
...~~~~...
Cukup lama Zilian mengajak Gailen berkeliling mungkin hampir seluruh kota telah Zilian kunjungi.
Bahkan Gailen terus menerus di paksa untuk menjadi petunjuk jalan dan Gailen tidak dapat menolaknya.
Hanya dalam 4 jam saja seluruh kota telah Zilian jelajahi mulai dari pelosok kota, toko, jalanan, acara, dan banyak lagi itu pun terkadang Zilian hanya lewat saja lebih tepatnya numpang lewat.
Karena tujuan Zilian yah bukan jalan jalan melainkan untuk menghapal setiap kota agar memudahkannya melarikan diri jika saja dia gagal melakukan rencananya.
"Kerja bagus, Len" puji Zilian menepuk pundak Gailen bangga.
"Bisakah kita istirahat sekarang? Jika terus melanjutkan lagi mungki aku akan-"
"Baik, bagaimana jika kesana? "Tunjuk Zilian yang mengarah ke sebuah toko perhiasan.
Gailen mengangguk saja, terlalu lelah untuk sekedar mengeluarkan suara, Zilian tersenyum puas saat berada di depan toko perhiasan.
Matanya menelusuri setiap pernak pernik disana dengan tatapan berbinar.
"Apa anda ingin melihat karya terbaik kami? "Tanya pemilik toko.
Zilian langsung mengangguk sedangkan Gailen sibuk memperhatikan gerak gerik Zilian dari luar toko.
"Ini dan yang itu" ujar Zilian menunjuk dua perhiasan yang menurutnya terlihat begitu menarik.
"Pilihan yang bagus nona, ini sangat cocok untuk anda" puji pemilik toko.
"Yah, terimakasih" balas Zilian ramah.
"Totalnya 700 perak" ujar pemilik toko itu.
"Apa ini cukup? "Ujar Zilian sembari menyerahkan 1 kristal.
Pemilik toko tampak terkejut tapi dia dengan cepat mengembalikan kristalnya pada Zilian yang malah terkekeh lucu dengan wajah panik pemilik toko itu.
"Tenang saja ini bukan uang sogokan pak, anggap saja kau beruntung bertemu denganku" ujar Zilian kembali memberikan 1 kristal tambahan pada pemilik toko.
"Nona, tolong jangan-"
Zilian kembali menambahkan 1 kristal lagi dan ini berhasil membuat pemilik toko bungkam tidak berani mengeluarkan sepatah kata apapun.
"Hey pak tua, aku tahu kau itu orang yang baik, gunakan apa yang kau dapatkan hari ini untuk keluargamu dan jangan sampai tertipu lagi" ujar Zilian memperingati.
Pemilik toko itu membungkuk hormat menahan tangisnya, Zilian menganggukkan kepalanya setelahnya Zilian berjalan ke arah Gailen yang duduk di bangku depan toko menunggu Zilian menyelesaikan urusannya.
"Ini untukmu" ujar Zilian menyodorkan sebuah kotak perak untuk Gailen, Zilian mendudukan dirinya tepat disebelah Gailen yang menatapnya dengan pandangan rumit.
"Apa ini? "Tanya Gailen memandangi kotak yang masih Zilian sodorkan padanya.
"Aku rasa ini cocok untukmu jadi aku membelinya" ujar Zilian tersenyum manis ia juga menyerahkan kotak itu pada Gailen yang menerimanya dengan tenang.
"Ini.... "
"Aku tidak tahu itu bunga jenis apa tapi kurasa ini akan pas jika kau memakainya, pasti akan menarik perhatian setiap orang yang memandangmu, aku yakin" ujar Zilian tampak gembira saat membayangkan Gailen memakainya nanti.
__ADS_1
"Ebner" gumam Gailen lalu tersenyum misterius.
"Hah? "Beo Zilian.
"Bunga Ebner yang melambangkan keberuntungan, sungguh berbanding terbalik" ujar Gailen menutup kotak itu setelah menerimanya dari Zilian.
Gailen tampak menaruh kotak itu disaku jubahnya tanpa ada niat untuk mencoba atau memakainya.
