Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
PART 33 : KEMBALINYA SANG TAKDIR


__ADS_3

Medeia turun dari mobilnya dengan kawalan penjaga hitam yang mengawalnya sampai di dalam ruangan. Ia mengambil tempat duduk yang sudah ia beli dengan ribuan uang yang telah keluar hanya demi tempat duduk.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya artis yang di tunggu tunggu muncul dan duduk di depan Medeia dengan senyuman yang selalu terpancar itulah ciri khas sang takdir ini.


Pelelangan akhirnya di mulai dan mulai perebutan barang. Medeia hanya duduk diam sama sekali tidak tertarik untuk ikut berteriak. Ia hanya memperhatikan Hexilia yang duduk diam menikmati suasana.


"Ada apa kau melihat ku? "Ujar Hexilia berbicara melewati telepati.


Reflex Medeia kaget tiba tiba ada suara tergiang di telinganya.


"Bisakah kita berbicara nanti di ruangan pribadi? "Tanya Medeia yang membuat Hexilia berbalik dengan wajah dinginnya.


"Kau lupa siapa aku, apa yang ingin kau katakan di masa depan sudah ku ketahui, keberadaan ku sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia kehidupan dan kematian"dingin Hexilia.


Tidak lupa Medeia membuat pembatas agar orang orang di sekitarannya tidak mendengar percakapan mereka.


"Itu berarti kau tidak berpihak bukan? "Ujar Kaguya dan Zen yang menyamar sebagai manusia yang ikut pelelangan.


Hexilia menatap kaget Kaguya yang mengedipkan sebelah matanya dengan senyuman yang membuat Hexilia mengingat hal hal di masa lalunya.


"Bagaimana kabar mu teman ku? "Tiba tiba Hexilia berubah menjadi pribadi yang tenang.


"Bukan kah kau bisa melihat masa depan mengapa kau kaget melihat Kaguya hah? "Curiga Medeia.


"Dia berbeda dari yang lainnya"datar Hexilia.


"Percaya atau tidak itu masalah belakangan sekarang ini dunia atas sedang dalam kekacauan bagaimana kau turun ke dunia manusia dan mengabaikan dunia mu sendiri? "Ujar Zen yang akhirnya ikut berbicara.


"Kau? Apakah kau Zen-kecil? "Kaget Hexilia.


"Tante takdir, kau sepertinya melupakan ku begitu cepat yah? "Cemberut Zen.


"Kau ini kan sang waktu aku adalah bagian dari mu saja, takdir ada di genggaman mu"kesal Hexilia.


"Bisakah kalian langsung ke intinya saja, ini bukan waktunya untuk melepas rindu"marah Medeia menatap tajam mereka.


"Katakan atau aku akan mengirim manusia ini ke alam kematian"ancam Medeia.


"Baiklah, ada masalah apa sampai sampai kau mengancam ku seperti ini? "Kalem Hexilia.


"Kamu jelaskan lah aku sedang ingin menurunkan kadar emosi ku dulu"ujar Medeia duduk menghela nafas berat.


Kaguya menganggul dan menceritakan segalanya mulai dari awal turunnya Hexilia sampai kisah yang sekarang ia jelaskan secara rinci. Hexilia hanya memasang wajah datar ia tahu itu juga salahnya yang tidak bisa menghentikan tindakan sahabatnya.


"Penyesalan ada di akhir, jika kau tahu kau salah maka tebuslah dengan usaha, waktu akan terus berjalan ingat itu baik baik"ujar Zen yang membuat Hexilia akhirnya menangis.


"Apa yang membuat Hexilia menangis? Siapakah sahabatnya itu? "Batin Medeia.


Hexilia mengangguk dan menyetujui untuk kembali ke dunia yang seharusnya tidak ia tinggalkan hanya karena ia terus di hantui rasa bersalahnya.


Mereka segera pergi setelah pelelangan selesai dan menyalurkan seluruh kekayaannya atas nama perusahaan Royal Entertaimen yang kini di kelola oleh Meira adik dari Medeia.


Sebelum pergi Hexilia menghapus seluruh ingatan manusia yang mengenalnya karena ia bisa saja tidak dapat kembali dan meneruskan profesinya sebagai artis terbaik.


Setelah sampai di wilayah kekuasaan sang kehidupan Hexilia berhenti ia merasa tidak kuat untuk masuk. Jujur saja ia melarikan diri ke dunia manusia agar ia melupakan apa yang terjadi dahulu di tempat ini.


