Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
PART 18 : HAL YANG TAK TERDUGA


__ADS_3

Waktu yang di tunggu pun telah tiba, Medeia dan yang lainnya bersiap untuk pergi ke organisasi itu, mereka mengirim beberapa orang kepercayaan mereka untuk mengawalnya sampai ke organisasinya.


Siapa yang menyangka kalau tempat yang mereka tinggali itu adalah bagian dari istana, Medeia mengerut kan alisnya, apa mungkin ia tau kalau dialah yang membuatnya pinsan saat pesta itu?


"Silah kan ikuti kami"ujar orang yang mengawal mereka.


Mereka berjalan mengikuti orang itu hingga ia sampai di suatu ruangan yang di mana mereka di sambut dengan meriah, tentu saja ia melihat sosok yang ia benci ini.


"Hallo, selamat datang nona Medeia"sapa Felix.


"Ya"singkat Medeia.


"Seperti biasa, kau sama sekali tidak menarik"ejek Felix.


"Aku tidak suka keramaian"ujar Medeia dengan nada dingin.


"Maaf, aku wakil ketua datang untuk menyambut anda, maaf atas ke tidak sopanan ketua group kami"sopan wanita itu.


"Tidak perlu, aku tidak membutuh kan sambutan seprti ini"dingin Medeia.


"Ikuti aku"datar wanita itu.


"Wakil ketua sendiri yang keluar untuk menyambutnya? Menarik juga, siapa yang sangka wakil ketua yang di segani dan jarang mengekspos diri ini datang ke acara yang tidak ia sukai ini, siapa sebenarnya dia? "Ujar Felix.


"Kau sebaiknya berhati hati dengan kami"peringat Kelvin lalu pergi meninggal kan Felix yang tersenyum licik ke arahnya.


Wanita itu segera membuka kan pintu ruangan khusus untuk Medeia dan orangnya tinggali nantinya.


"Mulai kedepannya ruangan ini milik mu dan orang orang mu, ingat tempat ini tidak aman untuk mu, segera selesai kan tujuan mu lalu pergilah"ujar wanita itu yang ternyata hanyalah ilusi.


"Apa maksud orang itu? "Bingung Rika.


"Jika dia berani menyentuh Medeia, akan ku pastikan seluruh orang yang dari group ini akan rata dengan tanah"dingin Medusa.


"Sudahlah, aku merasa dia bukan lawan, tapi ingat tetaplah waspada"peringat Medeia.


"Jadi bagaimana dengan orang orang kita? "Tanya Eva.


"Aku tidak akan mengguna kan mereka untuk hal sekecil ini, biar kan Kelvin dan Lucas yang menyelesai kan tugas ini, besok aku dan Medusa akan mencari keberadaan batu kuno itu"ujar Medeia.


"Yah, lebih baik aku sekelompok dengan sahabat ku sendiri"senang Medusa.


"Jangan pikir aku tidak tau karakter mu"ujar Medeia.


"Sudahlah, ayo bermalas malasan, kita tunggu mereka berdua datang baru membuat rencana"ujar Rika.


"Aku akan keluar, kalian tunggu aku di sini, ingat jangan keluar dari ruangan ini apa pun yang terjadi"ujar Medeia berjalan keluar.


"Kau kembali lah secepat mungkin kalau tidak aku akan keluar dan membuat keributan! "Teriak Medusa.


"Kau tenanglah"ujar Medeia berlalu keluar dari ruangan.


Medeia berjalan menelusuri setiap ruangan mencari taman untuk bersantai, ia tidak suka bergabung dengan orang orang yang lumayan membuat kupinya hampir meledak.


"Udara di sini cukup sejuk"ujar Medeia duduk di atas pohon, menatap bulan dan bintang yang bersinar di malam hari.


".... "


Seseorang tengah mengintai Medeia yang masih belum menyadark keberadaan wanita itu. Wanita itu ingin sekali untuk mendekatinya tapi terasa ada penghalang yang membatasi mereka seolah olah sulit untuk mendekatinya.


