
Ujian kini selesai seluruh siswa keluar dengan hati yang tidak tenang kecuali tiga orang yang menganggap tidak ada hal hal yang perlu di khawatirkan.
Rika mengumumkan bahwa setengah jam lagi akan di umumkan, para siswa saling menatap ada juga yang mulai melupakannya dan mulai mengenal satu sama lain.
Di sisi lain Medeia tersenyum senang melihat calon siswa yang akan bergabung dengannya begitu berpikir dewasa, tapi bagaimana pun ujian yang sebenarnya akan di mulai.
Chaiden keluat bersama dengan Medusa untuk mengamati kegiatan mereka yang tengah beristirahat, Medusa pergi ke kantin untuk bergabung dengan para siswa baru sedangkan Chaiden pergi mengamati siswa MBV (nama siswa yang memiliki kekuatan).
Salah satu dari mereka ada yang duduk di tepi danau milik sekolah dengan memain mainkan air, ada juga yang duduk di atas pohon bersantai, ada yang tengah sibuk memeluk boneka beruang sambil membaca buku.
Mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing masing sama dengan Chaiden yang juga sibuk mengamati mereka hingga tidak menyadari bahwa nyawanya terancam.
"Tidak baik loh menguntit kegiatan kami"ujar boneka anak kecil itu.
"Sejak kapan? "Kaget Chaiden menatap tajam anak itu.
Anak itu mengerakan jari jari munggilnya untuk memperdekat tangan bonekannya yang tengah mensayat leher Chaiden. Sayatannya begitu menyakitkan dari pisau tajam sekali pun.
"Lain kali jangan bertindak seperti ini, kakak"ujar anak itu tiba tiba berada di depan Chaiden.
"Huh.... jika aku masih melakukannya? "Ujar Chaiden dingin.
"Kalau begitu, lain kalinya lagi aku tidak akan membiarkan mu lagi"dingin anak itu berlalu pergi.
Chaiden menatap anak itu dengan senyuman tipis, padahal terlihat mengemaskan, siapa yang menyangka dia itu iblis kecil yang tidak memiliki perasaan.
"sifatnya agak mirip dengan Medeia tapi Medeia masih memahami perasaan rekannya, entah apa yang tersembunyi pada diri anak itu"ujar Chaiden berlalu pergi.
Setengah jam telah berlalu, Rika memberi isyarat agar para siswa segera berkumpup ke lapangan untuk menerima laporan penerimaan siswa di papan tiga dimensi.
Mereka berbondong bondong ke lapangan melihat apakah mereka lulus atau tidak, mereka melotot tak percaya atas apa yang mereka lihat di depan mata mereka.
"Apa ini? "
"Ujian lagi? "
"Kenapa mereka menyuruh kita mempertimbangkan hal konyol seperti ini? "
"Dengarkan, nama yang ada di layar kami keluarkan, untuk yang di terima silahkan memilih jawaban kalian sendiri lalu pilihlah tiga warna yang ada di sana"ujar Rika memandu.
"Kenapa kami keluar? "
"Benar, apa yang kalian lakukan benar benar tidak propesional"
"Benarkah? "Ujar Rika dingin.
Rika menampilkan layar saat mereka diam diam menyontek, ada juga yang tengah bermain main saat ujian, tapi alasan terakhir membuat mereka saling menatap tidak percaya.
"Ujian yang sebenarnya adalah, menguji kefokusan kalian dalam mengerjakan kewajiban kalian, saat penugas Eva menjelaskan peraturan kalian seharusnya memperhatikan setiap kata dengan teliti, jawaban dari soal terakhir ada di penjelasan petugas"
"Apa kalian masih berani mengatakan ucapan yang anak itu ucapkan tadi? "Dingin Rika.
"Haiyahhhhh.... Tidak perlu terlalu keras terhadap mereka, bagaimana pun mereka ini masih pemula"ujar Medusa tersenyum ke arah layar.
"Jalan kan tugas mu dulu Medusa, jika tidak jangan salahkan kalau aku melaporkan tindakan mu pada ketua"ancam Rika.
"Tenanglah, apa yang ku lakukam sekarang tidak akan mempengaruhi tugas ku"enteng Medusa.
"ujian di mulai"ujar Rika langsung memulai ujian.
"Bagaimana mungkin aku akan memberi mereka waktu untuk memikirkannya, lebih baik di mulai dengan cepat saja"batin Medusa.
