Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
PART 8 :PENYELIDIKAN


__ADS_3

karena kejadian kemarin jadwal ke berangkatan mereka di percepat yang seharusnya berangkat dua hari lagi menjadi sehari lagi.


mereka menyiap kan perlengkapan bertarung mereka mulai dari senjata dan beberapa alat lainnya tentunya dengan baju samaran mereka.


"aneh banget sih kan aku kan bisa mengubah wujud ku ke wujud apa pun"ujar Medeia.


"mereka bisa merasa kan kekuatan kalian, sudah ku bilang jangan gegabah"ujar Earthan lesuh.


"jadi harus bagaimana lagi seharusnya jadwalnya kan besok huh nyebelin"kesal Rika.


"itu salah kalian bertiga andai saja kalian tidak berkelahi di depan markas mana lagi gua yang kena getahnya"kesal Riko.


"adik nggak tau di untung kakak kena hukuman yah adek juga harus dong biar adil"bela Rika yang menjitak kepala Riko.


"buset dah, serah loh mau apa udah terjadi jalanin ajah sekalian"ujar Riko mengelus kepalanya.


"Kami duluan"ujar Medeia pergi meninggal kan ruangan bersama Chaiden.


"kalian sudah siap belum kalau sudah siap cepat pergi"kesal Earthan.


"Sabar ketua sedikit lagi"ujar Riko menenang kan.


di luar ruangan Medeia berjalan bersama dengan Chaiden. Medeia agak kesal akan teriak kan yang selalu ia dengar setelah melewati lorong.


"kyaaaaaaa senior Chaiden ganteng banget ples gagah huaaaaa"


"senior mau menjalan kan misi yah? aku mau nemenin senior dong mati pun rela asal kan bersama muchhhh"


"gagah bat dah jadi suami idaman ku dong kak"


"eh eh siapa tuh cewek jelek berani beraninya deketin senior sedeket itu"


"iya nggak ngaca woy"


"virus apaan tuh hus hus jauhin senior ambilin semprot gih"


"mikir kek di mata senior loh itu bagai kan debu yang hanya mengotori jubah pangeran kami"


"BERISIK JIKA KALIAN MASIH SAYANG DENGAN NYAWA KALIAN MAKA DIAMLAH"kesal Medeia menatap mereka dengan tatapan tajamnya.


"....... "


"bagus, berani jelek jelek kin gua hah? memangnya gua nggak denger, sialan mau gua kasih pelajaran nih"ujar Medeia menjentik kan jarinya.


"nggak perlu buang buang tenaga buat urus tuh cecunguk ingat fokus dengan misi"peringat Chaiden.


"huh ngeselin banget dah kalau ada waktu akan ku buat kalian lebih menderita dari pada mati"ancam Medeia.


seketika mereka tidak berani membuka mulut mereka merasa tertekan dengan aurah mencengkam dari Medeia.


"Kau saja yang masuk duluan"ujar Chaiden.


"huh oke tapi kau menyusul yang cepat sedikit nggak baik membiar kan gadis kek gua nunggu"ujar Medeia memasuki portal.


"Hem... "


setelah memasuki portal medeia tiba di dekat apartemen sebuah perkantoran, sambil menunggu Chaiden datang Medeia mengecek seluruh bangunan mengguna kan instingnya.


Degh


tiba tiba Medeia merasa pusing dengan kepala yang ingin meledak.


"A-apa ini? kenapa tiba tiba begini sih"kesal Medeia.


Uhuk uhuk uhuk


"darah ku sampai keluar siapa sebenarnya mereka ini, sebelumnya tidak pernah seperti ini cih memang bisa ku akui"ujar Medeia berdiri.


tidak lama setelah Medeia menetral kan dirinya Chaiden pun sampai setelah Chaiden sampai mereka segera mencari titik lokasi markas yang ada di sekitar korea selatan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


di sisi lain


"sepertinya mereka sudah bergerak sekarang kau mau apa? "dinginnya.


