Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 34


__ADS_3

...~π~π~π~...


Eva terus terlarut dalam pertarungan, mungkin karena telah lama tidak bertarung dan itu memicu keinginan terpendamnnya yang selama ini terkurung.


"Hahahahha... Menyenangkan sekali, aku puas sekali" tawa Eva bahagia saat melihat lawannya kewalahan menghadapinya.


"Terlalu mudah, suruh pemimpin kalian keluar dan datang hadapi aku!!! "Teriak Eva menggila.


"Heh..... Dia masuk jebakan, tidak di sangka informasinya begitu akurat" senang Yon.


"Hahahahaha" tawa Eva semakin mengila dalam memberikan serangan ke arah Yon.


Merasa tugasnya telah selesai Yon tidak menghindar dari serangan yang di lontarkan oleh Eva yang tersenyum gembira.


Eva melihat tubuh Yon terbakar dan menghilang perlahan, Eva mulai mengerti situasinya dan tersadar.


"Astaga, aku sedang melakukan apa? "Bingung Eva yang menatap ke sekelilingnya dengan tampang bodohnya.


"Gawat, Hexillia dalam bahaya" Eva menatap ke arah tempaylt dimana Hexillia stay bersama pasukannya.


Eva mengerutkan alisnya saat melihat hanya ada pasukan yang ada di sana tanpa seorang pemimpin di depannya. Sepertinya Hexillia mengalami kesulitan karena ulahnya yang ceroboh.


"Sial, aku malah kerasukan tadi" geram Eva yang langsung pergi ke pasukan untuk menjalankan rencananya setelahnya mencari Hexillia yang entah masih hidup atau sudah meninggal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hexillia kesulitan dalam menghindari semua serangan Any yang semakin nafsu untuk membunuhnya. Kini Hexillia menyesali tindakannya untuk bekerja sama dengan Si sialan Eva itu yang entah sedang melakukan apa sekarang.


"Awas saja kau, jadi hantu pun tidak akan ku ampuni kau" batin Hexillia yang terus mengelak dan berusaha kabur dari Any.


Any masih terus mengejarnya sambil terus menyerangnya dari belakang tanpa mempedulikan perasaan Hexillia yang menggigil ketakutan karenanya.


"Tolong berhentilah mengejar ku! "Teriak Hexillia dengan suara yang gemetaran.


"Kau pikir aku ini bodoh? "Balas Any yang yang semakin memperbesar serangannya.


"Maksud ku bukan itu bodoh! Berhenti mengejar ku aku lelah terus berlari seperti! "Teriak Hexillia yang tidak kuat untuk terus berlari.


Bukannya menjawab Any malah menambah kecepatannya dan mengeluarkan serangan andalannya.


Merasakan tekanan yang begitu kuat Hexillia tiba tiba berhenti nafasnya sesak dan tubuhnya menjadi kaku. Tubuhnya berjalan mendekat tanpa keinginannya.


"Menurutlah" lirih Any yang mengangkat belatinya ke arah jantung Hexillia dan bersiap menusuknya.


"Oh nona yang terhormat, tolong ampunilah aku, nyawa ku terlalu berharga untuk kau sia siakan sekarang, aku berguna sungguh berguna! Aku jamin 1000%!!! "Ujar Hexillia melototi belati yang menempel di bajunya.


"Sayang sekali aku tidak membutuhkan orang seperti mu" Any menusuk jantung Hexillia yang mengeram kesakitan.


Bercak darah melumuri pakaiannya, Hexillia masih dapat menahan rasa sakitnya dan menyerang Any.


Meski telah mencabut belati itu dari jantungnya tetap saja Hexillia tidak dapat bergerak karena jika dia bergerak dia akan segera mati karena kekurangan darah dan juga rasa sakit yang begitu menyakiti tubuhnya.


Jika saja Hexillia lambat sedikit saja memusatkan kekuatan intinya ke bagian jantungnya dia pasti akan mati setelah belati itu tercabut dari tubuhnya.


"Huffff..... Hufffff...... Hufffff" Hexillia menarik nafas dalam dalam.


"Sepertinya kematian ku tidak terelak lagi" ujar Hexillia yang kehilangan harapan untuk kabur.

__ADS_1


Dia menjatuhkan tubuhnya yang melemah sambil menunggu kematiannya. Memang dia tidak akan mati dan akan terlahir kembali tapi baginya apa yang ia dapatkan sekarang sudah cukup dia tidak ingin meninggalkan mereka.


"Aku tidak berguna, jika saja aku memberikan mereka petunjuk pasti hal ini tidak akan terjadi pada mereka" senyuman kecut tergambarkan di wajah pucat Hexillia.


Any berjalan mendekat ke arah Hexillia yang kehilangan harapan hidupnya.


Tanpa basa basi Any langsung mengarahkan belatinya ke arah Hexillia.


Crattthhhh


Darah mengalir ke tanah dengan deras dan sebuah belati tertancap tepat ke jantungnya tanpa sempat melindungi jantungnya karena serangan tiba tiba.


