
Zilian menanyakan keberadaan kakek dan pamannya yang kini berada di ruangan utama untuk menyembuhkan luka mereka yang terbilang parah.
"Apa yang terjadi kakek? "Tanya Zilian begitu memasuki ruangan.
"Siapa kau! "Waspada Aiden yang tiba tiba menyerang Zilian untung silian sudah menduga serangan tiba tiba dari kakeknya.
"Ayah! Beraninya kau menyerang cucu mu sendiri! "Ujar Medeia yang baru tiba bersama dengan Evoliona.
"Medeia! Kenapa kau kemari? Ukhhhh"Aiden dadanya yang terkena serangan.
"Hah... Kakak kau sebaiknya kembali saja! Situasi di sini tidak akan menguntungkan mu"ujar Yanshin yang bangun dari tempatnya.
"Kenapa kediaman depan begitu berantakan? Siapa yang berani mencari masalah dengan klan kita? "Emosi Medeia.
"Tenanhlah nak, ayah tidak tahu pasti tapi beberapa hari ini mereka tiba tiba menyerang tanpa alasan"ujar Aiden menghela nafas kesal.
"Apa mereka dari dunia ini? "Tanya Medeia.
"Kuranh tahu, mereka memakai jubah dan membawa kawanan ruban, anehnya lagi bukan hanya serangan fisik bahkan serangan sihir apa pun tidak dapat melukai mereka"ujar Yanshin mengerutkan dahinya.
"Hanya ada satu kemungkinan mereka berasal dari alam kematian"simpul Evoliona dengan yakin.
"Ada kemungkinan lain"Zilian berjalan ke arah Medeia.
"Maksud mu? "Serius Medeia.
"Heh.... Kalau memang benar yang paman katakan mereka tidak dapat di lukai maka itu berarti mereka menggunakan ilusi, arwah mana yang tidak dapat ku kendalikan? Intinya tidak ada arwah yang keluar dari alam kematian"ujar Zilian.
"Ilusi? Hewan yang dapat mengeluarkan ilusi yang lebih kuat iyu hanyalah klan kita, siapa lagi yang mampu melakukannya? "Ujar Medeia mengertakan giginya.
"Bibi lupa kalau klan ku juga bisa yah meski memanh benar klan bibi yang lebih ahli dalam hal ini"ujar Mozai mengangkat bahunya.
"Bukan waktunya berbicara omong kosong! "Ujar Zilian.
"Okey aku mengerti, setahu ku masih ada satu di alam ini yang dapat mengendalikan ilusi mereka ada di bagian selatan dari kediaman ku, mereka dari klan ily sebuah rumput yang dapat berubah ke wujud apa pun"ujar Mozai.
"Kediamannya begitu jauh dari sini dan juga kami tidak pernah mencari masalah dengan mereka, apa yang membuat mereka seperti ini? "Kesal Medeia.
"Ilusinya sepertinya begitu kuat, bagaimana kalau aku dan Mozai ke sana saja kalian jaga Rafaela di sini bersama dengan para rubah ku"
Zilian mengeluarkan mereka dari dalan tubuhnya.
"Glouis, Elia dan Velix ikut aku ke sana, yelly dan angglia kalian bertugas menjaga Rafaela dan sisanya membantu menjaga kediaman, jika ada yang menyerang langsung bunuh saja"ujar Zilian yang memperlihatkan sosok aslinya.
"Baik"ujar para rubah penjaga bersamaan.
"Kalian berusaha saja di sini aku dan yang lainnya akan mengurus masalah di sana sebisa mungkin melakukan cara damai"ujar Zilian.
"Kenapa harus memakai cara damai? Mereka yang lebih awal menyerang kita tanpa alasan! "Ujar Medeia keberatan.
"Jika kau keberatan ya sudah tapi aku telah memutuskan cara ku sebaiknya kau diam dan saksikan saja apa yang akan terjadi pada mereka"ujar Zilian tidak suka.
"Anak ini! Dari mana sifat buruk mu itu berasal hah? "Kesal Medeia.
"Dari orangtua"hawab Zilian.
Medeia berusaha menahan amarahnya melihat kelakuan Zilian yang begitu pandai dalam membuat seseorang naik darah.
"Kapan kita akan berangkat? "Tanya Mozai.
"Sekarag? Mau sampai kapan menunda waktu? "Ujar Zilian berjalan ke arah Rafaela.
