
Di sisi lain di saat Medeia sibuk bertarung, Eva sibuk mengurus beberapa Klein dan wartawan yang terus mendesaknha secara paksa.
Eva harus meninggal kan organisasi itu untuk mengurus perusahaan dan menenangkannya, tapi karena Medeia tidak ada itu membuat situasi di kantor menjadi semakin memburuk.
"Sekretaris eva, bagaimana ini? Mereka semakin membanyak, jika tidak di henti kan maka situasi akan semakin memburuk"ujar salah satu karyawan.
"Tunda mereka semua, jangan biar kan mereka memasuki kantor"ujar Eva mengerut kan jidatnya.
"Sial, jika terus begini, takutnya aku tidak akan bisa menahan mereka"batin Eva.
"Eh? Apa yang terjadi? Mengapa awan mulai berwarna merah gelap? Apa jangan jangan? "Kaget Eva.
"Kalian! Jelas kan apa yang terjadi sekarang!!! "Marah Eva yang langsung menelpon Aerthan.
"Maaf sebelumnya kami tidak menghubungi mu, situasi di sini juga memburuk, banyak masalah yang terjadi, ku harap kau bisa mengerti"ujar Aerthan dengan nada serak.
"...... "
"Medeia berada dalam masalah besar bersama dengan Chaiden di markas pusat organisasi crashania"ujar Aerthan langsung menjelas kan.
"jika nona ku terluka sedikit saja kau akan menanggung akibatnya"
Eva menutup saluran percakapannya dengan Aerthan, ia di penuhi dengan rasa khawatir dan juga kesal akan apa yang terjadi.
Setahunya ini akan terjadi di malam hari tepat di bulan purnama, jadi ia tidak mengambil tinda kan yang gegabah.
Tidak ada cara lain lagi, Eva menerobos keluar dari gedung lantai 6 untuk pergi menyelamat kan Medeia tidak peduli apa itu nyawa sebagai taruhannya Eva akan tetap melindunginnya segenap jiwanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Medeia terluka parah akan serangan yang semakin mengganas dari Kei yang terus terusan menyerang tanpa henti.
Senyum dingin menghiasi wajah Medeia, memberinya kesan dingin yang memati kan, tentu saja ini tidak asing bagi key.
"Akan ku buktikan kalau kau lebih lemah dari ku"kesal Medeia berdiri dengan gemetaran.
"Ku mohon mengertilah, aku melakukannya juga untuk kebaikan kita berdua"ujar Kei memelas.
"Berani beraninya kau mengatas nama kan ku dalam rencana busuk mu? Kau sudah menjebak manusia dan juga memanfaat kan mereka, menambah kan kebencian ku terhadap manusia agar aku tidak ikut campur"
"Menjijik kan, aku sebagai Medeia akan membalas dendam manusia dan mulai kedepannya aku akan melindungi mereka, sekarang mereka adalah rekan ku"ujar Medeia bersumpah dengan menggores ujung jarinya lalu menggambar sebuah segel.
"Apa kau gila? Mahkluk seperti kita tidak akan bisa bersatu dengan manusia! "Bentak Kei.
"Terlambat, jika memang tidak bisa aku akan membuatnya menjadi bisa"dingin Medeia.
"Kau melanggar aturan bangsa kita"ujar Kei berusaha mengigat kan.
"Lalu memangnya kenapa? Jika kau tidak melakukan hal picik seperti ini mana mungkin aku akan melakukannya? Aku tidak seperti kalian yang tidak memiliki hati"
"Klan ku mengerti yang mana benar dan yang mana salah, jika kami sudah memutus kan maka tidak akan ada yang bisa menyangkalnya sekali pun itu adalah penguasa bangsa yang serupa"ujar Medeia menyerang balik.
Kei tersenyum kecut mendengar apa yang tidak ingin ia dengar sekarang ia dengar dengan sangat jelas "maka tidak ada lagi yang harus aku lakukan"ujar Kei membuat formasi.
