
...~~~...
Sesuai dengan apa yang telah direncanakan Brant dan Zilian kini tengah bersiap siap dengan barang bawaannya.
Tidak terlalu ribet karena Brant dan Zilian sama sama memiliki cincin dimensi jadi mereka tidak perlu menyiapkan tas yang berisikan barang barang mereka.
Di dunia ini cukup simpel, jika kau kuat maka apa yang kau inginkan akan terjamin dan jika sebaliknya maka yah seseorang memerlukan usaha untuk bertahan hidup dan lebih baik jika mereka mencari masalah maka mereka akan segera berakhir.
Ada banyak hal hal aneh yang baru saja Zilian ketahui itu semua berkat Brant yang dengan sabar menghadapi sifat penasaran Zilian yang luar biasa sedikit membuat Brant agak frustasi menghadapinya.
Kini keduanya berjalan meninggalkan gubuk yang Brant buat sebagai rumahnya selama diusir dari tempat tinggalnya dulu.
Padahal hari harinya begitu menyenangkan sejak ia berada disamping tuannya tapi itu semua berakhir saat tuannya mengusir dirinya tanpa menatap sedikitpun padanya.
"Akhirnya pergi juga, sudah lama tidak keluar dari hutan ini" ujar Brant menatap gubuk kesayangannya dengan pandangan sendu.
Sudah beberapa ribu tahun Brant tidak keluar dari sana demi menjaga keamanannya hingga Zilian datang hanya saja itu semua harus berlalu begitu cepat dari waktu yang telah di tentukan.
"Hey, kau mau pergi atau tidak?! "Teriak Zilian menatap Brant yang tampak berat untuk melangkah menjauh dari sana.
"Tunggu sebentar" Brant tampak mengucapkan sebuah mantra dan dalam sekejap gubuk yang ada dihadapan Brant tiba tiba saja menghilang entah kemana di iringi dengan hawa dingin yang begitu pekat.
"Wow, menakjubkan" ujar Zilian melangkah mendekati Brant.
Setelah mereka cukup dekat Zilian langsung merangkul pundak lelaki tampan itu lalu menariknya untuk pergi dari sana.
Brant hanya dapat menahan tawa, soalnya Zilian membawanya kearah jalan yang salah bukan jalan menuju keluar dari hutan.
Cukup tersiksa Brant menahan tawa dengan ekspresi wajah yang memang sering Zilian lihat di hari biasanya, itu semua Brant lakukan agar Zilian tidak mengamuk jika gadis ini mengamuk bisa tamat riwatnya.
Sejak Zilian mendapatkan kendali akan kekuatannya Zilian sering membuat Brant menjadi frustasi akan kelakuannya yang yah begitulah terlalu luar biasa untuk seorang gadis menurut Brant.
Kadang jika Zilian ngambek Brantlah yang akan terkena imbasnya seperti di gantung terbalik, dilayangkan ke udara lalu di cemplungkan ke danau, diubah menjadi batu, lumpur dan ada banyak lagi hal gila lainnya.
"Zilian" panggil Brant setelah selesai dengan acara tahan tawanya.
Zilian berdehem saja sebagai tanda ia merespon dan Brant memaklumi itu.
"Jalannya ada disana" Brant menunjuk arah belakangnya.
Sontak Zilian sadar dia sudah salah jalan, ia hanya menyengir kuda kearah Brant yang tersenyum hangat sambil mengacak rambut Zilian gemas.
"Malu" gumam Zilian menoleh kearah kirinya.
"Tidak perlu malu, bukankah kita ini patner? "Ujar Brant menatap Zilian dari arah samping.
"Huh, bagaimana kau bisa diam saja tadi? Kenapa tidak bilang kalau aku salah jalan? Kau sengajakan? Ayo katakan! "Ujar Zilian mengembungkan pipinya kesal.
Brant mengeleng pelan, "tidak tadi kau tampak begitu semangat jadi yah kubiarkan saja" ujar Brant tersenyum simpul.
"Kau tahu aku sangat malu tahu! "Ujar Zilian kesal.
"Sudah ku bilang tidak apa apa, lagi pula aku tidak akan pernah mengatakannya dengan siapa pun "ujar Brant lembut.
"Astaga, coba kau tersenyum" pekik Zilian setelah menyadari sesuatu.