"Meski begitu aku menghargai barang pemberian nona, terimakasih" ujar Gailen membungkukan dirinya mencoba terlihat sesopan mungkin.
Zilian tiba tiba saja bangkit dari kursinya lalu menatap tajam ke arah Gailen yang masih menundukkan kepalanya, entah kenapa Zilian merasa tidak nyaman akan situasi sekarang.
"Namamu Gailen bukan? "Tanya Zilian dengan raut wajah yang begitu serius.
Gailen mengangguk pelan, "dengar baik baik, besok siang datanglah ke kamarku, akanku perlihatkan apa itu kesialan dan keberuntungan serta siapa kau dan posisimu di dalam hidupmu" ujar Zilian merebut kotak yang Gailen simpan dibalik saku jaketnya.
Gailen yang dari tadi menunduk langsung mendongak karena Zilian dengan entengnya menarik wajah Gailen hingga menatap wajahnya.
Zilian membuka paksa kotaknya lalu memakaikan anting itu ditelinga Gailen setelahnya duduk kembali dengan ekspresi tenang.
"Nona? "Bingung Gailen, ia meneguk salivatnya dengan susah payah.
"Hmmm? "Dehem Zilian singkat setelah selesai memasangkanya.
"Kotak itu? "
Zilian tersenyum menatap kotak itu, sungguh dia ingin sekali menemuinya sekarang jika saja bisa, sayangnya Zilian tidak boleh menggunakan kekuatannya.
"Untuk seseorang" ujar Zilian.
"Sepertinya dia orang yang berharga" tebak Gailen.
"Motif yang begitu indah" puji Gailen saat Zilian memperlihatkan isi dari kotak itu.
"Bulan sabit dengan kilauan bintang di tengahnya dan sebuah tetesan air yang menggantung dibawah bulan, sungguh indah" lanjut Gailen memuji pilihan Zilian.
"Apa warnanya akan cocok? "Tanya Zilian.
"Tidak tahu, memangnya rambut dan matanya berwarna apa? "Tanya Gailen balik.
"Matanya berwarna emas dengan rambut panjang berwarna hitam pekat" ujar Zilian mengingat ingat.
"Mungkin akan cocok jika benda itu sendiri yang menyesuaikan, aku tahu tanaman yang bagus untuk ini dia bisa merubah warnanya sesuai apa yang di inginkan pemiliknya tapi sulit untuk ditemukan" ujar Gailen.
"Tidak masalah" ujar Zilian.
"Seingatku bunga itu bernama Whitney, dia berada di pedalaman pulau putih yang berarti kau harus melewati perbatasan yang dibuat pangeran Fibery" ujar Gailen menjelaskan.
Kenapa tempat bunga itu berada harus dibatasi dengan perisai terlebih yang membuat perisai itu adalah Pangeran sialan itu? Ck, apakah Zilian harus menemuinya lalu memberinya sedikit kejutan?
Zilian mengembulkan pipinya kesal, bagaimana tidak? Setiap ada urusan pasti nama pangeran itu muncul bagaika hantu yang siap menghalangi Zilian dan tentu saja mempersulit dirinya.
"Kenapa bunga itu harus tumbuh disana? Menjengkelkan, jika bertemu dengannya akan kubuat dia babak belur! "Umpat Zilian yang tentu saja terdengar oleh Gailen.
Pria itu mengelengkan kepalanya melihat tingkah Zilian yang masih mengumpati pangeran dari negeri kebanggaannya.
__ADS_1
"Berhentilah mengumpat nona, akan gawat jika ada yang melaporkan nona ke pihak istana" ujar Gailen yang membuat Zilian langsung menutup mulut.
Zilian menoleh menatap Gailen dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Apakah kau tahu cara untuk kesana? "Tanya Zilian dengan tampang yang berubah menjadi serius.
"Ya, aku memiliki petanya tapi tidak untuk cara memasukinya" ujar Gailen yang langsung mematahkan semangat Zilian sekaligus hampir membuat Zilian kembali mengumpat.
"Ah, terserah! Aku akan tetap pergi" ujar Zilian bertekad.
Semangatnya tampak membara seketika, yah untuk bertemu dengan biang masalahnya itu!
