
Medeia mengakhiri pertemuan makannya dengan Sea, ia merasa ada beberapa hal yang kembali menjanggal pemikirannya saat ini.
"Maaf aku ada acara yang harus ku hadiri, terimakasih atas keluangan waktu anda"ujar Medeia menarik tangan Chaiden.
"Jika ada waktu di lain waktu, aku harap nona direktur royal akan menemani saya kembali"ujar Sea tersenyum hangat.
"Baik, saya pergi dulu"ujar Medeia langsung meninggal kan Sea yang menatap kepergiannya.
Di luar restoran Medeia menghela nafas panjang ia tidak menyangka orang itu ternyata adalah anggota dari organisasi misterius itu.
Medeia mengacak ponselnya ia mencari nomor orang itu lalu menelponnya.
"Hallo, ini aku Medeia"ujar Medeia.
"Bagaimana? Berminat tidak? "Ujar Felix tidak sabaran.
"Kata kan pada ketua mu mulai hari ini aku akan datang untuk melihat organisasi kalian, jika memang sesuai selera maka mungkin saja kan? "Ujar Medeia menarik ulur.
"Tenang saja, ketua dari organisasi kami akan datang sendiri untuk menyambut mu, jadi kapan kau akan datang kemari? "Ujar Felix memastikan.
"ini masih pagi, dan masih banyak urusan tang harus ku kerjakan, bagaimana jika malam hari saja? "Ujar Medeia.
"Ide yang bagus, kami akan menunggu kedatangan mu, ketika kau datang kemari maka kau akan di anggap telah bergabung"ujar Felix menekan setiap kalimat.
"Heh... Ingat aku tidak seperti mereka, aku Medeia tidak akan terikat dengan peraturan apa pun, ku harap kau mengerti"ujar Medeia dengan nada dingin.
"Apa kau akan sendiri kemari"ujar Felix.
"Aku akan membawa orang orang ku untuk memastikannya saja"ujar Medeia.
"haish" Felix menghela nafas.
"Apa kau keberatan? "Ujar Medeia.
"Sama sekali tidak, aku ada pekerjaan nanti kau kabari jika kau sudah ingin erangkat" ujar Felix yang langsung mematikan telepon secara sepihak.
"Apa yang kau rencana kan? "Ujar Chaiden mencurigai gerak gerik Medeia.
"Tenang saja, aku hanya ingin memastikan sesuatu"ujar Medeia menyimpan ponselnya lalu masuk ke mobil bersama dengan Chaiden.
"Kata kan dengan jujur"ujar Chaiden memaksa.
"Kau ini! Haish.... Baiklah, dengar kan baik baik"ujar Medeia membisik kan rencananya.
"Kau gila yah?! "Bentak Chaiden.
"Makannya aku tidak mau memberitahu mu soal rencana ku"kesal Medeia.
"Bukan seperti itu, untuk mencari aman aku akan ikut serta, aku sendiri yang akan menyelidikinya"ujar Chaiden menghela nafas panjang.
"Aku tidak mau kau melakukannya, ini terlalu berbahaya, tunggu kita tau denahnya maka rencana ini akan di laksana kan, aku sendiri yang akan turun tangan jika perlu"ujar Medeia menatap tajam Chaiden.
"Aku bilang aku akan membantu mu, tidak ada pengecualian"ujar Chaiden bersikeras.
"Terserah kau mau apa, tapi ingat jangan sampai kau terluka atau terkena goresan sedikit pun"ujar Medeia mengerutkan jidatnya.
"Kau juga"ujar Chaiden merendahkan nada suaranya.
"Ada apa dengannya? Tidak seperti biasanya saja"batin Medeia.
"Huah.... Maaf aku terlambat ratu, dasar sialan kau Medusa, tunggu aku kembali akan ku tonjok kau"kesal Eva menjalan kan mobil secepat kilat.
"Ada apa dengan mu? Eva? "Ujar Medeia kebingunggan.
"Dia mengejek ratu, bagaimana mungkin aku hanya akan diam? Awas saja jika aku melihatnya"kesal Eva.
"Sudahlah, aku tau dia pasti akan seperti ini"ujar Medeia tertawa kecil.
Drttttt drttttt drtttt
Eva menganggkat telepon sambil memfokus kan pandangannya ke depan.
"Ya hallo dengan siapa? "Ujar Eva dingin.
"Diamana Medeia sialan itu, dasar kau tidak bisa di percaya! "Teriak Medusa dari seberang sana.
"Ternyata kau yah, tunggu aku sampai aku akan mencabik cabik cabik badan mu"kesal Eva.
"Eva, kemarikan teleponya kau fokuslah untuk menyetir"perintah Medeia.
