
Setelah selesai mengurusi berbagai properti Medeia merasa seperti ada yang menjanggal di dalam pikirannnya sejak kembali dari pertarungan di antara dirinya dan Kei.
Entah mengapa ia merasa ada sosok yang ia kenal tapi juga terasa asing dengannya seolah olah ada pembatas yang mengahalanginya.
Medeia terduduk diam di ruang bacanya memikir kan apa yang telah terjadi? Apa ada sesuatu yang tidak ia ketahui?
Di sisi lain Medeia harus menyelamatkan ibunya yang entah kemana keberadaannya sedang kan di sisi lain ia harus menyelesaikan tugasnya dulu ia takut jika ia pergi meninggal kan dunia manusia itu akan membuat kekacauan yang tak terduga.
Seseorang masuk tanpa sepengetahuan Medeia, ia sibuk memikir kan hal yang memusing kan ini. Orang itu menatap dingin Medeia, yah meski tatapannya dingin tapi dia memberi kesan lain.
"Ehem.. "Dehem Kelvin.
"Eh? Ternyata kau? Apa yang membawa mu kemari Kelvin? "Tanya Medeia dengan tatapan lesuhnya ia merasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi.
Kelvin menarik lengan tangan Medeia lalu melompat keluar dari pintu lantai 3 vila milik Medeia. Jujur saja Medeia kebingungan melihat tinggkah Kelvin yang tiba tiba seperti ini.
"Kau mau membawa ku kemana? "Tanya Medeia.
Kelvin sama sekali tidak menggerakan mulutnya sama sekali tidak ada tanda tanda ingin berbicara, Medeia hanya pasrah dan mengikuti Kelvin yang terus terus memengangi pergelangan tangannya.
Tidak lama setelah itu Medeia sampai di suatu tempat sepi tempatnya adalah kuburan dengan danau di dekatnya.
Medeia menatap Kelvin bingung, apa maksudnya ia membawanya ke tempat seperti ini? Apa dia bercanda?
"Maaf menarik mu secara tiba tiba"ujar Kelvin yang akhirnya berbicara.
"Suara mu itu lembut loh, tampang dingin tapi sebenarnya kau ini orang yang lembut"goda Medeia.
"Karena itulah kenapa aku tidak ingin berbicara dengan orang mana pun"kesal Kelvin.
"Lalu mengapa kau berbicara pada ku? "Tanya Medeia mencoba memain kan permainan adu kata.
"Jangan bersuara apa pun yang terjadi"ujar Kelvin mengalih kan pembicaraan.
"Mencoba mengalih kan pembicaraan kah? Hihihi tunggu kau selesai memperlihat kan hal menarik lalu akan ku balas dengan sesuatu yang tak kalah menariknya"batin medeia.
sudah setengah jam Medeia duduk di atas pepohonan tapi sama sekali tidak ada sesuatu yang bergerak bahkan angin pun tidak ada.
"Hei kau, apa maksud mu membawa ku kemari? Menjengkel kan tau"kesal Medeia.
"Lihat ke depan"
Kelvin menunjuk kedepan mengarah kan dua orang berjubah hitam yang tengah memasti kan keadaan, setelah selesai mereka mulai bertindak.
"Orang itu bukannya? "
"Benar, mereka sudah membuat pergerakan setelah rencana awal mereka selesai sepertinya buku yang ku baca itu ada hubungannya tapi ada yang lebih menjanggal lagi"ujar Kelvin dengan tampang dinginnya.
"Apa maksud mu? "Tanya Medeia sama sekali tidak mengerti.
"Lebih baik kita kembali dulu ke vila, nanti akan ku jelaskan "ujar Kelvin.
.
.
.
.
.
.
Setelah kembali Medeia sama sekali tidak tenang ia bingung apa yang sebenarnya Kelvin ketahui? Kenapa harus seperti ini? mulai dari mana kah ia harus memulainya dari awal.
"Duduk dan ceritakanlah"ujar Medeia frustasi ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi dunia yang penuh lika liku ini.
"seperti yang kau lihat tadi, ada beberapa pergerakan dari beberapa orang misterius, menurut mu mereka ini memiliki organisasi apa atau suku dari mana? "Tanya Kelvin yang membuat Medeia semakin frustasi.