Brant memaksakan untuk tersenyum setelah itu Zilian mengenggam wajahnya lalu tersenyum lebar.
"Kecuali tampan dan memiliki senyuman yang menawan ternyata kau juga punya lesung pipi rupanya" ujar Zilian melepas sentuhannya pada wajah Brant yang di buat kikuk oleh kelakuan Zilian.
"Apa itu ada sejak kau lahir? "Tanya Zilian menatap Brant penasaran.
"Yah, aku mendapatkannya sejak aku lahir apa itu terlihat manis? "Tanya Brant malu.
"Tentu saja, aku sangat menyukainya" jawab Zilian antusias senyuman merekah di wajah cantiknya.
"Jika saja aku memiliki kesempatan dapat hidup di dua dunia itu pasti akan sangat menyenangkan "ujar Zilian menundukkan kepalanya sedih.
"Sayangnya itu mustahil karena bagaimanapun alam tidak akan setuju jika dua jiwa yang sama mengalami dua kehidupan diwaktu yang bersamaan" ujar Brant mengingatkan Zilian bagaimana pun hal itu bisa saja membuat Zilian dalam bahaya bahkan hanya dengan pikiran seperti itu dan bisa saja alam akan langsung bertindak.
Zilian mengangguk membenarkan ucapan Brant dengan wajah yang terlihat begitu lesu.
"Brengsek, padahal aku lebih ingin tinggal disini bersama denganmu, kau tahu kau begitu lembut dan baik hati jika saja.... "
"Berhenti berangan angan Zilian, fokuslah pada tugas mu bagaimanapun kau bukan datang kemari untuk bersenang senang, ingat nyawa sahabatmu dan keluargamu ada ditanganmu sekarang, mereka bergantung padamu jangan sampai membuat kesalahan yang dapat membahayakan mereka" ujar Brant serius.
"Apa apaan kau ini" decih Zilian.
"Sebaiknya kau bersikap seperti biasanya saja aku merasa tidak nyaman dengan sikapmu yang berubah ubah Zilian, tolonglah" pinta Brant yang sedikit sulit menangani Zilian.
Zilian menatap Brant heran, ada apa dengan pria disampingnya ini?
"Tenang saja aku tidak akan membuat kesalahan apapun, aku adalah Zilian tidak akan ada yang dapat meniruku tidak ada Zilian palsu disini kau mengerti maksudku kan? "Ujar Zilian datar.
"Ya, baguslah jika kau mengerti maksud ucapanku tadi Zilian, semoga saja kau dapat menerima apapun yang akan terjadi kedepannya" senang Brant memaksakan senyuman diwajahnya.
"Jadi mau kemana setelah keluar dari hutan ini? "Tanya Zilian.
"Tentu saja ke kerajaan Baxeria mau kemana lagi? "Ujar Brant menatap Zilian yang hanya mengangguk anggukan kepalanya tidak minat.
Zilian merasa bosan sekarang, ia tidak dapat melakukan apapun karena Brant yang hanya diam sedari tadi bahkan dia sama sekali tidak mau mengajaknya berbicara.
Padahal Zilian ingin bertanya sesuatu tapi sepertinya lebih baik Zilian mengurungkannya melihat perasaan Brant yang tampak buruk hari ini.
"Apa kau tahu di duniaku kehidupan lumayan damai semuanya dapat hidup dengan bebas dan nyaman" ujar Zilian tiba tiba.
__ADS_1
Brant menoleh untuk menatap Zilian yang tersenyum lembut.
"Mereka selalu hidup tanpa ada rasa takut dan cemas akan datangnya mara bahaya berbeda dengan dunia ini yang harus memperjuangkan hidup mereka sendiri tanpa ada yang menjamin keselamatan hidup merrka terkecuali mereka sendiri" ujar Zilian menendang beberapa kerikil yang ada dihadapannya sambil menghela nafas.
"Terkadang aku berfikir kenapa tidak ada yang ingin berdamai padahal itu akan membawa keuntungan masing masing dan beberapa orang akan merasa lebih aman dengan itu"
"Para kerajaan yang terdiri beberapa itu mulai melakukan perang untuk meperluas wilayah mereka tapi akankah mereka pernah melihat penderitaan rakyat mereka? Mereka bahkan menutup mata akan hal itu" kesal Zilian, baginya ini tidak adil bagi mereka yang membutuhkan perlindungan dari kerajaan tapi kerajaan itu sendiri mengabaikan keberadaan mereka dengan menetap pada pendirian mereka yang gegabah.
