
...~~~~...
Tiba saatnya Zilian memasuki pusat informasi yang letaknya berada di pusat kota.
Zilian tengah menggunakan sebuah penutup wajah dengan pakaian yang telah ia ganti layaknya seorang bangsawan terpandang.
Ia berjalan dengan santainya menuju meja informasi lalu menaruh dua kantong emas tepat di hadapan seorang pria yang sedang menyambutnya dengan senyuman.
"Selamat datang, Lady. Apa yang Lady cari? "Ujar pegawai toko itu ramah.
"Apa ada ruangan? "Tanya Zilian sambil melirik ke sekelilingnya dengan teliti.
"Tentu saja, Lady. Apa Lady ingin menggunakan ruangan tersebut? "
Zilian mengangguk, "bawa orang itu kesana, segera"
Tampak pelayan itu kaget dengan aurah yang samar samar menyerang kearahnya.
"Saya mengerti" ujar Pria itu sedikit ketakutan.
Pria itu menatap ke arah salah satu pegawai yang bekerja disana, ia pun memanggilnya untuk mendekat.
"Antar Lady ke ruangan terbaik kita, pastikan Lady merasa nyaman" ujarnya pada pegawai wanita yang baru saja sampai disana.
"Baik, mari ikuti saya Lady" ujarnya dengan kepala yang ia tundukkan.
"Jalan" perintah Zilian saat melihat pelayan itu tampak tidak berani berjalan mendahului Zilian.
Pegawai wanita itu berjalan lebih dulu saat Zilian telah memberikan perintah untuknya sedangkan Zilian mengekor dibelakang.
Zilian terus menerus mengekorinya hingga dirinya sampai di depan pintu mewah dengan warna biru gerap.
"Silahkan, Lady. Ini ruangan anda, jika anda memerlukan sesuatu anda bisa menggunakan lonceng di atas meja itu untuk memanggil saya" ujarnya masih dengan kepala yang ia tundukkan.
Zilian mengulas senyuman tipis di balik kain yang menutupi sebagian wajahnya.
"Ambil ini, gunakan untuk adikmu dan berhentilah bekerja disini, pekerjaan ini tidak cocok untukmu" ujar Zilian memberikan sekantong penuh emas pada wanita yang telah mengantarnya tadi.
Melihat apa yang Zilian berikan padanya membuatnya merasa ragu untuk menerimanya.
"Adikmu bisa saja mati sekarang" ujar Zilian sedikit menekan kalimatnya barusan.
Dengan ragu ragu wanita itu menerimanya dengan tangan yang bergetar, kepalanya bahkan masih menunduk.
"T-terimakasih nona, sungguh terimakasih" ujarnya menerima, tentu dengan air mata yang berhasil lolos membasahi pipinya.
"Bawa ini ke orang tadi" ujar Zilian menyerahkan sebuah kertas yang gadis itu terima sekarang.
Gadis itu nampak berfikir dulu, setelahnya diam menatap kertas itu bingung.
"Bodoh" batin Zilian merasa sedikit bingung tentang wanita di hadapannya ini, entah dia bodoh atau memang polos.
"Karena inilah aku menyuruhmu berhenti, kau sama sekali tidak pantas disini meski begitu aku akui mulutmu yang tertutup rapat itu, mengesankan" senyum Zilian tersenyum tipis.
__ADS_1
Gadis itu tampak semakin bingung tapi disisi lain dia takut untuk bertanya, jangankan bertanya mengangkat kepala saja terasa berat untuknya.
"Surat itu berikan pada pria yang tadi menyuruhmu untuk mengantarku kemari" ujar Zilian kini memperjelas ucapannya agar wanita itu dapat mencernanya dengan baik.
"B-baik" pelayan itu menunduk memberi hormat lalu berjalan menjauh dengan langkah yang sedikit tergesa gesa.
Zilian mengedikkan bahunya acuh lalu memasuki ruangannya, ia mendapati seorang pria yang sekiranya berusia 27 tahun yang sedang duduk menunggu Zilian masuk.
Mungkin wajahnya tampak seperti pria berusia 27 tahun tapi jangan langsung menilai karena usianya bahkan melebihi ribuan tahun.
"Selamat datang, Lady. Perkenalkan nama kode saya GZN anda boleh memanggil saya dengan sebutan itu" ujarnya menunduk hormat.
"Angkat kepalamu" ujar Zilian berjalan melewati pria itu menuju ke arah sofa dekat jendela di dalam ruangan itu.
Jaraknya lumayan jauh mengingat seberapa luas ruangan yang baru saja Zilian sewa.
