
^^^PEMANGGILAN JIWA^^^
...∆∆∆...
Sudah enam bulan berlalu sejak berdirinya para divisi saat enam bulan terakhir ini begitu damai tidak ada serangan apapun yang terjadi.
Zilian masih terduduk termenung dengan tatapan kosongnya menunggu informasi dari divisi pertama dan keempat.
Entah informasi apa yang akan mereka bawa dan bagaimana perkembangan di beberapa negara sekarang?
"Haish, apa yang kau pikirkan di pagi hari ini? "Ujar Dedliona menghampiri Zilian yang duduk di sofa panjang ruangannya.
Tidak mendapat jawaban Dedliona pun menaruh dua cangkir teh susu di meja lalu duduk di dekat Zilian dengan cemas dia pun bertanya.
"Ada apa? Kenapa kau begitu cemas, apa ada masalah? "Tanya Dedliona.
Zilian mengeleng pelan dengan wajah datarnya.
"Tidak ada apa apa, aku hanya heran dengan mereka saja" balas Zilian menyenderkan punggungnya ke sofa.
"Bingung? Kenapa? "
"Mereka masih belum bergerak sampai sekarang, entah mereka sedang memikirkan rencana penyerangan apa lagi nantinya "ujar Zilian menghela nafas.
"Tenang saja, lima divisi kini telah kuat begitu pula dengan pasukan yang di urus Devosliona. Aku yakin kita bisa mengatasinya" ujar Dedliona percaya diri.
Berbeda dengan Zilian yang lelah akan dirinya dan hidupnya, jika dia tahu keputusannya akan menyiksanya sampai seperti ini dia tidak akan pernah mengucapkan sumpah terkutuk itu.
Dedliona mengerti pikiran Zilian, dia rasa dia benar benar tidak berguna sekarang. Melihat Zilian begitu menderita akan pilihannya.
"Andai aku tahu cara mematahkan sumpah mu itu aku akan mempertaruhkan hidup ku untuk menyembuhkan mu" ujar Dedliona merasa bersalah karena tidak dapat membantu apapun sama sekali.
Zilian mengeleng "tidak apa, aku yang memilih mengucapkannya maka aku akan menanggungnya kau tidak ada hubungannya dengan ku "ujar Zilian melirik ke arah Dedliona yang menunduk sedih.
Tetap saja Dedliona masih menyalahkan dirinya, padahal dia telah begitu lama mematahkan banyak sumpah, melakukan banyak aksi brutal bahkan mematahkan banyak sihir yang tidak bisa para ahli sihir patahkan dulu.
Melihat betapa keras kepalanya Dedliona, Zilian menepuk kepala Dedliona hingga tersungkur ke tanah dan mencium lantai ruangannya.
"Apa yang kau lakukan?! "Teriak Dedliona kesal.
Zilian bersikap seolah olah bukan dia pelakunya "apa? "Tanya Zilian dengan kedua alis yang terangkat.
"Kau ternyata jahil juga yah?! "Kesal Dedliona yang kembali duduk di sebelah Zilian ia mengembulkan kedua pipi munggilnya.
"Rasa kesal itu seperti apa? "Tanya Zilian.
Hati Dedliona mulai terasa tertusuk, nafasnya mulai menyesak. Ia merasa perih setelah mendengar ucapan sahabatnya yang begitu menyakitkan.
"Kesal sama seperti marah tapi kekesalan masih bisa di kendalikan berbeda dengan amarah" jawab Dedliona lesuh.
"Hmmm, aku tahu tapi apakah di masa depan sumpah ku ini masih bisa di hilangkan? Aku benar benar lelah dengan kehidupan ku ini, aku juga ingin merasakannya sama seperti kalian semua..... "
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang sekarang ku rasakan tapi aku ingin mengatakan aku iri dengan kalian yang hidup damai sedangkan aku? "Zilian tersenyum gentir.
Hidupnya hambar sekarang, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan kecuali bertarung melindungi keluarganya, jika waktu kosong Zilian hanya bisa duduk sambil menatap ke satu titik tanpa ingin berkedip.
"Aku akan membantu mu, saat ini aku masih mencari tahu bagaimana caranya mematahkannya tapi masih tidak ada kemajuan" lirih Dedliona.
"Hentikan saja" ujar Zilian.
"Kenapa? "Tanya Dedliona bingung.
"Itu akan menguras kekuatan mu, kau tahu sendiri hal ini mustahil adanya. Berhentilah membuang buang energi mu dengan apa yang tidak mungkin terjadi" ujar Zilian.
"Aku akan tetap berusaha meski kau melarang ku aku akan tetap mencari cara untuk mematahkannya meski melanggar peraturan alam semesta aku akan tetap melakukannya! "Tegas Dedliona.
Dedliona tidak peduli apa pun yang akan menghalanginya dia akan melawan jika ada yang keberatan dengan apa yang dia lakukan.
Zilian memeluk Dedliona yang membalas pelukan sahabatnya "terimakasih, tapi kumohon berhenti dan lupakan saja" ujar Zilian lagi.
"Tidak! "Balas Dedliona tidak mau mendengarkan Zilian yang hanya mendengus.
Ctt\= Zilian dapat menampilkan emosinya pada seseorang dengan mengandalkan ekspresi dan aurah yang dia pancarkan tapi Zilian tidak dapat merasakan apapun dia hanya dapat mengekspresikan perasaannya tapi tidak untuk merasakannya.
Zilian tersenyum tulus, matanya begitu tenang dan dengan mimik wajah yang begitu berseri seri, Dedliona mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud dari tatapan Zilian padanya.
