Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 71


__ADS_3

...~~~...


Malam telah tiba, tepat pada pukul 10 malam Zilian dan Cecillia mulai menuju ke arah lokasi, tidak terlalu jauh memang dari rumah sewaan Cecillia.


Ah, asal kalian tahu saja semua biaya yang dikeluarkan selama perjalanan semuanya Cecillia lah yang membayarnya sedangkan Zilian hanya diam saja toh siapa suruh Cecillia mau membayarnya, tidak ada yang menyuruhnya sama sekali.


Cuaca cukup mendukung keduanya untuk menjalankan aksinya meskipun tetap saja rasa dingin menusuk kulit mereka berdua.


Keduanya berhenti sejenak di atas rumah penduduk untuk memperhatikan situasi sebelum bergerak, takutnya mereka akan menggunakan cara kasar jika rencana pertama mereka gagal.


"Hey, aku tidak mengerti Kenapa kau tiba-tiba saja mengubah rencana, kau bahkan tidak menjelaskan apapun padaku hingga sekarang ini" oceh Cecillia merengut pedang Zilian dari genggamannya.


Pasalnya Zilian dari tadi membersihkan pedangnya saat Cecillia menanyai alasan atas tindakannya yang mendadak itu.


Zilian mendengus sebal, ia kembali merutuki tindakannya saat menolong Cecillia beberapa menit yang lalu.


"Ya, dan sampai sekarangpun kau terus saja mengoceh, apa kau bisa diam sebentar saja? "Ujar Zilian jengkel sungguh sangat jengkel.


"Tidak, sampai kau menjelaskan semuanya padaku termaksud indentitasmu, Nona "ujar Cecillia mengacungkan pedang milik Zilian.


Zilian memasang wajah malasnya menghadapi sifat menyebalkan Cecillia kini ia terjebak dengan pertanyaan dan tuntutan dari seorang Cecillia yang mendadak menjadi reporter.


"Baiklah aku jerah, sekarang apa yang ingin kau ketahui dari ku hah?! Oh astaga apa-apaan ini? "Keluh Zilian memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Segalanya dari awal" ucap Cecillia menatap Zilian tegas.


Zilian mendorong pedang yang Cecillia acungkan padanya tepat di depan wajahnya yah walaupun ia memakai topeng sekarang.


"Pertama-tama pakai topeng ini dulu nanti baru akan aku.... "


Zilian terdiam saat merasakan hawa keberadaan seseorang meski hanya bertahan selama sedetik tapi Zilian dapat merasakannya dengan sangat jelas.


"Sebaiknya akan aku ceritakan nanti jika kita pulang itu pun dengan selamat" ujar Zilian melirik ke arah Cecillia yang diam mematung.


"Hey" ujar Zilian menyenggol Cecillia yang tampak ketakutan.


Zilian berdecih saat melihat perilaku Cecillia yang tak kunjung memasang topeng pemberiannya.


"Jika terus seperti ini bisa saja 'dia' bisa menyadarinya, astaga anak ini cepatlah normalkan wajahmu itu! "Batin Zilian, ingin rasanya berteriak tapi itu hanya akan memperjelas situasinya sekarang.


Jika sudah begini....


"Kemari kau sialan! "Teriak Zilian yang langsung bergegas menuju lokasi seseorang yang tengah mengintainya dari jarak jauh.


Sebelum pergi Zilian merengut pedangnya dari tangan Cecillia yang akhirnya sadar dari ketakutannya dan segera mengenakan topeng setelah menerima kode dari Zilian.


Saat Cecillia hendak ikut dengan Zilian wanita itu langsung diam di tempatnya saat mendengar kalimat mengerikan keluar dari bibir Zilian.


"Sebaiknya kau pergi saja ke lokasi dan temui anak itu jika kau ngotot untuk mengikutiku maka nyawamu akan aku pastikan berakhir disana" ujar Zilian lalu berbalik dan melesat pergi dari hadapan Cecillia.


Sosok itu langsung berbalik untuk pergi tapi sayangnya Zilian malah mempercepat langkahnya dan berakhir menangkapnya.


