Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 36


__ADS_3

...~•~•~•~...


Keadaan mulai tidak terkendali, suasana semakin memanas. Solydia menggantikan Eva yang sekarang tidak sadarkan diri. Solydia memperintahkan Chaiden untuk menjaga Eva hingga sadarkan diri.


Xefall membantu Solydia menyerang Hanzel sedangkan Solydia berfokus melawan Miyaku yang terus menghindar. Eva terus bertarung bersama dengan Solydia menggunakan pedang beracunnya melawan Miyaku.


Miyaku mengertukan alisnya melihat Xefall begitu antusias melawan Hanzel bahkan dengan saudaranya sendiri dia mau menjadi bonekanya Solydia? Menyedihkan.


"Pengkhianat! " Miyaku memainkan benangnya ke arah Solydia lalu beralih dengan cepat ke arah Xefall yang menghindari serangannya.


"Sebelum aku mati kau harus lebih dulu menutup mata! "Xefall melempar pedangnya ke atasnya lalu terjadilah ribuan pedang yang turun dari langit menuju ke arah Miyaku dan Hanzel.


Solydia tidak tinggal diam, Eva berdiri di samping Xefall untuk melindunginya dari serangan kejutan yang mungkin di lontarkan Hanzel sedangkan Solydia menggunakan langkah cepatnya untuk menyerang Hanzel yang menjadi kunci utamanya.


Tentu saja tidak semudah itu, Miyaku melilitkan benangnya tepat di atas kepala mereka agar bertahan dari serangan Xefall hal ini mempersulit Solydia untuk menyerang.


Hanzel begitu memyebalkan, Solydia bahkan tidak di berikan kesempatan untuk menyerang dan malah terus bertahan dari serangan jarum yang di lontarkan dari boneka Miyaku yang begitu kebal dengan ribuan pedang milik Xefall.


"Ck, jika saha Eva ada di sini membantu ku mungkin aku sudah bisa memenggal dua kepala mereka secara bersamaan" kesal Solydia yang terus mengayunkan pedangnya untuk menghancurkan semua jarum yang Miyaku lontarkan padanya.


Mendengar kekesalan Solydia, Jadey maju kedepan tanpa mempedulikan Xefall yang sedang menatap tajam ke arahnya.


"Tanpa dia kita bisa menang" ujar Jadey yang memperlihatkan sebuah botol putih polos ke depan wajah Solydia yang menatapnya dengan wajah datar.


"Minggir jika kau tidak mau mati tertusuk jarum! "Solydia mendengus kesal melihat Jadey yang begitu santai.


"Mati atau hidup tidak ada bedanya, itu sudah menjadi hukuk alam" ujar Jadey yang memperingati Solydia.


"Apa pun itu aku akan mengubah takdir meski mustahil sekali pun" ujar Solydia yang masih mengayunkan pedangnya untuk melindungi dirinya sendiri.


Jadey memperbesar perisai beracunnya untuk membantu Solydia bertahan dan menghemat energi fisiknya.


"Takdir dan hukum alam tidak dapat di lawan ingat itu baik baik, Solydia "ujar Jadey sedikit meninggikan suaranya.


"Takdir? Takdir itu tidak pernah ada yang ada kita yang menentukan jalan hidup kita kalah atau menang bukan takdir tapi dari kemampuan! Hidup mati juga bukanlah sebuah takdir tapi sebuah pilihan dan sebuah keceroboha yang sering di lakukan mahluk hidup, Jadey! "Solydia menghunuskan oedangnya tepat ke arah leher Jadey.


Jadey tidak bergerak dia malah menatap Solydia yang masih terkurung dalam masa lalunya.


"Ingatlah Solydia, kau mungkin menganggap benar pemikiran mu tapi aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi, sekarang kita hanya perlu fokus melawan dua orang di depan kita" ujar Jadey yang tiba tiba serius.


Solydia terdiam dia tidak ingin berbicara sekarang.


Jadey mengeluarkan sayapnya dan terbang ke arah Miyaku dan menyebarkan racunnya dengan menghindari serangan Miyaku yang terkadang mengenai tubuhnya tapi Jadey tetap menahannya.


Solydia mengenggam erat pedangnya lalu meleset dengan cepat ke arah Miyaku yang tampak linglung, saat akan menebaskan pedangnya Hanzel menghadangnya.


Miyaku mengerutkan alisnya perlahan Miyaku menutup matanya dan mengangkat tangannya ke depan dadanya lalu kembali membuka matanya.


Tampak sebuah mata putih menyeluruh di bagian kanan sedangkan di bagian mata kiri yang tertutup telah di buka dan menampilkan sebuah mata merah menyala yang membuat Solydia terdiam kaku.