Mereka mulai menjalankan ujian dengan serius, Medeia memperhatikan anak itu dengan teliti dan ternyata dia memang sudah tahu dari awal.
"Anak itu seperinya bodoh"ujar Violet langsung berhenti ketika masuk.
"Ah...... "
"Kenapa aku tidak tahu kalau mereka sengaja menggunakan ilusi untuk menjebak kami yang memiliki kekuatan? "Kesal Violet.
"Heh..... Apa kaliam tidak bisa menghunakan energi kalian sebelum masuk? "Dingin Hanabi masuk.
"Kau juga sama dengan ku? "Bingung Violet.
"Lalu kenapa? "Ujar Hanabi berjalan tanpa mempedulikan Violet.
"Sepertinya kau cukup hebat dalam mengendalikan kekuatan mu"ujar Violet menyamakan langkah kakinya dengan Hanabi.
"Kedepannya kau sebaiknya memperhatikan setiap keputusan mu lalu melangkahlah"ujar Hanabi menghilang tanpa jejak.
"Oh iya kakak cantik sebaiknya jangan mengandalkan kecantikan kakak, karena takutnya nanti kakak sendirilah yang akan menyesal"ujar Hanabi berlalu pergi.
Violet tersenyum dingin, sepertinya harga dirinya kali ini benar benar tidak dapat lagi di tolong, padahal dia sendiri sengaja menyembunyikan kekuatannya yang sebenarnya.
__ADS_1
Di sisi lain siswa lainnya sedang mencari jalan keluar dari labirin berkabut itu, siswa MBV lainnya juga kini memutuskan untuk saling membantu dengan menggabungkan kekuatan mereka.
"Sepertinya mereka bertujuan menguji kami bukan menguji mereka yang biasa biasa saja"ujar Jay mengamati sekelilingnya.
"menyebalkan"kesal Minho memukul tembok dengan keras.
"heh.... Mau mengandalkan kekuatan? Sebaiknya mengandalkan otak saat situasi seperti ini"ujar Cloude menemukan jalan ketiga dari labirin.
Berbeda dari mereka dia lebih pendiam, tidak peduli apa yang terjadi di sekitarnya asalkan tujuan utamanya selesai dia sendiri tidak akan mempermasalahkanya. Dia berjalan menelusuri jalan tanpa mempedulikan teriakan mereka yang begitu berisik.
"Hai kak"ujar Hanabi tiba tiba berada di depan Alpha.
".... "
"Heh.... Kakak sebaiknya berhati hati ketika bertemu dengan kakak Chaose, aku merasa dia mengincar kakak"ujar Hanabi menasehati Alpha.
"Tidak perlu memberitahu ku, aku pun sudah tahu tujuannya dari awal"ujar Alpha tidak menyadari kalau dia sedang berbicara dengan orang asing.
"Suara mu begitu lembut kak Alpha"ujar Hanabi mengingatkan.
".... "
"Sampai bertemu di akhir nanti, semoga aku bisa mempertimbangkan mu, jadi jangan sampai kalah dari seorang anak bau kencur sepertinya"ujar Hanabi menghilang.
"Sepertinya kau perlu memikirkan perkataan mu sebelum mengucapkannya"ujar Alpha dengan tatapan kosong.
Dua jam sudah berlalu seluruh murid MBV sudah keluar, siswa biasa lainnya tengah mengalami ilusi tak bertepi milik Medeia yang membuat mereka terjebak di dalam labirin itu.
"Kejam sekali"ujar Violet.
"Sepertinya kita sudah salah masuk ke dalam sekolah ini"ujar Jay.
"Maka pertimbangkanlah keputusan mu sebelum kau memasuki sesuatu yang akan kau sesali"ujar Cloude bersandar di tembok.
"Sepertinya kau terlambat keluar dari labirin ini? "Remeh Violet.
"Tidak perlu terburu buru lagian ujian ini memang sengaja di buat untuk kita bukan? "Ujar Chaose.
"Berisik"dingin Hanabi.
"Sejak kapan ada anak kecil bergabung dengan kita? "Ujar Jay memperhatikan Hanabi dengan teliti.
"Kakak sebaiknya belajar etika deh, takutnya kakak ini akan kehilangan mata jika masih berlama lama menatap ku! "Kesal Hanabi.
