
...••••...
Sinar senja yang begitu indah menyentuh tubuh mulus nan putih milik seorang gadis yang tengah menutup matanya rapat dengan wajah yang mengarah ke langit.
Sesekali keningnya mengerut di iringi helaan nafas yang entah telah kesekian kalinya ia lakukan.
Matanya yang tajam berkedip kala sinar matahari senja masuk ke indra penglihatannya.
Gadis itu tengah berada di salah satu gedung tertinggi yang tidak terlalu jauh dari sebuah bianglala yang tengah berputar.
Tempat ini adalah salah satu tempat yang selalu ia sukai ia akan kesini jika sedang merasa letih atau mengalami masalah seperti sekarang.
Dia adalah Zilian, sang wanita yang selalu rela mengorbankan apapun demi melindungi orang yang akan selalu ia sayangi dan ia cintai.
Kondisi tempat itu mulai ramai, tempat yang akan selalu Zilian rindukan sekaligus tempat yang selamanya akan ia sukai berapa lama pun waktu akan berlalu.
Meski tidak pernah mencoba hal hal yang ada di dalamnya Zilian tetap menyukai tempat itu meski sekedar melihat, baginya melihat orang orang senang semua masalahnya menjadi sirna dan lambat laun Zilian akan melupakannya.
"Udah mau mulai, ya? "Gumam Zilian pada dirinya sendiri.
Ia melihat bianglala itu mulai bergerak dan akhirnya berputar dengan orang orang di dalamnya, lampu yang mengelilinginya memberikan kesan yang begitu indah untuk menarik pengunjung.
Zilian tersenyum senang melihat orang orang tertawa senang, ia sudah lama menjadi saksi orang orang yang pernah naik ke sana entah itu senang, bahagia, sedih putus asa bahkan orang yang bermadu asmara pun Zilian telah saksikan segalanya.
Dia terus mengawasi mereka dari kejauhan mencoba mengerti perasaan mereka melalui raut wajah mereka.
Yah, Zilian iri dengan mereka yang dengan mudah merasakan kesenangan bahkan kesedihan ia juga ingin merasakannya tapi ia sadar itu semua akan percuma saja.
Cukup ia amati lalu mempraktikannya di depan orang orang saja sebagai topeng setidaknya itu akan membuat orang di sekitarnya merasa tenang.
Ia membaringkan tubuhnya lalu merentangkan tangannya matanya menatap lurus ke arah langit senja yang perlahan mulai mengelap.
"Andai saja segalanya berubah menjadi damai pasti akan sangat menyenangkan, ck hanya andai saja entah itu terjadi atau tidak" Zilian mendengus saat mengingat itu agak mustahil untuk di wujudkan selama sifat serakah dan egois masih melekat di masing masing pribadi setiap mahluk hidup.
"Apa yang membuat mereka tidak ingin berdamai? Apa alasannya? Apa ini akan merugikan mereka? "
"Apakah ini termaksud hukum alam? "
"Apa yang harus ku lakukan untuk mengakhiri segala penyebab kedamaian ini tak kunjung datang? "
Zilian melepaskan sebuah bola cahaya lalu melemparnya ke langit yang ternyata telah terganti dengan langit malam.
Mungkin karena asik memikirkan masalahnya sendiri hingga Zilian lupa akan waktu.
Bola cahaya itu mulai naik setinggi tingginya lalu meledak begitu saja, meninggalkan serbuk yang berjatuhan dari langit ke tanah mengenai semua yang ada di bawahnya.
Orang orang tampak tercengang dengan serbuk berkilauan itu, mereka tentu saja merekamnya untuk mengabdikan momen langka yang hanya akan terjadi sekali ini saja.
"Kalian beruntung hari ini" ujar Zilian masih dengan tubuhnya yang terbaring.
Bola tadi adalah bola yang di isi dengan energinya bersama dengan energi milik ayah dan ibunya yang telah ia satukan.