"Jika belum ada petunjuk bagaimana aku bisa menyimpul kan dari salah satu pertanyaan mu itu? "Kesal Medeia.
"Besok aku akan kembali, pahami buku ini lalu besok kau akan tahu"ujar Kelvin meninggalkan ruangan baca Medeia.
"Buku apa ini? Terlihat tua juga"
Medeia membuka buku itu lalu membacanya dengan perasaan bercampur aduk, pikirannya juga entah kemana sekarang.
Setelah membaca asal asalan Medeia di kejut kan dengan hal hal yang tak terduga ia mulai membacanya dengan serius.
DENGH.......
Medeia memegang erat kepalanya dan dadanya yang tiba tiba terasa sakit, lagi perasaan yang sama tapi mengapa Medeia sama sekali tidak ingat apa pun tentang hal seperti ini?
"Apa yang terjadi? Padahal hanya sebuah buku, mengapa harus kembali merasa kan perasaan menyebalkan ini? "Kesal Medeia.
"Klan Nirvana? Sebelumnya aku belum dengar dan lagi mengapa ceritanya aneh begini? Mereka sama sekali tidak terikat dengan apa pun, mereka bukan tuhan mereka juga bukan manusia, jin maupun hewan, mereka memiliki kekuatan tak terbatas? "
__ADS_1
Isi buku
*Klan nirvana ini sudah hidup sebelum manusia terlahir di bumi dan juga dia lebih dahulu ada kebanding dengan para mahkluk seperti yokai dan sebangsanya.
Mereka tidak terikat dengan apa pun, mereka bukan tuhan dan juga manusia, mereka abadi, sebelum itu mereka hidup dengan baik mengurus kebutuhan klan mereka.
Setelah berabad abad, beribu ribu tahun ia lalui mereka di temani dengan adanya yokai salah satu dari mereka tergoda untuk turun dan melihat lihat bumi.
Ia tidak sengaja melihat sebuah hewan dan menolongnya tidak di sangka hewan itu berubah menjadi sosok pria yang begitu menawan.
Akhirnya mereka menjalani hubungan, mengetahui penerusnya ini menjalin hubungan dengan bangsa lain dan mulai memiliki perasaan terhadap sesuatu akhirnya ia memutus kan membawanya kembali kebetulan saat itu ada kekacauan.
Melihat ada kesempatan ia membawanya pergi dan sampai sekarang orang itu tidak di ketahui keberadaannya, konon klam ini memiliki kekuatan tak terbatas yang mampu membuat bumi ini meledak kapan pun ia mau.
Mereka memiliki kekuatan energi alam yang tak terbatas, mereka menyerap energi alam untuk menjadikannya kekuatan mereka dan memanfaatkannya untuk kepentingan klan mereka*.
.
.
.
.
.
.
Setelah asik membaca halaman terakhir terlihat sobek dan juga halaman genab lainnya juga ikut sobek, sepertinya itulah informasi yang penting.
"Eh? Kenapa aku tiba tiba tertarik begini yang sama sekali tidam akan membantu ku mendapat kan petunjuk? Lebih baik aku cari tahu saja dari mana manusia ini mendapat kan kekuatan"ujar Medeia acuh tak acuh.
"Sudah larut, aku harus tidur untuk menenangkan pikiran ku jangan sampai memengaruhi kinerja ku"ujar Medeia yang melempar dirinya ke king Zizenya dan tertidur pulas.
Keesok kan harinya Medeia menerima pesan dari nomor yanh sama sekali tidak ia kenal, ia mebgabaikannya.
Setelah selesai bersiap siap Medeia turun melewati ruang makan kali ini ia tidak akan sarapan dengan mereka.
"Medeia! Kau tidak makan? "Ujar Rika menghadang.
"Minggir, ada urusan penting yang harus ku kerjakan"ujar Medeia menatap tajam Rika.
"Setidaknya makanlah bersama kami"ujar Rika memelas.
"Tidak ada yang penting selain tujun ku, kalian nikmati saja selagi kalian masih bisa menikmatinya"ujar Medeia menekan kan setiap kalimat.
