercapai.
Brant bersyukur ia masih hidup sekarang, senang bertemu dengan Zilian dan tentu saja ia senang jika dunia dimana dia terlahir akan baik baik saja.
"Jangan membuat gadis itu kesulitan dan kumohon berilah dia kebebasan yang dia inginkan jangan engkau ikat dirinya dalam belenggu dimana dia merasa tak seorangpun yang mempedulikan perasaannya" ujar Brant didalam ruang kerjanya yang tidak lain adalah tempat dimana para ramuan ditempatkan.
Tanpa Brant sadari Zilian mendengar semuanya bahkan merasakan perasaan tulus pria itu, air mata berhasil lolos dari pelupuk mata Zilian.
Dengan perasaan sedih Zilian kembali kekamarnya menggunakan portal sama saat dia datang kemari.
"Terimakasih"
Hanya itu yang dapat Zilian ungkapkan, hatinya menghangat saat tahu Brant benar benar tulus padanya.
"Aku lega kau adalah orang pertama yang tahu tentang diriku, terimakasih telah melakukannya untukku, Brant. Aku berjanji akan membantumu menyelesaikan masalah bagaimanapun caranya" batin Zilian bertekad.
__ADS_1
Berlanjutttt....