"Aku tidak akan memaksa mu lagi tapi sebaiknya kau pikirkanlah dulu, di saat mereka menyerang apakah kau bisa menang atau tidak tergantung dengan energi ku bukan? Sihir mu memakan banyak energi jika kau bersikeras melakukannya maka jangan salahkan aku tidak memperingati mu" ujar Zilian.
"Huh! Aku akan memperhitungkan seberapa banyak energi yang akan ku tampung, lagi pula aku sudah menyiapkan wadah energi yang akan menampungnya" ujar Dedliona tidak mau tahu.
"Benarkah? Aku sudah tidak sabar menunggu kabar ini! "Pekik Dedliona yang langsung memasang portal menuju ruangan Lab Hanzel.
Zilian langsung bergegas dengan cepat sebelum portal yang dibuat Dedliona menghilang.
Sesampainya Zilian dan Dedliona langsung berjalan ke arah dua kaca yang berisikan air dan dua tubuh yang berada di dalamnya.
Hanzel sibuk membuat lingkaran energi untuk memindahkan mereka ke lantai yang menjadi media dimana Dedliona akan memanggil jiwa mereka nantinya.
Zilian melepaskan elemen esnya lalu menggunakan sihirnya.
Awalnya Zilian adalah pengguna sihir putih tapi karena telah bekerja sama dengan Dedliona sihir hitam Dedliona yang berlebihan pun masuk ke dalam tubuhnya dan alhasil dia memiliki dua sihir mematikan di tubuhnya.
"Mundurlah dan pasang perisai untuk dirimu sendiri" perintah Dedliona ada Zilian yang tanpa aba aba langsung memasang perisai seolah olah dia telah tahu.
Dedliona masuk ke dalam lingkaran energi yang di buah Hanzel dan telah di perkuat Zilian. Dedliona duduk dan memejamkan matanya untuk berfokus.
Dedliona membaca beberapa mantra, cahaya di dalam kaca penelitian Hanzel bersinar lalu meredup perlahan. Yah Dedliona memindahkan kedua tubuh itu ke dalam lingkaran menggunakan sihir pemindahan.
Setelah selesai memindahkannya Dedliona mengalirkan energinya serta melepaskan aurahnya yang mencengkam tanpa ingin mengendalikannya karena hal ini pula banyak barang di Lab Hanzel yang pecah karenanya.
"Aku harus membereskan ini nanti" batin Hanzel.
"Hm, lumayan mematikan tapi tidak semematikan milik ku" batin Zilian yang membanding bandingkan aurahnya dengan aurah milik Dedliona.
__ADS_1
Dedliona tetap fokus meski mendengar suara hati mereka berdua, darahnya melonjak naik karena Zilian yang bahkan di situasi seperti ini masih sempat membandingkan soal aurah mana yang kuat di antara dia dan dirinya.
"Huh.... Awas saja kau yah! Aku menyesal memberi tahu anak itu untuk membuat perisai! "Batin Dedliona sambil mengutuk Zilian.
"Sepertinya dia tidak begitu profesional karena masih memilih meladeni ejekan ku" batin Zilian.
"Berhenti kau! Kau menganggu konsentrasi ku! "Batin Dedliona.
"Siapa juga yang menganggu mu aku hanya berbicara dengan diri ku sendiri bukan dengan mu! "Batin Zilian membalas.
"Menyebalkan sekali! Aku tidak akan berbicara dengan mu lagi! "
"Terserah toh aku tidak peduli"
Tanpa Hanzel sadari ternyata ada perang di antara mereka berdua.
Dedliona memutuskan untuk diam dan memulai ritualnya, aurah hitam pekat mengelilinginya dan perlahan memenuhi ruangan.
Dedliona perlahan melayang dengan tubuh yang mulai terbungkus dengan kabut hitam tebal, dengan mata tertutup Dedliona mengeluarkan cairan merah yang mengalir di mata sebelah kiri.
Dedliona mulai meringis kesakitan, wajahnya mulai memucat dengan keringat dingin yang mulai membasahi tubuhnya.
"Sepertinya ini tidak akan berjalan mulus" batin Zilian.
Benar saja, hal ini terjadi selama seminggu lamanya, di tengah malam dengan sinar rembulan Dedliona kembali membuka matanya.
Perlahan aurahnya melemah, tubuhnya pun terjatuh ke lantai untung saja Zilian segera menangkap tubuhnya lalu perlahan membaringkannya ke lantai.
Segel energi itu pun menghilang bersamaan saat Dedliona membuka matanya.
"Hahaha.... Aku berhasil menyelamatkan teman mu" ujar Dedliona dengan nada lemah.
"Sepertinya energi mu terkuras yah? "Ujar Zilian yang mengalirkan energinya ketubuh Dedliona.
Dedliona mengangguk pelan, bagaimana pun sulit memanggil dua jiwa secara bersamaan dan itu membuat Dedliona sempat diserang balik oleh sihirnya sendiri.
Dedliona menggunakan sihir hitam yang diman sihir hitam adala sihir terlarang.
Zilian melirik ke arah Jadey dan Chaiden yang mulai sadar.
"Unghhh"
"Kalian sudah bangun? "Tanya Zilian.
"Hmmmm" balas Chaiden yang masih merasa tubuhnya agak kaku.
"Devosliona akan ke ruangan kalian dan menjelaskan semua kejadiannya pada kalian, Hanzel tolong bawa mereka ke ruang istirahat" perintah Zilian yang menggangkat tubuh Dedliona yang kini pingsang.
Zilian harus membantu Dedliona untuk menghilangkan sisa sihir hitam yang akan menganggu kesehatannya.
Berlanjutttt.......
__ADS_1