
Aurah membunuh yang di pancarkan Medeia membuat para pasukan darah kelahiran naga penghancur terbangun dan menuju wujud manusianya.
Salah satu dari mereka menyadari bahwa tuannya telah kembali dan siap untuk memerintah mereka menuju pada kedamaian yang akan mengubah nasib dunia yang tidak lama lagi akan segera hancur.
Di saat itu Medeia tengah bersedih, ia tidak dapat mengontrol emosi dan kekuatannya yang keluar tanpa henti, menyebarkan hawa ketakutan yang di rasakan Medeia.
Mahkota kehampaan mengakui Medeia sebagai tuannya di saat ia tengah tidak tahu harua bagaimana lagi, ia tahu ia pernah berjanji tapi ia tidak tahu harus bagaimana memulainnya.
"Selamat datang kembali ke tahta kehidupan anda"ujar jenderal darah naga kehidupan Elvis.
"Apakah itu kau Elvis? "Tanya Medeia masih dalan ke adaan linglung.
"Benar ratu kami yang mulia Veisha sang kehidupan"hormat Elvis.
"Panggil aku dengan nama Medeia saja"ujar Medeia menatapnya dengan tatapan kosong.
Elvis terkejut melihat kondisi Medeia yang drop keras, apa lagi kekuatannya malah tersegel setengah membuat Medeia semakin sulit dalam menyerang musuh sesukannya karena di sisi lain ia juga harus mengontrol emosinya yang tengah terganggu akan pengaruh iblis hati.
"Yang mulia Medeia sepertinya saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mewujudkan keinginan saudara kita Evoliana sang penasehat kehidupan para mahkluk hidup"ujar Elvis mengingatkan Medeia yang masih termenung.
"Aku tahu maksud mu Elvis, kalian berikan ide kalian setelah aku ingin mendengarnya, ku harap ide yang kalian katakan dapat menghibur ku"Medeia berdiri pergi meninggalkan ruangan menuju tempat peristirahatannya.
Medeia memanggil Zen dan Kaguya untuk mendiskusikan sesuatu yang terus nenjaggal pemikirannya. Meski ia sudah mendapat kembali ingatannya ia masih harus mencari tahu apa yang terjadi selama ia tertidur lelap ribuan tahun lalu.
Mereka datang dengan cepat dan duduk di dekat Medeia yang tidak memasang tampang apa pun untuk kedatangan mereka, tidak tahu apa yang akan ia lakukan ketika ia mengetahui segalanya.
Medeia gelisah, jika ia nanti musnah maka kehidupan akan berakhir ke tangan sang kematian karena memikirkan ini ia mendiskusikannya terlebih dahulu pada mereka yang lebih bijak.
"Bagaimana dengan penerus ku di masa depan? "Ujar Medeia.
"Apanya yang penerus? Kau sendiri adalah satu dari kehidupan itu sendiri kan? Apa maksud mu mencari penerus lagi? "Bingung Zen bertanya tanya.
"Aku mengerti, tapi setidaknya kita hancurkan perjanjian iblis mu itu dulu, jika tidan berhasil untuk berjaga jaga kita harus mencari kandidat yang pantas meneruskan posisi mu sebagai pemimpin kami"ujar Kaguya berfikir dengan serius.
"di mana pun kau mencari orang yang memiliki kemampuan yang sama dengan adik ku kau tidak akan menemukannya karena adik ku hanyalah satu dan bagian dari kehidupan, karena bisikan iblis itu ia malah mau mengucapkan sumpah iblis darah itu"kesal Zen tapi masih dengan tampang tulusnya.
"Maka dari itulah kita harus mencari kandidat yang tepat, tapi jika tidak ada maka kaulah yang harus meneruskannya meski itu akan membuat keseimbanggannya rusak"ujar Kaguya menatap Medeia berharap memiliki solusi.
Medeia menhela nafas berat "baiklah, aku memiliki solusinya siapa pun yang nantinya terpilih akan ku berikan DNA ku lalu setengah dari kekuatan ku akan dia wariskan untuk mengontrol kehidupan di bumi"Medeia dengan percaya diri mengatakannya.
Zen menghela nafas, Kaguya mengeleng ngeleng kan kepalanya pusing. Padahal Medeia sendiri akan musbah sebelum memberikan kekuatannya pada sang penerus yang terpilih.