Pria itu dengan patuh berdiri tegak, "informasi apa yang Lady inginkan? "Tanyanya dengan senyuman di wajahnya, tampak sekali dia begitu memaksakannya agar terlihat ramah.
Zilian berdecih pelan dan memilih menatap ke arah luar jendela dengan dagu yang ia topang.
Pria itu tampak berniat menghampiri Zilian dan berdiri di dekatnya tapi baru ia ingin melangkah suara yang begitu mengintimindasi masuk ke indra pendengarannya.
"Tetap disana! "Ujar Zilian menekan kalimatnya, ia masih menatap ke arah luar jendela dengan pandangan serius.
Pria itu kembali berdiri tegak, cukup lama keheningan menguasai ruangan nan luas itu dan pria itu masih menunggu Zilian untuk membuka pembicaraan, sayangnya Zilian masih diam dengan posisi yang masih belum berubah.
"Kejam" batin Zilian menatap tajam ke hamparan salju putih di luar bangunan.
Bangunan seperti ini saja sudah begitu mengesankan lalu bagaimana dengan bangunan Istana? Tidak ada yang tahu itu, mungkin lebih megah dan mewah ataukah itu melebihi ekspetasi?
Zilian mengalihkan tatapannya ke pria itu yang sontak salah tingkah dan juga sedikit terlihat penasaran dengannya.
"Apa kau tahu kenapa putra mahkota yang mulia pangeran Fiberyt Axeria Caldwell memasang perisai di pulau putih? Ada apa saja disana? "Ujar Zilian datar.
"Ini informasi yang umum tidak mungkin seorang bangsawan seperti Lady tidak tahu? "ujar Pria itu menatap Zilian dengan tatapan menelisik.
"Aku memanglah seorang bangsawan hanya saja berbeda dengan bangsawan lainnya seperti yang selama ini kau ketahui Lord" ujar Zilian sedikit bermain main.
"Saya tahu setiap bangsawan yang ada di dalam kerajaan ini, setiap incinya saya mengetahui semuanya jadi tidak mungkin saya tidak tahu siapa Lady sebenarnya" ujar pria itu menajamkan penglihatannya.
"Jalankan tugasmu "ujar Zilian mengingatkan posisi mereka sekarang.
"Ah, maafkan saya Lady" ujarnya berkeringat dingin, akan gawat jika Zilian melapor dengan atasannya.
Zilian tidak membalas apapun, dia hanya diam saja menunggu pria itu peka akan situasi.
Pria itu tampak mengerti apa yang Zilian lakukan, ia menghela nafas sejenak lalu menatap Zilian sebelum memulai ceritanya.
"Duduklah" perintah Zilian sesaat sebelum pria itu membuka mulutnya.
Pria itu menurut, dia duduk di sofa disebelahnya itu lebih baik di banding duduk berdekatan dengan Zilian, entah kenapa ia merasa agak tertekan.
"Seperti yang Lady ketahui kematian putri Veronica memberikan dampak dan juga sebuah keberuntungan ditanah dingin ini, dampak yang hampir saja memusnahkan kerajaan Baxeria" ujarnya memulai cerita.
__ADS_1
"Wah, separah itu? Tunggu bukankah dia menghilang, kenapa kasusnya berubah menjadi sebuah kematian? Sepertinya akan ada hal yang menarik lagi" batin Zilian tersenyum lebar.
Pria itu menatap ke arah jendela dengan tatapan yang sulit diartikan, terlihat segala emosi tercampur aduk dalam tatapannya tapi itu semua tertutupi dengan raut wajahnya yang datar.
"Entah kenapa kematiannya membuat seluruh orang yang berada di atas tumpukkan salju merasakan kesediahan atas kematiannya tentu saja yang mulia Raja, Ratu dan Pangeran yang masih berusia 15 tahun itu turut sedih tapi tidak separah pangeran yang hampir kehilangan kewarasannya"
"Saat itu salju ikut turun, sangat deras bahkan begitu banyak badai dan petir yang memporak porandakkan perumahan warga, kondisi ini dimanfaatkan oleh para pengikut iblis itu untuk menghancurkan kerajaan Baxeria"
Pria itu tampak menjeda kalimatnya lalu kembali melanjutkannya dengan tangan yang terkepal kuat.
"Dalam kondisi kacau balau Pangeran Fiberyt langsung turun tangan bersama dengan Duke Harold yang membantu mengamankan rakyat sedangkan Pangeran dia menghabisi mereka seorang diri, setelah itu pangeran menciptakan perisai itu sesaat setelah membereskan mereka dengan kondisi yang dipenuhi darah disekujur tubuhnya, masih dengan emosi yang memuncak ia kembali ke istana dan berlutut dihadapan adiknya Putri Veronica yang hanya sempat bernafas beberapa menit lalu pergi, Putri Veronica pergi dengan senyuman diwajahnya yang mungil"
Pria itu tersenyum hangat, tak terasa ia menitikan air matanya, ia bahkan tidak menyadari kalau dia tengah menangis.