"Apa yang kau lakukan di sini? "


Tiba tiba Kelvin datang dan bergabung dengan aktivitas Medeia, Medeia sama sekali tidak bergeming, justru air matalah yang mengalir di pipi Medeia.


Ada rasa sakit yang tak tertahan kan yang Medeia rasa kan, ia terkadang bingung dengan keadaan yang sama sekali tidak ia kenali.


Siapakah diri ku? Apa yang telah ku lupakan? Untuk apa aku melakukan hal merepot kan seprti ini? Terkadang itulah yang selalu yang ada di dalam pemikiran medeia.


"apa kah suatu saat nanti aku akan kehilangan kalian semua? "Ujar Medeia.


Kelvin yang mendengar itu mengeleng kan kepalanya, ia menyentuh rambut Medeia sembari menghapus air mata Medeia.


"Di setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, kita harus belajar untuk melela kan segalanya untuk ambisi kita, suatu saat nanti apa yang kau kata kan mungkin juga terjadi tapi ku harap itu tidak akan pernah terjadi"ujar Kelvin menenag kan Medeia.


"Apa kau pernah merasa kan kehilangan orang yang kau sayangi atau kau cintai? "Ujar Medeia dengan nada merendah.


"Tidak tau, aku tidak tau apa itu perasaan, tapi saat aku mengenal mu aku mulai merasa sedikit nyaman"ujar Kelvin berterus terang.


"Aku takut kalian semua akan menghilang karena aku ada, entah dari mana aku merasa kan perasaan kurang mengenak kan ini, aku merasa ada ingatan yang hilang tapi tidak tau apa itu"ujar Medeia menatap Kelvin.


"Ternyata kau juga merasa kannya, apa kau ada hubungannya dengan klan suku kuno itu? "Tanya Kelvin sembari menebak nebak.


"Entahlah"senyuman tipis terukir si wajah Medeia yang tengah menatap bulan dengan tatapan sedihnya.

__ADS_1


Disisi lain seseorang menatap mereka dengan sedih, ia memegangi dadanya, ada rasa sakit yang entah datang dari mana, padahal ia tidak pernah merasa kan ini sebelumnya.


Wanita yang mengintai Medeia dari tadi berusaha memahami situasi, ia hanya menatap Medeia dengan penuh harapan, semoga saja orang yang ia cari adalah Medeia sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Keesok kan harinya Medeia terbangun, ia mengingat apa yang terjadi kemarin malam dengan sangat jelas. Ia tidak menyangka akan mencerita kan apa yang ia khawatir kan dengan orang lain semudah itu.


Eva mengetuk kamar Medeia lalu membukannya setelah mendapat perintah dari Medeia untuk masuk. Eva menatap Medeia yang masih terduduk diam dengan tatapan kosong.


"Maaf mengganggu anda ratu"ujar Eva menyadar kan Medeia dari lamunannya.


"Ada apa? "Tanya Medeia.


"Wakil ketua dari group ini mengundang anda untuk meminum teh pagi"ujar Eva khawatir.


"Kata kan aku akan datang"perintah Medeia.


"Anda menerimanya dengan mudah seperti ini? Bagaimana kalau di memiliki niat jahat? "Eva mengerut kan keningnya ia berharap Medeia menolaknya tapi sayang Medeia tetap ingin pergi.


Medeia tersenyum tipis, ia berusaha meyakin kan Eva yang setiap saat mengkhawatirkannya. Sejujurnya Medeia senang Eva menghawatirkannya tapi ia juga merasa kekhawatirannya ini hanya akan membawa sakit yang tiada bertepi.


"Aku akan memastikan semuanya dengan cara mendekatinya dulu, kau tenanglah aku bisa menjaga diri dengan baik"ujar Medeia meyakin kan Eva.


"Tidak! Ku mohon biar kan aku juga ikut menemani mu"ujar Eva.


"Saya bersedia menerima hukuman apa pun, asal kan saya sudah bisa memasti kan kalau anda kembali dengan selamat"ujar Eva bersikeras.