"Tunggu aku kembali yah nanti kita akan bermain bersama lagi, oh iya Yelly kalau ada waktu bantu Rafaela berlatih yah ajarkan saja sesuai pemahaman mu"ujar Zilian.
"Tentu"Patuh Yelly.
"Kau berhati hatilah, ingat untuk kembali hidup hidup! "Tangis Rafaela.
Zilian memeluk Rafaela yang menangis terisak isak, ia merasa dengan jelas Rafaela benar benar mempedulikan keselamatannya.
Setelah Rafaela merasa tenang Zilian baru berangkat menuju kediaman Mozai untuk bertemu dengan Medusa yang kembali lebih awal untuk menyembuhkan luka lukanya.
Zilian membungkuk hormat pada Medusa yang mengerutkan keningnya berusaha mengingat siapa orang yang bersama dengan anaknya.
"Kau? "
"Zilian putri dari Medeia Beliard"ujar Zilian memperkenalkan diri.
"Oh ternyata keturunan sahabat ku toh, ada apa kemari?"ujar Medusa tersenyum hangat ke arah Zilian yang dengan santainya memasang wajah datar.
"Aishhhh sama saja dengan wanita sialan itu! "Kesal Medusa.
"Saya ingin bertanya lebih dalam tentang klan rumput Ily, saya rasa mereka ada sangkut pautnya dengan penyerangan di klan ku"ujar Zilian langsung pada intinnya.
"Klan itu kah? Haishhh... Jangan bilang kau mau ke sana? "Ujar Medusa yang mengerti maksud Zilian dengan cepat.
"Benar, jika tidak kesana mana mungkin bisa tahu apa benar mereka yang menyerang klan ku"ujar Zilian.
"Sebaiknya kau jangan membuat kekacauan atau memulai lebih awal masalah dengan mereka jika tidak mana tahu kau akan kembali kemari atau tidak"ujar Medusa yang mendadak serius.
"Memangnya mereka itu klan apa? "Tanya Zilian.
"Mereka klan yang dapat membuat jebakan dan ilusi tingkat tinggi, tidak ada yokai yang kembali kemari hidup hidup setelah memasuki kawasan mereka bahkan klan ku pun kesulitan dalam mengalahkan mereka waktu perebutan wilayah dulu"ujar Medusa.
__ADS_1
"Itu berarti wilayah mereka di penuhi dengan jebakan, memang tempat yang mematikan, meski begitu aku akan tetap ke sana"ujar Zilian dengan tekad yang sudah membulat.
"Kalau begitu bawa Mozai ikut dengan mu mereka mengenal ku dengan baik"ujar Medusa.
"Jangankan di suruh aku akan tetap mengikuti si gadis ceroboh ini"ujar Mozai.
"Glouis, Elia, Velix beri anak ini pelajaran"perintah Zilian.
"Baik"petuh mereka.
"Lakukan semau mu, bunuh pun tidak masalah"ujar Medusa dengan wajah tak bersalahnya.
"Kalau begitu, terimakasih bibi"hormat Zilian.
"Apa benar aku ini anaknya? "Batin Mozai yang di seret keluar dari ruangan oleh tiga rubah penjaga Zilian.
Zilian kembali menatap Medusa yang tersenyum kecut ke arah Zilian dengan wajah datarnya.
"Jadi bagaimana caranya agar bisa ke sana? "Tanya Zilian.
"Lebih baik jangan, jika terjadi apa apa pada mu tidak tahu berapa hari lagi aku akan bertahan bersama orang klan ku"ujar Medusa berkeringat dingin.
"Ku dengar dengar mama ada murid yang memiliki kekuatan boneka? Di mana dia? "Tajya Zilian yang baru sadar.
"Eh? Maksud mu Hanabi? Dia lagi berada di klannya sendiri"jawab Medusa.
"Panggil dia kemari secepat mungkin jika tidak mungkin hal yang kau takutkan benar akan terjadi"ancam Zilian.
"Ck... Masih muda begini sudah begitu kejam melebihi si Medeia itu! Entah bagaimana nasib dunia"batin Medusa.
Medusa membaca beberapa mantra penghubung di antaranya, setelah memakan beberapa menit akhirnya Hanabi sampai dengan raut wajah yang kurang enak di pandang.
