
^^^"Demi kehidupan yang damai aku akan mengorbankan kebahagiaan ku, aku lelah akan peperangan yang penuh darah ini! Aku membencinya!!! "^^^
^^^By: ZILIAN^^^
...~π~π~π~...
Kembali di base, Zilian terduduk letih di ruangannya memikirkan bagaimana caranya mengakhiri semuanya hanya dengan satu rencana.
Meski sudah mengetahui peperangan tidak akan ada habisnya selama rasa ketidak puasan dan kebencian belum musnah tetap saja Zilian tidak dapat menahan diri untuk mengakhirinya secepat mungkin. Namun apa dayanya? Kekuatan saja menolak keberadaannya, bagaimana mengakhirinya?
Sejenak Zilian melupakannya saat tiba tiba kepalanya berdengung menampilkan sebuah gambar samar di benaknya.
"Ugh..... "
Zilian memegangi kepalanya dengan keras dan terus berusaha tidak mengeluarkan suara agar tidak ada yang datang untuk melihatnya.
"Apa ini? Boneka? Sepasang pasangan? Siapa mereka? "Gumam Zilian dengan nafas yang terengah engah.
"Firasat ku tidak baik, mereka tidak cukup! sepertinya harus mengerahkan unit 2 sebagai bala bantuan" pikir Zilian.
Setelah memikirkannya sejenak akhirnya Zilian mengeluarkan perintah untuk mengirim bala bantuan unit 2 yang di pimpin langsung oleh Solydia dan Slavina.
Slavina adalah orang baru yang di rekrut oleh Hanabi sendiri, karena Jadey menolak makannya Hanabi dengan berat hati harus menjalankan tugasnya seorang diri untuk mengumpulkan anggota baru.
"Kami dari unit 2 pasukan bersenjata lengkap siap menjalan tugas yang anda berikan" ujar Slavina memberi hormat.
"Aku menugaskan kalian untuk menyusul Jadey dan yang lainnya, suruh Hanabi untuk berjaga di luar base bersama dengan bonekanya takutnya mereka akan mengejar sampai kemari "perintah Zilian.
"Baik, saya akan segera menyusul mereka" tegas Slavina.
"Tunggu! ada satu hal yang ingin saya tanyakan" bantah Solydia yang juga ikut di tugaskan.
"Silahkan" ujar Zilian memberikan akses untuk Solydia megatakan pertanyaannya.
"Jika mereka menghadang apa kami perlu membunuhnya? "Tanya Solydia.
"Tidak, jangan membunuh kecuali kalian memang sudah merasa di pojokan itu pun harus tetap berusaha tidak membunuh, mengerti? "
"Baik! "Ujar mereka serempak.
"Bubar" perintah Zilian.
Solydia dan Slavina pun membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan lalu segera bersiap siap untuk berangkat.
...~π~π~π~...
Selang tiga jam berlalu akhirnya Leix berhasil membebaskan diri setelah berhasil Leix segera mencairkan esnya kembali menjadi danau. Sejenak ia menatap lekat Miyaku yang sedang tertidur.
"Cih, sengaja melepaskan ku bukan berarti aku selamat bukan? Kebencian yang berada di hati mu sudah membuat ku tidak mengenal mu lagi" Gumam Leix yang masih terdengar jelas di telinga Miyaku yang saat ini tengah menahan amarah.
"Aku tahu kau tidak jahat tapi aku tidak dapat mengatakan bahwa kau adalah orang yang baik" batin Leix.
Setelah merasa Leix telah pergi Miyaku pun membuka matanya lalu menegakan tubuhnya.
"Aku membenci dunia ini, sungguh tidak adil" gumam Miyaku menatap lekat tangannya.
Baru saja Miyaku akan menyusul ke tempat Laurel berada dia sudah di tahan oleh orang yang sangat ia benci tapi juga dia sayang.
"Kenapa kau membuat kekacauan seperti ini? "Tanya Dedliona mengeratkan gengaman tangannya yang membuat Miyaku meringis kesakitan.
__ADS_1
Miyaku menangkis tangan Dedliona keras lalu menatap Dedliona dengan penuh kebencian.
"Berhenti mengurusi urusan ku kakak pertama, kau tidak mengerti tujuan ku kak! "Tangis Miyaku yang sudah tidak tahan.
Dedliona mendekati Miyaku lalu memeluknya, Dedliona pun sudah tidak tahan akan kekacauan di dunia ini bahkan ia tidak tahu harus bertindak seperti apa untuk melindungi keluarganya.
"Aku mengerti maksud mu dan tujuan mu Miyaku, tapi kau harus tahu apa yang kau lakukan saat ini tidak menguntungkan keluarga kita tapi mengirim kita kembali ke jalur di saat masa itu" ujar Miyaku dengan nada lemah lembut.
