
...••••...
Kegemparan terjadi di alam hampa, pemimpin istana kerajaan alam kehampaan Metxana kembali menerima kabar buruk akan kondisi anaknya.
"Sialan kau Akira, berani beraninya kau mengirim ramalan itu pada anak ku! "Teriak Metxana tersulut emosi.
"Dia berhak untuk tahu yang mulia" balas Akira.
Metxana menuruni tahta kebanggaanya dengan anggun ia menghampiri Akira yang berdiri dengan posisi tegak.
"Liona memang berbakat ia ahli dalam semua sihir sama seperti ayahnya, meski memiliki bakat itu tetap saja ramalan yang seharusnya tidak dia ketahui jika ia tahu maka akibatnya akan sangat Fatal, apa kau tidak mengerti itu Akira?" ujar Metxana mencoba untuk tenang.
"Maaf yang mulia ku akui aku salah karena tidak mampu berfikir lebih jauh" tunduk Akira.
"Aku mengerti kecemasan mu nak, lain kali tolong pikirkan dulu sebelum kau bertindak" ujar Metxana menasehati.
"Lalu apa yang haris ku lakukan? "Tanya Akira cemas, ia tidak ingin sepupunya sampai terluka terlebuh terluka karena dirinya.
"Seperti yang kau lihat, Liona tidak akn bangun sampai ramalan itu benar benar terjadi yang berarti dia harus pergi sekarang" ujar Metxana memijat keningnya yang terasa berdenyut.
"Apa akibatnya begitu fatal? Sampai sampai harus di laksanakan sekarang? "Cemas Akira.
"Jika saja kau tidak memperlihatkan ramalan itu pada Liona ini tidak akan terjadi setidaknya anak itu tidak akan pergi secepat ini" kesal Metxana.
Akira merasa bersalah karena memberikan ramalan itu pada sepupu kecilnya karena lilinya harus tertidur.
"Tidak baik mengulur waktu sekarang kondisinya akan semakin parah, bagaimana jika kita bertindak sekarang? "Ujar Akira membunyarkan lamunan Metxana.
"Apa? "Tanya Metxana tidak mengerti.
"Yang mulia sebaiknya kita menjalankannya sekarang jika tidak kondisi Liona akan semakin buruk" ujar Akira mendesak.
"Aku tahu itu, masalahnya pendatang baru itu pasti akan menyerang kerajaan ini saat aku ke bumi, bukannya meremehkanmu hanya saja.... "
'Pergilah'
Suara itu kembali terdengar membuat kedua orang yanh berada di ruangan itu terdiam.
'Aku akan melindungi istanamu selama kau pergi' ujarnya meyakinkan.
"Baiklah, Akira kau tetap disini temani dia sampai aku kembali kemari" perintah Merxana akhirnya.
"Baik yang mulia, selamat jalan" ujar Akira membungkuk memberi hormat.
Metxana mengangguk lalu pergi bersama dengan Ayna tangan kirinya yang akan selalu menemaninya dimanapun dan kapanpun ia membutuhkan bantuan.
"Bagaimana yang mulia? "Tanya Ayna sebelum memasuki portal.
"Kau pergilah ke lokasinya, akan ku kirim kode kordinatnya saat kita sampai" ujar Metxana menunduk lesuh.
Ayna menjadi iba dengan tuannya, ia tahu apa yang tuannya tengah rasakan"Ada apa yang mulia? "
"Apa tindakan ku telah benar? "Tanya Metxana ragu.
"Tidak, anda sebagai seorang ibu memiliki tugas untuk melindungi anak anaknya, semuanya sudah benar yang mulia" ujar Ayna di iringi senyuman manisnya.
"Untuk ku tapi bagaimana dengan Medeia? Aku mengirim anaknya lergi menyelesaikan tugas yang seharusnya Dedliona selesaikan, rasanya tidak adil saja jika aku melakukannya" ujar Metxana sendu.
Ayna meraih tangab Metxana lalu mengenggamnya mencoba memberikan keyakinan pada tuannya, "bicarakanlah dengan baik sebagai seorang ibu, aku yakin dia pasti akan mengerti" ujar Ayna yakin.