.
.
.
.
.
.
Pada akhirnya Medeia sama sekali tidak pergi ke kantor dan meninggalkan pekerjaan kantor ke asisten sekretaris baru yang baru ia rekrut baru baru ini.
"Eva, dengarkan aku mulai sekarang kau tidak perlu mengurua hal hal seperti kantor aku akan nenyerah kan alih perusahaan pada sepupu ku"ujar Medeia ia turun dari mobil.
"Baik, saya mengerti ratu"ujar Eva.
"Baca buku ini sampai kita berada di tempat tujuan"ujar Medeia.
Sebenarnya saat pagi tadi ia memang mendapatkan pesan yah Medeia memang acuh tapi setelah beberapa menit ponselnya kembali berdering kali ini puluhan pesan memasuki ponselnya jadi mau tidak mau Medeia membacanya.
"Hais..... Orang ini apa lagi yang ia mau"kesal Medeia.
"Uhuk uhuk uhuk"batuk Eva sambil melotot kan matanya.
"Kau ini kenapa sih? Hei Eva jangan sampai kau mat karena kesedak membaca buku"ujar Medeia menenangkan Eva.
"Uhuk, maaf ratu tadi hanya terkejut saja, awalnya memang membahas berbagai hal tentang yokai dan manusia tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau ada suku kuno seperti ini yang juga ikut tertulis"ujar Eva mencurigai.
"Kau sadar bukan? "Ujar Medeia.
"Benar ratu, ada yang menjanggal.
"Semua info tentang yokai, dan juga alam baka semuanya benar tidak ada satu atau sedikit oun tang salah, tapi yang anehnya adalah suku kuno itu, bagaimana ia tahu kalau ada suku kuno semacam ini? Padahal keberadaan mereka sudah menghilang tepat tertulis di buku itu"
"Ia tahu dengan detail semua cerita soal mahkluk di dunia dan dari mana ia bisa mendapatkan informasi akurat seperti ini kalau ia tidak memiliki hubungan dengan suku itu atau dia salah satu suku kuno lalu ia tidak menulis soal sukunya? Tapi kenapa ia merobek halan buku denagn halaman angka yang genab? "Ujar Medeia tidak mengerti.
"Saya curiga ini seperti jebakan, siapa yang memberi buku ini pada anda? "Tanya Eva.
"Kelvin"ujar Medeia jujur.
__ADS_1
"Aku akan ikut dengan anda, tidak mungkin ia memberikan buku ini pada anda kalau ia tidak menyuruh anda berdiskusi dengannya nanti soal pendapat sepemikiran"ujar Eva menekan kan kata PENDAPAT SEPEMIKIRAN.
setelah mengobrol dan memikir kan masalah itu akhrinya Medeia sampai di lorong terakhir lorong perumahan yang di kata kan di pesan.
"Yang benar saja di perumahan kita seperti ini ad lo yang seperti labirin begini, jalannya juga kotor sekali"ujar Medeia menutup hidungnya.
"Hahaha, kita ini memiliki hidung yang tajam dengan bau menyengat seperti ini bisa bisa kita akan mat sebagai anggota keluarga yang mati karena bau tong sampah"ujar Eva menahan nafas.
"Dan dia menyurh kita makan di kedai dengan jalan menjijikan sepeti ini? Bisa bisa kita akan makan masakan berbahan dasar kan sampah"ujar Medeia menahan sakit kepalanya.
"Sepertinya itu adalah kedai yang di bilang orang itu"ujar Eva menunjuk kedai itu.
"Sudahlah, masuk dulu nanti baru akan tau " ujar Medeja memberani kan diri.
"Selamat datang tamu vip kami, silahkan lewati sini"ujar pelan itu ramah.
"Sudah ku duga ini bukan kedai biasa, memang sih jalan agak menjijikan tapi bagaimana mungkin ada kedai dengan jalan bagaikan labirin? "Ujar Medeia menyombongkan dirinya.
"Ehem"
Eva memutar rekaman saat mereka berbicara tadi yang membuat Medeia tersenyum palsu untuk mempertahan kan reputasinya.