Medeia mengeluarkan ekor rubahnya dan mulai menemui teman temannya yang sibuk mendiskusikan masalah yang baru mereka dapatkan.


"Jangan bilang kalian mendapat masalah lagi? "Ujar Medeia duduk di kursi penguasa.


"Ada sih"ujar Hanabi kebingungan.


"Di mana Alpa? "Tanya Medeia.


"Alpa dan yang lainnya pergi berperang di garia depan kami hanya bisa melindungi tempat ini dari pasukan iblis hati itu"ujar Hanabi khawatir.


"Katakan dengan benar"dingin Medeia.


"I itu bisakah Cestania yang mengatakannya? Aku masih belum mengerti situasi yang sebenarnya"ujar Hanabi pergi meninggalkan aulah dengan tergesa gesa.


"Astaha anak sialan itu! Bagaimana ini!? "Panik Cestania.


"Katakan saja ada aku di sini"ujar Zen.


"Berjanjilah untuk bersiap membuat pelindung! Aku masih sayang nyawa"ujar Cestania mengepal kuat tangganya dengan seribu cara penenangan diri.


Melihat tingjah laku Cestania yang terus diam membuat Medeia menyerang ke arahnya.


"Ku bilang katakan! Kau tidak mau kan tempat ini ku hancurkan menjadi abu? "Bentak Medeia.


"Sejujurnya musuh begitu kuat dan kami membutuhkan bala bantuan"Cestania bergetar hebat takut Medeia yang ia kenal akan marah besar, Cestania yang sekarang telah berubah drastis ketika mengetahui beberapa hal.

__ADS_1


"Bukan kah pasukan naga kita ada ribuan? Mengapa kau tidak membuat perintah atas nama ku? "Ujar Medeia menenangkan dirinya.


"Itu sudah ku urus masalahnya pemimpin musuh itu.... Eh... Begitu kuat pokoknya! "


"Cestania kau begitu aneh, katakanlah! Aku ada kesabaran tapi itu tidak akan bertahan lama untuk mu teman ku yang baik"ujar Medeia berdiri dan mendekati Cestania yang mundur selangkah demi selangkah.


Ia tahu Cestania menyembunyikan sesuatu yang membuat Medeia tidak percaya diri untuk mendengarkannya tapi sebagau pemimpin ia masih harus mendengarkannya apa pun itu.


"Gawat, Lucas dan Medusa terluka parah! "Ujar Kelvin yang terengah engah.


Medeia langsung pergi dan menyeret Kelvin untuk menunjuk kan jalan ke garis depan. Cestania, Kaguya, Zen dan Hexilia pergi mengikuti Medeia yang panik.


Hanabi masih tetap untuk membuat benteng pertahanan bersama dengan ribuan pasukan naga yang siap menyerang kapan saja.


"Andai orang si tua kehidupan itu tahu siapa sebenarnya aku, mungkin kah dia akan membunuh ku? "Ujar Hanabi menatap kepergian mereka dengan sedih.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Tengkorak ini tidak dapat di hancurkan dan arwah ini mereka lumayan berbahaya, aku akan menangani mereka kalian tangani iblis gila itu"ujar Hexilia mengangkat tangannya ke udara dan menerbangkan mereka.


Medeia tanpa basa basi mengeluarkan api dingin dan menyerang mereka dengan lincahnya. Ia mengeluarkan kelopan bunga yang sengaja ia bakar dan ia sebar luaskan agar skala serangnya banyak yang terkana.


Sebelum Medeia melepaskan jurusnya ia sudah memperkirakan jarak serangnya agar tidan melukai teman temannya dan masih tetap memulihkan luka luka temannya yang tengah berperang dengan kelopak bunga yang ia selipkan di bahu mereka sebagai tandanya.


Setelah berada di tengah tengab kerumunan iblis itu Medeia segera melepaskan hawa dingin kehampaan dan mengabungkan semua elemen dan melepaskannya.


"Uhuk uhuk.... Arghhhh"Medeia berubah ke wujud rubah mode terbesar dan menginjak nginjak mereka layaknya semut di matanya.


Mereka yang bertugas menjaga Medusa dan Lucas hanya tersenyum bangga dan juga tertawa puas melihat Medeia melampiaskan seluruh emosinya.


"Sama seperti biasa yah "ujar suara yang begitu familiar.