"Karena itulah aku berjanji untuk membuat mereka berdamai terlebih dahulu aku tidak ingin saat aku pergi nanti orang orang yang ku kenal disini dalam bahaya, termaksud kau Brant" ujar Zilian melir kearah Brant yyang mengerutkan keningnya
"Ada beberapa hal yang harusnya tidak kau lakukan Zilian, lebih baik kau tidak perlu.... "
"Tentu saja aku tidak ingin meninggalkan pria tampan ku di dunia tak berperasaan seperti ini jadi akan ku ubah sebelum aku pergi! "Pekik Zilian menyikut perut Brant keras.
Brant menangkisnya dengan wajah tegang, Zilian selalu seperti ini jika bersama sama.
"Brant, mari ubah takdir dunia ini" ujar Zilian lagi.
"Hal konyol macam apa.... "
"Aku tahu segalanya Brant termaksud sejarah kelam klanmu semuanya telah aku ketahui" ujar Zilian.
"Lalu kenapa? "Ujar Brant tampak biasa saja seolah itu bukanlah masalah baginya.
"Aku dapat membantumu membangkitkan klanmu, orang tuamu, keluargamu, seluruh anggota klanmu, aku dapat melakukannya" ujar Zilian menatap Brant yang tampak terkejut.
"Apa maksudmu? "
Zilian tersenyum, "aku dapat menggunakan ilusi mimpi, karena itulah saat kau tertidur aku memaksa masuk kedalam mimpimu dan mengendalikannya dari itulah aku tahu semuanya"
"Hah, tidak perlu kau lakukan Zilian itu terlalu berbahaya untukmu" ujar Brant lesuh.
"Hey ayolah Brant, tersenyumlah jangan membiarkan senyuman manismu hilang begitu saja" ujar Zilian menatap Brant yang mulai berkaca kaca.
"Itu adalah takdir keluargaku, sebaiknya kau diam saja tidak perlu ikut campur akan klanku yang sudah musnah" ujar Brant tersenyum paksa.
"Kau adalah keluargaku Brant, kau adalah orang berharga disini" ujar Zilian menunjuk dadanya yang membuat Brant semakin merasa sesak.
"Jangan menganggap dirimu sendiri, aku tidak seperti tuanmu yang akan meninggalkanmu seperti itu meski pada akhirnya aku memang harus pergi tapi setidaknya akan ku buat sebuah kenangan yang indah untukmu sebelum aku pergi dari sini" ujar Zilian menyenggol lengan Brant yang sedari tadi tertunduk.
"Lihatlah" Zilian memusatkan energinya di hadapannya membuat Brant mau tidak mau menghentikan langkahnya karena terkejut.
"I-ibu? "Gumam Brant menatap gumpalan energi milik ibunya.
Hancur sudah, tangisannya mulai terdengar jelas di telinga Zilian yang mencoba menahan energi itu untuk tetap ada disana.
"Katakan sesuatu Brant" ujar Zilian menepuk pundak pria itu pelan.
"Dia mendengarmu" lanjut Zilian dengan nada yang begitu lirih.
Brant mengeleng pelan sudah cukup ini terlalu menyakitinya.
"Tidak masalah Brant, aku akan memberikan sebuah hadiah istimewa padamu setelah berhasil menyatukan ke enam kerajaan element" ujar Zilian tersenyum hangat.
"Keluarga yah? "Gumam Brant yang terdengar jelas di telinga Zilian.
"Keluargamu tidak sepenuhnya menghilang, mereka berada disebuah tempat yang jauh dari kegelapan, dia ada didalam kegelapan itu jadi masih ada kesempatan untuk membawa mereka kembali" batin Zilian.
"Kita sudah sampai, lalu kita kemana sekarang? "Tanya Zilian menatap Brant yang tampak memperhatikan sekelilingnya.
"Kearah sana" tunjuk Brant.
Zilian berjalan lebih dahulu sedangkan Brant mengekor dibelakang.