Medeia mengambil ancang ancang perlindungan diri, formasi yang di buat Kei itu bukankah formasi biasa, formasi ini hanya di miliki dari klannya yaitu klan suku iblis darah yang mampu menghancur kan kawasan sesuai mode hancur yang ia ingin kan.
"Maaf kan aku, aku tidak ingin kau hidup dengan alur takdir yang menyedih kan ini, seberapa keras kau ingin menhenti kan ku aku tidak akan berhenti sampai dunia yang hanya kita berdua yang ada"ujar Kei mengaktif kan.
"dan orang itu harus mati"mengendali kan iblis darah dingin dan iblis racun gelap.
"Sialan"
Medeia berpindah dengan cepat untuk melindungi Chaiden yang masih belum sadar kan diri dari serangan mematikan.
TES.... TES...... TES.......
__ADS_1
Darah Medeia mengalir, tubuhnya terasa kaku mati rasa, penglihatannya mulai buram, perlahan Medeia ambruk dan tersungkur ke lantai dengan tubuh yang lemah dan gemetaran.
Bagi Medeia luka seperti ini memang tidaklah Medeia rasa kan karena rasa sakit yang sebelumnya ia rasa kan berkali kali lipat lebih menyakitinya dari pada tertusuk pedang atau pun di sayat dengan pisau yang tajam.
Hati Medeia sudah lama membeku, rasa sakit sudah tidak pernah ia rasa kan, sedih, duka dan juga bahagia. Perasaan tidak lagi ia rasa kan.
Tapi mengapa hatinya tidak tega melihat pria itu tersungkur lemah tak sadar kan diri? Hatinya mulai bertanya tanya mengapa bisa begini? Ia benci merasakan emosi apa pun.
"Mengapa? Demi manusia hina sepertinya kau rela mengorban kan nyawa mu untuknya? "Kesal Kei.
"Entahlah, tubuh ku reflex melindunginnya, ada rasa yang aneh yang sudah lama tidak ku rasa kan kembali ku rasa kan sekarang"lemah Medeia yang terus berusaha untuk tidak kehilangan kesadarannya.
"Berhenti berpura pura kokoshi! Ini bukan diri mu yang dulu, kokoshi yang dulu tidak pernah menghirau kan rekan setimnya meski ia akan mati sekali pun"teriak Kei tidak terima.
"Berisik, biar kan aku tidur dengan nyenyak, jik kau menganggu ku kau akan ku pasti kan Chaiden akan membuat mu menjadi abu"jengkel Medeia.
Kesadarannya mulai pudar begitu pula tangan Medeia yang berhenti menggenggam tangan Chaiden.
"Gadis ini masih sempat menolong nyawa ku yang sekarat tanpa melihat kondisinya yang juga sekarat, Ck akan ku pasti kan pria ini membayarnya dengan bayaran yang sepadan"batin Chaiden.
"Gara gara kau, kokoshi terluka parah! jika keadaanya semakin memburuk kau akan membayarnya dengan nyawa mu" kasar Kei.
"Kau tidak pantas menyebut namanya"dingin Chaiden.
"Dan kau tidak pantas untuk menjadi pahlawannya"balas Kei dengan nada tajam.
"Maka mari bukti kan"Chaiden menyebar kan kekuatannya ke seluruh ruangan untuk memperjelas situasi apa yang akan terjadi kedepanya.
Pertarungan di antara mereka semakin ganas, Chaiden tidak lagi segan untuk membunuh siapa pun yang ada di depannya kali ini.
"Pecundang, mengandal kan kekuatan orang lain dengan tubuh mu yang sekarat ini hanya akan memperburuk kondisi mu"ujar Chaiden yang masih fokus mengamati pergerak kan Kei.
"Bukan kah kau juga terluka parah? Bahkan luka mu lebih besar berkali kali lipat dari luka yang ku alami"ujar Kei meremeh kan.
"Sepertinya waktu ku tidak terlalu banyak, aku tidak ingin Medeia menunggu terlalu lama hanya karena pecundang seperti mu"ujar Chaiden mulai serius.
Sebelum Medeia kehilangan kesadarannya ia diam diam menyembuh kan luka dalam Chaiden dengan menggandal kan kekuatan tanda teratainya yang mengguna kan resepsi ke jiwaan.