Pikiran Metxana kacau bersama dengan emosinya yang bercampur aduk, mana bisa dibicarakan baik baik kalau ia berada di posisi Medeia dia pasti tidak akan terima.
Oh ayolah, Medeia tidak akan membiarkan Zilian pergi begitu saja begitu pula dengan Metxana tidak mungkin ia membiarkan Dedliona terbaring dan berakhir pergu untuk selamanya.
Merxana kembali meyakinkan dirinya akan pilihannya, ia yakin Zilian dapat menyelesaikannya meski itu bukanlah hal yang pasti karena jika Zilian telah pergi hanya Ayna yang mampu tahu apa yang terjadi di sana.
Tidak akan ada yang tahu hasilnya, apakah itu berhasil atau gagal.
Ayna membuka portal dan membiarkan Metxana masuk terlebih dahulu lalu ia pun menyusulnya.
•
•
•
•
__ADS_1
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Pikirannya terus memikirkan ramalan yang dikatakan Dedliona padanya, kalimat ity masih terasa baru memasuki otak Zilian.
'Orang yang telah ditakdirkan telah datang jauh dari waktu dimana kau berada sekarang wahai ratu alam kehampaan, keterlanjutan kehidupan semesta ku serahkan pada keduanya'
'Menjalani hukum alam karena telah melanggar aturannya'
'Mereka akan menjalani masa pelatihan sekaligus pemutusan takdir akan hancur atau tidaknya dunia ini, salah satunya harus rela berkorban dan memutuskan keputusan akhir jika ia salah maka alam semesta akan musnah sepenuhnya'
Jelas sekali ramalan itu ditunjukkan pada dirinya dengan Dedliona, Zilian tidaklah bodoh akan situasi sekarang.
'Orang yang harus rela berkorban' untuk pergi bukankah dia? Tidak mungkin Dedliona yang pergi dianya saja tidak sadarkan diri.
Melihat situasi sekarang tidak mungkin Dedliona yang harus pergi bukan? Terlebih menjalankan ujian pertama, jadi hanya dirinyalah yang harus pergi setidaknya Zilian harus berkorban untuk ini bukan?
"Dimana aku harus mencari penguasa alam kehampaan? "Batin Zilian.
"Pelatihan apa yang harus aku lakukan dengan Liona? "
"Apa hubungannya dengan takdir? "
"Jika aku dan Liona harus menjalani pelatihan lalu kenapa Liona begini? Apa ujiannya dia tidur dan aku yang pergi? Ck, tidak adil sekali"
"Siapa pemimpin alam hampa itu? Beraninya dia menargetkan ku dengan Liona, apa salah kami? "
Zilian terus melamun memikirkan semua yang menjadi pertanyaannya dan mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya.
Terkadang raut wajahnya berubah ubah tanpa ia sadari.
'Imut sekali' ujar suara itu.
Zilian masih setia dengan pikirannya tidak menyadari siapa yang datang ke ruangannya.
Pohon dunia yang keberadaannya tidak terjangkau oleh siapapun kini keluar dengan membawa ramalannya, kedua takdir itu telah berada di hadapannya sekarang.
'Zilian dan Dedliona, dua takdir yang tidak dapat dipisahkan? Akankah takdir itu berubah? Zilian sebagai kuncinya ku harap kau tidak salah akan pilihanmu kelak' ujarnya mengusap puncuk kepala Zilian meski Zilian tidak akan merasakannya.
__ADS_1
'Aku hades berjanji akan melindungi dunia ini sampai kau kembali dan maaf atas segalanya' ujarnya dengan nada yang selalu mampu menenangkan hati.
Zilian tersentak dari lamunanya saat menerima pesan suara dari rekannya, ia segera mendengarkanya sevara seksama.
"Ketua kami menemuka jejak mereka di titik V1 lokasi kordinat XXXX keberadaan mereka masih samar samar, laporan di tutup"
"Block area sekitar jangan sampai manusia memasuki TKP, bawa pasukan dari divisi kelima" titah Zilian.