"Ada yang aneh" batin Zilian mulai menyadari sesuatu.
Zilian memberi kode kearah Brant untuk segera bersembunyi.
Setelah memberi kode Zilian langsung melompat keatas pohon yang lumayan subur disana, matanya yang tajam terus memperhatikan para kelompok prajurit yang berjalan kearah mereka.
"Sedang apa mereka kemari? "Batin Brant mengamati tingkah para prajurit.
"Ini, sepertinya mereka ingin melakukan sesuatu disekitar sini" ujar Brant.
"Apa sudah dekat dengan perbatasan? "Tanya Zilian.
"Sangat jauh, kita butuh beberapa hari untuk kesana melalui jalur ini tapi sepertinya mereka merencakan sesuatu" ujar Brant menatap kearah kelompok prajurit itu.
"Siapa mereka? "Gumam Zilian.
"Kesatria kerajaan Air di lengan mereka ada lambang kerajaan Air" ujar Brant menajamkan arah pandangannya.
"Heh, sepertinya mereka benar benar sedang merencanakan sesuatu" senyum Zilian.
"Apa kau mau cari tahu? "Tanya Brant.
"Tentu saja, sayang jika dilewatkan hitung hitung dapat informasi sedikit" ujar Zilian antusias.
"Haish, kau ini.... "
"Ayo" ajak Zilian yang lebih dahulu pergi.
Brant hanya menghela nafas, kali ini Zilian berhasil membuat Brant lemas.
"Jangan bertindak gegabah, Zilian" bisik Brant mulai cemas dengan apa yang akan dilakukan Zilian.
__ADS_1
"Hehehe, jangan terlalu panik begitu tenang saja aku tidak akan melakukan sesuatu yang dapat merugikan perjalanan kita untuk ke kerajaan Baxeria, ini bahkan akan sangat mengguntungkan" bisik Zilian.
Brant menepuk wajahnya yang terlihat gusar sedangkan Zilian dia terus terusan mengikuti para prajurit itu dari atas pohon.
Zilian terus mengintainya dari ketinggian menunggu para prajurit itu membawanya ke tujuan mereka, bisa saja menuju markas atau menuju tempat yang ingin mereka cari tahu.
Brant yang penasaran dengan aoa yang dipikirkan Zilian langsung menepuk pundak Zilian pelan.
"Ada apa? "Ujar Zilian berhenti sejenak.
"Apa yang kau rencanakan? "Tanya Brant menyipitkan matanya.
"Kau akan tahu jika kita sudah sampai" ujar Zilian kembali melanjutkan acara pengintaiannya.
Brant mendengus kesal karena respon Zilian yang begitu cuek dengannya, diapun mengikuti Zilian dari belakang dengan hati hati takut para prajurit itu menyadari keberadaan mereka, bisa repot jika itu terjadi.
"Kau ingin kemana? Ini sudah terlalu jauh dari arah menuju kerajaan Baxeria" ujar Brant menghela nafas mengingat sudah berapa lama mereka terus seperti ini dan Zilian masih belum menunjukkan tanda tanda menyerah sedikitpun.
"Sudah sejauh ini bagaimana bisa aku kembali dengan tangan kosong? Bukankah itu sia sia saja kita membuntuti mereka? "Balas Zilian sedikit kesal sekarang.
"Kita kau bilang? Inikan rencanamu untuk mengikuti mereka jika saja kau tidak mengikuti mereka kita pasti sudah memasuk wilayah kekuasaan kerajaan Baxeria" omel Brant.
"Lalu kau mau kembali tanpa ada sesuatu yang berguna? "Tanya Zilian dengan perasaan yang dongkol.
Brant mengeleng dengan cepat, "sudah sejauh ini jika kembali sama saja dengan membuang buang waktu lagi pula tidak ada salahnya mengikuti mereka"
Zilian tersenyum tipis setelahnya menganggukkan kepalanya senang.
"Jadi sebenarnya apa yang kau pikirkan hingga kau mengikuti mereka? Setidaknya kau jelaskan padaku sekarang" ujar Brant memperdekat posisi mereka Berdua.
"Ck, bilang saja kau ingin tahu dari awal tidak perlu sampai berdebat seperti tadi" decih Zilian.
"Katakan saja apa susahnya kau mengatakannya? "Ujar Brant mulai tidak tahan dengan Zilian yang terus menerus membuat moodnya buruk.
