Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 12


__ADS_3

Di perusahaan Zilian terus memikirkan perkataan Jadey yang di penuhi dengan penekanan di setiap perkataannya.


Entah mengapa Zilian begitu memikirkan perkataan Jadey yang beluk tentu benar adanya padahal Zilian bukanlah tipe yang menuruti perkataan orang lain yang baru ia kenal.


Rafaela yang menyadari Zilian yang tengah melamun pun menghampiri temannya ini.


"Zilian? Ada masalah apa? "Khawatir Rafaela.


"Eh? Tidak ada apa apa cuman memikirkan masalah pekerjaab saja" bohong Zilian.


Jujur Zilian merasa bersalah menyembunyikan hal ini dari Rafaela tapi dia tidak mau Rafaela kepikiran karena hal ini.


"Baiklah, jangan terlalu memikirkan ini hal ini terlalu dalam nanti kau bisa sakit Zilian" nasehat Rafaela yang memeluk Zilian.


"Iya, terimakasih Rafaela" ujar Zilian yang memeluk balik Rafaela yang diam diam tersenyum senang.


Ketukan pintu membuat mereka melepaskan pelukan mereka dan kembali ke posisi awal mereka.


Zilian berpura pura sibuk sebelum Eva membuka pintu kantornya.


"Masuk" ujar Zilian yang mengetik Laptoopnya.


"Silahkan masuk" ujar Eva mempersilahkan Liosya Artis yang naik daun beberapa bulan yang lalu dan semakin terkenal sampai sekarang.


"Selamat datang di perusahaan ini Liosya"ujar Zilian berdiri dan menyambut Liosya.


"Tidak perlu sungkan begitu direktur Zilian, saya yang seharusnya merasa terhormat dapat menjalin kerjasama dengan perusahaan ternama di dunia ini" senyum Liosya.


"Ya, duduklah dulu" ujar Zilian yang kembali duduk.


"Saya akan mengambil beberapa cemilan dan minuman silahkan diskusikan terlebih dahulu Direktur" sopan Eva yang keluar dari ruangan.


"Apa alasan anda bekerjasama dengan perusahaan kami? "Ujar Zilian yang terus menatap mata Liosya intens.


"Karena itu menguntungkan saya, saya tidak akan melakukan transaksi jika itu merugikan bagi saya. Saya yakin dengan dengan penglihatan saya perusahaan ini memiliki kemampuan yang baik dalam hal pembuatan produk" ujar Liosya tenang.


"kalau begitu anda ikutlah saya ke ruang pemotretan di sana anda akan langsung mulai menjalankan tugas anda" ujar Zilian yang berdiri.


"Sebeluknya hadis imut ini siapa? "Tanya Liosya.

__ADS_1


Zilian mengangguk pada Rafaela yang menunduk pada Liosya lalu menayap Liosya.


"Saya Rafaela teman Zilian "ujar Rafaela sesopan mungkin.


"Bisa di lanjut? "Tanya Zilian yang berdiri di dekat Rafaela.


"Kalian sepertinya begitu dekat yah" tawa Liosya.


"Ini tidak temaksud ke dalam pembahasan pekerjaan "dingin Zilian.


"Baiklah saya akan serius" ujar Liosya yang mengikuti Zilian dan Rafaela dari belakang.


Zilian mengabari Eva untuk langsung membawa Zen dan Hansel ke ruang pembuatan gamenya, dan memberi tahu mereka kalau Zilian akan ke sana jika urusannya selesai.


Setelah sampai Zilian langsung memberi perintah pada staff yang bekerja khusus pemotretan untuk langsung bekerja. Sedangkan Liosya dia tengah berada di ruang ganti pakaian.


Beberapa menit telah berlalu, Liosya akhirnya keluar dengan anggun menuju tempat pemotretan.


Para staff yang bekerja segera membawa produk yang akan Liosya perkenalkan pada publik.


"Direktur setelah pemotretan akan ada tayangan apa ini akan di tayangkan secara Live atau tidak perlu?" tanya salah satu staff.


Setelah sampai di sana Zilian segera menghampiri mereka dan mendiskusikan perkembangan gamenya dan mulai memberikan masukan pada beberapa staff untuk mengubah beberapa hal yang menurut mereka tidaklah cocok.