Gailen tersenyum tipis sesaat kemudian menghela nafas pelan. Wanita yang berada di depannya ini mirip dengan orang yang selalu Gailen tunggu kedatangannya, hanya dari segi sifat yang benar benar mirip, sama sama unik.
"Jika nona ingin, saya bisa menemani nona kesana" ujar Gailen menawarkan diri.
Dengan cepat Zilian mengelengkan kepalanya untuk menolak niat Gailen, dia tidak ingin melibatkan Gailen dalam masalah, mungkin saja akan banyak monster atau tumbuhan aneh disana mengingat kondisi Zilian yang tidak dapat menggunakan sihirnya dan tentu saja ia tidak dapat menjamin keselamatan Gailen jika saja pria itu ikut dengannya.
Meski begitu jika Zilian berada dalam posisi yang kurang menguntungkan atau mendesak dia dengan terpaksa harus menggunakan sihirnya, aneh jika anggota kerajaan tidak merasakan keberadaan sihirnya yang memiliki hubungan darah dengan pemimpin mereka terutama pangeran.
Itu juga masalah yang harus Zilian hindari, jika Gailen ikut dengannya dan dia menggunakan sihirnya lalu pihak kerajaan datang Gailen bisa saja akan ikut masuk ke dalam masalahnya Zilian.
Karena itu lebih baik Zilian pergi seorang diri dari pada harus membawa seseorang ikut dengannya dan malah menempatkannya dalam bahaya.
"Tidak perlu, aku akan pergi sendiri, lagi pula ini urusan yang penting bagiku sebaiknya kau tidak ikut" ujar Zilian menolak dengan pandangan rumit.
"Tapi tidak baik jika seorang diri, nona. Disana sangat berbahaya" ujar Gailen khawatir.
"Karena itulah aku melarang, tidak apa aku bisa menjaga diriku sendiri" ujar Zilian masih dengan penolakannya.
"Baiklah, jika nona memang ingin begitu" tunduk Gailen, tangannya tampak bergetar.
"Aku akan kembali dan datang menemuimu, oh aku lupa mengatakannya aku ingin kau mengikutiku kau bisa memikirkannya selagi aku pergi" ujar Zilian tersenyum lebar.
Gailen mengangkat kepalanya dengan cepat, pria remaja itu tampak senang tapi masih dapat ia kontrol dengan baik, Zilian terkekeh melihatnya.
"Kembalilah kepenginapan dengannya, dia akan menjagamu hingga kau sampai dan ingat temui aku besok siang di ruanganku" ujar Zilian mengingatkan.
Zilian menunjuk ke arah samping Gailen dimana kloningnya tengah berdiri tegak disana.
"Bagaimana dengan anda? "Tanya Gailen keheranan.
"Aku masih penasaran dengan kota ini mungkin aku akan melanjutkan untuk keliling lagi" ujar Zilian tampak bersemangat.
"Bukankah kita telah berjalan menelusuri semua pelosok Kota? "Tanya Gailen lebih ke arah dirinya sendiri.
"Aiyooo, kitakan hanya berjalan jalan tapi tidak mampir, kau tahukan maksudku? "Ujar Zilian mengedipkan sebelah matanya.
Gailen tertawa lepas, tampaknya ia terlalu mencemaskan Zilian.
"Baiklah, kalau begitu selamat bersenang senang, nona" ucap Gailen sembari melambaikan tangannya saat kloning Zilian menariknya untuk kembali ke penginapan yang tentunya menerima perintah dari Zilian untuk segera menyeret Gailen menjauh darinya.
Zilian balas melambaikan tangannya setelah Gailen semakin menjauh, Zilianpun ikut pergi dari sana menuju biro informasi.
Bagaimanapun ia merasa ada yang menganjal dengan bunga Whitney itu sekalian saja Zilian mencari ramuan yang ia cari beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Jika aku pergi tidak akan ada yang mengawasimu bukan? Heh, kalau begitu bersenang senanglah karena sebelum pergi aku akan memberimu hadiah kecil, mungkin saja kau akan sibuk setelah ini" ujar Zilian menyeringai.
Berlanjutttt....