"Kejutannnn!!! "Pekik Candy yang menunggangi hewan kesayangannya, Ceihon sang macan dengan bulu hitam pekat.


"Yo, Hexillia maaf terlambat" ujar Jadey yang terlihat segar bugar.


Devosliona mengabaikan mereka dan berdiri di belakang Any untuk menghentikan pendarahannya untuk sementara.


Bagaimana pun Dedliona tidak akan membunuh saudaranya, sejahat apapun dia Dedliona tidak akan pernah membunuh saudaranya.


Apa yang di lakukan Candy dan Devosliona adalah kehendak dari Dedliona.


Candy tersenyum polos saat mendapat tatapan tajam dari Devosliona yang tidak suka cara Candy dalam bertindak padahal dia sudah memperingatinya untuk tidak menusuknya tepat di jantungnya tapi nihil Candy malah berbuat sesuai keinginannya.


Solydia maju dan melepaskan aurah mencengkamnya yang membuat Any kesulitan bernafas.


"Jika kau berani melawan maka kau akan segera tewas" ancam Solydia setelahnya langsung menatap ke arah Devosliona yang mengangguk pelan.


"Nona terkejam kita ini ternyata tidak menyadari kami para bawahannya yang memilih berkhianat" ejek Xefall yang menatap menyedihkan Any yang tidak berdaya.


"D-diam kau!!! "Bentak Any.


Any terbatuk batuk karena tekanan aurah dari Solydia yang masih tidak mau menghilangkan aurahnya.


"Solydia sebaiknya kau menekan aurah mu jika tidak rencana kita akan sia sia di sini dan kita perlu mencari target baru "ujar Devosliona memperingati.


"Benar, kali ini Devosliona mengatakan hal yang masuk akanl" ujar Jadey seolah olah dia sudah lama mengenal Devosliona.


Devosliona menatap remeh ke arah Jadey yang menyadarinya dan langsung mengangkat kerah baju Devosliona yang masih dengan postur tubuh menahan pendarahan Any.


"Singkirkan tatapan menjengkelkan mu itu dari ku jika tidak aku akan mencongkel kedua mata mu! "Ancam Jadey yang melototi Devosliona yang sama sekali tidak takut akan ancamannya.


Yang ada Devosliona akan menghancurkannya menjadi debu sebelum Jadey mencongkel matanya. Jika beruntung Jadey akan di persilahkan mengatakan pesan terakhirnya sebelum menjadi abu.


Candy yang melihat perkelahian mereka pun melerainya.


"Atau kau mau aku mempercepat ajalnya? "Ujar Candy lagi.


Jadey melepaskan kerah baju milik Devosliona lalu berjalan ke arah Hexillia yang masih memiliki kesadaran. Dengan kasar Jadey menyeret tubuh Hexillia tanpa mempedulikan perasaan Hexillia.


"Ajal ku kapan kau akan menjemput ku? "Batin Hexillia menangis dalam hati.


Jadey mengobati Hexillia tidak ikhlas, matanya terus melototi Devosliona yang menatapnya dengan wajah datarnya.


Candy yang semakin kesal pun menarik kaki Hexillia dan di balas tarikan dari Jadey yang tidak mau Hexillia di rebut darinya. Candy tidak mau kalah dan terus menarik Hexillia begitu juga dengan Jadey yang menarik tangan Hexillia.


"Lepaskan! Jika kau tidak mau mengobatinya maka berikan saja pada ku! Dia akan tenang di alam sana dan di sini Ceihon ku akan berjasa besar karena tidak membiarkan tubuhnya di buang sia sia!!! "Teriak Candy dengan alasan super tidak masuk akalnya.


"Dia sekarat, masih mending aku mau menyembuhkannya dan menyelamatkan nyawanya dari pada membiarkannya terlentang bagaikan kerikil yang tidak berguna! "Balas Jadey yang semakin keras menarik tubuh Hexillia.


"Argh! Lepaskan saja, kenapa kau begitu keras kepala?! "Kesal Candy yang tidak mau kalah memperebutkan Hexillia.


"Kau bisa keras kepala aku pun bisa! "Teriak Jadey.


"Lebih baik aku menemui Chaiden saja dari pada hidup" batin Hexillia tersiksa.


Solydia melihat darah terus bercucuran dan aksi bertengkar mereka. Solydia menarik belatinya lalu melemparnya ke leher mereka, Solydia sengaja melesetkannya.


Jadey yang kaget lehernya terkena benda tajam dan mengeluarkan bercak darah.


Candy memeggangi lehernya yang terasa perih karena tergores oleh sesuatu.


"Lain kali lemparan ke dua tidak akan meleset" ujar Solydia menatap mereka tajam.


Suasana hatinya kacau sekarang, dia tidak tahan dengan pertempuran yang tidak menguntungkan ini.


Hanabi dan Medusa hanya diam tanpa ingin ikut berbicara, dia rasa hanya perlu menyimak dan berbicara jika di perlukan.


"Ku rasa kita harus serius sekarang, jika tidak salah saat ini Miyaku akan mengeluarkan kakak pertama dan menjadikannya boneka hidup serta senjata terakhirnya" ujar Xefall menatap ke arah langit.