"Oho, mari kita lihat barang tangkapanku kali ini" ujar Zilian menyeringai saat melepas topeng pria itu dan yap dia menemukan tanda yang sama dengan pelayan dari keluarga Marquess.


"Tidak akan ada informasi yang berguna darimu lagi pula aku akan segera kesana untuk membantai mereka semua termaksud, Lady yang sangat kau benci itu" ujar Zilian mengarahkan mata pedangnya ke leher sosok pria itu lalu menekannya hingga membuat goresan disana.


"Tunggu, tunggu nona! Aku bisa mengatakan apapun yang kau mau sungguh! Aku mohon kasihanilah hidupku" ujarnya memohon dengan air mata yang merembes keluar, tangannya ia katupkan di depan wajahnya.


Zilian terkekeh geli saat mendengarnya, ia semakin menekan pedangnya ke leher pria itu.


"Sudah kukatakan bukan kalau aku tidak membutuhkan apapun darimu karena kau tidak berguna sama sekali untukku lagi pula kematianmu telah di tentukan semenjak kau menerima tawarannya untuk datang kemari yah jadi nikmatilah perjalanan kematianmu, bocah" ujar Zilian dengan satu tarikan berhasil memisahkan kepala dan tubuh pria itu.


Zilian mengerutkan keningnya saat melihat noda darah yang menempel di pedangnya.


"Hn, pedangku terkena kotoran" ujarnya kembali mengelap pedangnya agar kembali bersih yah walaupun baunya tidak akan menghilang.


Setelah selesai Zilianpun meninggalkan tubuh pria itu setelah membaringkannya bersama kepalanya yang Zilian taruh di atas dada korbanya.


Zilian melirik sejenak ke arah tubuh pria itu nanar setelahnya mempercepat langkah kakinya menuju lokasi.


Bertepatan setelah menghilangnya Zilian dari sana sesosok pria bertopeng setengah wajah yang hanya menutupi bagian atas hidunya dan mengekspos bibirnya itu muncul.


Ia mendekati mayat yang barusan Zilian tinggalkan.


Senyuman terpatri di wajahnya, dengan santainya ia duduk di samping mayat itu lalu mengambil sebuah surat yang Zilian masukkan di dalam mulut pria itu.


"Ck, kejam sekali" ujarnya setelah membaca surat yang sengaja Zilian tinggalkan.


Secara garis besar Zilian mengatakan bahwa jika dia berani maka temuilah ia dan tunggu ia di tempat dimana ia berpijak sekarang setelah Zilian kembali dari urusannya ia pasti akan menemuinya dan jika dia berani maka jangan ikut campur dengan urusannya saat ini jika tidak Zilian terpaksa harus membunuhnya tidak peduli dengan aturan yang sedang ia emban saat ini.


Ia terkekeh miris saat melihat mayat disampingnya.


"Hm, baiklah akan kuturuti lagi pula aku sedikit merasakan minat padamu jadi ya sudahlah" ujarnya, ia memegang leher mayat di sampingnya dan dengan ajaibnya kepala yang awalnya terpisah itu kembali melekat dan anehnya mayat itu kembali hidup meski tanpa ada emosi disana.


"Kembalilah, jangan pernah menapakkan kaki lagi disini" perintahnya dengan nada yang amat teramat dingin nan menusuk.


"Baik yang mulia" ujarnya lalu menghilang dalam sekejab.


Dia kembali menatap arah kepergian Zilian dengan senyuman yang merekah sempurna.


"Aku tidak menyangka dapat bertemu denganmu disaat aku tengah iseng melarikan diri dari istanaku, pertemuan untuk kedua kalinya dan untuk pertemuan selanjutnya, hm sepertinya kau harus menunggu hingga waktunya memang lama tapi saat itu telah tiba maka kau tidak akan lepas dari genggamanku" ujarnya tampak begitu bertekad.


Bola matanya yang berwarna merah bersinar terang saat sinar rembulan menyinarinya dari atas sana.


"Akan aku tunggu kau datang ke kastilku sampai saat itu aku tidak akan kabur lagi dari sana jika tidak aku pasti akan bertemu denganmu sama saat pertama kali aku kabur" ujarnya terkekeh pelan.