Medeia menoleh dan berubah ke wujud semulannya, bayangan hitam dengan bau bunga kematian menyengat di indra penciuman Medeia yang membuatnya was was karena kalian tahu kehidupan dan kematian itu bertentangan keras.


"Lama tidak bertemu Medeia"lembut Orang itu.


Air mata bercucuran di pipi munggil Medeia, ingin rasanya ia memeluknya tapi sayang sekali pertemuan mereka ini adalah sebagai musuh bukan sebagai teman yang selalu melindunginnya saat di dunia manusia.


"C-Chaiden?! "Tangis Medeia mengepal kuat tangannya berusaha mengontrol emosinya.


"Mengapa di pertemuan ini kau hadir sebagai musuh ku? Sial! Seharusnya aku tidak mempercayai mu Chaiden"


"Siapa yang peduli itu kau teman atau musuh? "Dingin Chaiden.


"Ck, GARA GARA KAU EVA SAHABAT KU MENINGGAL DAN GARA GARA KAU MEDUSA DAN LUCAS LUKA! TEMAN TEMAN KU ADALAH YANG PALING BERHARGA! DAN KAU DENGAN MIDAHNYA MELUPAK HUBUNGAN ITU! "Bentak Medeia.


"Yang mulia Veisha sang ratu kehidupan dari klan Vana, kita adalah musuh bukan sahabat atau teman semacamnya. Kita bertentangan dan ku harap kau ingat apa yang terjadi di masa lalu antara kau dan aku"ujar Kiro mengingatkan Medeia pada masa lalu.


Suara itu kembali tergiang di kepala Medeia yang membuatnya berteriak tak karuan. Jujur Chaiden merasa tertekan akan situasi ini ia ingin pergi tapi tugasnya masih belum selesai.


"Bunuh bunuh bunuh"


"*Dia telah membunuh mu di masa lalu, membuat mu menderita selama ribuan tahun lamanya, ingatlah teman teman mu akan hilang satu demi satu jika kau tidak memusnahkannya"


"Dia adalah penghalang mu, bunuh dia! Maka semuanya akan berakhir dan apa yang kau ingin kan akan terkabulkan*"

__ADS_1


"Pergi! CUKUP! "histeria Medeia memegang kuat kepalanya.


"Jangan salah kan aku jika di pertemuan selanjutnya aku akan mengakhiri semuanya"ujar Chaiden di selimuti kelopak bunga kematian.


Hawa dingin menyebar dari tubuh Medeia, tanpa sadar Medeia menyerang Chaiden dan menusuknya pedang yang kehampaan miliknya membuat Chaiden merasakan kesalahan yang ia perbuat.


"Mati mati mati"


Itulah yang selali Medeia ucapkan selama ia tidak sadarkan diri, dirinya telah di terkontrol penuh akan hasutan sang iblis hati.


Kelvin dengan cepat menyebarkan bulu hitam di sekeliling Chaiden yang terkurung oleh es terdingin dan malah tidak dapat membedakan mana yang benar dan salah.


"Veisha sadarlah! Aku tidak akan membiarkan mu dalam masalah"


Kelvin memberika tanda bulunya agar Medeia dapat melihat bahwa ia ada di dekatnya tapi itu gagal Medeia semakin lama semakin menjadi jadi bahkan sampai menusuk Kelvin dengan pedangnya beberapa kali.


Siapa pun yang mendekat dialah yang akan berakhiran sama dengan dua orang yang tengah nenanggung akibatnya. Cahaya hitam pekat dengan aurah mencengkam datang dan menahan rasa sakit Medeia.


"Sadarlah nak, aku tidak akan selamanya ada dan melindungi mu"


"*Kau! Berani beraninya kau keluar dan ikut campur dengan urusan kami! Ingat posisi mu sialan! "Bentak iblis hati itu.


"Kau kira kau bisa menahan ku? Kau hanyalah semut yang sekarat setelah selamat dari injakan gajah! Jika bukan kau adalah rekan ku akan ku pastikan kau musnah karena menyakitinya! "Kasar cahaya hitam yang perlahan membentuk menjadi sosok wanita yang meneluk Medeia*.


"Sakit! Ibu ku mohon tolong aku! Aku tidak kuat! "Rintih Medeia.