"Kakak! Tolong mengertilah, jika kita tidak membunuh mereka dunia ini tidak akan tenang sebaliknya, jika kita membunuh mereka semua maka kita pasti akan hidup tenang dan tentunya tidak perlu bersusah payah lagi melakukan peperangan yang tidak berarti ini" ujar Miyaku yang mendorong Dedliona pelan dan melepaskan pelukan mereka berdua.
Dedliona menghela nafas sejenak "membunuh mereka tidak akan memberikan kita keuntungan" ujar Dedliona dengan wajah tanpa ekspresi.
Miyaku merengut tidak suka akan penuturan kakaknya ini, dia tidak mengerti apa pun tentangnya "Argh! Berhentilah bersikap baik pada musuh mu sendiri kak, kau terlalu polos maka dari itu saudara kita semuanya tewas di tangannya! "Bentak Miyaku yang tanpa sadar menyerang Dedliona yang dengan sengaja menerima serangan itu.
Miyaku yang sadar akan tindakannya pun dengan segera menghampiri Dedliona yang sama sekali tidak mempedulikan lukanya sendiri.
"Maaf, kakak sampai harus terluka karena kecerobohan ku sendiri" ujar Miyaku yang merasa bersalah.
"Kau sendiri takut aku terluka bukan? Bagaimana jika kita membunuh mereka Miyaku? Apakah mereka tidak akan membalas kita? Sadarlah adik ku!!! "Tangis Dedliona.
".... "
"Dengarkan aku Miyaku, jika kita membunuh dengan alasan bertahan dan melindungi keluarga kita bagaimana dengan alasan musuh yang mati di tangan kita? Mungkin saja keluarganya sedang menangis berduka akan kematiannya sedangkan kita setelah memenangkan peperangan bersuka cita akan keberhasilan mereka tengah bersedih! mereka yang berperang memiliki alasan untuk melindungi"
"Alasan yang sama melindungi keluarga, kedua belah pihak sama sama ingin hidup damai bersama dengan orang yang mereka cintai. Orang yang telah tiada mereka balaskan dendamnya dengan alasan merengut nyawa orang yang tidak bersalah, sedangkan kita juga melakukan hal yang sama dengan tujuan yang sama dengan musuh. bagaimana dengan kita yang tidak tahu apa apa? "
"Bersikap suci seolah olah melindungi orang yang tidak bersalah tapi malah membunuh orang yang berjuang untuk melindungi orang yang tidah bersalah? Mereka memiliki orang yang ingin mereka lindungi, kita memiliki orang yang ingin kita lindungi. Selama ketidak puasan dan kesalah pahaman masih melekat erat di hati kita, peperangan tidak akan pernah berhenti selama tujuan mereka belum terpenuhi" ujar Dedliona penuh penyesalan tapi tidak di sadari oleh Miyaku.
"Masing masing memiliki jalan pikir hanya saja kepedulian merekalah yang kurang" gumam Dedliona
Miyaku terus menahan diri untuk tidak menyerang Dedliona yang saat ini berdiri tanpa perlindungan apapun, seolah olah memberikan akses agar Miyaku membunuhnya saat ini.
"Jika kau menang rasa bersalah yang entah kau sadari atau tidak akan melekat di hati mu, orang yang mati, noda darah yang sudah menyentuh tangan mu akan mengingatkan atas tindakan kejam dari mu, merengut nyawa bukanlah hal yang pantas kita lakukan" balas Dedliona yang mengores urat nadinya di depan mata Miyaku.
Darah terus mengalir dari tangannya, dengan wajah dinginnya Dedliona memperlihatkan darahnya yang terus mengalir di hadapan Miyaku yang mengeraskan rahangnya. Perasaan amarah dan ketakutan, inilah yang di rasakan Miyaku saat ini.
Miyaku yang melihat tindakan Dedliona pun merasa kesal. Miyaku merobek lengan bajunya dan mengikatkannya di tangan Dedliona.
Tapi sayang, Dedliona menepisnya dan menjaga jarak dari Miyaku yang heran akan tindakan kakaknya ini.
"Kenapa kau menghindar? "Tanya Miyaku yang heran akan kelakuan Dedliona yang tidak seperti biasanya.
"DARAH! NODA DARAH YANG TUMPAH DI MEDAN PEPERANGAN, BAIK ITU DARI SAUDARA KITA ATAUPUN DARI MUSUH SEMUANYA ADALAH SEBUAH NYAWA! KITA SAMA, YAH KITA SAMA TAPI BEDA PEMIKIRAN! "
"AKU BENCI TERUS BERTINGKAH SEOLAH OLAH SEMUANYA BAIK SAJA MIYAKU! AKU LELAH MELIHAT BANYAKNYA NYAWA YANG GUGUR KARENA PEPERANGAN! BISAKAH KITA MENJALIN HUBUNGAN TANPA SALING MENCURIGAI?!! "Teriak Dedliona yang tidak dapat menahan rasa sakit yang selama ini ia pendam seorang diri.