Mulai dari segi grafik, karakter, kekuatan dan berbagai item yang akan mereka gunakan di dalam game serta beberapa event yang akan di adakan selama pergantian bulan yang akan secara rutin di ganti dan di adakan.


.....


Sore pun telah tiba sudah waktunya Zilian untuk kembali ke kediaman untuk beristirahat.


Di saat perjalan pulang tepatnya di dalam mobil Rafaela terua termenung entah apa yang ia pikirkan.


Anehnya Zilian tidak dapat mengetahui perasaan Rafaela dan hal apa yang tengah ia pikirkan, biasanya ketika Rafaela sedih pasti Zilian akan merasakannya bahkan apa saja yang Rafaela pikirkan pasti akan di ketahui Zilian, entah kenapa hari ini begitu aneh bagi Zilian.


Apakah ini hanyalah kebetulan saja atau memang Zilian terlalu banyak berfikir?


Sepanjang perjalan sampai ke kediaman mereka berdua terus diam, tidak ada yang saling berbicara sedikit pun.


Perasaan gelisah yang terus menghantui Zilian membuatnya tidak tahan untuk menyelidiki apa yang terjadi pada temannya ini.

__ADS_1


Akhirnya Zilian memutuskan untuk menyuruh Eva memberitahu apa saja yang terjadi saat Zilian meninggalkan Ruangan pemotretan.


"Hallo, Eva tolong kau selidiki apa yang terjadi si ruang pemotretan, aku merasa ada yang aneh" perintah Zilian.


"Baik, tunggu beberapa saat lagi" ujar Eva menyamakan suara sistem.


Zilian mematikan telpon, ia merasa begitu lelah dari pada hari hari biasanya. Pikirannya begitu kacau, tidak tahu harus melakukan apa lagi.


Di saat itu, Jadey kembali menemui Zilian yang mengatur cara duduknya layaknya seorang gadis bangsawan.


"Ada apa? " ujar Zilian.


Jadey tersenyum tipis "bagaimana dengan hari ini? Maksud ku perasaan mu" ujar Jadey yang duduk di samping Zilian.


".... "


Zilian tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana ia harus memberitahu Jadet soal apa yang ia raasakan, lagi pula Jadey bukanlah oranh dekatnya.


"Wanita ini penuh dengan pemikiran sebelum berbicara! Mengesalkan sekali" batin Jadey kesal.


"Katakan saja, memangnya aku bisa memberitahu apa pada orang lain? Asalkan kau tahu saja, aku tidak akan mendapatkan untung jika ku beritahukan pada orang lain" ujar Jadey.


"peringatan yang kau berikan pada ku sepertinya benar, aku tidak menganggap serius apa yang kau katakan waktu itu dan meninggalkan Rafaela sendirian" sesal Zilian.


"Penyesalan selalu berada di akhir tidak perlu begitu di pikirkan ini yanh terakhir, kau tidak boleh percaya pada orang yang ingin dekat dengan mu "ujar Jadey.


"Baiklah, akan ku coba untuk tidak menjalin hubungan dengan mereka" mengerti Zilian.


"Mengapa kau membantu ku? "Heran Zilian di sertai rasa ingin tahu.


"Aku ini akan menjadi pengikut pertama mu dan ketika waktu itu tiba aku berani bersumpah aku akan menjadi pengikut mu yang setia" ujar Jadey dengan senyum sumrigahnya.


"Oh? Aku tidak tahu apa yang kau katakan dan bagaimana kau bisa memberikan peringatan yang akurat tapi apa pun alasannya aku tidak mempedulikannya, cukup sampai di sini saja jangan lupa kita tidak sedekat itu" ujar Zilian yang meninggalkan Jadey yang hanya tersenyum pahit.


"Memang kau itu begitu mengesalkan tapi aku menyukai caraa mu yang seperti ini, tidak mudah untuk di dekati dan selalu waspada pada siapa pun, hanya saja wanita itu adalah kelemahan terbesar mu, aku pun tidak dapat menyangkalnya "batin Jadey.


Jadey kembali mengambil pedangnya ia bersiap siap untuk pergi ke jepang menjemput seseorang.


Berlanjut.....

__ADS_1


__ADS_2