Bola itu meledak dan menyebar juga karena perintah dari Zilian tentunya.
Bubuk cahaya yang di hasilkan dari ledakan bola itu adalah bubuk penyembuhan yang memberi efek pada manusia yang terkena tadi tidak akan sakit tergantung dari seberapa banyak ia terkena bubuk tadi.
Semakin banyak ia bersentuhan dengan bubuk itu maka semakin lama pula mereka tidak akan sakit dan tentunya akan mendapatkan keberuntangan berupa pengabulan keinginan mereka hanya untuk satu keinginan.
"Wah wah, dermawan sekali kau memberi bubuk itu bagaimana jika mereka meminta kematian? Bukan hanya ada orang bahagia disana" ujar Medeia tiba tiba datang.
Suaranya begitu tidak suka dengan tindakan Zilian yang terbilang ceroboh baginya.
"Ibu? "Ujar Zilian melirik kesampingnya dan malah mendapati Medeia yang ikut tiduran di sampingnya.
"Sejak kapan kau ada disini? "Tanya Zilian mengintrogasi, tatapannya berubah menajam.
Medeia tidak mempedulikannya ia memilih menutup matanya, Zilian yang memang sifatnya tidak peduli pun diam tidak mempermasalahkannya asalkan ia tidak menganggu acara tenangnya.
Medeia memukul perut Zilian secara tiba tiba, Zilian tersigap lalu langsung bangun dari acara rebahannya.
Matanya menatap intens Medeia yang sama sekali tidan terusik bahkan wajahnya terlihat begitu tenang seolah olah bukan dia yang melakukannya.
"Ada urusan apa kau sampai datang menemuiku dan mengangguku? Jika tidak ada hal penting sebaiknya kau kembali saja" ujar Zilian dingin lebih tepatnya mengusir.
Padahal ia ingin mencari ketenangan tetapi ketenangan itu malah terganggu karena keberadaan satu orang yaitu Medeia si pembuat onar.
Zilian tidak peduli lagi ia lebih memilih pindah dari sana dari pada menunggu Medeia berbicara yang tak kunjung kunjung membuka bibirnya.
Kini Zilian berada di salah satu gedung yang tidak terlalu tinggi dari gedung sebelumnya, setidaknya masih bisa memperhatikan bianglala tadi meski pemandangannya tidak sebagus di gedung sebelumnya.
Baru saja akan kembali rebahan Medeia kembali menaikan emosi Zilian. Zilian membuat sebuah pedang yang terbuat dari kristal lalu melemparnya ke arah Medeia yang tengah rebahan.
Pedang itu menancap ke lantai dengan kelopak bunga yang bertebaran, Medeia menguap dengan mata sipitnya.
"Kau menganggu tidurku" ujar Medeia dingin hawa menekannya keluar begitu saja.
"Ck, bukankah kau yang mengangguku? "Ujar Zilian tidak terima.
Medeia berjalan mendekat, "kau sebagai pemimpin tidak seharusnya lari dari tanggung jawab" ujar Medeia duduk di salah satu kursi esnya yang entah sejak kapan telah ada disana.
Zilian duduk di kursi yang ia buat sendiri setelah menghancurkan kursi yang Medeia buat untuknya.
Matanya kembali menatap kearah sebuah bianglala yang masih berputar dengan membawa orang orang di dalamnya.
"Temui temanmu dan selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin" ujar Medeia menasehati.
"Tidak" balas Zilian malas.
"Ibu mengerti kenapa kau bersikap seperti ini, ibu sangat mengerti karena ibu pernah ada di posisi yang sama dengan mu bahkan merasakan beban yang sama dengan mu bedanya hanyalah kau yang tidak pernah merasakan satu hal"
Medeia menjeda kalimatnya, matanya menatap jauh kedepan seolah olah dapat melihat apa yang tidak dapat semua orang lihat.