"kau ini masih belum berubah yah, heh jangan ada yang bergerak biar kan saudara mu membawa kabar baik maka kau bisa mengurus sampah itu tapi ingat jangan menyakiti wanita berambut biru muda itu"ujarnya tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"apa kau tertarik untuk menjadikannya rekan di sini? "tanyanya tanpa menatap sedikit pun.


"heh kalau dia menurut mungkin saja nasibnya bagus tapi kalau dia melawan maka objek experimen berikutnya mungkin dia lah yang akan mengisinya"ujarnya tersenyum kemenangan.


"hn...."acuhnya.


"apa kau masih dendam? "tanyanya.


"bukan urusan mu"dinginnya.


"Heh, kau cukup menurut saja bantu aku mencapai tujuan ku maka kau akan lepas setelah semuanya tertuju jadi berusahalah, kekuatan natural yang kau miliki itu memang di takdir kan untuk menghancurkan dunia ini hahahaha"tawanya.


"menghancur kan yah? hn.... "pergi menjauh.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sudah berhari hari Medeia dan Chaiden menelisuri berbagai tempat tapi sama sekali tidak menemu kan satu pun petunjuk bahkan pergera kan pun tidak ada membuat mereka resah.


"jika ingin lebih cepat mungkin satu satunya jalan hanya berpencar"pikir Medeia.


"mungkin"dingin Chaiden.


"mengesal kan sekali, meski pun sudah berhari hari menelusuri semua daerah yang ada di sini berulang ulang kali tetap saja hasilnya sama saja bahkan tidak ada pergera kan atau pun perlawanan dari mereka"


"Aku yakin mereka sengaja menjadi kan kita umpan dan memojok kan kita, jika berpencar itu sama saja mencari mati juga tapi itu satu satunya cara tercepat hah"Medeia mengerta kan giginya pusing memikir kan masalah yang sama berulang ulang kali.


"guna kan kemampuan mu"ujar Chaiden.


"apa kau bisa mengguna kan segel penghubung? "tanya Medeia dengan nada mengejek.


"kau pikir aku ini apa hah? "kesal Chaiden.


"Baik aku akan menempel kannya di dahi mu saja"ujar Medeia menatap lekat mata Chaiden.


Medeia menyentuh jidat Chaiden lalu memberi tanda miliknya agar tidak di ketahui Medeia menghilang kannya mengguna kan ilusi terkuatnya yang berada di matanya.


Sedang kan Chaiden memberi tandanya di rambut Medeia bertujuan tidak melukai anggota badan Medeia lebih tepatnya tidak ada luka fatal untuk Medeia.


setelah saling memberi tanda mereka berpencar, Medeia ke mengambil ke arah selatan dan utara sedang kan Chaiden mengambil arah utara dan barat.


Medeia menelusuri setiap bangunan, orang, hewan bahkan tanaman dengan teliti tanpa mengguna kan kekuatannya kali ini ia hanya mengandal kan kemampuan matanya dan instingnya untuk merasakan hawa musuh.


Cukup memakan waktu enam jam Medeia selesai menelusuri area bagian utara sekarang bagian selatan Medeia dengan cepat berangkat ke daerah selatan.


Setibanya di daerah selatan Medeiat mengawasi beberapa kerumunan manusia yang tengah berlalu lalang sibuk dengan aktivitas mereka sendiri.


"menjengkel kan ini pasti ulah rubah sialan itu lebih baik kita bunuh saja siapa tau dia itu jelmaan siluman"usul salah satu dari kerumunan itu.


"tidak perlu butuh banyak omongan lebih baik kita bunuh saja bersama dengan anak ini buang buang waktu saja"kesal pria yang ada di kerumunan itu juga.


"jangan rubah ini tidak salah apa apa kalian kenapa begitu kejam belum tentu cerita kuno itu benar"bela anak kecil itu.


"Sialan jaga omongan mu nak lebih baik kau serah kan rubah itu ke tangan kami dia bisa melukai mu"


"Benar serah dia pada kami"


"kalian pasti akan membunuhnya"gertak anak itu.


