Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 67


__ADS_3

...~~~...


Satu minggu telah berlalu, semua waktu yang dimiliki Zilian ia gunakan untuk mengumpulkan orang yang bisa segera dirinya latih bersama dengan Alastor.


Bukan hanya itu, Zilian juga mengajari Gailen dalam hal politik terutama penelitian tentunya sesuai dengan pekerjaannya nanti.


Sekarang Gailen merupakan seorang sekretaris dari sosok pria berdarah dingin itu siapa lagi jika bukan Alastor si muka tembok.


Gailen akan membantu urusan Alastor di dalam organisasi yang telah Zilian bangun.


Selama seminggu ini Alastor terus menerima kiriman surat dari Duke Harold yang mengiriminya surat berisi keinginannya untuk merekrutnya dalam penyelidikan tapi Alastor dan Gailen diam tidak memberikan balasan apapun.


Selain karena Zilian menjauhi pihak kerajaan mereka juga sibuk dengan Lilithya, ah Lilithya telah bergabung dengan organisasi Zilian setelah Alastor mendatanginya secara tiba tiba dan itu menggunakan cara yang uh sangat barbar.


Bagaimana tidak? Jika saja Lilithya menolak bisa hancur tempat lelang kesayangannya ples hidupnya yang akan berakhir saat itu juga.


Zilian tidak pernah ikut serta dalan diskusi maupun rapat dengan Lilithya, semuanya ia serahkan pada Alastor dan Gailen, dirinya hanya akan mendengarkan keputusan akhir apa yang telah mereka berdua tentukan.


Anggota dalam organisasi jumlahnya telah meningkat lumayan drastis setidaknya dapat memulai sebuah perang kecil jika diperlukan dan kini mereka telah menerima ajaran dari Alastor di kastil dalam danau es.


Malam telah tiba, hari dimana festival telah dimulai, Zilian tengah berada di sebuah penginapan dekat festival untuk menjalankan rencananya.


Alastor dan Gailen sendiri sibuk dengan Lilithya di kastil PERSEPHONEZILLA, tempat yang akan melahirkan manusia berbakat dengan kekuatan tempur terkuat, yah disanalah tiga pilar utama kastil tengah melatih orang yang memasuki istana.


Persephonezilla sendiri memiliki arti bayangan yang akan selalu membawa kehancuran dan kesuraman, yah artinya memang terdengar mengerikan tapi itulah arti dari kastil itu.


Zilian akan memastikan akan melakukannya sesuai apa arti dari kastil miliknya dan Alastor serta Gailen, musuhnya akan tahu betapa mengerikannya mereka.


Zilian menyeringai senang saat membayangkan wajah panik orang-orang yang berada di festival terutama para faksi bangsawan yang menemani Putra Mahkota mereka dalam pengunjungan serta peninjauan mereka yang tak lain memiliki tujuan tersendiri.


"Aku penasaran dengan dua Lady itu, siapa diantara mereka yang menyimpan rahasia yah? Marquess atau Viscount? "Gumam Zilian menatap datar setiap orang yang berlalu lalang dari lantai atas penginapannya.


Zilian menyesap pelan winenya sesekali menunggu mata-mata organisasinya datang memberikannya kode untuk bergerak.


Waktunya telah tiba seharusnya mata-matanya telah bergerak, Zilian mulai memantau setiap kerumunan yang ada di depan matanya dan matanya yang tajam menangkap seorang pria tua dengan topi cerahnya serta jarum hijau yang menancap di atas topinya.


Dia bukanlah seorang pria tua melainkan seorang pria berusia 24 tahun memiliki bakat yakni penyamaran, Zilian menyebutnya sebagai agen Nights to Shadow.


"Bagus" batin Zilian menampilkan smiriknya.


Dengan perlahan Zilian meletakkan winenya lalu keluar dari penginapan setelahnya ia bergegas menuju sebuah daerah yang jarang mendapatkan perhatian dari kerajaan bahkan para bangsawan.


Rumah rusak, tanah gersang, tatapan yang haus akan harta serta banyaknya orang yang tidak memiliki rumah.


Itulah yang Zilian lihat sesaat dirinya memasuki kawasannya, kondisi tempat ini sangatlah buruk wajar saja ada perampokan yang terjadi di kota itu karena kurangnya perhatian dari pemimpin mereka hingga mereka memilih jalur yang mereka sendiri tidak ingin lakukan.


Zilian menyusuri tempat itu, sesekali ia meringis saat melihat seseorang dengan tubuh yang amat teramat kurus.