"YAITU KEHILANGAN" tekan Medeia.
"Itulah alasan yang membuat mu melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan dari luar, membuat rencana sendiri, mengatur waktu kapan dan apa yang akan terjadi sebelum atau setelahnya, menganalisis semua kemungkinan yang dapat mengagalkan rencanamu"
__ADS_1
"Semuanya kau lakukan tanpa rekanmu yang seharusnya ada untuk mu dan alasannya ada satu 'rasa takut' benar begitu bukan? "Ujar Medeia melirik Zilian yang hanya diam mendengarkan.
Zilian tidak tahu perasaan apapun, Zilian melakukan semuanya melalui insting dan kemauannya tidak ada alasan yang memberatkan untuknya melakukannya.
"Aku tidak lupa dengan apa itu 'rasa takut' meski tidak pernah tau rasanya setidaknya aku mengerti tapi apapun itu aku tidak peduli, disudut pandangku apa yang ku lakukan adalah yang terbaik tidak perlu melihat dari sudut pandang orang lain karena akulah yang merasakannya bukan kalian" ujar Zilian.
"Apapun resikonya akan ku hadapi karena ini adalah pilihanku" lanjut Zilian menambahi.
"Dengarlah nak, ibu tau kau tidak ingin kehilangan kami tapi cobalah untuk mengerti disetiap pilihan memang ada akibat dan keuntungannya kau hanya perlu menghadapinya, lagi pula tidak semuanya akan abadi Zilian" ujar Medeia.
"...."
"Aduh anak ini! Jika suatu saat kau kehilangan kami semua, tujuan, alasan kenapa kau bertahan, apa yang akan kau lakukan? "Tanya Medeia mulai kesal.
"Entahlah, mungkin menyesuaikan diri dan bertindak tergantung dengan situasi" jawab Zilian tidak minat.
"Hah, jika itu semua terjadi kelak kau hanya perlu mengingatkan dirimu sendiri untuk terus berfikiran positif, rebutlah kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu, carilah tujuan yang baru jika kau mengalami kegagalan"
"Jika kau gagal dalam rencana mu tetaplah bangkit gunakan dendam dan rasa bencimu sebagai dorongan untuk mencoba memicu kekuatanmu, ingatlah meski tahu akhirnya adalah kegagalan tetaplah untuk mencoba dan terus bangkit setidaknya itu akan menghilangkan rasa penyesalan di akhir nanti" ujar Medeia.
"Ya, aku tahu itu semua, bicara dan menilai memanglah gampang tapi bagaimana degan orang yang merasakannya terlebih untuk pertama kalinya? Pernahkah kau berfikir betapa susahnya itu? "Ujar Zilian dengan deruan nafasnya yang tidak beraturan.
"Yang jelas ibu ingin kau menerima segalanya baik itu akibat buruk maupun baik, ibu tidak ingin kau mengalami kesulitan tanpa ada ibu untuk mendapingi mu" jeda Medeia.
"Apapun keputusanmu ibu akan mendukungnya tidak peduli pandangan seseorang tentang dirimu dan seberapa jauhnya kau dari ibu, ibu akan selalu mendukung mu jangan pernah merasa sendiri nak dan tetaplah menjadi diri mu sendiri" ujar Medeia lembut.
Zilian melirik ke arah Medeia yang terlihat gelisah, apa yang menbuatnya sampai begitu gelisah?
"Hey" panggil Zilian.
"Hm? "
Zilian menatap jauh kedepan sedangkan Medeia mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Akan ku coba untuk membicarakannya dan terimakasih atas saranmu" ujar Zilian.
Medeia tersenyum senang, ia sangat bahagia sekarang refkeks tubuhnya memeluk Zilian yang kaget karena ulah Ibunya.
"Bagus nak! Temui Dedliona dia pasti akan mendengarkan mu dengan begitu ibu bisa tenang kembali" senyum Medeia.
