Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 65


__ADS_3

...~~~~...


Setelah kembalinya Zilian dari pelelangan dia terus saja menyibukkan dirinya dalam kamar dan sesekali keluar untuk datang ke taman sekedar menenangkan pikirannya yang terasa gundah.


Hanya itu yang dia lakukan selama 2 hari belakanga ini, Alastor dan Gailen juga dibuat bingung dengan tingkah laku Zilian yang terus diam meski di tanya alasannya, satu hal lagi Gailen sering mendapati Zilian termenung ditaman seorang diri hingga berjam-jam lamanya.


Untuk Alastor, dia disibukkan dengan tugas barunya, sebenarnya ini atas keinginannya sendiri untuk membantu Zilian mencari informasi penting dan dia melakukannya setelah menguping gumaman Zilian saat berada di kamarnya secara kebetulan.


Kembali pada Zilian yang tengah menghabiskan waktunya di dalam hutan, ia sibuk membunuh para monster dengan pedang barunya yang tidak lain adalah sebuah samurai berwarna hitam di sertai dengan garis biru tua di tengah mata pedangnya.


Merasa lelah akhirnya Zilian memilih mengistirahatkan tubuhnya diatas salah satu pohon dengan ukuran yang lumayan besar.


Zilian duduk di sebuah cabang pohon lalu menyandarkan punggungnya disana sambil mencabuti daun pohon yang ada di dekatnya.


"Ini jelas tubuhku tapi kenapa aku merasa tidak nyaman dan tubuh ini terasa sedikit asing untukku, sebenarnya apa yang terjadi padaku? "Ujar Zilian menatap tangannya dengan pandangan rumit.


"Jika putri itu mati ada kemungkinan ini adalah tubuhnya dan jika dia masih hidup itu berarti tubuh ini adalah tubuhku, benar aku harus segera mengembangkan kekuatan fisikku lalu segera membereskan mereka, entah kenapa aku ingin sekali ke pulau itu" ujar Zilian dia benar benar lelah akhir akhir ini.


Zilian harus menemukan kebenaran akan dirinya atau dia tidak akan tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya entah tetap menjalankan indentitas palsu atau menggantikan posisi sang putri demi mendapatkan kekuatan tambahan.


Setidaknya Zilian harus tetap fokus dengan tujuannya saat ini, ia perlu mendirikan organisasi rahasianya bersama dengan Gailen dan Alastor alih-alih memikirkan dirinya sendiri tentu karena dia harus pulang ada yang menunggunya disana.


"Semua akan terungkap jika Alastor kembali dari penyelidikannya, akan kulihat kebenarannya nanti, ugh.... "Zilian meringis saat merasakan suhu disekitarnya menipis, semakin dingin.


Zilian menajamkan pendengarannya dan penglihatannya, insting membunuhnya tiba-tiba saja terpicu.


Tatapannya yang tajam menelisik ke seluruh dataran bersalju disekitarnya.


Seiring menurunnya suhu disanalah Zilian dapat menemukan sesosok berjubah biru tua dengan sebuah pedang yang berada di pinggangnya tengah menatap tajam ke arah monster yang telah Zilian bantai tadi.


Sorot matanya memancarkan kesedihan dan kekosongan disaat yang bersamaan, Zilian dapat melihatnya dengan jelas.


Zilian terdiam sesaat pandangannya menemukan sesuatu di dada kiri sosok itu.


Senyuman tipis terukir diwajah cantiknya saat tahu lambang apa itu.


"Hoh? Pangeran kerajaan ini rupanya, sungguh sial aku bertemu dengannya hari ini" ujar Zilian menghela nafas agak gusar akan takdirnya yang kurang beruntung hari ini, untung saja aurah dan energinya telah ia kunci sebelum masuk ke wilayah bersalju ini.


Satu hal yang sangat disayangkan Zilian adalah salah posisi, ia hanya bisa diam di tempatnya hingga pangeran kerajaan menyusahkan itu pergi.


"Menjengkelkan, cepatlah pergi aku ada urusan" gumam Zilian mengumpati Fiberyt dari atas pohon.