"Dasar kau bawahan yang tidak tahu malu"ujar Medeia bergumam dengan hati yang tenang, dengan tampilan wajah yang elegan dan senyuman tipis yang lembut.
"Hihihi, ratu tenang saja anda adalah ratu ku yang paling menawan sedunia "ujar Eva mengoda..
"Sialan, setelah ini aku akan membuat mu membayarnya Evania"ujar Medeia menekan namanya.
"Hihihi, sepertinya aku salah memasuki sarang"ujar Eva tertawa kecil.
"Tunggu saja nanti, rubah kecil ku yang imut"ujar Medeia dengan senyuman liciknya.
"Yey ada pertunjukan gratis, maaf tuan anda harus jadi samsak untuk sementara waktu"batin Eva.
"Huachuuuu, ahem.... Siapa yang telah mengutuk pria tampan seperti ku? "Ujar orang misterius itu.
Medeia memasuki ruangan yang cukup mewah ia sama sekali tidak kage melihat banyak kejutan ada di dep matanya ia justru tersenyum melihat ke arah sofa dengan minuman yang ada di tanga orang misteri itu.
"Hai nona cantik? Apa kabar? "Ujar orang itu berbasa basi.
"..... "
"Haish nona ini tidak asik, oke deh nama ku felix aku tau kau bukan orang biasa loh"ujarnya tersenyum.
"Lalu? "
"Apa kau mau ikut bergabung di kelompok kami? Jujur saja tujuan kita ini sama, ingin mengetahui dari mana kekuatan ini berasal dan mengapa harus manusia yang memilikinya"ujarnya tersenyum menyeringai.
Ia mengerak kan tanganya untuk mengarah kan senapan dan menargetkannya ke kepala Medeia, sayangnya permainan permainan seperti ini hanya bisa di main kan oleh kaum bangsawan maria.
"Coba saja kalau berani menyakiti nona muda kami"bentak Eva yang terpancing amarah.
"..... "
"Bagaimana? Apa kau setuju? "Ujar felix memastikan.
"Nona bagaimana ini? "Ujar Eva khawatir.
"Ikuti saja permainannya, biarkan senjata makan tuan"ujar Medeia mempertahan kan posisi tegaknya.
"Kau tau aku ini siapa, aku sibuk akhir akhir ini mungkin saja kau harus menunggu lama untuk jawaban ku tuan Felix"ujar Medeia santai.
"Waktu itu berharga nona Medeia, aku beri kau waktu 10 detik"ujar Felix yang tiba tiba berub menjadi dingin.
Felix mulai menghitung mundur sedang kan Medeia hanya berdiri dengan tatapan kosong menunggu serangan yang akan menghampirinya.
"Waktu habis"
DOR DOR DOR
Medeia dengan kudah menghindari serangan sebaliknya Felix juga harus menghinda serangan peluruh yang juga ikut memantul.
"Bagaimana tuan Felix? "Ujar Medeia melepaskan formasi yang ia buat.
"Sungguh wanita licik, tidak ku sangka kau begitu pandai membuat orang menyerang dirinya sendiri"ujar Felix membersih kan bajunya.
"Bagaimana? Apa perlu bertemu ketua geng mu? "Ujar Medeia menatap dingin Felix.
"Baik saya mengerti maksud anda, untuk saat ini kita hanya bisa berkomunikasi dari jarak jauh selama anda mau memikirkannya dengan baik maka kami akan melakukannya dengan baik juga, kami tunggu jawaban anda"ujar Felix yang menghilang dengan adanya angin sepoi sepoi.
"Selidiki tempat ini beri tahu aku apa yang mereka jual di kedai seperti ini? "Ujar Medeia duduk di sofa, ia menyingkir kan minuman keras yang ada di depannya ke lantai.
"Baik ratu"ujar Eva yang berlalu pergi.
5 MENIT KEMUDIAN
Eva berjalan masuk lalu berdiri di samping Medeia "kedai ini bukan kedai biasa, ini adalah kedai perkumpulan para pendekar yang pandai mengguna kan samurai dan juga senjata seperti pistol dan lain lainnya"ujar Eva.
__ADS_1
"Tujuan yang sama yah? Menarik"