"MEDEIA SIALAN PULANG KAU CEPAT! BERANI BERANINYA KAU MEMANGGIL KU LALU MENINGGAL KAN KU SENDIRI"teriak Medusa.
"Maaf, aku benar benar terburu buru"ujar Medeia merasa bersalah.
"YANG BENAR SAJA KAU! JIKA KAU BUKAN SAHABAT KU MUNGKIN AKU AKAN MEMBUAT MU MENJADI PATUNG BATU YANG KERACUNAN"kesal Medusa.
"Pufttttt"tawa Chaiden.
"Baik, kau tunggu aku di rumah"ujar Medeia menenang kan.
"AKU MAU MAKAN CEMILAN, BAY"tutup Medusa.
"Lagi lagi telepon di matikan secara sepihak, aku ini di anggap apa sih? "Ujar Medeia tertawa kecil.
"Medusa? Bukan kah dia hanya metologi saja? "Ujar Chaiden.
"Dia benar benar ada, dia ini cukup mengerikan dulu, karena aku dia sudah sedikit melunak dengan manusia dan para sebangsa yokai"ujar Medeia tersenyum tipis.
"Sepertinya dia sangat penting"ujar Chaiden.
"Tentu saja, dia adalah teman ku yang selalu ada di samping ku, Medusa telah hidup bersama dengan ku melewati tantangan di luar akal, kami bisa seperti ini karena kerjasama kami di masa lalu"ujar Medeia tertawa kecil.
"Tetaplah seperti ini, tertawalah"batin Chaiden.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah Medeia sampai di vilanya ia langsung menemui Medusa yang tidak berhenti mengutuknya. Eva yang mendengar perkataan Medusa mengebrak pintu dengan keras.
"Jaga mulut berbisa mu itu Medusa!!! "Ketus Eva.
"Eva, kau diamlah, tidak apa apa"ujar Medeia meyakin kan Eva.
"Bagi anda memang tidak apa apa tapi bagi saya itu tidak ratu, ini sama saja dengan menghina ratu"ujar Eva bersikeras.
"Sudahlah, kau beri tahu teman teman soal hal tadi, soal Medusa biar aku yang urus"ujar Medeia.
"Baik"
Eva berjalan ke dekat Medusa dan menepuk pundaknya dengan senyuman licik di wajahnya, Medusa hanya diam saja menerima apa yang akan terjadi padanya nanti.
"Maaf Medusa, aku sama sekali tidak ada maksud untuk mengundang mu lalu meninggal kan mu"ujar Medeia meminta maaf.
"Ini kesempatan terakhir, jika kau ulangi maka aku tidak akan membantu mu lagi, cangkam itu baik baik"kesal Medusa.
"Kau baru datang ke kawasan manusia bukan? Bagaimana jika aku menyedia kan makanan untuk mu? "Ujar Medeia berusaha menenang kan hati Medusa.
"Baik, apa di sini ada makanan favorit ku? Jika boleh aku mau makan daging manusia"ujar Medusa.
"Apa kau bodoh? Hah makan makanan yang du sediakan di kamar ku saja jika tidak mau maka kau tinggal memilih mati atau hidup"ujar Medusa berjalan pergi ke kamarnya.
"Tunggu aku Medeia! "Teriak Medusa berlari ke dekat Medeia.
Setelah perdebatan di antara Medeia dan Medusa akhirnya mereka berdamai, Medeia menonton tv di kamarnya bersama dengan Medusa yang juga ikut memakan cemilan yang sama dengan yang di makan Medeia.
"Tudak ku sangka makanan manusia itu lumayan enak"ujar Medusa berbicara dengan mulut penuh.
"Makanlah sepuas mu, besok kita akan menjalan kan misi bersama dengan rekan kita nantinya, oh iya kau nanti bekerjasama saja dengan kelvin aku dengan Chaiden untuk menyeimbang kan kekuatan kita"ujar Medeia.
Medusa tampak berfikir memikir kan sesuatu "hei Medeia, apa kelvin itu orangnya ganteng atau tidak? Kalau tidak lupakan saja"ujar Medusa masih mengemil.
"Kau ini, aku tidak bisa menilai wajah orang, menurut ku mereka sama saja"ujar Medeia acuh.
"Sialan kau rubah sialan"kesal Medusa.
"Kau mau aku bekerja sama dengan ular licik ini? "Ujar Kelvin berbicara terang terangan.
"Siapa lagi kalau bukan kau"dingin Kelvin.
"Sudahlah, kau boleh memilih siapa saja yang penting kau ikut membantu"ujar Medeia.
