
^^^'Semua orang memiliki caranya sendiri untuk melindungi orang yang ia sayangi baik itu secara terbuka mau pun tertutup'^^^
...ㅜㅡㅜ...
Disituasi ini Laurel memutuskan untuk menggunakan energi intinya untuk memperkuat basis kekuatannya. Akar tumbuhan merambat dan bunga Drosera bermekaran.
Akar tanaman merambat ini menjalar ke seluruh tempat dan membentuk sebuah lingkaran yang di dalamnya berisi Hanabi, Medusa, Leix dan para agen tentunya.
Dimana Laurel? Dia berada di luar tepatnya di atas kelopak bunga Drosera. Ia menatap lekat kedua iblis yang saat ini melayang di udara dengan perisainya.
Cahaya yang berada di tanah masih tak kunjung menghilang entah bagaimana caranya Laurel menghilangkannya tapi itu mustahil karena Laurel tidak dapat lagi bertarung, kekuatannya telah terkuras begitu banyak.
"Kau telah berubah" lirih salah satu iblis pengguna alat musik.
"Mengecewakan" timpal iblis satunya lagi
Laurel tidak mempedulikannya ia lebih memilih fokus dengan orang yang sedang ia lindungi.
"Kekuatan ku tidak bisa lagi untuk melawan, bagaimana aku bisa mengulur waktu hingga mereka tiba? "Batin Laurel gelisah.
"Tidak! Jangan sampai kakak dan rekan ku berada dalam bahaya" batin Laurel.
Melihat Laurel cukup tertekan, kedua iblis itu mulai menyeringai.
"Mari kita mulai"
Cahaya itu mulai meredup di gantikan dengan banyaknya bola bola putih di atas tanah. Laurel menatap bola bola itu dengan saksama.
"Sudah cukup main mainnya, kami datang kemari untuk menjemput kedua pemimpin kalian jadi jika kalian memberi kami jalan kami tidak akan mempersukit kalian" ujarnya.
Laurel menyerang mereka menggunakan akar tanaman merambatnya, ia tidak peduli lagi dengan keselamatannya sekarang.
"Aku rasa kau sudah tahu jawabannya" ujar Laurel dengan nada tajam dan mata yang berubah menjadi hitam kemerahan.
Kelopak bunga drosera juga berubah menyamai warna mata Laurel, kekuatannya juga menambah entah karena apa.
Laurel melompat ke salah satu tanaman merambatnya dan menggerakannya ke arah kedua iblis itu, meski sendiri itu lebih efektif bagi Laurel karena dia bida bergerak dengan bebas tanpa memikirkan keselamatan rekannya.
Mereka bertiga saling bertarung dengan sengit, berbeda saat di awal Laurel kewalahan karenanya tapi sekarang sepertinya Laurel mampu menahan meski tidak dapat mengalahkan mereka setidaknya Laurel harus bertahan hingga pasukan bantuan tiba.
...풒...
Sedangkan untuk yang berada di dalam akar tanaman merambat yang berbentuk bulat itu, Hanabi, Medusa dan Leix berusaha untuk keluar.
__ADS_1
"Ada apa dengan adik mu? Dia kira dia begitu kuat hingga melawan mereka sendirian? Mati yah mati bersama saja, ck dia itu kenapa sih?! "Celoteh Medusa Kesal membenturkan ekor ularnya ke dinding akar.
"Disini aku yang ketua tapi malah aku yang di lindungi bahkan tidak dapat membantu apa apa" hela Hanabi memijat pangkal hidungnya.
"Lupakan saja, apa yang bisa kita lakukan di sini untuk membantunya dari dalam? "Tanya Medusa yang akhirnya menyerah.
Hanabi menatap ke arah Leix yang tampak berfikir sambil menyentuh akar akar itu lalu kembali tersenyum.
"Menyalurkan energi kita untuknya" ujar Leix percaya diri.
"Bagaimana caranya? Kita berada di dalam perisai ini sedangkan Laurel berada di luar memangnya bakal terhubung? "Ujar Medusa ingin tahu.
"Sepertinya aku mengerti, biar aku yang mencobanya terlebih dahulu" ujar Hanabi menempelkan tangannya ke dinding akar lalu menyalurkan energinya sambil mengontrolnya agar Laurel tidak terluka.
Energi dari orang lain akan sangat bertentangan dengan energi sang penerima maka dari itu tubuh Laurel harus perlahan memprosesnya lalu bisa di gunakan, jika energi yang tersalur ketubuhnya terlalu banyak itu bisa membuat tubuh Laurel meledak.
Hanabi mengerutkan keningnya, ia menghentikannya. Leix yang berada di sampingnya menaik turunkan alisnya ingin tahu apa yang terjadi.