Ia merapalkan mantra lalu sesuatu nan hitam pekat menyedotnya masuk kedalam lubang itu.










__ADS_1























Zilian memasuki sebuah rumah yang di dalamnya ternyata ada 2 sosok yang menunggu kedatangannya.


Zilian menghampiri mereka berdua dengan tatapan yang datar sedatar wajahnya juga.


"Bagaimana? "Tanya Zilian pada seorang pria remaja yang tidak lain adalah Erick.


"Semuanya telah aku bereskan bersama kakak itu, sisanya tinggal menyusup dan habisi mereka semua" ujarnya tegas berbeda dengan raut wajahnya yang terlihat agak sedikit cemas.


Zilian menyadarinya, ia mengelus puncak kepala Erick sekedar menenangkan pemuda itu.


"Sebaiknya kita bergegas sekarang" ujar Cecillia yang tampaknya kembali normal entah apa yang telah dia gunakan untuk menenangkan dirinya.


Sebelum melangkah lebih jauh lagi Erick dengan cepat menghentikan langkah kedua gadis itu.


"Tolong selamatkan penduduk desaku, kumohon kak aku mohon padamu" pinta Erick bersimpuh, air matanya luruh begitu saja.


Zilian menunduk, "aku akan membebaskan mereka, tak akan aku biarkan kau dan penduduk desamu mengalami perlakuan kasar lebih dari ini lagi, ah dan bisakah kau membantuku untuk sekali ini saja? "Ujar Zilian yang langsung Erick angguki.


"Katakan sesuatu yang seluruh penduduk desamu tahu semacam kata-kata yang hanya kau dan penduduk desamu ketahui" ujar Zilian yang membuat Erick terkejut, ia tampak ragu mengingat seluruh penduduk desanya yang sangat menjaga erat hal ini.


"Cepatlah aku tidak memiliki waktu lagi" ujar Zilian yang sejujurnya tengah mendesaknya.


"Baiklah, kami setiap bulan akan selalu menyebutkan nama tuan putri Victoria saat sebuah bunga membawa makanan untuk kami secara diam-diam, kami menyebutnya sebagai utusan Porsen, bunga pembawa kehangatan putri" ujar Erick.


Sontak Zilian termenung, sesuatu tiba-tiba saja menganggu hati dan pikiranya.


"Porsen? Tunggu aku merasa tak asing dengannya tapi apa? Terdengar tak asing juga asing secara bersamaan, ugh"


Zilian memegangi kepalanya yang terasa berdengung.


'Zilian, titisan, utama, aku dan dirimu, sama dengan kesatuan dan juga perbedaan'


Zilian terdiam dengan tangan yang mencengkram kuat kepalanya.


Cecillia dan Erick mendekati Zilian dengan wajah paniknya melihat Zilian yang tiba-tiba saja terkulai lemas.


'Aku menunggumu datang padaku, hentikan dia dan selamatkanlah dunia ini, tujuanmu dan aku sama tapi targetnya berbeda, ingatlah untuk mengikuti petunjukku dengan kata hatimu percayalah bahwa aku menunggumu dengan harapanku, ah dan satu hal lagi takdir dan alur telah berubah berhati-hatilah dengan orang sekitarmu ketika kembali'


'Aku menunggumu di tempat dimana sejarah kerajaan ini mengarah, tempat dimana sumber kesedihan tiap orang di tanah dingin ini berada, datanglah secepatnya jika tidak jalannya akan tertutup dan tubuhmu akan hancur bersamaan dengan dunia ini'


Dengan ajaibnya setelah ucapan aneh itu menghilang dari dalam kepala Zilian rasa sakitnya juga menghilang begitu saja seolah tak pernah terjadi sebelumnya.


"Zilian, ada apa denganmu? Jangan membuatku merasa cemas seperti ini,hey! "Ujar Cecillia yang langsung memeluk Zilian sambil terisak isak.


Zilian yang terkejut hanya dapat menatap Cecillia yang tengah memeluknya dan Erick secara bergantian.


"Ugh, sudahlah kita harus masuk sekarang" ujar Zilian, sebaiknya ia harus kembali secepat mungkin dan menyelesaikan urusannya dengan pria misterius tadi juga segera memperkuat pasukannya.