"Segera! "
Tuttttttt......
Sambungan terputus, Zilian segera melakukan teleport dengan portalnya, sebelum ia masuk dia masih sempat melirik sejenak ke samping sofanya lalu pergi setelahnya.
Hades terkekeh melihat kelakuan Zilian yang tamoak bingung, 'Feelingnya memang kuat' batin Hades.
Ia mengeleng dengan cepat, sekarang bukan waktunya untuk bersenang senang.
Hades mendekati Dedliona lalu menaruh telapak tangannya tepat di jidat Dedliona.
"Apa yang kau lakukan disini? "Tanya Zilian mengintrogasi.
Hades mengerjap takut ia tersentak hingga terjatuh ke lantai nan dingin itu, benar benar tidak aestetik.
'bagaimana dia bisa tahu? 'Batin Hades kebingungan diserta rasa cemas.
"Devoaliona, Candy! "Ujar Zilian meninggikan suaranya.
"Maaf ketua kami kemari juga ingin menemani kakak pertama"ujar Candy terduduk di sofa.
"Lagiankan kami khawatir dengannya, apa salah menjenguk kakak sendiri? "Timpal Devosliona membela saudaranya.
"Ya, benar sekali apa itu salah? "Ujar Candy membenarkan perkataan saudaranya.
Zilian menghela nafas pelan "kalian jika ingin menjenguk yah langsung masuk saja tidak perlu menghilang seperti itu, bagaimana jika aku kelepasan tadi? "Ujar Zilian dengan nada kesalnya.
"Maaf" ujar keduanya dengan kepala yang tertunduk 180 derajat.
"Lupakan, kalian jaga Liona disini, aku sedang ada urusan "ujar Zilian.
"Berhati hatilah kalau begitu, kurasa akan ada jebakan disana" ujar Devosliona mengingatkan.
"Mereka tidak akan berani menyakitiku" ujar Zilian.
"Yah, hmmm itu jaga dirimu dan kembalilah dengan selamat" ujar Candy tersipu malu.
Devosliona yang mendengarnya mendeli jijik refleks tubuhnya menjauhi Candy yang menatap sinis kearah Devosliona.
"Kesambet apaan nih bocah? "Batin Devosliona.
Zilian tersenyum, ia mendekat lalu mengelus kepala Candy lembut setelahnya ia kembali membuka portalnya.
"Tunggu! "Teriak Candy.
Zilian berbalik be alis yang terangkat sebelah, "ini? "
Candy memberikan sebuah kalung Zamrud biru yang begitu berkilau pada Zilian, warnanya begitu dalam seperti dalamnya sebuah lautan.
"Kalung ini.... "
"Kakak pertama memberikannya dulu padaku sekarang akan kuberikan padamu, kalung ini mengandung sihir kakak pertama dan juga fotonya"ujar Candy menyerahkan kalung itu ada menyerahkan.
Zilian menatap kalung yang diberikan Candy padanya, ada rasa berat hati untuk Zilian meninggalkan ruangan ini tapi ada dorongan yang mengharuskan dirinya untuk pergi.
"Candy, jika aku tidak dapat kembali tolong katakan pada Liona untuk menjaga apa yang telah kami berdua bangun dan tunggulah sampai aku kembali" ujar Zilian lalu masuk kedalam portal menghilang ditelan entah kemana.
"A-apa? "Bingung Candy.
Candy menatap Devosliona yang hanya mengedikan bahunya tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
Hades yang dari tadi menyaksikan semuanya hanya mengulas senyuman simpul, tatapannya penuh dengan misteri dan teka teki.
Ia kembali meletakan telapak tangannya di jidat Dedliona yang sempat tertunda karena panik ketahuan gara gara Zilian, setelah ia selesai ia segera menyingkirkan tangannya.
'Saatnya untuk mulai dari awal lagi' ujarnya lalu menghilang kenbali ke istana kehampaan.
**Berlanjutttt**.....
__ADS_1