"Sial, apa yang mereka kerjakan hingga tidak peduli dengan rakyatnya sendiri? Dengan seenaknya ia memakan makanan nan mahal lalu menutup mata dengan rakyatnya yang kesulitan, cih setelah urusanku selesai akan ku urus tempat ini jika mereka tidak mampu menjalankan tugasnya" ujar Zilian mengertakkan giginya marah.


"Akan ku pastikan siapapun yang menjadi penyebabnya akan ku habisi mereka lalu akan ku siksa di alam kematian, tak akan ku biarkan dia bereinkarnasi bahkan tidak ada ampun untuknya" ujar Zilian tanpa sadar ia telah melukai telapak tangannya sendiri.


Kukunya yang panjang berhasil memasuki daging tangannya hingga menembus dan saling bertegur sapa dengan tulang belulangnya.


Tidak ingin membuang-buang waktu lagi Zilian mempercepat tempo langkahnya hingga ia terdiam mengamati seorang gadis yang tengah menunduk pada seorang gadis bangsawan di ikuti oleh beberapa warga disekelilinya.


Para warga tampak senang dengan kehadirannya seolah-olah telah menunggunya begitu lama, melihat ini membuat Zilian tersenyum tipis, ia memakai topengnya lalu berjalan mendekati kerumunan, sontak semua orang langsung melindungi sosok gadis bagsawan itu.


"Tenanglah, aku datang untuk membantu kalian" ujar Zilian langsung mengangkat kedua tangannya ke atas setelah menerima sebuah belati melesat ke samping wajahnya.


Salah satu dari mereka dengan cepat mengayunkan belatinya pada Zilian yang tentu saja akan menghindari serangan itu, ia tidak datang untuk cari mati disini.


Cukup lama ia menyerang dan akhirnya berhenti mungkin kehabisan tenaga sontak saja Zilian melompat sedikit menjauh darinya.


"Pergilah" ujar seorang pria remaja dengan ketusnya tatapanya begitu dingin bukan hanya dia tapi semua orang tampak tidak ingin Zilian berada di desa mereka terlalu lama.


"Sayang sekali" ujar Zilian setelahnya ia pun berbalik untuk pergi.

__ADS_1


"Tunggu! "Suara yang selembut kapas itu berhasil membuat Zilian tak mampu menahan dirinya untuk menyeringai, ia tahu ini pasti akan terjadi.


Zilian berbalik menatap sesosok gadis dengan iris mata Navier, berambut putih.


Rambut putih salju adalah ciri khas kerajaan ini terkecuali keturunan kerajaan yang memiliki surai perak nan berkilau seolah ada sihir disana.


Jika kalian menanyakan warna rambut Zilian sekarang tentu saja jawabannya putih, rambut aslinya berwarna coklat dan bola mata coklat tapi dia mengubahnya menjadi putih begitu pula dengan bola matanya yang berubah menjadi sebiru lautan.


Zilian tidak mampu melakukannya sendirian mengingat kondisinya yang tidak dapat menggunakan sihir ia terpaksa harus meminta bantuan dari GZN agar membuatkan ramuan untuknya akhir-akhir ini.


Zilian menatap gadis itu lalu berjalan mendekat tapi langsung saja dicekat oleh seorang remaja yang menegaskan bahwa Zilian tidak boleh melangkah lebih jauh lagi.


"Tak apa, Eric" ujar gadis itu sambil mengelengkan kepalanya pelan, jemari lentiknya bergerak megusap rambut remaja itu sambil tersenyum hangat.


"Ada apa nona? "Tanyanya menghampiri Zilian yang berdiri bak sebuah patung.


"Desa ini membutuhkan seseorang sepertimu Lady" ujar Zilian yang membuat gadis itu tersipu malu.


Seringaian kembali terukir diwajah Zilian untungnya ada topeng yang menutupi wajahnya jadi ia tak perlu susah payah mengontrol mimik wajahnya.


Zilian menyerahkan sebuah kantong berisikan emas pada remaja itu lalu menatapnya sembari tersenyum, walaupun tidak dapat melihatnya tapi sepertinya remaja itu dapat merasakannya.


"Kalau begitu aku pergi, tolong jaga mereka Lady" ujar Zilian membungkuk layaknya seorang bangsawan lalu melenggang pergi.


Ia pergi kedekat seorang pengemis lalu membungkuk memberikan sebuah koin setelahnya benar-benar pergi meninggalkan desa.