Entah kenapa ia merasa harus segera menyelesaikan urusannya ini dengan cepat lalu memastikan tempat yang ia pikirkan sekarang pada Gailen nanti.


"Ayo! "Teriak Zilian membentak saat Cecillia malah diam saja.


"Akan aku habisi mereka, mereka tak pantas hidup lebih dari hari ini, aku harus segera pergi dari sini" batin Zilian berjalan dengan langkah cepat tidak peduli lagi dengan Cecillia yang mengikutinya atau tidak yang jelas waktunya tidak banyak sekarang.


"Ah, baiklah" ujar Cecillia panik sendiri.


"Aku ikut! "Ujar Erick membuat Cecillia harus berbalik badan.


"Sebaiknya kau tunggu saja disini, percayakanlah pada kami berdua" ujar Cecillia menahan bahu Erick yang juga ingin masuk bersama.


"Aku tidak dapat membiarkan kalian dalam bahaya, aku tidak akan sanggup, kumohon biarkan aku.... "


Cecillia mengeleng keras, "aku tidak selembut Zilian, aku tidak akan membawa sebuah beban ikut bersama denganku lagi pula sejak kau memohon padanya harusnya kau tahu betul apa yang akan kau tanggung nanti, sebaiknya kau diam dan tunggu saja kami jika kau tetap tidak mendengarkanku maka akan aku pastikan penduduk desamu juga akan ikut habis ditanganku bersama dengan mereka" ancam Cecillia dingin.


"Apapun yang kau katakan aku akan tetap.... "


"Jangan memaksaku untuk menodai pedang ini" ujar Cecillia dengan aurah yang menguar deras menekan keberadaan Erick.


Zilian yang merasakan aurah Cecillia terpaksa menahan aurah gadis itu agar tidak masuk lebih dalam lagi.


"Cih, apa lagi yang dia lakuan? "Pikir Zilian yang terpaksa harus menunggu Cecillia ia tidak mau Cecillia melakukan hal-hal yang dapat membuat mereka lebih waspada lagi dan malah memperpanjang waktu.


Tidak lama setelahnya Cecillia muncul dengan raut wajah yang tertekuk.

__ADS_1


"Apa kau sadar dengan tindakanmu? "Tanya Zilian setelah Cecillia berada di hadapannya.


"Maaf aku terpaksa melakukannya jika tidak dia pasti akan ngotot mengikuti kita" ujar Cecillia memelas agar Zilian percaya padanya.


Zilian tidak membalas apapun, Zilian lebih memilih mendobrak pintu terakhir tepat berada di hadapannya.


Sontak orang yang berada di balik pintu itu kaget dengan suara dobrkan pintu, sepertinya dua sosok gadis tak di undang adalah pelaku pendobrakkan.


Seorang gadis dengan tampang yang begitu memikat layaknya seorang malaikat itu tengah terduduk santai di sofanya bersama dengan pria tampan di sampingnya.


"Menjijikkan, tampangnya begitu lembut seolah dia adalah malaikat berkedok iblis sialan sekali tapi aku bersyukur berkat kau aku dapat membereskanmu langsung disini tanpa perlu takut memancing banyak keributan dari penduduk lain" ujar Zilian yang kini berjalan memasuki ruangan.


Zilian menatapnya intens sedangkan Cecillia ia tengah menahan diri untuk tidak kelepasan lagi jika tidak nyawa tak bersalah juga akan terkena imbasnya.


"Aku adalah utusan Porsen bersama dengan rekanku, segera temui mereka dan putri kalian! "Teriak Zilian.


Sontak yang mendengar itu ada yang terkejut sekaligus bahagia mendengarnya, mereka berhamburan keluar untuk melihat putri yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya.


Hanya mereka yang mengerti yang keluar sedangkan yang tidak mengerti tentu saja diam menatap rekan mereka aneh.


"Lady Reese Amber Harlote putri satu-satunya keluarga Marquess aku telah datang menagih nyawamu" ujar Zilian yang membuat Reese cekikikan mendengarnya.