"Terhubung tapi aku tidak dapat menjangkaunya, kau sepertinya lebih cocok untuk tugas ini" ujar Hanabi mendengus.
"Aku terlihat begitu lemah sekarang" batin Hanabi jengkel, ia sepertinya tidak begitu berguna dan malah menjadi beban untuk rekan timnya.
Leix mengangguk mengerti, ia memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman dengan kaki yang disilangkan, ia pun mulai fokus untuk mengirim energi pada adiknya.
Sisik Medusa begitu tajam, sebagian besar senjata yang di gunakan Divisinya menggunakan sisiknya.
Para agen hanya terdiam saja, tubuh mereka terasa ingin remuk tapi untung saja perisai yang di buat Laurel dapat menyembuhkan luka yang berada di dalam perisai itu.
Setelah benar benar pulih mereka menyatukan kekuatan mereka untuk membuat portal dan mengirim boneka Hanabi untuk keluar.
"Kerja bagus semuanya! "Pekik Medusa senang.
Hanabi hanya terduduk diam, punggungnya ia senderkan di boneka khusus yang ia buat untuk melayaninya.
"Entah kabar Laurel bagaimana sekarang" batin Hanabi cemas.
...픞...
Laurel tersungkur ke tanah, tubuhnya menyentuh bola itu dan alhasil menerima ledakan yang begitu mengerikan.
Tubuh Laurel mulai mati rasa, ia mengatur nafasnya yang terdengar kasar.
Tiba tiba para boneka yang dikirim Hanabi datang dan membuat formasi pelindung untuk Laurel.
__ADS_1
Laurel menatap para boneka itu, "sepertinya mereka tidak mau diam? "Pikir Laurel terkekeh pelan.
Setidaknya dia tidak sendiri melawan mereka, kehangatan inilah yang selalu ia nantikan dari rekan dan teman temannya, karena mereka Laurel dapat bangkit dan bangkit meski berada di posisi tak menguntungkan sekalipun Laurel akan memaksakan dirinya untuk tetap bertarung demi mereka.
"Huh, kau memang keras kepala yah Laurel? Kalau begitu akan ku temani kau bermain" ujarnya mulai emosi.
Belum sempat Laurel menjawab para boneka itu sudah mengeluarkan suara yang begitu nyaring, beberapa di antaranya keluar untuk memasukan bola bola itu ke tubuh mereka lalu terbang dengan kecepatan tinggi ke arah para iblis itu.
"Khikhikhikhi, mau menyerang ku menggunakan boneka ini? Mau melawak yah? "Ejek iblis yang entah wanita atau pria.
Iblis yang menggunakan alat musik pun langsung bertindak dengan memainkan alat musiknya tapi sayang para boneka itu tidak berpengaruh dan malah mendekati mereka.
Bummmmmmm
Ledakan di udara dengan asap asap tebal di iringi hujan ular berbisa menjadi pemandangan terindah bagi Laurel. Jika manusia yang melihatnya sudah di pastikan pemandangan ini akan membawa mereka menemui malaikat kematian.
Ia seperti sedang menonton kembang api di sela sela peperangan, setidaknya ada hiburan untuknya.
Para iblis itu mengeram kesakitan karena beberapa ular mengigit bagian tubuh mereka serta ledakan bertubi tubi mengenai mereka.
"Lanyan! Cepat hentikan mereka! "Teriak Rosyi.
"Ungh.... Aku tidak bisa bergerak sepertinya aku terkena racun" ujarnya mulai linglung.
Rosyi menatap ke arah Laurel yang tersenyum penuh kemenangan.
"Tidak terpikirkan di benak ku dia akan mengisi para bonekanya dengan ular dan bom, serangan kejutan yang baik" puji Rosyi.
Ia mulai membaca mantra terakhirnya, harusnya ia tidak membuang energi sebanyak ini hanya untuk bermain main dengan bawahan mereka.
"Raja pasti akan membunuh ku setelah kembali nanti" desah Rosyi dengan ekspresi sedihnya.
Bola yang berada di tanah tiba tiba meledak dan mengeluarakan gas beracun, Laurel segera membuat perisai.
"Kakak, terimakasih atas energi mu dan untuk ketua terimakasih atas bantuannya" batin Laurel bersyukur. Ia benar benar terbantu.
Laurel tidak dapat melihat lagi apa yang sedang terjadi di luar sana.
Kedua iblis itu ingin menjadikan situasi ini untuk melarikan diri tapi malah di cegat oleh seseorang dan itu membuat mereka berkeringat dingin.
"Mau kemana?" tanya mereka berdua secara bersamaan tentunya dengan ekspresi yang mewakili cahaya dan kegelapan.
Berlanjutttt......
__ADS_1