Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 44


__ADS_3

...¶•¶...


Di ruang rapat Zilian dan Dedliona duduk dengan ekspresi masam, tanpa mereka sadari aurah mereka keluar dengan sendirinya hingga membuat para agen yang di utus dari divisi 4 dan 5 bergidik ngeri.


"Apa benar anggota yang di pimpin oleh Solydia terpojok hanya dengan 2 iblis dan itu hanyalah iblis tinggkat rendah kalian bilang?! "Kesal Dedliona mengebrak meja.


"B-benar ketua" jawab agen penyelidik.


Di ruangan ini hanya ada empat orang yakni Zilian, Dedliona dan satu perwakilan dari kedua divisi.


"Apa? Bagaimana mungkin mereka bisa mengalahkan anggota yang telah Solydia bimbing? "Ujar Zilian tidak percaya.


"Saya tidak berbohong, saya adalah salah satu anggota yang selamat dari serangan, sisanya tewas setempat" ujar perwakilan dari divisi kelima.


Dedliona duduk dengan ekspresi kesal, ia benar benar ingin turun tangan sekarang.


"Katakan apa yang kau lihat di tempat kejadian" ujar Zilian pada tim penyidik.


Dengan rasa takut yang begitu besar ia pun menjawab "kami ikut bertarung membantu divisi kelima tapi kami kalah telak, bahkan ketua Hanabi dan wakilnya membantu divisi kelima sekarang" ujarnya gemetar.


"Lanjut! "Ujar Zilian.


"Sesuai yang di katakan saudara dari divisi kelima tadi, iblisnya adalah tingkat rendah saya sudah menkonfirmasi tingkat mereka, awalnya saya tidak bisa menyatakannya tapi sekarang saya yakin mereka adalah iblis evolusi dari sebuah tempat yang jauh dari dunia kita" ujarnya yakin.


"Atas dasar apa? "Ujar Dedliona menatap tajam ke arahnya.


"Sejam sebelum penyerang saya ditugaskan di suatu tempat di negara Prancis, di sana saya mendatangi sebuah asosiasi perlindungan binatang karena mendapat petunjuk bahwa mereka akan muncul, di sana ada masalah berupa hewan yang mati tanpa ada riwayat penyakit"


"Saya datang kesana mengecek dan benar saja ada banyak hewan yang mati dalam sehari, saya memasukkan energi kedalam tubuh hewan yang telah tewas dan menemukan energi negatif, saya mengumpulkan energi itu lalu perlahan mencari kesadaran di dalam energi itu"


"Meski samar samar tapi saya dapat mengerti beberapa bagian dari gambar yang tampil, sebuah tempat yang gelap penuh dengan bintik bintik putih dan aurah di sana sama sekali tidak ada oksigen tapi anehnya tempat itu penuh akan energi" ujarnya panjang lebar.


Zilian terdiam begitu pula dengan Dedliona yang tiba tiba meneggang.


"Kalau begitu kalian pergilah ke lab, di sana kalian akan di berikan serum pertahanan. Kalian jangan khawatir aku akan menyuruh Devosliona untuk kesana membantu" ujar Dedliona.


Devosliona langsung menatap ke arah wakil divisi kelima untuk memberikan kordinat menuju lokasi peperangan.


Setelah memastikan mereka semua pergi dan hanya menyisakan Zilian dan Dedliona mereka berdua pun menghela nafas gusar.


"Bagaimana ini? "Tanya Dedliona cemas.


"Tenanglah, meski kalah jauh kita masih unggul dalam pertahanan jangan lupakan Celviona dan Devosliona yang ada di pihak kita di tambah dengan ribuan pasukan bantuan cabang kedua divisi ketiga, hanya saja kita harus menyembunyikan kemampuan kita dengan begitu kita masih bisa bertahan" ujar Zilian menenangkan Dedliona yang mulai panik.


"Begitu yah? Tetap saja kekuatan kita tidak akan cukup hanya dengan bertahan mereka pasti memiliki pasukan pertahanan juga, lalu apa yang harus kita lakukan? "Ujar Dedliona.


"Kalau begitu pukul mundur saja, tidak ada cara lain hanya bisa menguras pasukan mereka dengan begitu untuk sementara waktu mereka tidak akan menyerang saat itu kau bisa membantu ku untuk memperkuat pasukn kita" ujar Zilian.