"ADA APA LAGI KAU MENCARI KU HAH! "teriak Hanabi dengan nada tak bersahabat.
"Santai dong! Kau masih belum ganti wujud? Suka sekali kau dengan tubuh anak kecil"ejek Medusa.
"Lebih bagus dari pada tubuh wanita seksi seperti mu! "Balas Hanabi tidak terima di ejek.
"Mau ku panggil adik atau bibi? "Tanya Zilian yang bingung dengan nama sebutan Hanabi.
"Terserah nenek juga boleh toh aku sudah hidup ribuan tahun lamanya"ujar Hanabi dengan sifat juteknya.
"Bibi bisa menemani ku menjalankan tugas tidak? "Tanya Zilian meminta izin.
"Melihat cerminan dari Medeia mau terima atau menolak akhirnya sama saja"ujar Hanabi yang sudah tahu arah pemikiran Zilian.
"Bagus, untuk sehari ini di gunakan untuk persiapan ke sana besok baru berangkat takutnya jika memasuki wilayahnya di malam hari mereka akan mengira kita ini musuh dan ada kemungkinan mereka akan menyerang"ujar Zilian.
"Kau mau memberi mereka kesempatan damai? Setidaknya kau tidak terlalu kejam seperti ibu mu"senang Hanabi.
"Penglihatan mu sepertinya sudah buta yah, jelas jelas anak itu lebih sadis kebanding Medeia, kalau Medeia dia pasti akan memberi kesempatan meski 00000000000,1%, tapi anak itu jika mereka salah pilih nyawa akan melayang dan siap menuju alam kematian"ujar Medusa yang bergetar karena kagum.
"Tidak tahu kau memiliki pemikiran begitu tapi aku rasa Zilian akan membawa kedamaian sejati di dunia ini, keberadaannya pasti adalah keberuntungan"ujar Hanabi.
"Huh...... Menurut mu bagaimana dengan tuannya? "Tanya Medusa.
"Berbanding terbalik, kau tahu sendiri aku ini memiliki bibit iblis samar samar aku merasa para manusia kali ini memiliki sisi iblis kau tahu sendiri kan kalau ada bibit iblis maka masih ada iblis yang tersisa"ujar Hanabi.
"Apa boneka mu itu bisa bergerak? Tadi dia bergerak loh"ujar Medusa mendadak menjadi bego.
"Aku pengendali benda apa itu hal yang aneh? "Dingin Hanabi.
"Bohon! Jelas jelas ada ribuan arwah yang ada di dalam boneka mu! "Ujar Medusa.
"Benar, mereka merespon apa yang tadi ku katakan, arwah pasukan waktu peperangan dulu semuanya ada di sini dan mereka adalah budak ku"ujar Hanabi.
"Tidak heran kau tidak segan membunuh mereka dan sering mengajak boneka mu berbicara ternyata memang ada isinya yah"ujar Medusa.
"Yang lebih mengherankan itu kau yang tiba tiba menjadi tenang biasanya begitu aktif untuk berteriak dan mengejek palagi bertemu dengan ku"ujar Hanabi.
"Haishhhh terserah aku dong mau kek gimana"ujar Medusa.
"Pergilah beristirahat aku masih harus mengumpulkan energi untuk membantu Medeia di kediamannya"ujar Medusa.
Hanabi tanpa membalas perkataan Medusa langsung keluar dari ruangan dengan sekejap mata dan menghilang dari pandangan Medusa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Seperti yang sudah di tentukan Zilian memerintahkan mereka untuk segera ke wilayah klan Ily secepat mungkin, karena tidak ingin Zilian kenapa napa Medusa menyarankan agar mereka berjalan kaki saja ke sana.
Zilian pun setuju dengan usulan Medusa bagaimana pun Medusa tidak akan membiarkannya terluka, wikayah mereka juga di penuhi dengan jebakan jika mereka menggunakan portal mereka bisa saja salah tempat dan masuk dalam jebakan mereka.
Hanabi dengan pasukan boneka di sekelilingnya bertugas untuk melindungi mereka dari jebakan yanh mungkin akan secara tiba tiba menyerang mereka ketika memasuki wilayahnya.
"Semua sudah siap? "Tanya Zilian.
"Tentu"ujar Mozai bersemangat.
"Berjalan kaki ke sana begitu lama, kalian berdua sebaiknya di bawa oleh Elia dan Velix"perintah Zilian yang berubah ke mode rubahnya.