"Hm, ada juga orang yang berani menyebut namaku tanpa ada penghormatan, berani juga"


Ia menatap seorang gadis yang dari tadi berdiri di samping sofanya, ia memberikan sebuah isyarat untuknya.


Dan sesuai dugaan Zilian, gadis itu langsung bergerak menyerang Cecillia dan juga dirinya.


Zilian melawannya dengan mengayungkan pedangnya secara beruntun sedangkan Cecillia ia sibuk mengurusi suruhan Reese.


"Kekuatanmu memang lumayan tapi sayang aku tidak dapat meladenimu sekarang aku terburu-buru jadi akan segera kuakhiri" ujar Zilian yang langsung menyalurkan seluruh kekuatannya ke pedangnya hingga membuat pedang gadis itu terpental jauh darinya hingga tertancap cukup dalam pada sebuah tembok.


Zilian menekan tubuh gadis itu hingga berlutut di lantai dengan menggunakan sebelah jarinya sedangkan sebelahnya lagi tengah mengarahkan mata pedangnya ke leher gadis itu.


Cecillia tersenyum senang setelah Zilian berhasil melumpuhkan penghalang terbesarnya untuk mencapai Reese.


"Sudah siap untuk bertemu penciptamu? "Ujar Zilian berbisik di daun telinga Reese yang terkejut bukan main dengan kedatangan Zilian di belakangnya.


Zilian memainkan pisau buah di tangannya ia meremas kuat rambut Reese yang kebetulan tengah di gerai.


"Kalian kenapa.... "


Reese memandangi para pria sewaannya itu ketakutan saat melihat mereka tergeletak tak bernyawa serta darah yang mengucur deras dari dada mereka yang saat ini tidak memakai satupun pakaian.


"Terkejut? Hahaha, mereka hanyalah pria mainan untukmu bukan? Ck, sangat di sayangkan paras mereka begitu indah dan menggoda tapi harus mati muda di tanganku, tidak juga, mereka cocok untuk jadi pajanganku nanti lalu.... "


Zilian menatap Reese dengan seringaian di bibirnya.


Entah kenapa perasaan Reese mendadak tak tenang setelah Zilian menoleh ke arahnya, meski tidak dapat melihat raut wajah sosok mengerikan di hadapannya ini ia yakin bahwa Zilian tengah menatapnya dengan pandangan mengerikannya.


"Apa yang kau inginkan hah? "Ujar Reese mulai panik sendiri.


"Katakan siapa tuanmu" ujar Zilian.


Raut ketakutan Reese tergantikan dengan seringaian setelah mendengar ucapan Zilian.


"Baiklah jika itu mau mu tapi kau harus memastikan bahwa setelah aku mengatakannya kau akan membiarkanku hidup" ujarnya membuat Zilian terkekeh miris mendengarnya.


Zilian mengangguk saja, biarkan Reese bermain dengan mautnya sendiri sesuka hatinya.


"Katakan apapun yang kau ketahui tentangnya" ujar Zilian.


"Ya tapi sebelum itu.... "


Zilian dengan cepat mengarahkan ujung runcing pisaunya hingga menusuk kulit pipi halus Reese hingga gadis itu berteriak kencang.


"Perintahkan dia untuk mundur bersamaan dengan anak buahmu jika kau masih ingin hidup nyaman di kediamanmu, Lady manja" ujar Zilian sontak membuat gadis yang ada di balik bayangan Zilian berhenti melangkah.


"Cukup, jangan ada yang berani melangkah lagi! "Teriaknya ketar ketir.


"Bagus, Cecillia" ujar Zilian yang membuat Cecillia langsung memasang perisai disekeliling Zilian setelah merasa aman dengan Zilian ia beralih menyebarkan energinya yang penuh akan racun.


Zilian menatap lekat Cecillia yang telah berganti posisi dengan sisinya yang lain terbukti dari matanya yang berubah hitam pekat.


"Tenanglah, ini aku Cecillia dia meminjamkan kekuatannya padaku untuk membantumu padahal racunku juga tak kalah mematikannya dari racun miliknya" ujar Cecillia berdecih setelahnya.