"Kalau begitu kita bergerak sekarang" ujar Solydia yang langsung pergi.


Xefall mengikuti Solydia, Jadey dan Candy beralih ke acara taruhan lomba lari mereka dan dengan cepat melupakan soal Hexillia yang di buang begitu saja.


Hanabi dan Medusa ikutan dengan mengendarai boneka terbang buatan Hanabi, mereka malas untuk berjalan dan memilih bersantai sebelum berperang.


Devosliona bernafas lega, akhirnya mereka menjalankan tugas mereka dengan baik, Devosliona membuat klonnya untuk menyembuhkan tubuh Hexillia yang sekarang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ku harap kau mati" lirih Devosliona alih alih menyembuhkannya ia lebih memilih dia cepat mati sehingga menghemat kekuatannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Eva selesai memberikan arahan pada pasukan Hexillia lalu dia beralih mencari Hexillia tapi malah di hentikan oleh kedatangan Solydia secara tiba tiba.


"Kau tidak perlu menghawatirkan Hexillia dia sedang di obati sekarang, kau hanya perlu fokus mengalahkan pasukan Miyaku bersama dengan Chaiden, aku dan rekan ku akan membantu di saat yang tepat" ujar Solydia.


Eva mengangguk pelan, saat akan pergi Eva di buat terkejut dengan kedatangan Xefall yang berada di pihak musuh dan Candy. Mereka tampak lumayan akrab pikir Eva.


"Ada apa ini? Hanabi? Medusa? Jadey? Dan dua orang ini? "Bingung Eva.


"Kepala mu terbentur sampai membuat otak mu miring? Kau yang begitu profesional ini tiba tiba bertingkah konyol dengan pertanyaan yang mudah kau pahami" ejek Solydia dengan tatapan merendahkan.


"Entahlah, aku juga bingung. Setelah kejadian tadi aku merasa ingatan ku ada yang kurang dan IQ ku merendah, sepertinya efek dari kekuatan pemimpin mereka" ujarnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Baiklah, jalankan tugas mu" ujar Solydia memijat pangkal hidungnya.


"Tugas? "Bingung Eva.


"Astaga, kau bertugas untuk membantu Chaiden membersihkan anak buahnya Miyaku, mengerti? "Ujar Solydia berbicara lambat agar Eva dapat mencernanya.


"Okey" Eva berbalik untuk pergi tapi lagi lagi di hentikan oleh sebuah suara.


"Tunggu"


"Bisakah kau menunduk? "Ujar Candy


Eva mengangguk menurut lalu melakukan sesuai permintaan Candy.


Candy mendekati Eva lalu memukul kedua sisi kepala Eva bagaikan menepuk sebuah nyamuk.


"Selesai" ujar Candy yang mundur.


Eva mematung untuk lima detik lalu kembali sadar.


"Apa yang ku lakukan di sini? "Tanya Eva kali ini wajahnya serius menampilkan sosok dirinya yang dikenal.


"Lupakan saja, kau sebaiknya menjalankan tugas mu" ujar Solydia penuh arti.


"Tentu, para pasukan tadi sudah ku atur kau tidak perlu khawatir, keluarlah jika aku dan Chaiden selesai membereskan mereka" ujar Eva dengan tampang tegasnya.


Candy tertawa terbahak bahak melihat perubahannya yang begitu cepat.


"Aku percayakan mereka padamu" bisik Eva ke telinga Solydia sebelum pergi.


"Aku setuju dengan mu, Candy" ujar Solydia.


"Aku sebaiknya mulai mengumpulkan para ular dulu sebelum waktu penyerangan di mulai, jangan ganggu aku jika tidak penting" ujar Medusa.


"Aku juga, aku ingin menciptakan boneka terbaik untuk melawannya" ujar Hanabi yang ikutan mundur mencari lokasi yang tepat untuk membuat boneka.


Solydia mengangguk, Xefall mendekati Solydia yang terus menatap ke arah penghalang yang begitu besar.


"Apapun yang terjadi semuanya memiliki resiko masing masing, Miyaku tidak akan menyerang jika tidak memiliki persiapan jadi persiapkan diri mu untuk menghadapi kemungkinan yang tidak terduga" ujar Xefall.


"Aku yakin dengan pilihan ku, nyawa ku untuk pemimpin ku jika harus kehilangan maka hanya aku yang harus berkorban bukan rekan ku" tegas Solydia.


"Dan soal kesepakatan kita aku akan melakukannya sebisa ku "lanjut Solydia.


Xefall menghela nafas mendengar jawaban dari mulut Solydia yang tidak ragu mengorbankan nyawanya hanya demi rekannya. Solydia selalu menganggap serius pertarungan dan janji yang dia buat karena itulah Xefall mempercayai Solydia sebagai rekan perdamaiannya.


Xefall tahu betul sifat Dedliona yang benci peperangan terbukti dari kaki tangan mereka Devosliona dan Candy meski mereka 'agak' kejam tapi sejujurnya mereka membenci kerusuhan seperti peperangan.

__ADS_1


Berlajutttt.......


__ADS_2