"Kami mengerti"ujar Hanabi.
"Biar tidak berat aku akan melingkar di leher mu yah Velix"ujar Mozai yang merayap menuju leher Velix.
"Terserah "ujar Velix.
"Maaf aku tidak bisa berubah ke wujud apa pun"ujar Hanabi pada Elia.
"Tidak masalah aku bisa membawa mu kok"ramah Elia.
"Sebaiknya aku memimpin jalan "ujar Glouish.
"Terserah"ujar Zilian.
Perjalanan pun di mulai, Zilian dan yang lainnya berlari dengan cepat meninggalkan daerah kekuasaan Medusa.
Beberapa hari pun telah berlalu mereka akhirnya sampai di wilayah kekuasaan klan Ily, Elia mencoba untuk mencari keberadaan mereka sedangkan Hanabi mengirim pasukan bonekanya masuk untuk memastikan ada jebakan atau tidak.
Zilian melepaskan arwah untuk menyelidiki lebih lanjut tentang wilayah yang akan mereka lewati bersama dengan pasukan boneka Hanabi.
"Huh.... Lelah sekali"keluh Mozai.
"Kerjakan tugas mu dengan baik jangan sampai ada yang lengah"ujar Zilian ekstra waspada.
"Terlalu berlebihan, selama masih ada arwah mu yang terubung dengan tubuh mu itu tidak akan menjadi masalah besar"ujar Hanabi meremehkan pemikiran Zilian.
"Mengandalkan hal yang lain tidak akan membuat ku merasa aman"balas Zilian dengan tampang dinginnya.
"Terserah kau mau apa yang penting selesaikan dulu alasan utama kita kemari"ujar Hanabi mengalah.
"Tentu"
Setelah mendapat informasi dari boneka dan arwah mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju wilayah mereka.
Mereka berjalan mengikuti puing puing boneka Hanabi yan hancur karena terkena jebakan.
Di sepanjang jalan mereka terus menemukan bangkai tubuh yokai yang mati menganaskan, ada yang terpisah tubuhnya, di cincang mengecil menyerupai dadu dan tentunya ribuan tulang yang berserakan di tanah.
Mereka terus berjalan tanpa mempedulikannya, Elia merasa tidak dapat fokus karena situasinya begitu mencengkamnya jadi Glouish mengambil alih agar Hanabi dia saja yang membawanya.
Setelah berjalan memasuki wilayah mereka semakin dalam akhirnya mereka sampai di depan pintu besi klan Ily.
Ketika Elia ingin membukannya ia tiba tiba di serang hingga terpental jauh dan hampir masuk ke area jebakan.
"Semuanya berhenti! "Perintah Zilian.
"Biarkan boneka ku yang maju"ujar Hanabi mengerak kan jari jarinya.
"Ada orang di balik pintu ini"ujar Hanabi.
"Aku akan berubah ke wujud kematian ku kalian tunggu saja di sini"ujar Zilian mengaktifkan wujud kematiannya.
Zilian menembus tembok itu dan berdiri di depan para penjaga itu.
"Aku Zilian dari klan Rubah ingin bertemu dengan pemimpin kali bersama dengan rekan ku"ujar Zilian yang muncul secara tiba tiba di hadapan mereka.
"Siapa kau?! "Ujar mereka yang bersiap menyerang Zilian.
"Percuma kalian menyerang ku sebaiknya kalian patuh saja"ujar Zilian mulai merasa risih.
"Kami tidak menerima orang luar, sebaiknya kau kembali saja! "Ujar mereka.
"Beritahu pemimpin mu atau kalian berakhir di tangan ku?! "Ujar Zilian mengeluarkan aurah menekannya.
Seketika mereka menciut dan akhirnya menyetujui permintaan Zilian.
"Baik kalian tunggulah di luar kami akan memberi tahu tetua tentang kedatangan kalian"ujar mereka.
Zilian mengangguk dan berbalik menuju rekannya yang menunggunya.
__ADS_1
***BAGAIMANAKAH KELANJUTAN CERITANYA? APAKAH MEREKA AKAN BERPERANG ATAU MELAKUKAN PERDAMAIAN DENGAN ZILIAN?
TUNGGU PART SELANJUTNYA YAH TEMEN TEMEN 😊😊😊😊👌👌💗💗💗🤗🤗🤗***