'Bergabunglah dengan mereka ingat tetap awasi faksi bangsawan dari dalamnya, jika situasi tidak menguntungkan segera tukar posisi dengan agen lainnya, ingat kenakan alat yang kuberikan padamu dengan baik jika tidak ingin kehilangan nyawamu'


Itulah isi dari kode rahasia Zilian, sebuah angka tertulis begitu kecil dengan macam-macam variasi dan hanya lebih dari 20 angka saja tapi itu mampu meninggalkan kata yang begitu banyak.


Zilian kembali memasuki kawasan festival dengan pakaian yang telah ia ganti menyerupai rakyat biasa.


Senyumannya terukir kala melihat target keduanya tepat berada di depan matanya, dengan cepat Zilian berjalan ke arahnya lalu dengan sengaja menabrak seorang Lady hingga keduanya terjatuh bersamaan.


"Apa nona terluka? "Tanya Lady itu, meski wajahnya datar dan tampak begitu menakutkan tapi Zilian dapat melihat sebuah kecemasan di iris matanya yang sepekat langit malam.


"Tidak apa" ujarnya mengulurkan tangannya pada Zilian yang masih terduduk di atas jalan.


Zilian mengulurkan tangannya pada gadis itu lalu menatap gadis itu setelahnya ia pun membunguk dengan kikuk, sengaja memang.


"Terimakasih, Lady" ujar Zilian yang dibalas dengan anggukan darinya.


"Ada apa? "Tanyanya dengan alis yang berkerut kala melihat tingkah laku Zilian.


"Maaf saya harus pergi, seseorang mencari saya "ujar Zilian cemas, ia berbalik untuk kembali berlari tapi gadis itu menarik pakaian Zilian.


Gadis itu menatap sekelilingnya dan menemukan mata-mata Zilian yang berperan sebagai antagonis sekarang dan kini tengah mendekat ke arahnya kedua gadis itu yang tak lain adalah Zilian dan targetnya.


"Ikut denganku" ujar gadis itu menarik pegelangan tangan Zilian agar mengikutinya, ia menyadari mata-mata Zilian dan kini memutuskan untuk membantu Zilian.


Sebelum benar-benar menghilang Zilian tersenyum tipis saat melihat mata-matanya mengikutinya sesuai dengan perintah awalnya.


Itu agar aktingnya semakin sempurna hohoho.


"Sebentar lagi festival yang sebenarnya akan dimulai, bersiaplah" batin Zilian tersenyum sumrigah.


...~~~...


Mansion yang begitu luas dengan taman bunga yang terbentang luas di sepanjang taman menyambut siapa saja yang memasuki kediaman milik keluarga Viscount.


Viscount terkenal akan kecerdikannya dalam mengurus masalah politik selain itu ia sendiri netral dalam pemilihan apapun termaksud akan tahta kerajaan tapi disisi lain ia sendiri juga tidak segan menjatuhkan siapa saja yang berusaha menyakiti pihak kerajaan bahkan seorang Duke maupun anggota kerajaan sekalipun ia tidak akan segan membunuhnya.


Berkat pencapaiannya itulah ia menjadi keluarga yang disegani meski banyak rumor buruk tentang putri mereka itu tetap tidak mempengaruhi jasa mereka terhadap kerajaan terutama saat membantu menjaga putri kerajan yakni putri Victoria.


Berbagai pangkat serta kenaikan status langsung di tolak oleh Viscount, meski statusnya rendah ia pantas di bandingkan seperti layaknya seorang Duke, itulah kenyataannya.


Kekayaan mereka memang tidak banyak itu karena mereka memiliki hobby menghamburkan uang mereka pada rakyat yang tidak mendapatkan kehidupan yang layak, tindakan mereka tidak pernah diketahui oleh pihak manapun kecuali orang penting atau orang inti saja yang tahu.

__ADS_1


kini Zilian berada di dalam sebuah kamar, tepatnya kamar milik putri kediaman ini, Lady Cecillia.


Gadis berkulit putih pucat, denga warna mata hitam pekat, hobby memakai pakaian berwarna hitam dengan aksen merah tua.


"Duduklah" ujar Cecillia saat kembali dari ruangan gantinya.


"Apa anda tidak sibuk? "Tanya Zilian mengerutkan keningnya melihat Cecillia mengeluarkan obat-obatan dari dalam ruang gantinya.


