
...~~~...
Portal tertutup atas perintah Zilian sesaat setelah ia berdiri tepat di samping Brant.
"Tunggu apa lagi? "Ujar Zilian menarik lengan Brant untuk memasuki perbatasan tapi Brant tampak tak bergeming sedikitpun dan malah mengeleng pelan saat Zilian berbalik menatap Brant.
"Brant? "Ujar Zilian mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang membuat Brant bertingkah aneh seperti ini.
"Kau, pergilah" ujar Brant sembari melepas pelan genggaman Zilian dari lengannya yang ternyata masih disana.
"Apa maumu? Kau ingin aku pergi seorang diri? Apa yang kau pikirkan Brant bukankah ini tujuan kita kesini? Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikirmu, aneh sekali" ujar Zilian sambil terkekeh sumbang.
"Maaf aku lupa mengatakannya kalau aku tidak dapat masuk karena aku bukanlah orang yang memiliki darah keturunan wilayah Baxeria, ada penghalang yang akan memusnahkan orang yang bukan bagian dari kerajaan Baxeria" ujar Brant menjelaskan.
Zilian masih diam saja mendengar penjelasan Brant setelahnya menghela nafas gusar.
"Tidak ada bukti kalau aku keturunan mereka, bagaimana jika aku tidak memiliki darahnya? Kau tahu akibatnyakan? "Ujar Zilian yang tentu saja Brant tahu jelas maksud Zilian.
"Percayalah, aku tidak mungkin membuatmu dalam bahaya" ujar Brant yakin, sebuah senyuman tersugin jelas diwajahnya.
Tidak ada respon apapun, Brant hanya mendapati Zilian yang diam dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya, tatapan Zilian tampak menelisik Brant menyuruhnya untuk mempersingkat waktu.
"Ada perjanjian yang telah aku buat, Zilian. Jadi tidak mungkin aku.... "
"Jujur saja aku kecewa kau tidak mengatakannya saat kita sampai kesini" potong Zilian menekuk wajahnya sambil mendengus kesal.
Brant mengerutkan keningnya melihat perubahan sifat Zilian yang begitu singkat.
Zilian yang melihat itu semakin dibuat kesal, apa Brant tidak ada niat untuk mengatakannya?
"Aku kesal sekarang! "Batin Zilian mengumpati Brant yang masih diam saja ditempatnya.
"Aku masuk sekarang, jangan temui aku brengsek! "Kesal Zilian berjalan menjauhi Brant.
Brant tetap berdiam diri dan benar saja dugaannya benar, yah Zilian kembali memutar balik badannya lalu menghampiri Brant yang terkekeh dengan kepala yang ia tundukkan.
"Apa kau puas menertawaiku hah?! "Teriak Zilian semakin kesal.
Brant mengeleng dengan cepat, ia mempertipis jaraknya dengan Zilian lalu mengusap rambut Zilian pelan dengan senyuman manis di wajah tampannya.
"Jangan menekuk wajahmu seperti itu, jelek sekali dan aku tahu kau ingin mendengarnya padahal kau sendiri sudah tahu bahkan sadar lebih awal dibandingkan aku, benarkan? "Ujar Brant yang mendapat tonjokan dari Zilian.
Untuglah Brant dapat menghindarinya dan itu kembali membuat Zilian semakin kesal dan yah sekarang Zilian berfikir untuk mencabik cabik Brant.
Zilian mendekati Brant yang malah memundurkan langkahnya, Zilian berdecak kesal dengan paksa Zilian menggunakan kekuatannya.
Brant diam saja padahal dia bisa dengan mudah menghilangkan kekuatan Zilian tapi dia memilih untuk berpura pura saja sayangnya Zilian tahu niat Brant danhanya tersenyum kecil.
Zilian memasangkan sebuah kalung dileher Brant setelahnya melangkah mundur tanpa berniat melepas kekuatan pengekangnya.
__ADS_1
Brant dengan paksa melepasnya sendiri, hanya dengan jentikan jari saja pengekang itu hilang begitu saja.
"Jangan melepasnya mungkin dengan begitu aku tidak akan terlalu mencemaskanmu" ujar Zilian tersenyum tulus.
"Sebaiknya kau mengcemaskan dirimu sendiri" ujar Brant terkekeh melihat Zilian yang malah mencemaskannya bagi Brant itu terlihat lucu untuknya.