Zilian tidak datang kemari hanya untuk membantai para monster penunggu hutan ini tapi ada niat lain untuk mengunjungi sebuah tempat yang akan dia jadikan sebagai markas untuk organisasi rahasianya.

__ADS_1


Membuang waktu hanya untuk berlatih dengan para monster jelek itu, Zilian dapat dengan senang hati menyuruh Alastor atau Gailen untuk menemaninya berlatih dan itu lebih menyenangkan dibanding melawan para monster yang sama sekali tidak dapat menangkis maupun melawan balik serangannya.


"Apa dia kurang kerjaan? Ini sudah lebih dari setengah jam dia memandangi mayat itu, sialan pantatku rasanya sedikit kebas" batin Zilian mengeluh tanpa henti sejak kedatangan Foberyt yang masih menetap disana.


"Apa dia berniat tetap disana hingga dia mati? "Umpat Zilian semakin dibuat kesal.


Zilian tersentak saat Fiberyt tiba-tiba saja berjalan ke arah pohon dimana Zilian berada, sontak saja tubuhnya menjadi kaku di sertai keringat dingin di wajahnya.


"Oh ayolah, aku tidak ingin bertemu denganmu sialan! Jika bukan karena tujuanku kemari sudah ku pastikan kau akan berubah menjadi patung es, cih pergi kau dari sini brengsek! "Teriak Zilian dari dalam hati, mana berani dia bersuara bergerak saja tidak entah kenapa nyalinya sedikit menciut.


Zilian memang masuk kedalam hutan seorang diri tapi sebenarnya dia tidak sendiri karena Alastor mengikutinya setelah mendengar kabar bahwa Zilian memasuki hutan tanpa ada yang mengawalnya dan dengan senang hati Alastor meninggalkan misinya.


Dibandingkan tugas ataupun misi dia lebih mementingkan Zilian, baginya Zilian adalah hidupnya.


Dengan senang hati Alastor akan senantiasa melindungi Zilian walaupun tidak dibutuhkan dia akan tetap melakukannya, melindungi Zilian adalah prioritas utamanya sekarang.


Sekarang Alastor tengah mengawasi Zilian dari kejauhan tanpa Zilian ketahui, sulit bagi Zilian mengetahui keberadaan Alastor yang entah sekuat apa hingga membuat Zilian tidak dapat merasakan keberadaannya.


Melihat Zilian dalam kesulitan, Alastor segera menarik perhatian para monster dengan sebuah tanaman ke arah Fiberyt.


Sebelum kemari dia sudah tahu Fiberyt dan Duke Harold akan kemari tapi tidak disangka mereka satu jalur dengan jalur yang di lewati Zilian padahal hutan ini lumayan luas.


Karena itulah dia lebih dulu mengikuti Duke Harold lalu meletakkan sebuah surat dengan aurahnya yang dia tinggalkan di surat itu bersama dengan sebuah sapu tangan, setelah itu diapun pergi menuju lokasi dimana Zilian berada.


"Sudah waktunya" gumam Alastor sambil mengaktifkan aurahnya di surat itu setelah merasakan aurah Duke Harold dia langsung menghilangkan keberadaan aurahnya.


Alastor terus melempar tanaman yang sama, menarik semua monster agar menyerang kearah Fiberyt tapi itu tidaklah cukup mengingat kekuatan Fiberyt yang begitu luar biasa dahsyatnya.


Sesuai dengan rencana akhirnya Harold datang menemui Fiberyt dan saat itu juga Alastor berhenti menarik perhatian para monster setelah Harold ikut bergabung membantai para monster.


"Ada apa? "Ujar Fiberyt saat Harold datang menemuinya dengan membawa sebuah sapu tangan dan surat di tangannya.


"Ada pergerakan dari faksi bangsawan tampaknya mereka mengincar pulau With yang mulia" ujarnya melapor.


"Perintahkan Miles untuk berjaga disana sekarang, aku yang akan menangani daerah barat hutan ini, mereka telah lama berbuat sesuka hati sudah saatnya" ujar Fiberyt tersenyum tipis.


"Baik yang mulia" balas Harold menunduk.


"Kau kembalilah ke istana dan lakukan aktivitas seperti biasnya" ujar Fiberyt yang langsung dijawab oleh Harold. Fiberyt kembali menatap pohon dimana Zilian berada.