"Jika maksudmu festival maka jawabannya tidak sama sekali nona, mereka tidak akan sadar jika aku tidak bergabung dan lagi pula reputasiku sudah buruk percuma saja jika aku patuh pada mereka itu hanya akan membuat mereka semakin curiga dan reputasi serta gosip buruk akan kembali tersebar di ibu kota" ujar Cecillia mengoleskan obat pada bagian leher Zilian.


Zilian sempat meringis hingga Cecillia selesai membalut lukanya.


"Aku akan mengantarmu pulang" ujar Cecillia yang membuat Zilian menghela nafas.


"Aku sarankan agar kau kembali ke kerajaan jika tidak kau akan dalam masalah" ujar Zilian membuat gadis muda itu terkejut bukan main.


"Kau.... "


Cecillia terdiam sedangkan Zilian menunggu ucapan yang akan Cecillia lontarkan padanya.


"Apa alasanmu memerintahkanku untuk kembali ke kerajaan busuk itu? "Ujar Cecillia sedikit judes.


"Jika kau tidak ingin dicurigai maka pergilah" ujar Zilian menatap Cecillia dengan pandangan tegasnya.


"Bukankah jika aku pergi maka akan semakin aneh? Aku bahkan tidak pernah menghadiri acara apapun terkait urusan istana, lalu alasan apa yang akan aku katakan? Mereka tidak akan mendengarkan perkataanku nona" ujar Cecillia sedikit dingin.


"Tapi jika kau tidak pergi hasilnya akan lebih buruk lagi" ujar Zilian mencoba untuk bersabar.


"Jika aku tetap disini? "


Zilian menghembuskan nafas frustasi, ia lelah menghadapi sikap Cecillia walaupun hanya sebentar tapi rasanya ingin mati saja.


"Pergilah Lady" ujar Zilian yang membuat Cecillia semakin bingung.


Melihat itu Zilian dengan paksa menarik tangan Cecillia untuk keluar dari kamar, para pelayan hanya mampu geleng kepala melihat nona mereka serta temannya saling tarik menarik di lorong.


Yah Cecillia berusaha menahan langkah Zilian dan Zilian tetap memaksa Cecillia untuk ikut dengannya.


Zilian melepas genggamannya pada Cecillia lalu membungkuk sekali lagi.


"Bawa ini pada mereka, aku akan menemuimu setelah urusanku selesai" ujar Zilian setelahnya pergi dari sana.


Cecillia menatap sebuah alamat tempat di tangannya, "kali ini akan kudengarkan" ujarnya berjalan menuju pekarangan rumahnya, menaiki sebuah kereta menuju istana.


Dia adalah perwakilan bangsawan yang akan menemani Pangeran Mahkota, awalnya dia ingin kabur saja dan membiarkan sepupunya yang menggantikannya tapi ucapan Zilian seolah mengandung sihir sehingga ia memutuskan untuk mendengarkan ucapannya tanpa dasar apapun.


Apa yang Zilian tunggu telah terjadi, festival yang awalnya dipenuhi canda tawa bahagia kini tergantikan menjadi sebuah jeritan di tengah-tengah kota.


Itu karena seseorang telah terbunuh sesaat setelah festival resmi dimulai, tidak hanya satu tapi 7 orang telah mati di tangan sang pembunuh.


Zilian melukis sebuah kata dengan darah sebagai tintanya tapat dimana dia membunuh korbannya.


'Hari yang menyenangkan'


Itulah kata yang Zilian tulis di salah satu tembok sekat ia menghabisi pengikut Marquess tepatnya orang yang baru saja putrinya sewa di desa tadi.


Zilian tahu ulahnya ini akan membuat pihak dari mereka akan semakin berhati-hati tapi ia tidak sepenuhya dirugikan, dengan begini bagsawan yang awalnya berpura-pura melindungi para rakyat akan segera menerima kekalahan telaknya.


Ketakutan mereka akan hidupnya yang akan berakhir menjadi bumerang bagi para lawannya, bermain halus? Oh, Zilian balas dengan halus pula.


"Dengan begini pengikutmu akan kesulitan bukan? Kepercayaan serta ketergantungan mereka padamu akan segera musnah, dngan begini janjiku untuk membuatmu sibuk telah terpenuhi, selamat bekerja tuan" ujar Zilian melenggang pergi dari sana.


Cecillia yang melihat kekacauan ini sontak mengingat Zilian, pikirannya berubah rumit memikirkan gadis yang sempat dia tolong tadi.


"Apa ini ulahmu? "Batin cecillia.


Berlanjutttt....

__ADS_1


__ADS_2