"Apa jangan jangan kau mau membagikan energi mu untuk mereka dan membangkitkan element mereka? "Ujar Dedliona, ia tau Zilian aka melakukan hal ini karena dia paham dengan jalan pikiran Zilian melebihi siapapun.


Zilian mengangguk pelan, sepertinya Dedliona ragu dengan usilan Zilian itu tampak jelas dengan mimik wajah Dedliona yang berubah drastis.


"Tidak apa, aku bisa menjamin keselamatan mereka hanya saja membutuhkan mu untuk menjadi perisai ku dengan begitu aku bisa fokus mengendalikan jumlah energi yang ku transfer ke tubuh mereka" ujar Zilian yakin.


Dedliona masih tampak ragu, ia tidak mau Zilian kenapa napa hanya karena hal ini. Dedliona semakin ketakutan memikirkan ramalan yang di katakan bola ramalannya beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Tidak, tidak tidak! Aku tidak setuju! "Teriak Dedliona memegangi kepalanya yang semakin lama semakin sakit.


Zilian berdiri dan menopang tubuh Dedliona yang hampir terjatuh.


"Ada apa? "Tanya Zilian dengan nada datar.


"Hiks hiks, tidak mau aku tidak ingin kehilangan apapun lagi, aku takut sungguh" gumam Dedliona masih memeganggi kepalanya.


"Tenanglah, aku akan memastikan keselamatan ku, aku ahli dalam mengendalikan energi ku tidak akan ada yang terjadi pada ku" ujar Zilian mengerti maksud ucapan Dedliona.


"Berjanjilah untuk tetap disisi ku untuk mencapai tujuan kita bersama sama" ujar Dedliona terisak isak.


Zilia mengangguk "kalau begitu mari bersiap" ujar Zilian yang di angguki Dedliona.


...~~~...


Hanabi mulai kesulitan melawan salah satu iblis dengan Medusa yang membantunya, iblis kedua sedang di urus oleh Leix dan Laurel yang baru tiba beberapa jam yang lalu.


Iblis dengan sebuah kristal yang bersinar terang di dahinya di lengkapi senjata berupa alat musik aneh yang setiap kali ia mainkan akan menciptakan cahaya dan suara yang mampu memanipulasi zat zat yang ada di udara menjadi ledakan.


Leix dan Laurel bersama dengan pasukan utama divisinya dan divisi kelima melawan iblis berwujud manusia dengan paras yang cantik dan menggoda.


Ia adalah iblis dengan alat kelamin ganda, bahkan di setiap ia bersuara suaranya terkadang berubah menjadi wanita lalu menjadi pria itu membuat Leix dan Laurel jengkel.


Iblis ini memiliki kekuatan beruapa ilusi tinggkat tinggi bahkan ia ahli dalam menggunakan jarum dan kecepatannya dalam bertarung diluar kemampuan anggota yang sedang Leix dan Laurel pimpin jika terus berlanjut yang ada anggota yang tersisa akan tewas.


"Kakak bagaimana menurut mu? Kita bertarung berdua saja atau masih ingin mereka ikut serta dalam pertarungan? "Tanya Laurel waspada.


"Sebaiknya mereka mengamati mereka dari jauh, iblis ini sepertinya memiliki kesadaran sama seperti kita "ujar Leix menatap lekat mata iblis yang entah gadis atau pria.


Laurel berbalik sedangkan Leix mengambil ancang ancang jika saja iblis itu menyerang selagi Laurel memberikan tugas dan memperkuat pelindungnya.


Benar saja iblis itu menyerang ke arah Leix yang sudah siap bertarung selagi menunggu Laurel selesai dengan tugasnya.


"Pelindung ini menghubungkan aku dan Leix, kalian amati dari dalam perisai selagi aku dan Leix bertarung, katakan jika kalian melihat celah" ujar Laurel tegas.


"Ketua, kenapa kami hanya diam saja tanpa harus bertarung? "Tanya salah satu dari mereka.


"Jika kalian ikut bertarung hanya akan mempersulit kami melawannya, nyawa kalian lebih berharga dari nyawa kami para ketua, kalian menurut saja aku tidak akan memberikan perintah yang sia sia dan berujung kegagalan" ujar Laure.


Mereka terdiam, mereka menerima perintah Laurel meski enggan tapi itulah yang terbaik bagi mereka.