"Aku ingin lihat siapa lagi yang ada"ujar Medusa menunggu kedatangan para pria tampan lainnya.
"Maaf aku terlambat"ujar Chaiden.
"Hahaha aku juga ikut terlambat nih, maaf yah"ujar Riko.
"Kalau bukan karena kau kelamaan bergaya di depan cermin mana mungkin aku juga akan terlambat"kesal Rika.
"Ada apa ini? "Ujar Lucas yang datang pada urutan terakhir.
"Di mana aerthan? "Ujar Medeia.
"Dia tidak akan datang, kau tau kan dia itu hanya mempedulikan pasukan saja, untuk apa menunggu orang yang gila akan kekuatan itu"ujar Rika.
"Sebetulnya ini cukup menguntung kan"ujar Lucas yang ikut nimbrung.
"Dan juga hemat tenaga"timpal Riko.
"Sudah, hei Medusa, yang mana yang akan kau pilih? "Ujar Medeia.
"Wah kamu dekat yah dengan Medeia? Lumayan juga sih"ujar Rika yang sebenarnya sejak kedatangan Medusa ia yang menemaninya bergosip ria sampai Medusa hampir mati keracunan karena gosip.
"K-kau lagi"ujar Medusa berlari ke belakang Medeia.
"Kau ingin pilih tim yang mana? "Ujar Medeia kesal.
"Bagaimana dengan yang itu? "Tunjuk Medeia yang mengarah ke Chaiden.
"Tidak mau"tolak Chaiden secara terang terangan.
Medusa tersenyum kecut ia merasa dari tadi ia tidak pernah di sambut dengan hangat, bagaimana sahabatnya ini bisa hidup dengan makhluk aneh ini.
"Haish, saudara ku ini susah di ajak komunikasi hanya Medeia yang sering ia ajak berbicara, bagaimana dengan ku saja? Kekuatan ku juga menyamai saudara ku kok"ujar Lucas dengan suara lembut.
"Heh.... Ya sudahlah dari pada sendirian mending ada yang nemenin, lagian kau ini lumayan juga, bisa berada di sisi ku itu suatu kehormatan"ujar Medusa menyombong kan diri.
"Baik, aku akan menjelaskan rencana kita"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Setelah sekian lama berdiskusi akhirnya mereka kembali ke aktivitas biasa mereka yaitu bermalas malasan.
Medeia merasa tubuhnya semakin lama semakin gemuk padahal ia hanya mengemil sehari saja sudah memberi kesan buruk.
Setelah berganti pakaian olahraga, Medeia berjalan menuju ruang olahraga bersama dengan Eva yang juga ingin ikut dengan Medeia.
Medeia membuka pintu, ia mendapati seorang pria yang tengah asik meninju samsak tinju.
"6 pack"ujar Medeia tersenyum malu.
"Sialan, kau kenapa kau ada di ruang olahraga ku? Dan kau, kenaoa kau tidak memakai baju saat di tempat olahraga seperti ini? "Ujar Medeia membalik kab tubuhnya secepat kilat.
"Aku merasa kepanasan jadi ku buka saja baju ku, emangnya kenapa sih? "Ujar Chaiden menggoda Medeia.
"Kau jauh jauh dari ku"ujar Medeia pergi ke luar taman khusus untuk berolahraga lalu berlari lari kecil bersama dengan eva.
".... "
"Kau datang juga? "Ujar Chaiden menatap tajam Kelvin.
".... "
"Kau mau kemana? Jangan mendekati Medeia! "Kesal Chaiden.
Sayangnya Kelvin tidak mengubris Chaiden, ia meninggal kan Chaiden lalu berlari menyusul Medeia dan Eva.
"Sialan"umpat Chaiden.
Medeia menyeka keringatnya sambil berlari lari kecil ia tidak menyadari kalau yang di sebelahnya bukan lagi Eva.
"Eva, kau tidak boleh memarahi Medusa seperti tadi, dia memang bermulut pedas tapi dia itu baik dengan ku yah meski pun agak menjengkel kan sih"ujar Medeia tersenyum.
"Kau bisa tersenyum juga yah? "Ujar Kelvin.
"Eh? Itu kau yah Kelvin? Di mana Eva? "Tany Medeia.
"Dia kelelahan jadi beristirahat di tengah taman tadi"ujar Kelvin berbohong.
Di sisi lain di mana Eva tengah mentap Medeia dari belakang bersama dengan Kelvin, ia merasa suasana berubah secara drastis.
Eva berbalik melihat seseorang yang berlari dengan cepat menyusul mereka, ia adalah Chaiden yang berlari dengan wajah tidak enak di pandang.
"Situasi macam apa ini? "Bingung Eva.