Miyaku menunduk, ia mulai mengerti akan penderitaan Dedliona yang ternyata lebih besar dari dirinya.
"Aku tahu.... "
"KHIKHIKHI...... IBLIS ADALAH MALAIKAT, MALAIKAT ADALAH IBLIS! "
Dedliona tertawa keras sambil merentangkan tangannya ke arah langit. Bola matanya telah berubah menjadi merah menandakan sosok iblisnya telah bangkit.
"LUMAYAN GANAS, HEY.... KAU MIYAKU! "
Dedliona mendekati Miyaku yang diam saja "KAU TIDAK LELAH MEMBUNUH MEREKA? KAU TAHU TIDAK IBLIS SAJA MEMILIKI HATI NURANI? ADUH ADA ADA SAJA DEH "Hela Dedliona.
Dedliona menepuk pelan pundak Miyaku yang saat ini tengah merinding karena kekuatan mematikan dan aurah menekan yang di keluarkan dari tubuh Dedliona.
__ADS_1
"ADA YANG MENDEKAT"
"Akan kubunuh mereka! "Marah Miyaku.
"DIAM! "Gertak Dedliona yang berubah ke wujud biasanya.
"Cih, untung saja aku berhasil mengalahkan kebencian ku sendiri jika tidak mereka pasti akan ku habisi tanpa sisa" batin Dedliona.
Laurel yang dengan berani menghampiri mereka dengan langkah sempoyongan dan kondisi tubuh yang sudah melemah. Dedliona mengurung Miyaku yang saat ini tidak dapat menahan rasa amarahnya untuk membunuh Laurel.
"Kenapa kau kemari? Tidak takut aku akan membunuh mu? "Ujar Dedliona dengan kuku yang sudah memanjang seperti cakar.
"Mati juga tidak apa" ujar Laurel yang tidak mempedulikan hidup matinya.
Laurel tersenyum kecut saat melihat Dedliona, dengan helaan nafas berat Laurel mengenggam tangan Dedliona.
"Aku lelah dengan peperangan, ku mohon bantu aku menyelesaikan semuanya! Jika dengan membunuh ku dan anggota ku sebuah kebebasan maka silahkan" tangis Laurel yang bersujud di hadapan Dedliona.
"Memangnya cuman kau saja yang lelah hah? Aku pun lelah dengan cara pikir kalian! "Marah Dedliona.
"Peringati rekan mu untuk tidak memulai peperangan dengan kami jika tidak aku pun terpaksa menghancurkan kalian" ancam Dedliona.
"Baik, jika dengan begitu bisa memberikan perdamaian maka akan ku lakukan" lemas Laurel. Ia pun berdiri dan mulai berjalan menjauh dari Dedliona yang tampak mengingat sesuatu.
"Anak ini? Mengapa begitu mirip dengan Olive? "Batin Dedliona.
Karena penasaran Dedliona pun ingin memancing jalan pikir Laurel.
"Olive? "
Laurel yang sudah berjalan menjauh dari Dedliona pun berhenti sejenak, ia berbalik lalu tersenyum lemah ke arah Dedliona yang sudah berlinang air mata.
"Kau.... Olive syukurlah kau bereinkarnasi" tangis Dedliona.
"Jika bukan karena Miyaku yang mendesak ku mungkin ingatan lama ku ini tidak akan kembali, kakak ku mohon akhiri ini "
Laurel yang tidak tahan karena terluka parah pun tidak sadarkan diri.
Dedliona segera melepaskan bubuk kristalnya dan mengurung Laurel di dalamnya.
Leix yang baru tiba pun langsung mendekati Dedliona yang sama sekali tidak memberikan tanda tanda ancaman pada Leix.
"Apa yang terjadi? Mengapa kau mengurung Miyaku dan Adik ku? " tanya Leix menyentuh kristal milik Dedliona.
"Mencegah apa yang tidak seharusnya terjadi" santai Dedliona.
Leix menganggunk mengerti "bisakah kau melepaskannya? Aku.... Argh! "
Leix mengeram keras, tiba tiba seluruh tubuhnya terasa kaku dan terasa teriris oleh sesuatu. Hal ini membuat Leix perlahan kehilangan kesadaranya.
Melihat kejadian aneh di hadapannya dengan terpaksa Dedliona harus membantu Leix dengan cara menyembuhkan lukanya.
"Kakak! Tolong selamatkan nyawanya! "Teriak Miyaku dari dalam pembatas energi buatan Dedliona.
"Diamlah "ujar Dedliona yang kesal karena tindakan Miyaku.
Dia yang membuatnya terluka dia juga yang tidak rela melihatnya terluka, tidak mengerti lagi.
Berlanjuttt....
__ADS_1