"Aku tahu kau akan melindungiku Brant, jarak bukanlah masalah untuk seorang maniak ramuan sepertimu" kekeh Zilian begitu pula denga Brant.
Zilian mengelengkan kepalanya sejenak dia lupa waktunya tidak boleh terlalu lama jika tidak bisa saja ada pengintai bukan?
"Jadi apa yang akan kau lakukan? "Tanya Zilian yang langsung membuat Brant menghentikan tawanya.
"Apa yang akan aku lakukan tidak jauh berbeda denganmu, akan lebih berbahaya jika aku tidak mengawasi mereka lagi pula ada Uscar dan Mask yang perlu bantuanku disana, kurasa ini pilihan terbaik untuk sekarang" ujar Brant yang mendapat anggukan setuju dari Zilian.
"Baiklah aku juga merasa kau cocok untuk kesana, jika aku yang pergi mereka pasti akan langsung mengenaliku, aku perlu memastikan indentitasku dulu dan membangun beberapa pasukan sebelum berurusan dengan mereka, akan sangat berbahaya jika aku tidak mencaritahu terlebih dahulu diriku di kerajaan Baxeria" ujar Zilian dengan analisis barunya.
"Tapi sangat disayangkan kau tidak boleh menggunakan kekuatanmu ketika masuk nanti" ujar Brant.
Zilian mengerutkan keningnya bingung, "kenapa? "
"Karena pihak kerajaan akan tahu dan itu akan semakin mempersuit ruang gerakmu nanti" ujar Brant yang seketika membuat Zilian lesuh.
"Mereka bisa diuntungkan jika aku masuk bukan? Menghancurkan kerajaan satu persatu pastinya memerlukan target terdekat berupa anggota kerajaan, mereka tidak bodoh untuk mengambil posisi rendah meski itu jawabannya iya palingan bawahannya yang menempati posisi itu" ujar Zilian mendegus kesal.
"Ini menarik bukan? "Ujar Brant tersenyum penuh arti.
Zilian mengangguk antusias sambil tersenyum sinis, "tentu saja karena disini akulah yang akan menanganinya"
"Masuklah, ingat untuk tidak menggunakan kekuatanmu disana dan berhati hatilah jangan memasuki kawasan istana terlalu cepat tunggu kau memiliki pendukung dulu lalu begerak, kumpulkan informasi apapun itu" peringat Brant.
Zilian lagi lagi terkekeh, Brant ternyata begitu mencemaskannya, ini melebihi ekspetsi Zilian.
"Tanpa kau suruhpun aku sudah tahu apa yang akan aku lakukan kedepannya, aku pergi jaga dirimu dan jangan lupa bereskan dia aku akan mengurus yang disebelah" ujar Zilian berbalik sambil melambaikan tangannya dari belakang dan berakhir memasuki kawasan Baxeria.
"Tentu"bati Brant ikut pergi dari sana dengan serigaian di wajahnya, dia mengeluarkan sebuah belati lalu melesat dengan kecepatan kilat.
...•...
Tepat saat Zilian menginjakkan kakinya ke tumpukkan salju wajahnya berubah total menyamai dinginnya cuaca disana.
Pandanganya terlihat sedingin es, sesuai perkiraannya ada orang sedang mengintainya.
Zilian tetap berjalan dengan santainya bahkan sesekali dia bersenandung riang disana.
Tepat saat memasuki jalan yang rimbun akan pepohonan orang yang mengintai Zilian dibuat bingung karena Zilian berhasil menghilang.
"Halo tuan" ujar Zilian dari balik punggung pria itu dengan wajah yang menyeringai setelah mengeluarkan aurahnya yang mencengkam.
"Kau sama sekali tidak memiliki bakat apapun untuk mengamati seseorang secara diam diam tuan, lagi pula kau salah sasaran" ujar Zilian menekan pria itu untuk berlutut dihadapannya menggunakan aurahnya.
__ADS_1
"Ternyata aku benar, kau begitu mirip tidak mungkin dugaanku salah" ujar pria itu tersenyum senang.
"Ck, tidak tahu diri. Apa kau masih waras? "Ujar Zilian langsung.
