
waktu rapat sudah di mulai Medeia duduk di kursinya dengan tatapan marah, ia berusaha mengontrol emosinya tapi mengingat kejadian tadi siang membuatnya ingin mencari ketenangan drngan melampiaskannya pada sesuatu.
"Baik rapatnya di mulai"ujar Eva mewakili Medelia.
"Bangunan sekolah lainnya ku ubah menjadi klup orang orang terpilih, untuk menghilangkan kecurigaan mereka, tapi mereka tetap akan bergabung dan menjalani kehidupan sekolah bersama dengan siswa lainnya"
"Apa ada yang keberatan? "Ujar Medeia dengan nada dingin.
"Alasannya mengapa begitu tidak masuk akal? "Ujar Cestania.
"Ku rasa, kau harus menenang kan dulu pikiran mu sebelum kita memulai rapat"ujar Medusa mengemil.
"Aku anggap kalian keberatan, apa masukan kalian sekarang? "Ujar Medeia menahan emosi.
"Kami sama sekali tidak keberatan akan masukan mu Medeia"ujar Cestania mengeleng geleng kan kepalanya.
"Benar, maksud Cestania dan Medusa tidak seperti itu, mereka hanya ingin kau menjernih kan isi kepala mu dulu"ujar Rika membela.
"KATAKAN!!! "bentak Medeia.
"Cukup!!! "Gebrak Lucas dengan keras.
Suasana rapat menjadi semakin suram dengan amarah dari Lucas yang juga terlihat marah dengan sikap Medeia, memang benar sikap Medeia kali ini melewati batas kesabarannya.
"Jika kau ingin melampias kan amarah mu jangan melampiaskannya pada mereka, sikap seperti ini tidak dapat di toleransi, meski kau adalah ketua tapi jika kau tidak dapat membedakan mana yang benar dan tidak dapat mengontrol emosi mu kami pun tidak akan keberatan untuk melawan"
"Pemimpin yang sebenarnya selalu berfikiran tenang, tidak gegabah dan selalu positif ketia ada masalah, jika kau seperti ini aku menyatakan keberatan untuk ikut rapat ini"ujar Lucas menatap Medeia.
"Kalau begitu, aku akan mengundurkan diri menjadi pemimpin kalian"ujar Medeia dengan nada dingin.
Ia mengebrak meja lalu pergi meninggalkan ruangan rapat dengan marah, terlihat ia menahan amarah dengan mengepalkan tangannya.
Kelvin juga merasa aneh, ia memutuskan untuk keluar dengan alasan pengap, anggota di sana kembali berdiskusi. Kelvin mengejar Medeia yang di ocehi Eva dari tadi.
"Ratu, bagaimana anda memutuskan keputusan konyol seperti tadi? Lagian masalah tadi siang juga bukanlah masalah yang besar, anda seharusnya lebih kompetif dong"ujar Eva.
"Pergilah"dingin Medeia.
"Ratu, ada apa dengan mu? "Khawatir Eva.
"Jangan membuat ku mengulangi kata kata ku kembali"peringat Medeia.
"baik"pasrah Eva.
Kelvin mendekati Medeia yang berwajah sedih ketika Eva pergi meninggalkannya. Ia berusaha untuk tetap teguh dengan meyakin kan dirinya sendiri.
"Sudahlah, aku sudah mengambil keputusan, mereka tinggal memutuskan keputusan mereka"ujar Medeia tidak mau tau apa pun.
"Ku rasa kau memang benar"ujar Kelvin memeluk Medeia dari belakang.
"Pergi!!! "Bentak Medeia.
"Tidak"ujar Kelvin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa kau datang kemari? "Tanya Medeia meredam amarahnya.
"Hanya ingin memastikan perasaan orang yang ku anggap penting ini"ujar Kelvin.
".... "
"Ku akui kakak mu memang keras dalam hal perencanaan tapi caranya berbicara tadi memang sedikit pedas, aku mewakilinya sekarang, aku juga memutuskan untuk tidak memilih ketua lainnya, hanya kau yang memenuhi kriteria seorang pemimpin"ujar Kelvin menghibur.
"Bukan kah kakak mu Lucas itu juga bagus untuk menjadi ketua? Lagian aku mana ada waktu untuk berdebat dengan kalian"kesal Medeia.