"Kalau begitu ku biarkan kau merasakan bagaimana rasanya kehilangan mata"ujar Hanabi menjentikan jarinya.
Seketika Jay merasa matanya di hancurkan berkeping keping, ia berteriak dengan keras meminta Hanabi untuk menghentikannya tapi Hanabi tak kunjung melakukannya.
"Kau kira aku akan mengampuni mu dengan mudah? Jangan mimpi kakak"kejam Hanabi.
Alpha menepuk pundak Hanabi mengisyaratkannya untuk menghentikan kelakuannya, melihat Alpha yang menatapnya dengan tatapan kosong membuat Hanabi memikirkan tindakannya.
"Heh.... Jika ini bukan di lingkungan sekolah aku tidak akan segan mengambil jiwa mu, sayang sekali"ujar Hanabi mengaktifkan segel penyembuhan.
"Lain kali jika aku menemui mu membicarakan ku, aku tidak akan mempedulikan di mana aku, akan ku pastikan kau menderita sebelum mati"ujar Hanabi dingin.
"Di luar tampangnya mengemaskan layaknya seperti anak yang tak berdosa sayang sekali kau menyiayiakan ini, anak seperti mu ini ternyata begitu kejam, entah apa yang membuat anak selucu diri mu menjadi kejam seperti ini? "Ujar Cloude memancing emosi Hanabi.
Sayangnya Hanabi sudah tahu tujuan pembicaraan Cloude mengarah ke mana, jadi Hanabi hanya menjawabnya dengan nada sedikit merendah.
"Kakak pintar, aku seperti ini juga untuk kepentingan ku sendiri bukan kepentingan bersama"ujar Hanabi tersenyum manis.
"Serigala berbulu domba"ujar Cloude.
"Karakter kejam seperti mu ini cukup bagus untuk menjadi koleksi ku"ujar Chaose mendekati Hanabi.
"Hohoho.... Kakak sebaiknya mengaca saja sanah, kakak bukanlah lawan ku"ujar Hanabi memberi peringatan pada Chaose.
"Maka jangan salah kan aku jika kau tidak menurut"ujar Chaose menjauh dari Hanabi.
"Maka buktikanlah"ujar Hanabi menatap tajam Chaose.
Medeia mengerutkan alisnya, mungkin dia akan menambahkan proses pelatihan mereka sebelum bulan ke enam di mana Medeia akan berangkat untuk mengambil batu nirva.
"Baik semuanya kalian semua lulus, silahkan kembali ke asrama kalian untuk beristirahat, besok kalian akan mulai untuk di latih oleh kami anggota inti group ini"ujar Rika.
"Baik"kompak mereka.
Medeia duduk mendengarkan informasi terbaru dari Eva kali ini, ia merasa semuanya akan di mukai dari sekarang. Eva menatap Medeia dengan bingung baru kali ini Medeia terlihat pusing memikirkan rencana.
"Katakan informasi apa yang kau dapatkan?! "Tegas Medeia.
"Baik, dua indentitas musuh group terkenal ini sudah saya temukan, yang pertama adalah salah satu group yang memiliki keturunan berdarah iblis, meski pun tidak murni tapi mereka cukup kuat untuk membalikan kekuasaan Group Bliard"
__ADS_1
"Yang kedua adalah kelompok pengguna Kristal, mereka juga tidak kalah hebatnya dari mereka, tapi sangat di sayangkan penerus yang harusnya memimpin saat ini kabur entah kemana, group mereka sekarang di ambil alih oleh mereka"ujar Eva serius.
"Apa nama group awal mereka sebelum di ambil alih? "Ujar Medeia.
"Spirit group"ujar Eva.
"Ada kemungkinan mereka tidak jauh dari sini"ujar Medeia tersenyum.
DRINGGGGGGGGGGG
Medeia mengangkat telepon dari seseorang yang tidak ia kenali, dengan dinginnya Medeia menutup telepon tapi sebelum itu suara dari seberang sana lebih awal berbicara dan memperingati Medeia.
"Hallo nona cantik, kedatangan mu akan kami sambut dengan baik, tapi jika anda berani berbuat tidak baik takutnya saya tidak akan segan lagi"ujarnya dari seberang sana.
"Oh? Ancaman dari telepon itu tidak berguna, sayangnya aku ini tipe orang yang berbicara dengan kekuatan"ujar Medeia dingin.