Jiwa Medeia juga kini dalam bahaya, Ia tau jika dia menggunakannya nyawanya hanya memiliki peluang hidup yang sangat kecil maka dari itu Medeia sengaja meninggal kan separuh dari energinya ketika Chaiden ke habisan energi ia tidak akan terluka parah.
Energi yang Medeia miliki memiliki banyak fungsi selain energi yang tidak terbas energinya juga bisa menyembuh kan luka secara perlahan meski itu memakan sedikit waktu.
"Waktu bermain sudah habis, luka yang kau beri kan akan ku kembali kan "ujar Chaiden mengepak kan sayapnya.
Chaiden melepas kendali iblis darah dingin dan iblis racun kegelapan secara menyeluruh dari Kei yang menatap kesal ke arah Chaiden.
"Terimakasih sudah membebas kan ku"ujar iblis darah dingin menghormat.
"Orang yang sebenarnya membebas kan mu itu bukanlah aku tapi dia, aku hanya membantunya untuk mengalir kan kekuatannya ke setiap aliran pernafasan kalian"dingin Chaiden.
"Aku sudah tahu, serah kan sisanya pada kami"ujar iblis darah dingin.
Keduanya meninggal kan ruangan menuju ruangan formasi manusia peledak untuk menghenti kannya, mereka memiliki peran masing masing, iblis darah dingin menghenti kan formasi sedang kan iblis racun gelap memberes kan anggota yabg tersisa dan melepas segel di mensi.
"Tidak ku sangaka mereka melakukannya pada ku"senyum Kei pasrah.
"Anggap saja ini sebagai karma untuk mu, memanfaat kan orang lain tanpa memikir kan kejadian yang akan menimpa mu di masa yang akan mendatang"
"Bagaimana pun kau tidak bisa di sama kan dengan mereka berdua, kekuatan mu dengannya berbeda jauh, jika mengandal kan kekuatan klan mu yang begitu kuno ini heh.... " remeh Chaiden.
"Jika tidak salah ingat kau adalah keturunan orang itu bukan? Tidak heran kau mewarisi kekuatan memati kan ini"ujar Kei dengan kesadaran yang mulai menghilang.
"Lebih tepatnya, ini aku! Jangan mengira kau sudah lupa dengan ku?! "
Suasana berubah menjadi mencengkam, udara mulai menipis, seketika seluruh ruangan itu tidak di aliri dengan udara bahkan suhu di dalam ruangan itu mendadak dingin.
"Mengapa kau ada di sini? "Ujar Kei berusaha menjauh.
"Sudah cukup kau menyakiti mereka berdua, aku akan membalas kan nyawa prajurit ku yang gugur dan juga rasa sakit yang ia alami"ujar sosok itu mengambil alih kesadaran Chaiden.
"Sial, ternyata kau belum musnah"kesal Kei.
"Bagaimana aku bisa musnah dengan begitu mudah di tangan cecunguk seperti mu?! Mimpi, setelah kau mati aku akan lebih tenang untuk meninggal kan dunia ini"ujarnya.
Sosok itu mulai mengerak kan jarinya, kekuatannya keluar, kekuatannya mengangkat tubuh Kei yang sekarat dan menempelkannya di dinding.
Ia mengepal tangannya lalu mendarat kan pukulannya di kepala Kei yang membuat seluruh bagian tubuhnya tak tersisa, organ tubuhnya berhamburan di ruangan itu dan darahnya memenuhi ruangan.
"Darah ini sudah mengotori pakaian ku, sebaiknya aku kembali membersih kannya dulu. Eitsh.... "
__ADS_1
Sosok itu berhenti, ia keluar dari tubuh Chaiden, tidak perlu berbasa basi sosok itu tanpa pikir panjang menghilang kan ingatan yang barus saja ia lihat.
"Maaf anak muda, kau tidak pantas tau terlalu banyak soal ku, ini akan sedikit sakit, semua yang terjadi anggap saja ini kau sendiri yang selesai kan, semoga bertemu kembali"
Kumpulan energi itu memudar dan perlahan menghilang, dengan udara dingin yang juga berubah kembali ke suhu yang sebenarnya.