Zilian mengangguk lega mengetahui itu adalah Cecilia jika bukan rencananya akan gagal detik itu juga.


"Sekarang katakan dengan cepat aku tidak akan mengampunimu jika kau berbohong sedikit saja" Ancam Zilian yang sukses membuat sekujur tubuh Reese melemas seketika.


"D-dia seorang pria, ak-aku tidak tahu wajahnya b-bagaimana tapi dia itu bukan salah satu dari o-orang penting kerajaan lalu d-dia sering membawa sebuah g-gelang perak dan ia memakaikannya di p-pingganya, usianya mungkin terlihat seperti seorang pria dewasa sungguh aku tidak tahu lagi, apapun yang berkaitan tentangnya sangatlah rahasia" ujar Reese dengan badan yang bergetar hebat.


"Apa kau yakin? "Ujar Zilian menekan pundak gadis yang ia sandera sekarang.


"Aku bersumpah! "ujarnya berteriak ketakutan.


Zilian tersenyum, akhirnya ia menemukan petunjuk baru, kali ini Zilian tidak perlu menyamar untuk memasuki istana atau terlibat dengan pihak istana, sekarang Zilian hanya perlu memperkecil skala pencariannya dengan membebaskan istana dari penyelidikannya


Meski Zilian harus mengirim beberapa orang sebagai mata-mata agar tahu tindakan yang mereka ambil hingga dapat meminimalisir kemungkinan terburuk nantinya serta untuk mengetahui rencana pihak lawan.


Zilian mencekik leher Reese hingga kehabisan oksigen dan selama tindakan kejinya gadis yang Cecillia tahan saat ini terus meneriaki nama nonanya dengan air mata yang luluh lantah.


"Sayangnya aku tidak dapat membiarkanmu hidup setelah urusanku dengan tuanmu selesai aku akan menemuimu di alam sana sebagai seorang putri pemilik alam itu" ujar Zilian setelahnya membakar tubuh Reese hingga menjadi abu.


"Kita Kembali sekarang" ujar Zilian yang di angguki Cecillia.


Keduanya berjalan keluar untuk menemui Erick sebelum itu Cecilia telah memasang perisai agar mereka tak dapat lagi keluar maupun melarikan diri hingga racun menyebar ke dalam tubuh mereka hingga mereka beNar-benar mati, hanya itulah akhir yang dapat mereka pilih.


Para penduduk desa Erick langsung bersujud ketika melihat Zilian keluar.


"Maaf atas kelancangan kami putri tapi mohon ikutlah dengan kami menuju desa kami, kami mohon" ujar salah satu dari mereka yang bertelinga runcing, ah tidak hanya dia saja tapi semua orang yang Zilian selamatkan ternyata bertelinga runcing.


"Baiklah, tapi aku ada urusan dengan seseorang terlebih dahulu" ujar Zilian jelas sekali ia tengah terburu-buru.


"Kami bisa menunggu anda hingga urusan tuan putri selesai" ujarnya tampak begitu tulus.


Zilian mengernyit saat mendengar kata tuan putri dari mereka terlebih ucapan mereka mengarah padanya.


"Duh, cobalah mengerti aku tengah terburu-buru sat ini dan ayolah jangan membuatku berfikir hal rumit lagi, sungguh aku tidak ingin menggunakan otakku disaat seperti ini jadi tolong biarkan aku pergi" batin Zilian benar-benar tertekan dan sangat tersiksa sekarang.


"Dengar, aku harus pergi sekarang tolong bawa temanku ikut dengan kalian, aku bisa mengurus masalah ini sendiri lalu kau Erick tolong jelaskan semuanya pada mereka bahwa aku bukanlah tuan putri kalian, jangan membuat mereka salah paham" ujar Zilian dan tampa banyak bicara lagi akhirnya Zilian pergi tanpa menghiraukan teriakan mereka.


Zilian melesat menuju tempat dimana ia membunuh mata-mata tadi dengan harapan sosok itu masih berada disana dan menunggunya.


"Aku harus menemuinya" batin Zilian semakin mempercepat langkahnya hingga mencapai batas maksimal.

__ADS_1


Berlanjutttt....


__ADS_2