"sudah di baik baikkin malah semakin menunjak mau cari mati kau hah"mengangkat tangan berniat memukul anak kecil itu.


"maaf menyela kalian hanya saja saya ingin menyampai kan sekedar peraturan yang menetap saja, saya tahu betul negara kalian sudah mengakui kerja sama dengan inggris untuk melindungi rubah yang ada jika saya melapor apakah kalian masih bisa melihat cahaya lagi"ujar Medeia yang menerobos kerumunan dan melindungi anak kecil itu.


"kau ini siapa berani sekali menyela kami kau orang asing yah"


"siapa saya bukan urusan kalian pergi sebelum saya menhubungi pihak berwenang"ancam Medeia.


"memangnya kau ini siapa hanya seorang pendatang baru saja punyak hak apa kau?!! "


"benar kau tidak punya wewenan di sini"


"jika kau menyakiti kami itu sama saja kalau kau menyerah kan diri ke penjara negara kami"


"Siapa yang ingin mencari masalah? saya hanya ingin melindungi nyawa saja apakah itu termaksud pelanggaran di sini? Setahu ku itu tidak ada hubungannya"ujar Medeia tenang.


"kau.... " menyerang dengan pukulan.

__ADS_1


"Apa begini cara kalian memperlaku kan orang asing? jangan salah kan saya jika saya kejam! "marah Medeia.


Medeia menahan tangan salah satu dari mereka yang menyerangnya Medeia menatap rubah yang ada di dalam pelukan anak itu ia melihat rubah itu seperti merasa kesakitan ia melihatnya lebih teliti lagi ternyata salah satu dari kakinya ternyata mengalami patah tulang.


melihat itu Medeia menatap tajam ke orang itu lalu menyerang balik mematah kan kakinya tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"ku kembali kan rasa sakit yang rubah itu rasa kan"dingin Medeia.


"jika masih ada yang merasa tidak sependapat dengan ku maka majulah"lanjut Medeia.


Mereka terdiam menutup mulut mereka berusaha tidak berteriak.


"Ada apa ini? kenapa begitu ribut? "sela polisi yang berada di jalan itu.


"pak tolong pak wanita ini mematah kan kaki saya"ujarnya berusaha di percayai.


"apa itu benar nona? "ujarnya mengintimidasi.


"benar"jujur Medeia tanpa pikir panjang.


"anda dinyatakan bersalah, sepertinya anda bukan orang sini, orang asing mungkin hukuman anda tidaklah ringan"ujar polisi itu memperhatikan penampilan Medeia.


"benar kah? apa cara kerja kalian begini? memalu kan nama kepolisian saja lihat rubah itu dia kesakitan kakinya patah apa salah jika aku membalasnya dengan mematah kan kakinya juga? "Medeia menjelaskan.


"memang benar tapi mereka itu hanya binatang tidak perlu di besar besar kan sampai melukai orang orang di sini"bela polisi itu.


"benar kah apa anda ingin mencoba rasanya patah tulang? mungkin dengan merasa kan anda akan mengerti harus melakukan apa"dingin Medeia memojok kan.


polisi itu terdiam sejenak lalu melanjutkan "sepertinya saya pernah melihat anda"ujar polisi itu berusaha mengingat.


"mengalihkan topik yah hemmm percuma saja pak"ujar Medeia membuat polisi itu kaget.


"Saya Medeia ceo pemilik perusahaan royal intertaiment bagaimana? bapak tidak perlu mengingatnya lagi sekarang saatnya bapak merasakan bagaimana rasanya patah tulang saya harap anda bisa mengerti dengan cara ini"ujar Medeia dengan tatapan membunuhnya.


"jadi itu dia tidak di sangka dia lebih kejam lagi sepertinya kita dalam masalah besar"


"bagaimana ini ku dengar dengar dia memiliki hubungan baik dengan pemimpin negara kita"


"situasinya gawat kalau begini"


"maaf saya tidak dapat mengenali anda tapi soal kejadian ini adalah tugas saya"ujar polisi itu berusaha mempertahan kan rasa malunya.