Bukan hanya Solydia saja tapi Jadey merasakan hal yang sana bahkan Xefall pun ikut terdiam, serangan mereka berhenti tiba tiba membuat mereka bertiga kebingungan.


"Game over" ujar Miyaku yang menatap ke arah Solydia yang mulai memegangi kepalanya.


"Ahhhh!!! Kepala ku!!! "Teriak Solydia yang berteriak histeris sambil memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah.


"Ibu! Ayah! Kakak! Kalian berhenti di sana! Jangan tinggalkan aku seorang diri! "Teriak Jadey yang berlinang air mata.


"Apa aku tidak dapat merasakan kasih sayang kakak lagi kak Bearlex? Kenapa dia harus menghancurkan semua ini? Kenapa?! "Xefall menghunuskan pedangnya ke arah Miyaku yang menangkapnya dengan mudah.


Miyaku melirik ke arah Eva yang masih tidak sadarkan diri sedangkan Chaiden terdiam kaku dengan tatapan kosong yang tergambar jelas di wajahnya.


Miyaku menatap pedang yang dia pegang di tangannya lalu kembali menatap ke arah Eva yang tidak sadarkan diri.


"Mati! "


Miyaku melepaskan pedangnya dan mengarahkannya tepat di jantung Eva. Sebelum pedang itu mengenai Eva entah kenapa Solydia tergerak untuk menghadang pedang itu.


"Tidak akan ku biarkan Zilian kenapa napa, dia tuan ku dia nyawa ku! aku tidak akan membiarkan mu menyakitinya! "


Solydia terbang ke arah Miyaku yang tidak berniat menghindar sedangkan Hanzel sudah bersiap siap dengan belatinya.


Srashhh


Miyaku melepaskan pengaruh pikirannya pada Solydia yang kini memegangi dadanya yang berlumuran darah serta belati yang tertancap di dadanya.

__ADS_1


"Ukh..... "


Solydia mencabut belati itu, karena telah menusuk jantungnya Solydia mulai melemah kekuatannya tidak berfungsi yang berarti belati itu mengandung sebuah racun.


Miyaku menangkap tubuh Solydia dan membawanya ke arah Eva yang menutup matanya dengan tenang. Solydia mengerutkan keningnya menahan rasa sakit yang begitu menusuk hingga ketulang tulangnya.


Ingin rasanya mati saja tapi Solydia tidak dapat melakukannya dia masih memiliki tugas untuk melindungi rekannya serta tuannya, Zilian.


"Lihat baik baik, aku ingin tahu akankah kau bisa menahan takdir ini atau mengubahnya" ujar Miyaku yang mengubah benangnya menjadi lebih tajam dan memasukkannya ke dalam tubuh Eva tepatnya di sekitar jantungnya.


Hanya gerakan kecil saja Eva akan kehilangan nyawanya dan untuk selamanya tidak akan membuka matanya.


"Jangan! K-kumohon jangan lakukan itu padanya! Jika kau ingin membunu bunuh saja aku! "Teriak Solydia yang menahan tangan Miyaku.


"Berisik! Jika kau ingin nyawa teman mu ini selamat maka jangan mengerakkan ku karena pergerakan sedikit akan membuatnya kehilangan nyawanya tidak seperti kau yang masih sadarkan diri ini" sinia Miyaku.


"Dan kau perlu memahami diri mu sendiri sebelum berbicara, kematian mu hanya menunggu waktu saja jadi jangan berharap kau bisa menyembuhkan jantung mu yang sudah ku lumuri racun" ujar Miyaku yang melirik ke Solydia.


"Ughhhh" desis Eva yang mengerutkan alisnya serta bercak darah yang keluar dari bibirnya.


"Berhenti! "Teriak Jadey.


"Selamat menonton akhir dari kehidupan rekan mu ini" ujar Miyaku.


Hanzel menarik tubuh Solydia agak menjauh dari Miyaku lalu Miyaku dengan wajah datarnya menusuk Eva tanpa belas kasih.


"AAAAAAHHHHHHHH!!! "Teriak Solydia yang memberontak untuk di lepaskan.


"Lepaskan aku brengsek! "


"Jangan mendekatinya seenak hati mu! "


Miyaku melempar asal belatinya lalu berjalan mendekat ke arah Solydia yang terdiam karena Hanzel mematahkan beberapa tulangnya.


"Inilah yang ku rasakan saat aku melihat saudara ku satu per satu harus tewas di depan mata ku "ujar Miyaku dengan pandangan sayup.


Solydia menatap marah ke arah Miyaku yang tidak mempedulikan kebencian Solydia padanya.


"Kau harus merasakannya dan oh iya Zilian? Dia juga akan segera berakhir anggap saja kau adalah diri ku di masa lalu" senyum Miyaku.