"Bagaimana kau akan memberikan kekuatan mu pada mereka? Sedangkan pada saat itu kau sendiri akan musnah terlebih dahulu? "Bingung Kaguya.
"Aku meragukan mu sekarang"remeh Medeia.
"Ayolah, kau ini teman ku, terkadang pemikiran mu masuk akal tapi sulit untuk kami terima dalam akal kami"kesal Kaguya.
"Gunakan segel alam untuk menghubungkan dan membangun kan roh ku nanti untuk membantu kalian dalan penyerahan tahta ku, bagaimana pun aku adalah sang kehidupan, meski aku mati tapi aku akan tetap bereinkarnasi di dunia manusia dan pada saat yang tepat aku akan kembali lagi ke sini"ujar Medeia sedikit tidak suka.
"Kau gila yah? Sumpah mu itu akan menghancurkan roh mu tahu! Bereinkarnasi kau bilang? Mimpi di siang bolong kau Veisha! Eh... Maksud ku Medeia!"teriak Kaguya.
"Yang benar saja deh, kalian sengarkan rencana ku baik baik"
__ADS_1
Medeia menjelaskan rencananya dengan sangat teliti membuat Kaguya dan Zen saling menatap tidak percaya dengan rencana gila ini. Sebenarnya rencana yang di buat Medeia menentang hukum alam yang ada tapi Medeia berusaha meyakin kan mereka dan pada akhirnya mereka pun setuju.
Dengan senyuman yang meyakin kan Medeia pun pergi meninggalkan mereka menuju ke ruangan di mana Medeia membekukan jazat Evoliana dengan kristal biru.
"Maaf kan aku, aku akan mencari solusi untuk kembali membangkitkan mu ke dunia ini, apa pun yang ku lakukan belum tentu aku akan kembali dengan selamat karena rencana yang ku katakan pada mereka hanyalah bagian yang paling tidak penting"
"Rencana terpentingnya hanya ada di tangan mu, aku hanya akan berakhir cepat atau lambat, menyebarkan energi dan hawa kehidupan ke bumi lalu musnah atau tidaknya tergantung dari sang kematian yang menerima roh ku atau tidak "ujar Medeia duduk di lantai es yang sangat dinging.
Setelah selesai curhat pada Evoliana ia keluar mencari angin segar sambil memikirkan bagaimana cara untuk menghancurkan segel yang menahan sebagian kekuatannya.
Pusing memikirkan caranya Medei kembali teringat akan kenangannya bersama teman temannya saat di dunia manusia apalagi Chaiden ada di sana, mengapa harus Chaiden yang berkhianat? Untuk apa ia berperilaku baik padanya dulu jika pada akhirnya ia malah menghancurkan segalanya?
Pemikiran masa lalu terus terlintah di pikiran Medeia yang membuatnya kembali menangis hingga Medusa datang menyemangatinya.
"Yang berlalu biarlah berlalu teman ku, kau hanya perlu melangkah ke depan tidak peduli itu apa kami akan selalu mendukung tindakan mu selama yang kau lakukan tidak membahayakan nyawa mu sendiri maka kami bersedia menjalankan perintah dan membantu mu sebagai teman"ujar Medusa yang meneouk nepuk bahu sahabatnya.
"Tumben sekali kau bisa berkata kata begitu lembut? "Ejek Medeia.
"Sialan kau! Bukannya di puji malah di kata katain! Emang yah aku ini apa di mata sang ratu yang begitu mulia ini"ujar Medusa cemberut.
Medeia terkikik menahan tawannya melihat Medusa mengoceh tiada henti. "Melangkah maju boleh saja tapi kita perlu memprediksi dan membuat persiapan untuk menghadapi masalah yang akan terjadi di masa depan yang akan mendatang"ujar Medeia dengan kata kata bijaknya.
"Sialan, perkataan mu lebih keren dari ku"cemburu Medusa.
"Belajarlah jangan cuman tahu makan saja toh kau akan repot diet nahan nafsu makan mu yang tiada batasnya itu"ujar Medeia mengejek Medusa.
"Mengalah bagi yang waras, Medusa sabar latihlah hati mu untuk belajar bersabar, segel jiwa psikopat mu"ujar Medusa mengingatkan diri sendiri.
"Semangat teman ku"ujar Medeia.
"Iya yah **** di pelihara kok malah membawa keberuntungan"ujar Medeia penuh arti.