Zilian yang mendengar itu sebenarnya ingin menangis, ia merasa seolah olah dirinya dapat merasakan setiap perasaan semua orang saat kejadian itu kenimpa mereka tapi Zilian memilih untuk menahan diri.
Pria itu menundukkan kepalanya menatap lantai ruangan dengan pandangan rumit.
"Saat tubuh yang mulia Putri akan dimakamkan entah darimana Pangeran Fiberty datang dan merebut tubuh Putri Veronica dan kemudian kembali meletakkannya, ia menangis saat itu sambil memegangi tangan Putri, sebuah keajaiban terjadi. Yang mulia Putri menumbuhkan bunga di tanganya yang kemudian melayang ke arah sebuah pulau yang sekarang kami sebut sebagai pulau putih pembawa kehangatan Putri Veronica" ujarnya.
"Tempat itu sangat hangat dengan pemandangan yang di penuhi berbagai jenis bunga, meski begitu salju tetap turun disana. Berkat bunga itu luka setiap orang kembali pulih bahkan sempat menyebar di seluruh wilayah Baxeria tapi itu hanya bertahan saat kami berhasil membangun kembali kerajaan, kini bunga itu hidup di pulau itu saja, dia seolah olah menarik kembali kehangatan itu dan mengembalikan cuaca dingin yang menjadi ciri khas kerajaan ini" ujarnya menjelaskan setiap inci kejadian yang dia ingat.
"Apa kau tahu isi dari pulau itu? "Tanya Zilian.
"Berbagai jenis tanaman obat, bunga dan buah buahan "ujarnya.
"Apa itu milik kerajaan? "Tanya Zilian lagi.
"Tidak, apa yang ada disana akan datang kemari melalui bunga yang akan menghampiri kami melalui udara, itu hanya akan terjadi selama setahun sekali "ujarnya mulai merasa aneh dengan Zilian, apa mungkin Zilian bukan dari dalam kerajaan? Pertanyaannya telalu umum dan patut untuk di curigai, bagaiman tidak? Orang biasa saja tahu.
"Apa yang ada disana tidak dapat dicabut oleh siapapun bahkan pihak kerajaan tidak terkecuali, jika ada yang melanggar badai akan datang menghampiri" ujarnya melanjutkan bagaimanapun Zilian adalah klaenya sekarang.
"Dimana makam Putri? Kau tidak menceritakannya tadi"ujar Zilian yang membuat pria itu tersenyum sambil mengangguk anggukan kepalanya.
"Pengamatan yang baik Lady, tubuh yang mulia Putri telah berubah menjadi kepingan salju sesaat setelah bunga itu melayang ke pulau" ujarnya dengan kepala yang mulai ia angkat, lagi lagi tatapannya menuju arah luaran jendela.
"Dia hidup tapi juga tidak terasa nyata, terlihat tapi juga terasa tidak, menarik" gumam Zilian yang tersenyum menatap hamparan salju dari atas sana.
Zilian menatap pria itu lalu tersenyum penuh arti, ia melepas tudungnya tapi tidak dengan penutup wajahnya.
"Apa kau tahu penguasa yang sebenarnya dari kerajaan ini? "Tanya Zilian menatap pria itu penuh arti.
"Tentu saja yang mulia Raja Ericdanus dan Ratu Tilda" ujarnya dengan raut wajah heran.
"Ada satu kenyataan yang perlu kau ketahui, penguasa asli dari kerajaan ini tidak lain adalah putri Veronica sendiri" ujar Zilian penuh percaya diri.
"Apa maksudmu? "
"Dialah yang membangun ulang kerajaan ini yang diwakilkan oleh kalian lalu pemerintahan kerajaan inipun dia wakilkan kepada yang mulia Raja dan Ratu dan untuk kekuatannya dia telah memberikannya pada yang mulia Pangeran. Dia menyaksikan segalanya melalui butiran salju ini, dia melakukannya tanpa ingin kalian tahu akan tujuannya yang sebenarnya" ujar Zilian bangkit dari sofa lalu membuka jendela dengan pelan.
"Tunggulah, aku akan kembali sesegera mungkin" ujar Zilian melompat keluar dari sana melalui jendela yang baru saja ia buka.
Berlanjutttt....
__ADS_1