Laurel berganti posisi dengan Leix yang tereng engah, fisiknya mulai menurun drastis seolah oleh iblis itu menyerap energi fisiknya.


Laurel melemparkan serum pemulih pada Leix yang langsung memakainya.


Tanpa pikir panjang Leix dengan cepat memasang jebakan ke sekitar perisai dan menambahkan daya tahan pada perisai itu.


Setelah selesai Leix pun ikut bergabung dalam peperang bersama dengan Laurel yang tengah serius memperhatikan sekitarnya.


"Kakak, arah bawah agak menyamping! "Teriak Laurel.


Leix melepaskan cairan asamnya ke tanah lalu mencabut pedangnya dan menebasnya sesuai arahan Laurel.


KLANGGGG

__ADS_1


Dentingan pedang yang saling beradu terdengar nyaring, Leix sedikit terhempas ke belakang untung saja Laurel segera memasang perisai sehingga iblis itu tidak dapat memberikan serangan mematikan pada Leix.


Iblis itu kini menyerang Laurel dengan langkah cepatnya, Laurel menggunakan pohon bunga Drosera dengan begitu Laurel dapat memperkuat insting membunuhnya.


Leix tidak percaya Laurel akan menggunaka kekuatan utamanya, sepertinya Laurel ingin segera mengakhiri pertarungan.


"Kau pikir hanya kau yang iblis di sini? Ck, egois" ujar Laurel.


Matanya berubah sepenuhnya menjadi hitam pekat, ia melayang ke atas bunga Drosera raksasa.


Medusa berbalik menatap ke arah bunga raksasa dengan Laurel yang ada di atasnya ia tampak mengerikan.


"Kau berubahlah ke wujud ular mu dengan ukuran yang sama dengannya aku juga akan berubah ke wujud boneka ku" perintah Hanabi serius.


"Sudah saatnya mengakhiri ini semua" lirih Medusa yang berubah ke wujud ularnya.


Leix yang berada dari kejauhan menoleh menatap ke arah Medusa yang telah berubah ke wujud ularnya dengan ukuran yang lebih besar dari ukuran Laurel.


Di saat Leix lengah sebuah serangan mengarah kepadanya. Laurel yang melihat dari atas segera membungkus Leix dengan akar lalu membawanya ke dekatnya.


Iblis itu tampak kesal, ia menatap ke arah anggota divisi dengan tatapan ingin membunuh ia pun melepaskan serangan skala besar ke arahnya.


Untung saja Laurel sudah menduga hal ini, tidak sia sia Laurel menggunaka perisai andalannya.


Leix mulai menyadari sifat adiknya berbeda, kekuatan bunga Drosera yang sebelumnya tidak sekuat ini saat Laure melawan Miyaku waktu itu.


Anehnya, di saat ia menggunakan kekuatan ini mata Laurel tidak berubah menjadi hitam pekat.


"Ada apa ini? Kenapa Laurel begitu berbeda seolah oleh dia adalah orang yang berbeda" batin Leix mulai curiga.


Laurel masih menatap ke arah iblis yang tengah ia genggam dengan akar ia mendekatkan iblis itu ke hadapannya.


"Kau tidak pantas menghancurkan dunia yang kakak pertama ciptakan" ujar Laurel dengan nada dingin.


"Hoh? Khikhi, aneh bukankah kita sama sama dari aliran itu? "Ujarnya.


"Dari aliran yang sama tapi berbeda tujuan" ujar Laurel meremas tubuh iblis itu hingga remuk.


"Kau masuk kedalam jebakan, Laurel" ujarnya tersenyum lebar.


Laurel menatap ke arah tanah yang mulai mengeluarkan cahaya, ia menoleh ke arah iblis yang tengah Medusa dan Hanabi hadapi.


Iblis itu menghilang begitu pula dengan iblis yang berada di hadapan Laurel.


"Kemana mereka pergi? "Tanya Laurel kebingunggan.


"Awas, di atas kalian! "Teriak Hanabi dari kejauhan.


Laurel mendongak, benar saja kedua iblis itu berada di atasnya.


"Selamat tinggal" ujar mereka bersamaan.


Cahaya semakin membesar aurah panas yang begitu menusuk tulang tulang menyerang Laurel dan Leix. Sedangkan untuk Hanabi dan Medusa? Mereka tiba tiba kehilangan kendali terhadap tubuh mereka.


Berlanjutttt.......

__ADS_1


__ADS_2