"Dia memang menasehati mu tadi, tapi sebenarnya dia juga menasehati dirinya sendiri, dia sendiri tadi emosian kan? Hahaha"tawa Kelvin.
Medeia tersenyum lalu ikut tertawa bersama dengan Kelvin, Medeia merasa baikan sekarang ia kembali ke ruang rapat dengan Kelvin, sedangkan Chaiden masuk duluan sebelum mereka dengan suasana hati suram.
"Medeia kau kembali? "Senang Medusa.
"Huh.... "Acuh Lucas.
"Begini saja, bangunan sekolah ada dua, awalnya aku ingin membuat sekolah yang satunya untuk pelatihan mereka tapi merasa musuh kaki ini mengawasi maka dari itu aku mengubahnya menjadi sebuah group siswa yang memiliki kemampuan"
"Tapi siswa yang memiliki kekuatan juga harus ikut serta dalam pembelajaran, jika kalian ada masukan kalian katakan saja"ujar Medeia memasang tampang serius.
"Bagus, aku setuju"ujar Rika.
"Aku juga"
"Tidak ada salahnya juga sih, bagaimana menurut mu Lucas? "Ujar Cestania memastikan.
"bagus, inilah Medeia yang ku kenal lain kali jangan bertindak seperti anak kecil"ujar Lucas tersenyum pada Medeia.
"Maaf "ujar Medeia juga tersenyum manis.
__ADS_1
"Dari tadi kau hanya diam saja? Ada apa dengan mu? "Tanya Riko pada Chaiden.
"Kau juga tadi hanya diak saja, lagi pula tidak ada peraturan bahwa orang di larang untuk diam"dingin Chaiden.
Chaiden meninggalkan ruangan dengan kesal, ia membanting pintu dengan keras sampai sampai pintunya retak. Medeia menghela nafas, tidak biasanya Chaiden bersikap seperti ini.
"Jangan di pedulikan"ujar Lucas.
"Baiklah, bagaimana dengan daftar siswanya? "Ujar Medeia.
"Ada! Ini"ujar Eva memberi daftar nama siswa.
"Hanya 15? "Ujar Medeia tercengan.
Eva menyengir "benar saya pun ikut terheran akan jumlah siswanya yang begitu sedikit, padahala mereka terkumpul di seluruh dunia"ujar Eva mengerutkan jidatnya.
"Hah.... Setidaknya ada, biarkan saja, untuk besok aku ada rencana" ujar Cestania.
"Katakan"ujar Medeia tenang.
"Untuk menghilang kan kecurigaan siswa lainnya bagaimana kalau kita membuat satu teks, nanti kalau sudah kita umum kan saja siswa yang lulus ada 15 orang, dan berikan mereka nanti kesempatan untuk bergabung hanya ada 5 orang yang akan terpilih"usul Cestania.
"Bagaimana dengan teks kemampuan? "Usul Medeia.
"Cocok juga"ujar Lucas mengiakan saja.
"Tunggu, soal pelatihan mereka yang memiliki kemampuan bagaimana dong? "Tanya Riko.
"Benar, tentu saja kita harus mengetahui seberapa bisanya mereka melewati rintangan"ujar Rika.
"Soal itu nanti saja, kita belum tahu apakah mereka bisa mengendalikan kekuatannya atau tidak, pastinya sih ada dan juga tidak, kita akan melatih mereka selama 2 hari saja untuk menghemat waktu"ujar Medeia.
Mereka semua mengangguk setuju, rapat pun selesai mereka semua memutuskan untuk kembali bersantai di tempat favorit mereka.
Setelah rapat selesai, Medeia pergi mencari Chaiden untuk memastikan apa kah dia baik baik saja. Tapi Medeia tidak menemukan Chaiden di sekitaran kawasan Vilannya.
Medeia terpaksa menggunakan segel posisi yang sudah ia siap kan setelah ia mengetahui kekuatannya, Medeia mengaktif kan segelnya untuk mengetahui di mana Chaiden berada saat ini.
"Ternyata kau ada di atas genteng Vila ku yah? Pantas saja aku tidak menemukannya di mana mana, anak ini biasanya ada di cabang pohon kenapa berpindah profesi ke atap genteng? Bagaimana kalau ada orang yang melihatnya bisa bisa mereka menelpon polisi"ujar Medeia.
