
...~~~...
Sudah begitu lama sejak Zillian tak sadarkan diri 7 hari yang lalu dan kini ia berada di sebuah gubuk milik pria yang menyelamatkan hidupnya saat berada disebuah hutan waktu itu.
Entah itu semua disebabkan karena keberuntungan atau memang takdirnyalah yang membawa pria itu menyelamatkannya?
Itu tidaklah begutu penting intinya sekarang Zilian baik baik saja bukan?
Meski telah diobati dengan teraturoleh pria itu, tetap saja pria itu masih saja dibuat kebingungan dengan kondisi diri Zilian.
Ada beberapa hal yang menganjal pikirannya tapi ia mencoba untuk menepisnya bagaimanapun keselamatan Zilian adalah prioritas utamanya sekarang.
Perlahan mata Zilian mulai bergerak dan berakhir terbuka secara perlahan lahan, pria itu yang sedang memeriksa kondisinya tersenyum senang melihat gadis yang ia selamatkan telah sadar sepenuhnya.
"Ungh" Zilian mengerang kecil saat tidak merasakan apa apa termaksud seluruh tubuhnya, ada apa ini?
"Tu-tubuhku? "Gumam Zilian heran dengan apa yang sedang terjadi padanya.
"Berhati-hatilah kau baru saja sadar sebaiknya tetap diam sampai kau benar benar pulih" ujar pria itu yang tampak mengoleskan sesuatu pada luka Zilian di bagian lengan kanannya.
"Hn, terimakasih karena anda telah menolong saya saat itu" ujar Zilian menatap pria yang hanya menampilkan senyuman manisnya.
Pria itu masih saja dengan telaten merawat beberapa luka Zilian yang masih belum pulih.
"Tidak perlu seformal itu nona dan lagi aku menolongmu karena kebetulan lewat saja" senyum pria itu, ia menatap Zilian yang terus saja menatap wajahnya tanpa berkedip.
Mata pria itu begitu menarik perhatian Zilian, warnanya yang keemasan berkilau begitu terang selain itu terlihat begitu jernih, sungguh luar biasa bukan?
Rambutnya yang hitam legam itu juga terlihat begitu indah sehingga dapat membuat mata pria itu menjadi lebih menonjol.
Pria itu tampak canggung terus menerus dilihat oleh Zilian yang entah sadar atau tidak dengan apa yang ia lakukan.
"Ehem, waktunya minum obat" dehem pria itu mengulurkan mangkuk pada Zilian.
"Sungguh aku ini merepotkanmu tapi tanganku tidak dapat di gerakan" ujar Zilian sedikit tidak enak.
"Maaf aku lupa soal itu" ujar pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Senyuman manis terukir di wajah Zilian, ia tidak mempermasalahkannya yang harus ia salahkan disini adalah dirinya yang tidak berguna dan malah merepotkan pria tampan nan lembut disampingnya.
Pria itu membantu Zilian untuk bersandar di sandaran kasur, sungguh pria itu tampak begitu lembut dalam merawat Zilian.
"Habiskan yah? "Ujar pria itu membujuk saat melihat Zilian menatap mangkuk obat yang ia bawa.
"Pahit? "Tanya Zilian, hal yang paling Zilian benci selain air adalah obat baginya ini semua terlalu menjengkelkan terutama rasa pahit dan aromanya yang uh....
Pria itu tersenyum sambil menundukkan kepalanya, "Tak apa percayalah padaku" ujarnya semeyakinkan mungkin.
"Siapa namamu? "Tanya Zilian mencoba mengalihkan pembicaraan sekaligus menanyakan rasa penasarannya.
"Akan kuberitahu saat kau meminum obat ini hingga tetesan terakhir" ujar pria itu tersenyum lembut.
"Cih gagal rupanya? "Batin Zilian mendesah pelan karena tidak dapat mengalihkan pikiran pria itu.
"Pastikan itu tidak pahit yah? "Cemberut Zilian.
"Tidak ada obat yang tidak pahit nona" ujar pria itu di iringi kekehannya saat melihat kelakuan Zilian yang tampak menolak keras obat yang ia buat, matanya saja sampai ingin keluar saat mempelototi obat yang dirinya genggam.
"Siapa bilang tidak ada obat yang manis? Ada jika kau menambahkan pemanis didalam obat itu dan berhenti memanggilku nona okey? Namaku Zilian" ujar Zilian tidak mau tahu pokoknya obat yang akan ia minum harus manis.
"Baiklah Zilian, bagaimana kalau diminum sekarang?" kekeh pria itu saat melihat Zilian menutup rapat bibirnya yang ranum.
"Ck, hanya sekali ini saja tidak ada obat lainnya" ujar Zilian di iringi helaan nafas, mau sekeras apa Zilian berusaha tetap saja pria di sampingnya ini tidak akan pernah menyerah tampaknya sampai Zilian meminum obatnya.
"Baik hanya kali ini saja" ujar pria itu membantu Zilian untuk meminumnya.
Baru saja Zilian akan meminum obat itu bau pekat itu memasuki penciuman Zilian yang langsung menahan nafas sembari meminum cepat ramuan yang pria itu buat.
__ADS_1
"Argh! Ungh, pahit sekali! Aku bersumpah tidak akan membiarkan diriku sakit lagi" ujar Zilian menyerah untuk minum obat yang berada di bawah setengah mangkuk itu.
"Namaku Brant" ujar Brant begitu lembut.
"Brant? Ah, terimakasih Brant lain kali buatlah ramuan yang manis, aku janji akan menghabiskannya" ujar Zilian diiringi kekehan canggungnya.