"Tenang? Ada apa? "Tanya Zilian menyelidik.
"Ibu datang kemari untuk membujukmu karena ibu tiba tiba kehilangan nama mu di daftar kehidupan ibu juga menyelinap ke alam kematian untuk mengecek apakah nama mu ada disana atau tidak tapi sepertinya kecurigaan ibu benar, namamu tida ada di daftar kematian juga. Biasanya nama yang tidak ada di kedua daftar tadi bukanlah mahluk yang hidup di dunia ini" ujar Medeia yang akhirnya menceritakannya.
"Lalu bagaimana jika seseorang mati apakah namanya akan menghilang? "Tanya Zilian masih bingung.
"Dasar bodoh tentu saja tidak! Namanya akan dicoret setelah ditandai seperti yang ku bilang tadi, nama yang hilang berarti dia bukan mahluk dari dunia ini yang berarti dia tidak pernah ada sebelumnya di dunia ini" jelas Medeia.
Zilian mengangguk mengerti "sepertinya akan ada yang terjadi" batin Zilian.
Melihat anaknya yang sibuk melamun Medei pun pergi tanpa pamit sama seperti saat dia datang.
Medeia tahu kalau dia pergi anaknya akan merasakannya jadi tidak perlu repot repot berpamitan bukan?
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
__ADS_1
•
•
•
Zilian duduk menatap hidangan yang tersedia di atas meja bulat itu dengan dengan tatapan tak minat, memang Zilian tidak tidak merasa lapar melainkan mengantuk. Jangan lupakan Medeia ibunya mengacaukan acaranya tadi.
Pintu ruangan terbuka menampilkan seseorang yang sedari tadi ia tunggu kehadirannya, tampilan Dedliona bentuk tubuh dewasanya dengan setelan baju tidur yang melekat di tubuh langsingnya.
Dedliona tersentak saat menyadar Zilian ada di ruangan yang sama dengannya bahkan sahabatnya itu tengah menatapnya sekarang seolah olah tidak pernah terjadi masalah sebelumnya.
"Kau sudah bangun? Duduk lalu kita akan makan bersama" ujar Zilian.
"I-iya" jawab Dedliona gagap.
"Hah, ada apa ini? Kepalanya terbentur atau otaknya ketinggalan di suatu tempat? Tiba tiba begini? Aneh" Batin Dedliona.
Tepat saat Dedliona mendaratkan pantatnya di kursi nan empuk itu Zilian kembali bersuara.
"Maaf, seharusnya tadi tidak seperti itu" ujar Zilian tulus.
Dedliona tersenyum menanggapi "tidak masalah, lain kali akan ku usahakan untuk mengatur emosi ku agar tidak mudah meledak seperti tadi" ujar Dedliona lembut.
"Tumben kau merubah wujudmu? Biasanya tidak tuh" ujar Zilian menaikan sebelah alisnya.
"Tadi karena memakai terlalu banyak sihir makannya tubuh Chibby ku tidak dapat berfungsi sepenuhnya jadi yah beginilah jadinya" cerita Dedliona sambil memakan ayam bakar kesukaannya.
Zilian hanya menganggukan kepalanya mengerti. Setelahnya sangat banyak cerita yang Dedliona ceritakan hingga acara makan mereka selesai.
Kini kedua gadis cantik itu tengah duduk bersantai di sebuah taman, lokasi mereka ada di perumahan.
Suasana malam dengan hawa dingin yang menusuk hingga ketulang tulang tidak membuat mereka bangkit dan meninggalkan taman.
Agar hangat Dedliona membacakan sebuah mantra penghangat agar mereka lebih nyaman.
"Kemana saja kau tadi?" tanya Dedliona sambil memayunkan bibirnya kedepan.
"Sekitaran bianglala" jawab Zilian seadanya.