Hanzel membekap mulut Solydia dengan sebuah kain lalu membawa Solydia bersama Miyaku untuk kembali ke udara.


Miyaku meniupkan sesuatu lalu kembali menatap ke arah Celviona dan Kaguya yang sengaja dia sisakan karena dua tahu mereka berdua adalah saudaranya yang dulu membangkang perintah kakak pertamanya.

















__ADS_1






Celviona terdiam mengamati tingkah bawahannya yang terduam termaksud Medeia yang memaku dengan air mata yang berlinang.


"Apa yang terjadi? Kenapa hanya aku dan Kaguya saja yang sadarkan diri? "Gumam Celviona yang masih tidak mengerti akan situasi.


"Sepertinya ada hubungannya dengan mereka berdua" Kaguya menunjuk ke arah Yon dan Slayer Demon yang berdiam diri tanpa ingin menyerang mereka berdua.


Celviona mengangguk "Yon! Ada apa ini? "Tanya Celviona sedikit berteriak.


"Apa lagi kalau bukan 'game over'? " ujar Yon menunjuk ke arah Miyaku yang tengah menghampirinya.


Celviona berbalik dan menemukan Miyaku yang tengah tersenyum ke arahnya. Kaguya mengepalkan tangannya kuat karena dia tahu hal yang paling di benci Celviona telah tiba.


"Kenapa kau membuat ilusi pada saudara mu sendiri dan bahkan memanfaatkan kekuatan kakak pertama?" marah Celviona.


"Lihat diri mu sendiri sebelum berbicara" ujar Miyaku tenang.


"Heh, aku memiliki tujuan ku yang tentunya tidak akan merugikan kakak pertama sedangkan kau? Dengan tenang membunuh dan melanggar peraturan kakak? Menjijikan" sinia Celviona.


"Menurutmu aku menjijikan tapi bagi ku tidak, aku sudah mempersiapkan diri jika saja kakak pertama akan membunuh ku tapi sebelum itu terjadi mereka sudah harus ku basmi" ujar Miyaku.


"Kau yakin? "Tanya Celviona dengan tatapan meremehkannya.


"Jika tidak kau akan apa? "Senyum Miyaku.


"Menghalangi mu "jawab Celviona tegas.


"Seorang diri? Mustahil" tawa Miyaku.


"Dia tidak sendiri ada aku yang akan selalu membantunya" ujar Kaguya yang mengenggam tangan Celviona yang bergetar.


"Kaguya? "


"Bukan sebagai Kaguya tapi sebagai Zelviona saudara mu "senyum Zelviona.


"Jangan bilang kau? "


"Tidak apa, gunakan nama ini untuk kedepannya nama yang kau gunakan bukanlah nama asli mu kau tidak boleh menekan diri mu hingga sejauh ini" ujar Zelviona yang perlahan mulai bersinar terang.


Celviona memukul Zelviona tapi pukulannya menembus tubuhnya yang mulai transparan dan akhirnya menghilang.


"Jangan lupa aku tidak akan jauh dari mu aku hidup di dalam diri mu, perasaan mu dan jiwa mu"


Celviona meneteskan air mata. Selama dia melarikan diri dia menemukan diri Kaguya yang keluar dari tubuhnya dan selalu menemaninya dimana pun dia pergi bahkan bertarung bersama tapi kini Kaguya yang bernama asli Zelviona telah kembali dan menyatukan dirinya.


"Selalu seperti ini, mengapa? "Tangia Celviona.


"Karena kau lemah" ujar Miyaku yang mengulurkan tangannya.


"Hahahahaha"


Celviona menumbuhkan sayapnya dan menyerang Miyaku menggunakan bulu sayapnya yang begitu tajam.


Hempasan angin yang di timbulkan sayapnya begitu besar, perisai cahaya yang berasal dari Zelviona melindunginya secara otomatis jadi Celviona bisa dengan mudah bergerak tanpa menghawatirkan dirinya akan terluka.


Hanzel menahan semua serangan Celviona tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri.


"Anak sialan! Sadar kau dan kembalilah ke dunia mu yang sebenarnya! "Teriak Celviona yang menendang Hanzel ke tanah tanpa ampun.


Yon dan Slayer Demon mengeleng pelan, tanpaknya Celviona tidak akan tanggung tanggung.


"Bagaimana menurut mu? "Tanya Slayer Demon.


"Jika kak Celviona seperti ini itu berarti kita tidak boleh ikut campur. Sebaiknya kau cek Hanzel masih hidup atau tidak" ujar Yon.


"Palingan udah mati" ujar Slayer Demon santai.


"Begitulah" Yon tidak mempedulikannya dan tetap menatap ke arah Celviona dan Miyaku yang tengah bertarung.

__ADS_1


Berlanjutttt......


__ADS_2