"*Heh... Kau perlu lebih kuat lagi untuk melindungi orang orang yang kau sayangi"


"Kali ini akan ku bantu kau lepas ikatan dengan rekan ku, ku harap kau bisa mengendalikan situasi dengan baik dan jemput aku pulang dan satukan aku dengan saudara ku*"


Kilatan cahaya hitam menyebar, kilatan itu menyebar dan membunuh semua mahkluk iblis darah itu. Semua yang nenyaksikanya terkejut dan menatap ke arah sumber di mana Medeia tengah berdiri mematung.


DI DALAM ALAM BAWAH SADAR MEDEIA


"APA ITU KAU IBU? "Teriak Medeia.


"Maaf kan akau yang baru muncul untuk mu"


"Ibu kau! Aku rindu! Sangat.... "Tangis Medeia memeluk wanita yang menyelamatkan Medeia dari hasutan iblis hati.


"*Anak ku yang imut, kau perlu tahu ras iblis yang akan kau hadapi nanti itu ada dua yah, pertama ada ras iblis darah yang bertugas untuk membunuh dan menyerang sedangkan mereka yang iblis hati akan mengasut kalian. Wujudnya sama tapi perbedaannya hanya ada satu iblis hati akan menghindari pertarungan dan biasanya bersembunyi dan iblis darah ak bertarung menggila"


"Kau heran kan mengapa ibu tahu begitu banyak? Maaf ibu tidak dapat memberi tahu mu*"


"Ibu bicara ngawur yah? Aku hanya ingin tahu di maba keberadaan ibu sekarang? Aku tahu aku sedang ada dalam alam bawah sadar ku"ujar Medeia yang tidam tahu akan berbicara apa.


"Waktu ku habis, maaf ibu harus pergi".


"Jangan! Ku mohon JANGAN! "


ALAM SADAR MEDEIA.


Medeia mengatur nafasnya yang terengah engah. Ia mendapati dirinya berada di ruang peristirahatannya dan melihat seluruh teman temannya yang berwajah serius.


"Bagaimana keadaan mu? Apa ada yang sakit? "Panik Cestania.


"Apa ada yang terluka? "


"Makanlah dulu"


Kaguya menatap Medeia sedih sedangkan Hexilia menangis tersedu sedu di pojokan kamar Medeia. Dari tadi ia hanya mengeluh dan memukul dirinya sendiri. Zen yang sudah mengenal Hexilia tentu saja datang menenangkannya.


"Kalian keluarlah kecuali Kaguya dan Hexilia"perintah Medeia.


Mereka semua bingung akan permintaan Medeia yang tiba tiba mengusir mereka daru kamarnya.


"Okey, yuk temen temen keluar dulu, Makan buburnya yah"ujar Medusa berjalan pincang karena beberapa sisiknya ada yang luka.


Kaguya duduk di sampingnya dan menyuapi Medeia bubur yang sudah di buatkan entah siapa yang membuatnya.


"Siapa kau sebenarnya? Aku rasa sang bulan dahulu tidak ada dan kau Hexilia bukan kah kau sahabat dari ibu ku? Veshlan? "Ujar Medeia yang akhirnya sadar.


Hexilia mendekat dan memeluk Medeia "benar Kaguya adalah bagian dari ibu mu, aku kira dia telah hancur dulu seperti Evoliana tapi tidak ku sangka dia ternyata terbagi menjadi dua kepribadian yang berlawanan"ujar Hexilia.


"Jujur saja aku merasakan diri ku yang lain ada saat kita berperang di garis depan"ujar Kaguya penasaran.


"Ku harap segalanya hanyalah mimpi "ujar Medeia menunduk.


"Berita buruknya di masa depan aku merasa akan banyak nyawa yang akan tiada di peperangan itu, dan yang tersisa hanya ada kau, Kiro, aku, Kaguya dan Leisha. Sisanya mengarah ke pilihan mu sang kehidupan dan sang kematian untuk menghadirkan sang penghubung dan sang reinkarnasi atau tidak"ujar Hexilia.


"Aku hanya akan bertindak sesuai situasi, apa yang kau katakan tadi benar benar membantu ku! Setidaknya aku tahu apa yang akan terjadi di masa depan"ujar Medeia tersenyum hambar.

__ADS_1


"Takdir tidak dapat di ubah, apa yang terjadi di masa depan akan terjadi sesuai apa yang telah ku takdirkan untuk kalian, aku hanya akan menjalankan tugas ku dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama"ujar Hexilia yang beralih ke pelukan Kaguya.


"Takdir yang sebenarnya akan segera di mulai"


__ADS_2