"Hanya mengikuti mereka saja, mengamati wajah mereka lalu mengorek informasi apapun dari pikiran mereka setelahnya kita akan kembali menggunakan portal, sebelum mengikuti mereka aku sudah membuat kode di tempat awal jadi sepertinya akan aman aman saja" ujar Zilian tenang.
"Portal? "Bingung Brant.
"Sulit untuk dijelaskan, jika ada waktu akan ku jelaskan mungkin akan ku ajarkan padamu untuk menggunakannya, tunggu hingga kita berhasil sampai ke kerajaan Baxeria" ujar Zilian.
"Jadi kau sudah memperkirakan semuanya? "Ujar Brant tersenyum simpul.
Zilian menganggukkan kepalanya, sesaat setelahnya Zilian berhenti saat para prajurit itu membuat barisan di hadapan seseorang.
"Lapor yang mulia, kami telah berkeliling disekitaran perbatasan sepertinya pihak lawan tidak merencanakan apapun melihat kondisi sekitaran perbatasan begitu tenang" ujar salah satu prajurit yang melapor.
"Aneh jika dia tidak bertindak, persiapkan prajurit tambahan lain untuk segera datang kemari dan untuk kalian sekarang kalian beristirahatlah malam ini kita akan berlatih" ujarnya dengan nada tegas.
Zilian mengelengkan kepalanya aneh melihat mereka yang masih belum menyadari keberadaannya padahal Zilian telah memberikan sedikit celah.
"Bodoh" ujar Zilian yang melompat turun dari dahan pohon yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat istirahat para prajurit itu.
Brant yang mengikut dari belakang hanya pasrah saja sekarang yang ada di pikirannya hanyalah jika Zilian melakukan kesalahan Brant yang akan membereskannya.
Kembali pada Zilian yang menyelinap kesalah satu tenda disana tepatnya di tenda pemimpin kelompok prajurit tadi.
Zilian meletakkan telunjuknya di dahi prajurit yang telah dia buat tak sadarkan diri itu dengan membawanya ke dalam ilusi miliknya.
Zilian memaksa masuk kedalam pikirannya untuk mengorek semua informasi yang ada setelah merasa cukup Zilian membuat ingatan tambahan di pikiranNya setelahnya pergi dari sana.
"Bagaimana? "Tanya Brant cemas.
"Aman, apa tidak ada yang melihatmu disini? "Ujar Zilian celingak celinguk.
"Tentu saja, sebaiknya kita kembali sekarang" ujar Brant menarik Zilian agar menjauh.
Zilian mengangguk akan berbahaya jika dia menggunakan portal disana, bisa bisa mereka dapat merasakan energinya.
Brant melepas genggamannya saat merasa aman sedangkan Zilian bersiap siap memunculkan portalnya.
"Apa yang kau dapatkan dari mereka? "Tanya Brant penasaran.
"Informasi yang sangat menarik" ujar Zilian tersenyum penuh arti.
"Apa? "Tanya Brant semakin penasaran.
"Mereka berniat memasang jebakan di sekitaran perbatasan dan sepertinya mata mata mereka masih berada di dalam wilayah kerajaan Baxeria, bagaimana menurutmu? "Ujar Zilian.
"Kalau begitu ingin bermain sebentar? "Tanya Brant tersenyum simpul.
"Kau yang terbaik, Brant" senyum Zilian.
"Tentu saja, ini akan sangat menguntungkan untuk dapat masuk kedalam kerajaan" ujar Brant.
"Ada banyak cara untuk menangkapnya hanya saja kita perlu membuat beberapa rencana dan indentitas palsu selama ada disana" ujar Zilian berfikir.
"Serahkan saja padaku" ujar Brant percaya diri.
Zilian menganggukkan kepalanya pelan ia pun. menggerakan jari jarinya dan sesaat setelahnya memunculkan portal.
"Masuklah" perintah Zilian.
"Ini portal yang kau maksud? "Tanya Brant ragu.
"Tentu saja, kau masuklah lebih dulu " ujar Zilian santai.
__ADS_1
Brant menuruti perintah Zilian dan masuk ke dalam portal setelahnya Zilian pun menutup portal.
Berlanjutttt.....