"Arghhhh aku mau ke dapur makan cemilan dari pada ngeladenin temen kagak ada akhlak"kesal Medusa menarik lengan baju Medeia ikut bersamanya ke dapur.
Medeia yang terserat menuju dapur kerajaanya hanya terkikik menahan tawa melihat kelakuan sahabatnya yang setengahnya marah yang setengahnya lagi ingin menenangkan hati Medeia yang tengah bersedih.
Mereka menghabiskan waktu bersama tidak tahu waktu sudah berlalu berapa lama tapi asalkan dengan begini dapat membuatnya nyaman dan aman maka Medusa siap melakukan apa pun untuk Medeia yang ia sayangi.
......^°^~^°^......
Di sisi lain seseorang membahas rencana penyerangan pada pihak kehidupan agar mereka dapat membuat kekacauan di dalam hati manusia dan mengambil kontrol perasaan mereka sekaligus mengambil kekuatan Medeia yang begitu dasyat.
"Tuan ku, apa yang akan kita lakukan untuk memukul mundur pihak kehidupan? "Tanya jenderal kematian.
"Buat orang orangnya mati, ingat hanya setengah dari mereka yang boleh mati, sisanya biarkan mereka hidup untuk datang menyerang kita dengan begitu ratu mereka akan muncul dan kemungkinan kematian sang kehidupan akan mudah untuk kita rebut"ujarnya dengan nada tenang.
"Baik tuan ku"patuh jenderal kematian itu.
"Kematian akan tetap ada dan kehidupan akan menjadi patner ku untuk mebyeimbangkan dunia ini, tapi sayangnya cara mu berfikir berlawanan dengan pemikiran ku, ku harap kau dapat memahami pola fikir ki dan memulai penggabungan kekuatan yang akan menguntungkan mu, wahai sang kehidupan dan perasaan"ujarnya dengan nada kesedihan yang tiada taranya.
"Kakak apa kau yakin akan keputusan mu yang begitu bodoh ini? "Ujar Xelly adik dari sang kematian.
"Aku yakin akan keputusan yang ku buat sendiri"ujar Kiro sang kematian.
__ADS_1
"Aku tahu kau mencintainya tapi jangan egois hanya karena hal seperti ini kau rela mengorban kan nyawa rakyat kita yang tidak tahu apa yang terjadi"ujar Xelly mengingatkan.
"Mana mungkin aku mengorban kan nyawa orang orang ku seperti membuang sampah yang tidak berguna? "Ujar Kiro berusaha meyakin kan Xelly yang masih tidak menyetujui keputusan kakaknya.
"aku membenci diri mu yang malah terjerat perasaan yang merepotkan seperti ini, aku sebagai sang ketidak terikatan akan membawa mu kembali menjadi sang pemimpin kematian tanpa perasaan"tekat Xelly.
Kiro menatap bulan dengan sayup berusaha menguatkan diri dan meyakin kan dirinya dengan keputusan yang ia buat, salah sekali pun benar sekali pun ia hanya berharap semoga apa yang ia rencana kan berjalan dengan lancar tanpa gangguan apa pun dari pihak mana pun.
Di sisi lain Kaguya merasa bahwa harapan yang begitu besar tersalur dari sisi lain di tempat yang agak jauh dari posisinya saat ini. Samar samar Kaguya merasa harapan itu tertuju dengan harapan perdamaian tapi ia tidak tahu siapa yang tengah menapa bulan dengan harapan yang begitu tinggi.
"Siapa orang ini? Mengapa ia memiliki tujuan yang sama dengan Veisha? Apa ini hanya kebetulan saja? Tapi mengapa begitu terasa? "Bingung Kaguya berusaha terhubung ke bulan dan mencari tahu siapa yanh tengah menatap bulan.
Tapi sangat di sayangkan Kaguya tidak dapat menemukan orang itu karena saluran perasaannya tiba tiba terputus dan menghilang tanpa jejak. Kaguya mulai curiga dab mencari jawaban dari apa yang terjadi padanya malam ini.
"Kau gila yah? Kakak kau hampir saja membocorkan indentitas mu pada si mahkluk bulan itu tahu! Syukurlah aku memutuskannya dengan cepat "lega Xelly menghela nafas leganya.
"Maaf, aku bertingkah ceroboh"ujar Kiro meminta maaf pada adiknya yang hanya mengangguk dan memeluk kakaknya dengan erat.
