
...~π~π~π~...
Di dalam ruangannya Zilian tengah menonton pergerakan Miyaku yang diam diam mengawasinya dari kejauhan, terkadang Zilian mendengus melihat pelan melihat Miyaku yang begitu ngotot melawan pasukannya.
Eva datang menemui Zilian di dalam ruangannya. Dengan santai Zilian mempersilahkan Eva untuk masuk.
"Ada urusan apa kau sampai mau menemui ku? "Tanya Zilian.
"Pasukan lawan sudah bersiap di depan, apakah aku bisa memimpin pasukan alasannya karena Solydia kaki tangan mu belum kembali bersama Jadey entah masih hidup atau sudah mati" ujar Eva dengan wajah tanpa bersalahnya.
"Oh? Baiklah kau uruslah dengan bersih" ujar Zilian tidak mempedulikan apa pun yang akan terjadi toh jika dia sudah 'siap' tidak satu pun yang akan lepas darinya.
"Baik" Eva langsung membuat portal lalu menemui Alpha untuk melihat apakah prisai utama Base sudah siap apa belum.
Setelah memasuki portal Eva langsung bertemu dengan Alpha yang menarik nafas dalam dalam karena kekurangan kekuatan inti dan ini hampir membuatnya kehilangan nyawanya.
"Kau istirahatlah, Zen! Kelvin kalian tetap terhubung dengan perisai dan kau Kaguya salurkan energi inti mu pada mereka berdua sisanya siap siaga menjaga mereka kecuali Zen" perintah Eva tegas.
Semuanya mengangguk lalu mencari posisi yang pas untuk menjaga Zen dan Kelvin yang langsung menghubungkan pikiran mereka ke dalam perisai.
Eva merasa ada yang aneh dengan apa yang akan terjadi jika perisainya hancur maka dari itu Eva pun membuat beberapa jebakan yang mungkin di lalui musuh.
Memakan cukup banyak waktu untuk membuat perangkap yang menurut Eva paling ampuh, setelah selesai Eva pun mengirim beberapa pesan pada Medeia untuk mengeluarkan pasukan naga Nirvana sebagai rencana ketiganya jika saja tidak berhasil.
Merasa puas, Eva langsung menyuruh Slavina untuk membentuk pasukan bersenjata jarak jauh sesuai posisi jebakan yang sudah Eva persiapkan.
Dengan begitu Eva bisa mengawasi mereka dan turub tangan jika perlu. Eva memulai pengawasaannya bersama dengan Hexilia dan Cestania yang setibanya langsung mendapat tugas dari Eva.
"Waspadalah" peringatan dari Eva yang langsung memindahkan Hexilia dan Cestania ke depan gerbang untuk melihat bagaimana pergerakan musuh di luar kawasan.
"Baik"
"Aku tidak yakin dengan semua rencana ku, sebagus apa pun rencana yang kubuat jika lawan yang kuhadapi lebih kuat apa gunanya rencana yang kubuat ini? "Pikir Eva yang kembali memikirkan cara yang efektif jika semua rencananya gagal.
Bagaimana pun Eva trauma dengan peperangan dulu, karena kecerobohannya banyak saudaranya yang harus gugur di medan peperangan dan Eva tidak ingin mengulangi kesalahanya lagi.
Eva selalu memperkirakan lingkup keamanan yang baik bagi rekannya. Sebelum dia sampai bersama mereka berdua Eva sudah lebih awal mengirim perintah pada tim media untuk menyembuhkan pasukan jarak jauh.
"Semuanya sudah siap" lapor Slavina.
"Kembalilah ke posisi mu "ujar Eva dengan tampang tegasnya.
Eva berpindah posisi ke menara paling tinggi dan mulai mengawasi mereka dari kejauhan sambil menunggu laporan dari Hexillia dan Cestania.
•
•
•
__ADS_1
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Miyaku tersenyum lebar melihat Eva begitu bekerja keras demi melindungi pemimpin mereka, tampaknya mereka tidak menganggap remeh dirinya.
"Sudah saatnya untuk serius" gumam Miyaku.
Miyaku mulai memberikan perintah pada pada Any untuk mengeluarkan gelombang suara sehingga membuat alat apapun mengalami gangguan.
"Bakar perisainya, boneka ku akan membantu mu menghancurkannya, Yon" ujar Miyaku yang berhasil memperngaruhi pikiran Yon.
"Baik" balas Yon yang bergerak maju sesuai perintahnya.