BRAK
Iblis darah dingin dan iblis racun gelap mendobrak pintu dengan keras membuat Chaiden kaget dan menatap tajam ke arah mereka berdua dengan wajah kesal bercampur kebinggungan.
"Aku yakin sekali, energi yang begitu kuat! Tidak salah lagi dia sudah kembali! Tapi mengapa hanya kumpulan energinya saja yang ia keluar kan siapa orang yang begitu ia lindungi? "Batin iblis darah dingin.
"Masih belum bisa di pasti kan alasan mengapa ia menampak kan diri yang jelas ia sudah membalas kan dendam pasukan dengan baik, aku akan segera menemukan diri mu di mana pun kau berada, kau memang tidak akan mudah mati "batin iblis racun gelap.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
VILA PRIBADI MEDEIA EPERANTO
Setelah beberapa hari mengalami perawatan dari Eva akhirnya Medeia sadar, Eva yang senang langsung memeluk Medeia dengan tangisan pecah.
"Syukurlah anda baik baik saja yang mulia"tangia Eva memeluk erat Medeia.
"Aku sudah sadar, apa lagi yang kau takut kan hm.....? "Goda Medeia mulai iseng.
"Eva sangat khawatir melihat anda tidak sadar kan diri dengan kondisi yang sekarat, jika bukan karena tanda yang di waris kan ibu ratu klan kita, mungkin anda sudah tidak tertolong lagi"ujar Eva menyeka air matanya.
"Mulai sekarang anda akan di bawah pengawasan saya, tidak peduli anda akan menghukum saya atau pun membunuh saya sekali pun itu tidak masalah asal kan anda tetap aman saya rela melaku kan apa saja untuk keselamatan anda"ujar Eva berbicara tanpa henti.
"Perusahaan juga mulai mengalami kekacauan sejak anda meninggal kan perusahaan, Klein dan wartawan setiap hari datang di depan kantor siang dan malam bahkan mereka mendiri kan tenda seakan akan mereka sedang piknik"oceh Eva.
"Bla bla bla"
Medeia tersenyum kecut ia mengerut kan alisnya mendengar Eva berbicara tanpa henti mulai dari apa yang terjadi selama Medeia tidak sadar kan diri hingga membahas soal penjagaan ketat dan juga soal kesehatan Medeia untuk kedepannya.
"Cukup cukup, jika kau terus mengoceh telinga ku tidak akan berfungsi dalam beberapa waktu"ejek Medeia.
"Berhenti mengoda ku yang mulia, kesehatan anda lebih penting dari segalanya "serius Eva.
"Itu bagi mu, bagi ku tidak"memancing emosi Eva.
"Argh...... Yang mulia anda harus ku kirim kembali ke klan dan akan ku lapor kan pada raja nanti soal kenakalan anda"kesal Eva.
"Ayah baik baik saja? "Senang Medeia.
"Now.....!!! Jangan bergerak, argh..... Diamlah luka mu akan memburuk"panik Eva.
"Bukan kah ini terlalu keterlaluan? "Ujar Medeia tanpa expresi.
"Diamlah, dasar anak tidak tau diri, berani beraninya kau melukai hati ayah mu ini, aku kira kau akan mati hiks hiks anak ku ini, sampai kapan akan seperti ini"dramastis Aiden.
"Ayah aku merindu kan mu"lompat Medeia.
Medeia memeluk erat Aiden ia bersyukur ayahnya sehat dan kembali dari neraka yang di buat oleh Kei.
"Anak ku, akhirnya kau kembali merasa kan emosi. Ayah mu ini bersyukur kau bisa menjalani hidup dan merasakan emosi mu kembali, kau benar benar mirip dengan ibu mu"ujar Aiden menyeka air mata.
"Aku senang mendengar aku mirip dengan ibu, aku akan berusaha untuk menjadi lebih kuat untuk mencari di mana ibu berada sekarang"ujar Medeia menguat kan diri.
"Berusahalah"ujar Aiden menyemangati.
__ADS_1