"Aku tidak menentang ke inginan kakak untuk mencintainya tapi apa yang ia kakukan itu bertentangan dengan hukum alam yang dulu kakak tegak kan, jika kakak melanggarnya bukan kah kita akan di anggap remeh klan lainnya? "Ujar Xelly berusaha membujuk Kiro yang hanya tersenyum kecut.
Xelly mulai geram melihat tinggkah kakaknya yang masih terikat karena kesalahan fatal yang ia buat dahulu. Jujur saja, Xelly juga geram dan mebenci keberadaan suku iblis darah yang tercipta dari insiden itu.
Merasa tertekan karena apa yang terjadi kini mulai membuaat para klan lainnya bersembunyi dan membuat pertahanan terkuat mereka untuk menghindari kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Beda dari yang lainnya Xelly berusaha keluar dari gerbang klannya untuk mencuri akses masuk ke dalam klan kehidupan mencari pemimpin kehidupan dan membuat kesepakatan tapi orang orang dari klan kematian mengetahui niat Xelly yang akhirnya memperketat keamanan.
Jalan untuk pergi akhirnya mulai mustahil di lewati Xelly, sebagai adik ia idak rela melihat kakaknya yang duduk termenung memikir kan kesalahan yang ia perbuat, selain itu para suku di larang untuk saling bertemu karena suatu alasan yang bisa saja membawa kehancuran untuk dunia.
"Kakak tunggu aku mencari cara untuk keluar tanpa izin mu, aku juga terpaksa melakukannya jika tidak ku lakukan kau tidak akan terlepas dari bayangan kesalahan mu itu"tangis Xelly.
Ia berusaha membuat jalan untuk kabur yang paling efektif yang hanya bisa di lalui hanya pada dirinya seorang ke cuali Xelly sendiri yang mengizin kan.
Percobaannya akhirnya selesai setelah berhari hari mengurung diri di kediamannya, para penjaga tidak dapat melawan perintah di daerah kekuasaan Xelly. Jika mereka melawan yang ada nyawa merekalah yang akab melayang.
Xelly dengan perasaan gembira membuka portal sihir terbarunya dan meninggalkan klan bayangannya untuk pergi mengantarkan pesan pada peminpin klan kehidupan.
Entah ia berakhir baik atau tidak ia lebih memilih mati saja dari pada melihat kakaknya ada yang telah terselimuti perasaan hampa sepanjang hidupnya karena seorang pemimpin yang bertanggung jawab untuk kelangsungan hidup para mahkluk.
...^•^...
Di sisi lain di kerajaan Klan Vana Medeia tengah bersiap menggambil tonggkat sihir kehidupannya dan mulai memerintah atas nama kehidupan.
Di balkon kamar Medeia duduk terdiam menunggu waktunya datang. Medeia sudah tahu kedatangan Xelly dan menyuruhnya menampakan dirinya.
"Memang pemimpin yang layak"ujar Xelly.
"Urusan apa yang membawa mu kemari tanpa izin dari ku, adik dari sang kematian Xelly? "Dingin Medeia tanpa menatap Xelly sedikit pun.
"Aku datang mengatakan bahwa aku ingin kau membuat perjanjian damai pada klan kematian kami, aku tahu ini memang gila, kehidupan dan kematian tidak dapat bersatu itulah takdirnya apalagi ras iblis hati itu masih belum di ketahui keberadaannya adannya ada di mana tapi kau bisa memutuskan keputusan mu, kami dengan senang hati akan menaggapi keputusan mu tanpa mengundang adanya pertumpahan darah"ujar Xelly berusaha sebisa mungkin meyakinkan Medeia yang tidak bergeming.
"Kembalillah aku tidak ada waktu memikirkan hal itu, hukum dunia ini tidak dapat di bantah atau sang harapan akan menghancurkannya"ujar Medeia hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Aku tidak tahu siapa pemimpin mu keputusan ku mungkin akan berubah seiring berjalannya waktu, dan juga kau sebaiknya kembali atau akan ku hancurkan roh mu dan memusnahkannya dari dunia"ujar Medeia yang berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Xelly tidak menyangka Medeia akan berbaik hati membiarkannya keluar dari kediamannya tanpa luka sedikit pun. Ia segera pergi karena ia tahu perkataan Medeia itu abronormal.
Akan kah dunia ini hancur? Akan kah sang kehidupan dan sang kematian bersatu? Apa yang akan di lakukan sang harapan untuk keputusan dari kedua belah pihak?