Pria itu mengerjap pelan, sepetinya karena terlalu senang dia sampai lupa kalau dirinya berada di situasi tidak menguntungkan.
"Ah, jadi begitu rupanya jadi dapat ku pastikan aku adalah keturunan murni mereka yah? Informasi menarik, aku akan memberimu sedikit keringanan jadi katakan siapa kau? "Ujar Zilian menunduk menatap pria yang ternyata adalah seorang Count, Zilian tidak perlu tahu namanya itu tidak penting selama dia tahu gelarnya dan tentu saja wajahnya itu sudah cukup.
Zilian menatap pria itu dingin lalu perlahan mengeluarkan belatinya dan mendekatkan belati itu kemulut pria itu hingga tergores.
"Katakan selagi aku tidak mengubah pola pikirku" ujar Zilian dingin dan begitu menusuk.
"Tidak akan, aku lebih baik mati dari pada mengatakannya" ujarnya sama sekali tidak dapat di ajak damai.
"Kalau begitu terimakasih atas kerja samanya tuan"
Zilian dengan ringannya mengayunkan belati itu untuk menusuk jantung pria itu setelahnya mencabut belatinya begitu saja.
Zilian mengucapkan sebuah mantra penghilang ingatan sekaligus sedikit menambahkan memori barupada pria itu, setelah selesai Zilianpun berjalan menjauh.
"Untung saja dia masih berguna jadi akan kubiarkan dia hidup sampai apa yang aku inginkan terwujud setalah itu bersiaplah tuan "ujar Zilian memasukkan belati itu kedalam cinci ruangnya.
Kini Zilian berjalan menuju pusat kota untung saja dia sempat mengintip ingatan pria itu tentang kota walau hanya sedikit karena Zilian tidak tahan melihat pemikiran pria itu yang begitu.....
Mesum!
Setelah melalui tumpukan salju sambil mengumpat tiada henti akhirnya Zilian berhasil sampai ke tempattujuannya yaitu kota kerajaan Baxeria, kotanya lumayan indah meski salju tetap turun menyapa disana itu tidak menghentikan mereka untuk mempelihatkan bahwa kerajaan mereka tidak akan kalah dari kerajaan lainnya walaupun tidak ada sinar matahari disana dan kesulitan dengan bahan kebutuhan itu tidaklah masalah untuk mereka.
Jalannya terbuat dari lantai es yang berkilauan ditemani dengan bebatuan berwarna silver dan biru muda, ada sebuah patung juga di tengah kota yang terlihat dari jalur yang Zilian pakai, meski jaraknya jauh patung itu tampak terlihat jelas, sungguh pemandangan yang memanjakan mata.
Zilian tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi jadi dia lebih memilih untuk bergrak mencari penginapan terlebih dahulu agar dapat dia gunakan slama beberapa hari sebelum mendapatkan peumahan yang cocok untuknya nanti.
Uang bukanlah masalah bagi Zilian karena dia dapat menjual barang barang yang ada didalam cincin ruangnya sesuka hati terutama obat obatan daerah bers panas dan tropis yang tentu saja sulit di dapatkan disini.
Zilian memasuki sebuah toko penjual obat obatan, dia langsung disambut oleh peilik toko saat mengatakan dia memiliki obat obatan langka dan benar saja pemilik toko langsung saja menghampiri Zilian dan membwanya ke rungan terbaik miiknya.
"Waktumu tidak banyak" ujar Zilian tanpa basa basi langsung duduk di sofa.
Pemilik toko ikut duduk lalu menautkan tangannya, "jadi begini kami hanya memiliki setengah dari harga barang anda nona jadi.... "
"Kirim saja sisanya ke penginapan sebelah aku akan ada disana selama beberapa hari untuk yang sekarang aku akan mengambilnya" ujar Zilian.
Dengan cepat pemilik toko memberikan cincin ruang berisi setengah dari uang hasil penjualannya.
Zilian menerimanya lalu bangkit ditemani pemilik toko itu hingga Zilian keluar dari sana.
"Lumayan juga, bangunan dan cara berpakaian mereka tidak terlalu kuno seperti yang kubayangkan, bagunannya tidak kalah indahnya dengan bangunan yang ada di duniaku, lumayan" ujar Zilian sambil melangkah memasuki pengiapan.
Berlanjutttt....
__ADS_1