"posisi mu tidak akan lama lagi kecuali kau bisa merahasia kan pertemuan kali ini dan menetap kan hukum untuk tidak menyakiti rubah yang ada, patuhi aturan yang sudah ada dengan begitu posisi mu akan aman"ujar Medeia.


"tidak ada pilihan lain lagi baik saya akan merahasia kan pertemuan kali ini dan akan segera mengumum kan peraturan yang anda katakan"ujarnya pasrah.


"Bagus, dan kalian yang menyaksi kan ini semua anggap saja tidak ada jika ada yang membocorkan hal ini ke publik atau orang yang tidak tau maka jangan salah kan saya"ancam Medeia.


"bubar"perintah Medeia.


semua yang ada segera pergi meninggalkan Medeia dengan anak yang masih menangis melindungi rubah itu, Medeia berusaha menenangkannya tapi malah di tolak mentah mentah dengan anak kecil itu.


"jangan mendekat kalian lebih kejam dari siluman, siluman bahkan lebih baik dari kalian setidaknya siluman masih mengerti betapa pentingnya nyawa musuhnya, mereka hanya akan membunuh jika kali berniat jahat dengannya"


"Memangnya kenapa kalau rubah ini siluman belum tentu semua siluman itu jahat nyatanya mereka juga memiliki hati di banding dengan kalian yang lebih buruk"ujar anak kecil itu melampiaskan amarahnya.


"mungkin saja aku bisa memaafkan klan manusia ith berkat diri mu anak kecil"batin Medeia.


"tenanglah dik kakak tidam jahat kakak menyukai rubah imut ini"senyum Medeia berusaha meyakin kan.


"apa kakak yang tadi membela Xian? "tanya anak itu yang bernama Xian.


"Xian yah, benar tenanglah, apa kai benar benar percaya siluman itu ada? "tanya Medeia.


"benar mereka pasti baik di banding manusia aku yakin suatu saat nanti aku akan melihat mereka"ujar Xian berharap.


"dia sudah ada di depan mata mu"ujar Medeia tersenyum hangat.


"apa kakak adalah siluman? "tanyanya heran.


"benar, aku siluman rubah kau berhak mengetahuinya aku percaya kau bisa menjaga indentitas ku dengan baik"ujar Medeia.


"syukurlah kalian belum musnah Xian senang kakak ada di sini"


"Musnah? Seprtinya anak ini memang spesial tidak apa apa setidaknya dia sudah memberi ku sedikit kesadaran untuk memberi manusia sedikit peluang untuk hidup"batin Medeia.


tanpa Xian sadari ia memeluk Medeia dengan tangisan yang pecah Medeia membalas pelukan itu setelah selesai berpelu kan Medeia menyembuh kan luka rubah itu.


"ternyata kakak tidak berbohong yah"ujar Xian.


"hihihi sudahlah kakak ada urusan dulu semoga di lain waktu Xian berjodoh untuk bertemu dengan kakak"


"sebelum kakak pergi kakak meninggalkan beberapa hadiah kecil untuk xuan semiga xuan suka"ujar Medeia berlalu pergi.


"Kakak yang baik setidaknya Xian masih memiliki harapan" senangnya.


Di balik itu seseorang mengintai mereka dengan tatapan tajamnya.


"siluman masih memiliki hati yah? manusia memang agak keterlaluan manusia seperti ku ini mungkin tercipta untuk melindungi suatu hal yang penting dengan kekuatan ini"ujarnya menatap kepergian Medeia.


"sepertinya aku harus bertanya dengannya mengenai masalah ini setidaknya dia masih bisa di percaya jika di banding kan dengan dia"


"Ku harap kau tidak memiliki keinginan untuk membunuh kami, aku menaruh harapan besar terhadap mu kumohon jangan menghancur kan kepercayaan ku nona Medeia"

__ADS_1


"Jika tidak kau akan berhadapan dengan kematian mu semoga beruntung nona Medeia"


__ADS_2