"Ada apa yang mulia? "Tanya Harold yang ikut menatap kearah yang sama setelahnya mengukir senyuman tipis, tidak sia-sia juga ia berpura-pura di depan Fiberyt sekarang.


"Tidak apa, lakukan saja tugasmu" ujar Fiberyt beralih menatap Harold datar.

__ADS_1


"Baik yang mulia berhati-hatilah" ujar Harold menepuk pundak Fiberyt dua kali, kode untuk keduanya.


Setelah mendapat anggukan dari Fiberyt diapun langsung menghilang menyisakan Fiberyt sendiri.


Melihat Harold telah menjauh darinya kini ia semakin menyebarkan hawa dingin disekitarnya untuk menekan keberadaan Zilian.


"Keluar" ujar Fiberyt menatap sosok Zilian dari bawah pohon dengan aurah yang begitu mengintimindasi.


Zilian diam, ia menutup wajahnya dengan topeng Dark Blue saat Harold datang, dia tahu Fiberyt mengetahui keberadaannya maka dari itu dia lebih awal melakukan tindakan.


Zilian membalas tatapan Fiberyt tak kalah dinginnya dari atas sana tanpa ada niat untuk menghampirinya sama sekali.


"Sudah kuduga, orang sehebat dirinya tidak mungkin tinggal diam, sehebat apapun aku menyembunyikan keberadaanku dia akan tetap merasakannya karena ini adalah wilayah kekuasaanya, utunglah aku lebih awal menutup wajahku" batin Zilian bernafas lega.


"Siapa kau? "


Interupsi itu membuat Zilian mengulas senyuman dibalik topengnya, dia tidak boleh mengeluarkan suara apapun atau Fiberyt akan terus menganggunya terlebih jika dia mendengar suaranya dapat Zilian pastikan pria itu akan terus mengingatnya dan itu akan mempersulit dirinya nanti.


Sebuah es tajam nan runcing melesat kerah Zilian yang duduk santai disana tentu dengan tatapan yang kelewat santai.


Alastor muncul menahan serangan itu untuk Zilian tidak lupa Alastor membantu Zilian menyematkan energinya agar dapat menemui pangeran yang tengah memperhatikan Zilian dari bawah pohon.


Alastor tahu tujuan Zilian kemari dan memutuskan untuk membantunya karena itulah dia bersedia melakukan penyelidikan tanpa ada perintah apapun dari Zilian.


Sama halnya dengan Zilian, Alastor juga mengenakan sebuah topeng hitam polos dengan ukiran emas di sisi kiri topeng, ukuran topeng itu full dengan wajahnya sama dengan milik Zilian.


Secara perlahan Zilian turun dari atas pohon dibantu Alastor, setelah menginjakan kakinya diatas salju Zilianpun berjalan pelan menghampiri Fiberyt di ikuti Alastor di sampingnya.


"Salam yang mulia" ujar Alastor hanya menyapa, ia tidak akan membungkuk terkecuali itu pada Zilian dia akan senang hati melakukannya.


"Siapa kalian? "Tanya Fiberyt yang mempertipis jaraknya dengan Zilian.


Alastor dengan sigap mengubah posisinya membelakangi Zilian, meski tubuhnya lebih munggil tapi energi kegelapan darinya sangatlah pekat itu berhasil membuat Fiberyt menghentikan langkahnya.


"Anda tidak ingin terjadi pertumpahan darah bukan? "Ujar Alastor dingin, jelas sekali dari ucapannya yang terdengar mengancam.


Fiberyt tidak menjawab dia hanya sibuk memperhatikan Zilian, dengan terpaksa Alastor mengacungkan belatinya.


"Saya yakin dia pasti akan mati jika anda tidak bergerak sekarang" ujar Alastor memperingati.


Dengan terpaksa Fiberyt berbalik lalu melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


"Kita juga memiliki urusan, Alastor" ujar Zilian menginterupsi.

__ADS_1


Alastor mengangguk pelan, ia mengikuti Zilian yang berjalan kearah selatan.


Berlanjutttt....


__ADS_2