"Wah, memangnya ada? Kau menyukainya? Hahaha, aku juga ingin kesana! "Ujar Dedliona dengan mata berbinarnya.
"Ada, hanya suka lihat dari kejauhan" jawab Zilian singkat.
"Kenapa tidak bilang dari dulu? Hiks, huaaaaa aku ingin kesana! "Teriak Dedliona sengukan.
"Duh" desis Zilian pusing melihat Dedliona menangis seperti anak kecil dengan tubuh dewasanya.
"Kau pergi tanpa aku kesana pokoknya kau harus membawaku titik! "Ujar Dedliona menguncang lengan Zilian.
"Bersikaplah sesuai usia mu! "Teriak Zilian frustas.
"Makannya aku tidak suka dengan tubuh ini selain berat juga tidak imut" ujar Dedliona.
"Apa hubungannya dengan tubuh mu? Argh, ya sudah akan kubawa kesana tapi tidak untuk sekarang" putus Zilian telak.
Dedliona memeluk Zilian manja tentunya dengan pujian pujian manisnya, Zilian hanya pasrah dengan kelakuan sahabatnya yang menggila hari demi hari.
Dedliona melepas pelukannya lalu duduk terdiam dengan kepala yang menunduk kebawah.
Zilian menyadari perubahan dari sahabatnya dan berbalik menatap khawatir pada Dedliona.
"Ada apa? "tanya Zilian cemas.
"Ungh tidak apa apa hanya ada.... "
Dedliona meraung keras secara tiba tiba sebelum kalimatnya selesai, tangannya memegangi kepalanya yang terus menunduk, rasanya sepert ingin pecah.
Zilian panik ia memurnikan energinya lau membaginya dengan Dedliona berharap sahabatnya akan baik baik saja setelahnya.
"Ada apa Liona? Jangan hanya diam saja seperti ini aku tidak bisa tahu kalau kau terus begini "teriak Zilian frustasi ia tidak suka berada di kondisi seperti ini.
"Liona!!! "Bentak Zilian akhirnya tidak tahan.
Dedliona akhirnya terdiam masih dengan kepala yang menunduk, jelas itu membuat Zilian kebingungan melakukan apa selanjutnya.
"Maaf" cicit Zilian merasa bersalah karena kelepasan tadi.
Dedliona mengeleng lemas "ramalan" gumam Dedliona.
Zilian memeluk Dedliona saat ia menangis, Dedliona membalas pelukan Zilian lalu menangis sekencang kencangnya setidaknya ini akan membuatnya lega nanti.
Lebih baik menangis dari pada diam bukan?
"Hiks, ramalan itu telah t-tiba" ujar Dedliona semakin menjadi jadi.
"Ramalan apa yang membuat Dedliona seperti ini?" batin Zilian.
Dedliona tidak ingin bertanya lebih lanjut ia hanya ingin perasaan Dedliona sahabatnya menenang, ia tidak ingin memperburuk situasi.
Zilia terus memeluk Dedliona yang mulai menenang secara perlahan.
"Kau dan aku akan menjalankan sebuah ujian dan saat itu kau dan aku tidak akan bisa bertemu lagi, memisahkan segalanya dari apa yang telah diciptakan"
"Hal yang paling ku takuti telah tiba Zilian, bagaimana ini? "Tanya Dedliona cemas.
"Tunggu, aku sama sekali tidak mengerti ada apa ini? Ramalan itu tertuju pada ku dan kau? Untuk apa? "Tanya Zilian sama bingungnya dengan Dedliona.
Dedliona mengedikkan bahunya dengan kepala yang mengeleng, ia tidak tahu apa apa bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan Zilian kalau dia sendiri tidak mengerti apa yang tengah terjadi.
"Kalau begitu kita..... "
Belum sempat Zilian menyelesaikan kalimatnya Dedliona kembali berteriak kesakitan setelahnya tidak sadarkan diri.
Berlanjutttt....
__ADS_1