"Dan kau Slayer Demon, bantu Yon menghancurkannya" perintah Miyaku dengan seringaian liciknya.
"Adik, mengapa tidak mengeluarkan iblis manusia itu untuk membantu kelancaran perang ini? "Tanya Slayer Demon yang mengeluarkan rantai emasnya.
"kakak pertama melarang ku mengikut sertakan mereka, lagi pula tanpa mereka aku yakin dengan kemampuan kalian semua" ujar Miyaku tulus.
Eltian mendekati Isekai yang tampak mencurigai Miyaku, itu sanhat jelas tergambarkan di wajahnya.
"Isekai! "Panggil Eltian yang tiba tiba sudab berada di sampingnya.
"hmmmmm? "Balas Isekai cuek. Moodnya sedang tidak baik untuk menemaninya berbicara atau pun di ajak bicara.
"Kau mencurigai sesuatu kan? "Tanya Eltian.
"Tidak" jawabnya singkat dengan tampang dinginnya.
"Aku rasa Miyaku menyembunyikan sesuatu dari kita semua, itu jelas dari ambisinya kau ingatkan alasan mengapa dia di kurung kemarin dengan kakak pertama? "Ujar Eltian mengingatkan kejadian saat itu.
Isekai hanya membalasnya dengan anggukan tanpa melirik Eltian yang berdiri di dekatnya.
__ADS_1
"Masalahnya akan membesar jika ini bukanlah perintah dari kakak pertama" lanjut Eltian.
"Entah itu benar atau tidak keputusan ada di tangan masing masing "ujar Isekai.
"Sudah kiduga kau tidak akan mau diajak bekerjasama, dasar! "Umpat Eltian dengan helaan nafas berat.
Any berteriak dengan lantang dan memerintahkan Bearle untuk maju bersama dengan pasukannya.
Mendengar aba aba dari Any, Eltian langsung bergegas ke posisinya "keputusannya masih belum menentu jika di medan pertarungan Miyaku melakukan kecerobohan dan memperkuat asumsi ku maka di saat itu juga aku tidak akan berfikir dua kali untuk membunuh mu" itulah yang dipikirkan Eltian.
Jia benar Miyaku berbohong mati sekalipun Eltian akan memastikan Miyaku menemaninya bertemu dengan Raja Ming.
Di lain tempat tepatnya dimana Solydia dan Jadey di tahan Xefall menyuruh Laoyin untuk membantu Eltian dan hal ini tentu langsung di turuti Laoyin.
"Pergilah" ujat Xefall.
"Hubungi aku jika kau perlu bantuan" peringat Laoyin sebelum benar benar meninggalkan Xefall.
"Kau perhatikan dirimu sendiri" jutek Xefall yang memalingkan pandangannya.
Menerima perlakuan kasar dari rekannya, Laoyin langsung pergi tanpa mempedulikan Xefall.
Solydia langsung meraih pedang Jadey dan menghunuskannya tepat di leher Xefall, posisi mereka saat ini adalah Solydia di belakang punggung Xefall sambil mendekatkan pedangnya hingga menyentuh leher Xefall.
Xefall dengan tentang tidak memberikan tanda tanda perlawanan.
"Percaya tidak aku akan membunuh mu? "Tanya Xefall tenang.
Solydia berdecih "sebelum kau melakukannya kau sudah kehilangan nyawa mu" savage Solydia.
"Aku rekan mu" lirih Xefall.
"Solydia mengiris leher Xefall hingga mengeluarkan darah segar. Xefall semoat meringis kesakitan tapi dia tidak berdaya.
"Uhuk" batuk Xefall sambil meringis kesakitan.
Baru saja Xefall akan memeganggi lehernya Solydia sudah lebih awal mengiris lehernya.
"Argh..... Jangan tolong berhenti aku tidak akan bergerak lagi" ujar Xefall benar benar takut akan kekejaman Solydia.
"Katakan rencana Miyaku atau kau harus kehilangan nyawa mu sekarang" ancam Solydia.
"Di bandingkan itu, nyawa rekan mu lebih penting bukan? "Ujar Xefall yang menyadarkan Solydia.
"Benar juga, tidak ada pilihan lain lagi, orang ini masih bisa ku manfaatkan "batin Solydia yang diam diam menempelkan tanda di punggung Xefall lalu melepaskannya.
"Ikuti aku"ujar Xefall menuntun jalan sedangkan Solydia mengikuti dari belakang sambil menopang tubuh Jadey yang masih tidak sadarkan diri.
Berlanjutttt.......
__ADS_1