"Hahahahaha lucu sekali, tidak ku sangka orang seperti mi juga adalah orang yang lucu"ujar Medeia.
"Benar, saat itu aku sama sekali tidam tau apa itu cabai, yah ku kira itu buah makannya aku maka sampai habis sekeranjang mana tau malamnya perut ku mau meledak karena sakit"ujar Kelvin tertawa kecil.
"Hahahaha"tawa Medeia.
"Apa yang begitu lucu yang bisa membuat mu tertawa? "Ujar Chaiden yang tiba tiba bergabung.
"Arghhhh sudah ku bilang kau pakai baju dulu"kesal Medeia berlari ke dekat Kelvin.
"*Mau beradu otot yah, aku juga punya otot yang bagus tahu"batin Kelvin.
"Mau merebut Medeia dari ku yah? Tidak akan ku biarkan"batin Chaiden*.
Kelvin yang tidak mau kalah juga membuka bajunya lalu mendekati Medeia, Chaiden mengepal tangannya tidak terima.
Medeia menatap kelakuan aneh yang mereka lakukan, jujur saja Medeia merasa ada sesuatu yang kirang baik.
"Kalian ini, kalau mu olahraga yah olahraga saja kenapa sampai membuka baju hanya dengan alasan kepanasan hah? "Kesal Medeia mengepal tangannya bersiap mencari sasaran.
Medeia meninggal kan mereka berdua yang tengah beradu mata, sedang kan Eva hanya mengeleng ngeleng kan kepalanya.
Baru saja Eva ingin menyusul Medeia ia sudah menerima pesan suata dari beberapa pengawal hitam Medeia yang tengah melapor.
"Nona dari organisasi keluarga Beliard datang mengunjungi nona Medeia, gerak geriknya cukup mencuriga kan"lapornya.
"Kerja bagus, lanjutkan penyelidikannya, satu hal lagi perintah kan minima 5 orang dari pengawal terpilih organisasi hitam kita untuk menyelidik denah organisasi misterius ini, usaha kan untuk tidak meninggal kan jejak apa pun"
"Jika ada yang melihat usaha kan untuk bersikap baik dengannya ingat jangan bunuh mereka, cukup buat dia melupakan apa yang terjadi saja"peringat Eva.
"Baik"
"Ku harap semuanya berjalan dengan lancar"batin Eva.
Medeia duduk di meja bacanya ia merasa tidak sabaran untuk mencari kebenaran soal suku kuno itu, ia yakin kalau suku kuno itu ada hubungannya dengan ibunya, dan lagi penjaga alam baka itu sepertinya mengetahui hal yang sama.
Eva mengetuk pintu mengabari Medeia bahwa neneknya datang untuk mengunujunginya, Medeia mengangguk ia mengikuti Eva turun menuju ruang tamu.
"Akhirnya kau turun, pengawal mu itu lumayan juga, bahka nyonya besar seprti ku pun dia halangi untuk masuk"ujar nenek.
"Apa tujuan nenek datang kemari? "Curiga Medeia.
"Cucu ku memang pantas, baik langsung ke intinya saja, kau ingin Bergabung dengan organisasi Vanesia kan? "Ujar neneknya menatap tajam Medeia.
"Ternyata Vanesia yah?! Cukuo menarik, nenek tenang saja aku tidak akan meninggal kan jejak apa pun, lagi pula aku hanya akan datang melihat lihat bukan datang sebagai bagian dari mereka"ujar Medeia.
"Baguslah, untuk kedepannya nenek rasa kau harus mempercepat masa pembangunan sekolah itu, kita butuh pasukan tambahan untuk kedepannya, mereka memiliki pemikiran yang baik, maka dari itu penyelesaian sekolah itu di percepat, mulai bulan kedepannya sekolah itu harus jadi"ujar Nenek Medeia.
"Bisa di jelaskan? "Ujar Medeia.
"Aku tau tujuan mu, bagian batu kuno itu ada di tangan mereka dan itu adalah harta berharga mereka, sisanya aku tidak tau tapi aku menerima informasi dari anak buah organisasi kita bahwa 6 bulan kedepannya batu kuno itu akan bercahaya"
"Jika dia tidak menemukan pemiliknya mungkin kesempatan untuk mu pergi menemui ibu mu akan semakin kecil, mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi"ujar neneknya.
"Baik aku mengerti, Eva percepat masa pembangunan sekolah, tidak peduli berapa orang yang mengerjakan proyek pembangunanya, keluar kan biaya yang memuas man untuk mereka"perintah Medeia.
"Baik nona muda"ujar Eva menelpon.
__ADS_1
"Sepertinya waktunya mulai mepet"batin Medeia.