"Kalau begitu kembalilah ke klan dan jangan pernah mengikuti ku untuk selamanya, kau pilihlah itu dengan baik"ujar Medeia menekan Eva.


Eva merasa Medeia berubah dalam semalam, biasanya Medeia akan membawanya bersama apa pun itu, tapi sekarang ia merasa Medeia sama sekali tidak ingin Eva mengikutinya bahkan orang lain sekali pun.


Medeia mengetuk pintu ruangan wakil ketua itu cukup keras, Medeia merasa perasaan kemarin malam semakin lama semakin membesar.


"Selamat datang"ujar wanita itu.


"Ada perlu apa memanggil ku? "Tanya Medeia berusaha terlihat baik baik saja.


"apa kau merasa tidak ingin kehilangan orang yang kau anggap penting? "Tebak wanita itu.


Medeia menatap tajam wanita itu berharap agar ia menjelaskannya dengan baik kalau tidak hal yang tidak di ingin kan akan terjadi.


Wanita memahami apa maksud dari tatapan Medeia, ia tersenyum, ia menuang kan teh ke cangkir Medeia lalu memberinya tanda agar ia meminumnya.


"Aku tau segalanya nona Medeia"ujar wanita itu menyeduh tehnya.


"Aku tau kau bukan lawan tapi aku tidak tau kau sedang memiliki tujuan apa dengan ku"ujar Medeia dengan nada agak kesal.


"Batu itu memiliki tuan, aku selama ribuan tahun menjaganya berharap tuanntuannya segera mengambilnya, dan setelah kau datang aku menemui batu itu bereaksi begitu pula dengan mu"ujar wanita itu.


"Lalu, jika aku menolak untuk mengambil batu itu kau akan apa? "Tanya Medeia yang meminum tehnya.


"Hahahah, jika kau ingin ibu mu itu selamat maka kau harus segera mengambil tindakan, kau harus menunggu selama sebulan tanggal 12 malam di mana bulan purnama terlihat mendekat dengan warna silver maka kau akan mendapat kannya"


"Selain itu aku akan ikut bergabung dengan mu untuk menghancur kan barang bukti, jadi kau harus menjaga diri mu dengan orang orang mu dengan baik, ku harap batu itu semakin dekat dengan mu"ujar wanita itu.


"Jika kau menjaga batu ini selama ribuan tahun, kau pasti tau dimana sebagian dari batu ini berada bukan? "Tebak Medeia.


"Pintar, maka dari itulah aku akan membantu mu mencari sebagian batu itu yah sekalin untuk mencari orang yang nantinya akan menuntun mu ke klan suku kuno itu, tapi aku merasa orang yang paling kau anggap penting akan menjadi musuh mu di kemudian hari di saat kau memasuki kewasan klan suku kuno itu"ujar wanita itu tersentum tipis.


"Aku rasa semua orang ku itu ku anggap penting"ujar Medeia.


"Yang ku maksud di sini adalah orang yang bisa membuat hati mu ini tergerak dan tidak bisa apa apa, aku akan memberi mu pilihan"


"Di antara menjauhi dia atau kau yang menjahinnya"ujar wanita itu.

__ADS_1


"Jika kau menyuruh ku memilih di antara ini maka aku memilih untuk dia yang menjauhi ku, aku Medeia tidak akan menjauhi orang yang ku anggap penting hanya karena omong kosong dari orang asing"sindir Medeia.


"Mulut mu tajam juga tapi tidak masalah, oh iya aku akan memberi mu sedikit bocoran, apa yang kau rasa kan saat ini itu adalah kebenaraanya"ujar wanita itu.


"Menurut mu, apa kah aku akan kehilangan mereka? "Tanya Medeia.


"Heh.... Mungkin saja"ujar wanita itu.


"Kalau begitu aku akan menginap di sini, masih banyak yang harus aku tanyakan pada mu"ujar Medeia.


"Boleh saja, lagian aku ingin mengenal mu lebih dalam lagi, sekalian membuat sedikit kejutan untuk mu malam nanti"ujar wanita itu.