Medeia kembali menepuk jidatnya, ia baru menyadari kalau dia ketakutan untuk naik tapi keinginannya untuk memastikan Chaiden baik baik saja itu lebih besar dari pada rasa takutnya dengan ketinggian.
Dengan sepenuh keyakinan Medeia melompat ke pohon lalu ke atas genteng, Chaiden terkejut melihat Medeia datang, padahal ia tahu kalau Medeia kini takut akan ketinggian gara gara ulahnya.
"Kau tau aku ini bagaimana kan? Lain kali jangan duduk di genteng dong, bagaimana pun mulut tetangga itu lebih cepat dari pada berita yang ada di internet, ngomong ngomong kenapa kau begitu marah? "Tanya Medeia.
"Kalau ku katakan itu sama saja dengan menjatuh kan harga diri ku sebagai pria sejati"ujar Chaiden.
"Pria sejati? Kau? Huahahahahahhahahaha"tawa Medeia.
Chaiden tersenyum diam diam saat Medeia sibuk dengan tawanya yang mengundang tawa Chaiden tapi dia tahan.
"Huhuhuhuuu.... Kau memang pria sejati dari bawah"ujar Medeia capek karena tawa.
"Tertawalah sepuas mu"ujar Chaiden berpura pura marah.
"Baiklah baiklah, ayo turun dulu"ujar Medeia bersiap untuk melompat.
Chaiden dengan cepat menahan tangan Medeia, lalu mengendongnya untun turun, Chaiden dengan jelas merasa kan detak jantung Medeia yang tengah lari maraton.
"Ada apa dengan mu? Mengapa ada sesuatu yang berdetak begitu cepat? "Ujar Chaiden menggoda Medeia.
"Sialan! Aku takut dengan ketinggian yah makannya... Yah begitulah"ujar Medeia panik.
"Sudahlah, kau kembalilah ke kamar untuk beristirahat, pasti lelah mengoceh dengan mereka di ruang rapat tadi"ujar Chaiden.
"Bagaimana dengan mu? "Khawatir Medeia.
"Bagaimaba dengan ku? Lihatlah sendiri aku baik baik saja asal kan kau menjauh dari pria selain aku"ujar Chaiden tersenyum.
"Apa yang kau katakan? Eh.... Aku kembali dulu"ujar Medeia menyadari maksud dari perkataan Chaiden.
"Kau tidak akan ku lepas kan Medeia"ujar Chaiden kembali ke kamarnya.
Keesokan hatinya mereka tengah bersiap untuk pergi ke sekolah untuk pendaftaran siswa yang akan masuk ke sekolah. Medeia menemui mereka semua yang ada di ruang makan berkurang.
"Kemana mereka semu pergi? "Tanya Medeia.
"Mereka pergi duluan"ujar Cestania.
"Hanya kalian berdua? "Tanya Medeia.
"Tentu saja, makan adalah nomber one"ujar Medusa makan.
"Kau ini, di kepala mu hanya ada makan makan, tapi anehnya kenapa kau tidak terlihat gemuk? "Ujar Cestania.
__ADS_1
"Rahasia"ujar Medusa.
"Makanlah aku akan menunggu kalian di sana "ujar Medeia pergi bersama dengan Eva.
......^•^......
Setelah sampai Medeia langsung menemui mereka yang sudah duduk di bangku penerimaan siswa dengan gembira mengecek nama setiap siswa.
Medeia tersenyum melihat antusias mereka terhadap para manusia yang juga terkagum kagum melihat bangunan sekolah mereka yang bagaikan istana.
Penglihatan Medeia tertuju pada anak yang terlihat masih berumur 12 san tahun yang terus membaca buku di suatu bangku tidak jauh dari posisinya. Medeia memutuskan untuk mendekatinya dan bertanya dengannya.
"Hai, siapa nama mu? "Ramah Medeia.
"Kakak lebih baik fokus pada tugas kakak "dingin anak itu.
"Apa kamu akan sekolah di sini?"tanya Medeia.
"Hanya dorongan dari kakak"ujar anak itu fokus membaca buku.
"Kalau begitu buku apa yang kau baca? "Ujar Medeia tetap ramah.
"Berhentilah bertanya"kesal anak itu.
"Lucunya"bisik Medeia.
Anak itu terdiam lalu menatap Medeia dengan dingin, Medeia tersenyum hangat, anak itu kembali memalingkan wajahnya ia kembali membaca bukunya.