Orang itu tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Medeia, sedangkan Medeia hanya diam mendengarnya, meski Medeia kesal ia tetap menahannya
"Anda membuat saya semakin ingin memiliku anda untuk sepenuhnya menjadi pendamping hidup bagi kelompok ku"angkuh orang itu.
"Buktikan kalau kau memang bisa"ujar Medeia menutup telepon lebih awal.
Tanpa di sadari ruangan di tempat Medeia retak, lantai, atap seluruh ruangannya retak, meja tempatnya meneliti pun hancur tak tertolong.
Melihat Medeia semarah ini, Eva tidak berani untuk mengusik Medeia atau melanjutkan rencananya, meski Eva suka memarahi Medeia saat dia bertingkah kekanak kanakan tapi kalau Medeia emosi, Eva tidak akan berani mengganggunya.
"*Apa benar, keputusan yang ku ambil ini sudah benar? Mempercayai mereka memang bukanlah pilihan yang baik tapi....sudahlah aku hanya perlu bertindak sesuai situasi, bagaimana pun orang yang dapat di percaya hanyalah diri sendiri, selain itu terlalu baik dengan mereka juga tidaklah membantu ku menyelesaikan ambisi ku"
"Mereka juga belum tentu dapat di percaya, sekalipun itu adalah Eva dia juga tidak pantas mendapat kepercayaan ku sepenuhnya, berharap pada orang lain seolah olah mereka bisa melakukanya hanya akan berdampak negatif pada diri ku sendiri dan memperlambat proses penyelesaian tujuan ku yang sebenarnya, cukup manfaatkan saja sedikit "batin Medeia*.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah melewati hari yang panjang akhirnya tibalah hari esok, Medeia lebih awal turun untuk makan agar nanti setelah selesai makan Medeia akan langsung pergi ke ruangannya untuk memikirkan masalah selanjutnya bersama dengan Eva dan Kelvin yang baru saja kembali saat tengah malam bersama dengan Lucas.
Tidak lama setelah Medeia selesai makan mereka semua sudah turun dan menyaoa Medeia dengan ramah di sertai kegembiraan seperti biasanya.
"Yooooo Medeia"ujar Medusa.
"Good morning minnah"ujar Cestania duduk di dekat Medeia.
"Apa ada masalah dari ujiannya? "Ujar Medeia.
"Tidak ada sih, siswa yang keluar hampir setengah dari mereka di kembalikan ke asal muasal mereka, tapi menurut ku ujiannya terlalu mudah untuk mereka, apa tidak ada ujian tambahan? "Ujar Cestania.
"Ada, tapi setelah kalian menjelaskan tujuan dan memberi mereka sedikit pengetahuan, menurut yang kulihat melalui cara mereka berfikir, mengambil keputusan dan bertarung di dalam labirin membuat ku mengambil kesimpulan"
"Sekuat apa pun mereka tetap saja mereka masi membutuhkan bimbingan, masih banyak celah untuk musuh mengalahkan mereka di pertarungan yang sebenarnya"ujar Medeia.
"Ada satu yang berbeda dari yang lainnya, dia memang kuat tapi caranya mengendalikan dan cara pola fikirnya dalam penyerangannya bertolak belakang"
"Masih butuh bimbingan lagi, caranya mengendalikan energinya sangat baik dari kandidat lainnya, juka di berikan perubahan terhadap elemen yang ia miliki mungkin dia akan sulit untuk di kalahkan"ujar Chaiden menjelaskan panjang lebar.
"Anak pendiam itu? Menurut ku sih begitu, tapi anak kecil ini tidak kalah menariknya dari anak pendiam itu, Hanabi ini selain pandai mengendalikan energinya dan membaginya ia juga bisa menggunkan elemen anginnya untuk melindungi tubuh inangnya "
"Dengan begitu dia bebas menyerang musuh tanpa mengkhawatirkan dirinya di serang oleh musuh, oh iya dia juga termaksud tipe suport loh"ujar Medeia.
"Aku harap semuanya akan lebih baik jika mereka mengecewakan maka aku tidak akan segan untuk mengambil mereka sebagai murid ku"ujar Cestania.
"Di antara 15 MBV, hanya mereka yan berbakat dan lolos dari labirin yang kubuat, setidaknya tidak buruk juga"ujar Medeia.
__ADS_1