"Kenapa kau memakai penutup wajah seperti ini? "Tanya Medeia.


"Itu karena aku dekat dengan mu"ujar wanita itu percaya diri.


"Ku harap itu tidak terjadi, lagian aku tidak pernah mau menganggap mu sebagai orang yang dekat dengn ku"ujar Medeia.


"Hahahaha, aku akan membantu mu untuk meningkat kan kekuatan para manusia yang memiliki kekuatan yang sama dengan ku"ujar wanita itu.


"Bukti kan saja setelah satu bulan kedepannya"ujar Medeia tersenyum tipis.


"Bagaimana kalau aku mengajak kalian untuk memahami denah tempat ini agar mempermudah mu mencari batu itu"ujar Wanita itu.


"Kau tenyata orang yang menyebal kan "kesal Medeia.


"Hanya mau tau saja. Kekuatan orang orang mu ini sebenarnya sekuat apa, sekalian mau mendapat beberapa tontonan gratis"ujar wanita itu.


"Ya sudahlah aku akan kembali ke ruangan ku"ujar Medeia.


"Heh.... Kalau begitu nanti malam sekalian saja aku ajak kalian melihat denah setelah selesai makan malam bersama denagn anggota inti saja? Bagaimana? "Tawar Wanita itu.


"Baik, terimakasih sudah membantu ku untuk menyelidiki setiap anggota inti kalian dengan begitu aku bisa bersantai dengan orang orang ku"ujar Medeia berlalu keluar dari ruangan wanita itu.


"Kalau bukan karena dia memiliki hubungan dengan mu, aku mana mungkin akan melaku kan hal seperti ini, demi apa pun dia sudah mengorban kan separuh kekuatannya untuk membantu mu kembali Medeia"batin Wanita itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Makan malam yang di tunggu tunggu oleh wanita itu akhirnya datang, seluruh klan inti akhirnya berkumpul ia tinggal menunggu kedatangan Medeia dan orang orangnya sekarang.


"Selamat datang semuanya, kali ini aku mengada kan pesta makan malam unt menyambut kedatangan anggota inti baru kita"senang wanita itu.


"Sangat jarang kau membuat pesta seperti ini, bahkan aku yang sebagai anggota inti terkuat di sini kau tidak pernah sehangat ini"kesal Reina.


"Ini perintah ku, siapa yanh berani menyangkalnya? "Ujar Wanita itu menatap tajam Reina.


"Sudahlah, aku tau kalau kau yang turun tangan tidak akan ada yang akan menentang mu"pasrah Reina.


"Maaf datang terlambat"ujar Medeia.


"Mulai sekarang Medeia akan semakin dekat dengan ku, apa pun yang ia katakan itu adalah perintah ku juga, jika ada yang menyangkal maka kalian akan berakhir di taman dingin"ancam Wanita itu.


"Oh iya, karena kau baru di sini kau pasti belum tau aku ini siapa bukan? "Ujar Wanita itu.


"Aku tau kalau kau mengguna Kan ilusi untuk menyembunyi kan tubuh fisik mu bahkan kau menggunakan boneka kulit"tebak Medeia.


Semua yang ada di sana menatap Medeia tidak percaya, bagaimana mungkin ia tau dengan begitu cepat hanya dengan hitungan detik?


"Aku tidak akan menerimanya, ini pasti hanya kebetulan, aku tidak setuju dia berdiri di samping wakil ketua"protes Siko bersikeras.


"Kali ini aku ampuni kau, hah... Baik kau boleh menebaknya Medeia"ujar Wanita itu melepas ilusinya.


Medeia di buat kaget olehnya ternyata dia adalah orang yang selalu ia rindukan selama ini ia adalah orang yang selalu mendukungnya tapi sayang mereka harus di pisah kan karena Medeia telah tau bahwa ia bukan lagi Medeia yang memiliki tubuh manusia.

__ADS_1


"Kau adalah..... "


__ADS_2