"Kakak ngapain kemari? "Tanya anak itu.
"Hanya ingin mencati angin saja, kamu mau es cream? "Tanya Medeia.
"Tidak suka yang manis manis"dingin anak itu.
"Ku kira anak perempuan akan suka dengan makanan yang manis manis? "Bingung Medeia.
"Lebih baik kaka menjauh dari ku, jangan tertipu hanya karena dia seperti tidak tahu apa apa"ujar anak itu pergi meninggalkan Medeia.
"Bodoh, kau kira aku tidak tau? Anak ini menggunakan kekuatannya untuk berubah menjadi anak kecil, sampai berjumpa lagi"ujar Medeia meninggalkan bangku itu menuju ruangannya.
Setelah selesai mengkonfirmasi setiap indentitas para siswa Eva pergi memanggil Medeia untuk mengumum kan ujiannya tapi Medeia menolak.
"Aku tidak akan pergi"ujar Medeia menolak dengan keras.
"Kenapa? "Tanya Eva.
"Aku ingin merahasiakan indentitas ku, meskipun aku yang membuat sekolah ini tapi bukan berarti itu harus aku, katakan saja dengan nama samaran Mebei"ujar Medeia.
"Baiklah, jadi nama mu di ganti menjadi Kepala sekolah Mebei? "Tanya Eva tidak mengerti.
"Sudahlah selesai kan tugas mu dengan cepat dan temani aku di sini meminum teh"ujar Medeia.
"Oh iya, Baiklah"linglung Eva
Eva pergi dan mengumumkan peraturan ujian yang akan mereka lakukan.
"Ujian penerimaan siswa akan di lakukan sekarang, peraturannya kalian tidak di perbolehkan untuk bergerak sedikit pun kecuali itu memang penting, kalian tidak boleh melirik kanan kiri jika ketahuan maka kalian akan di keluarkan tanpa pengecualian, dan peraturan terakhir jika waktu habis kalian harus tetap di tempat untuk menerima beberapa soal perjelasan"ujar Eva.
"Kalau begitu para pengawas ini akan mengawasi kalian di setiap sudut, jadi jangan coba coba berbuat curang"dingin Eva.
Eva mempersilahkan Medusa dan Chaiden masuk, setelah mereka masuk Eva keluar dari ruangan. Medusa menyapa mereka yang tidak lagi fokus.
Kaum adam dan hawa seketika terdiam menatap ciptaan tuhan yang begitu sempurna. Medusa tertawa terbahak bahak melihat mereka tidak sadar bahwa ujiannya sudah di mulai sejak Eva menjelaskan peraturan sekolah.
"Bodoh"ujar Medusa.
"Tidak ku sangka Eva begitu cerdas membuat mereka tereliminasi"ujar Chaiden.
"Bukannya itu bagus? Kita tidak perlu menggunakan otak kita untuk membuat alasan untuk mengeluarkan mereka"ujar Medusa.
"Anak itu dari tadi mengerjakan tugas, sepertinya ada juga yang tidak terpengaruh"ujar Cahiden.
"Bukan hanya itu, anak kecil itu juga, yang ada di dek jendela si lelaki tampan dan si wanit yang duduk di bangku depan dengan wajah ceria ini"ujar Medusa menemukan mereka semua dengan cepat.
"Rika sudah menempelkan alat alatnya kan? "Tanya Chaiden.
"Tentu saja, dia lah yang paling antusias dalam ujian ini"ujar Medusa senang.
Alat yang mereka maksud adalah alat pengawas yang berbentuk seperti kelopak bunga yang menyatu ke dengan objek yang mereka sentuh seperti meja, dia akan menyatu dengan meja.
Para siswa kini mulai kesulitan dalam menjawab soal buatan Medeia pada nomor tiga terakhir. Mereka mulai kebingungan ketika Chaiden mengumum kan bahwa waktunya tersisa dua puluh menit lagi.
Medusa mulai berjalan mendekati mereka dan mengamati mereka dengan seksama di temani dengan senyum ceriahnya yang membuat mereka tidak fokus.
Dari awal rencananya adalah mebuat mereka tidak fokus dalam mengerjakan tugas makannya Eva mengirim Medusa dan Chaiden untuk menjadi pengawas, awalnya Eva ingin Medeia yang melakukannya tapi Medeia menolak makannya Medusalah yang terpilih.
__ADS_1