"Tentu saja, aku akan mencobanya nanti khusus untukmu" ujar Brant membereskan mangkuk obat yang tadi ia gunakan untuk menuangkan obat.
Zilian tersenyum saat melihat Brant yang begitu tulus merawatnya tapi disisi lain Zilian juga merasa sedih karena harus terpisah dengan orang orang yang ia cintai.
Brant melirik kearah Zilian sesaat setelah ia membuka pintu untuk keluar, Zilian tampak begitu murung dan itu membuatnya kasihan dengan Zilian pasti sangat berat untuknya meski Brant juga tidak tahu alasan pasti mengapa gadis yang ia rawat menampilkan ekspresi seperti itu tapi Brant pernah berada di posisi seperti mungkin meski permasalahannya berbeda.
"Kau dapat mempercayaiku jadi tidak perlu dipikirkan lupakan saja apa yang telah kau alami dan mulailah melihat kedepan" ujar Brant setelahnya menutup pintu kamar Zilian.
"Dan jangan lupa untuk beristirahat dengan baik jika ada sesuatu yang ingin kau lakukan atau yang kau inginkan sebut saja namaku" ujar Brant di balik pintu.
Zilian menghela nafas sejenak lalu menatap langit langit kamarnya, ia bingung harus melakukan apa didunia asing ini, kekuatannya entah dikemanakan saat ini.
"Apa apaan ini? Bagaimana bisa mereka begitu kejam padaku? Pertama kekuatanku entah mereka apakan sampai aku tidak dapat menggunakannya dan kedua bisa bisanya mereka menurunkanku di tempat semengerikan itu tanpa ada hal yang bisa membantuku! Awas saja jika aku kembali akan kumutilasi mereka" umpat Zilian.
Kesal rasanya dengan mereka yang berani mengirim Zilian ke tempat seperti itu padahal mereka membawanya kemari untuk menyelesaikan sesuatu yang membuat Zilian kesal setengah mati tapi apa yang mereka lakukan? Mereka malah membawanya ketempat berbahaya apa mereka ingi Zilian mati diawal?!
"Apa aku perlu mempercayai orang oran disini? "Tanya Zilian lebih pada dirinya sendiri.
"Tentu saja bisa, Zilian" ujar Brant tiba tiba saja telah berada di samping Zilian dan duduk di sofa dekat ranjang.
Zilian mengerutkan keningnya bingung melihat Brant kembali memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu, yah tidak masalah toh ini rumahnya sendiri Zilian sih hanya tamu.
"Maaf tidak sopan tapi aku mendengar semuanya saat akan masuk kemari" ujar Brant tersenyum.
"Lalu? "Bingung Zilian.
"Aku kembali untuk menemanimu disini dan tadi kau bilang soal mereka yang begitu kejam, siapa mereka? "Tanya Brant penasaran tangannya menopang dagunya lalu menatap Zilian dengan pandangan lembutnya.
"Orang yang membuangku di hutan sialan itu aku tidak tahu asalanya darimana yang jelas setelah ini akan kubuat dia menyesal" ujar Zilian kesal mengingat dirinya hampir mati dan itu semua ulah anak cebol itu!
Zilian terdiam, tidak mungkin ia mengatakan asalnya dari dunianya itukan? Bisa bisa Zilian akan dibunuh ditempatnya sekarang.
"Tidak ingat, aku hanya mengingat orang berjubah itu membuangku kedalam hutan setelahnya kau tahu sendiri" jawab Zilian tenang dan sealami mungkin.
"Aku akan membantumu melihat darimana kau berasal setelah kau dapat menggerakan tubuhmu" ujar Brant.
"Sebenarnya ini dimana? "Tanya Zilian hati hati, ia takut salah bicara.
"Oh ini dihutan Molf hutan yang bersebelahan dengan hutan Kematian tempat dimana kau berada waktu itu" ujar Brant diiringi iris senyumannya yang begitu menenangkan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Hu-hutan apa tadi? Kau bilang hutan kematian? "Tanya Zilian memastikan, sungguh ia terkejut dengan apa yang baru ia dengar.
Bagaimana bisa mereka membawanya ke tempat mengerikan seperti itu? Padahalkan Zilian datang kemari dengan niat baik untuk membantu permasalahan sahabatnya yang sahabatnya sendiri tidak akan pernab bisa ia selesaikan.
"Kau tahu hutan itu? "Tanya Brant mengerutkan keningnya.
Zilian dengan cepat mengeleng "Tidak, aku hanya tidak menyangka akan dibuang ke tempat semengerikan itu dari namanya saja sudah begitu menakutkan"
"Benar, membiarkan seoran gadis memasuki tempat iblis itu memang sangat keterlaluan" angguk Brant membenarkan perkataan Zilian, lihat dia bahkan begitu kesal.
"Bolehkah aku bertanya? "Tanya Zilian ragu.
"Tentu" jawab Brant cepat.
"Kenapa kekuatanku menghilang? "Tanya Zilian lesuh mengingat kekuatannya tidak dapat ia gunakan sejak ia datan kedunia asing ini.
"Ada banyak kemungkinan bisa saja karena energi dari hutan itu sendiri atau memang kekuatanmulah yang dikunci oleh orang yang kau maksud itu aku juga tidak tahu alasannya kenapa tapi sepertinya orang itulah yang menguncinya melihat ingatanmu tentang dunia ini sama sekali tak tersisa sedikitpun" ujar Brant mulai menganalisa.
"Hutan yang aneh" gumam Zilian menundukkan arah pandangannya.
"Hutan itu adalah hutan dimana para penyihir hitam dan pengikut orang itu membuang pengkhianat saudara mereka" ujar Bran mendadak serius.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disana? Kenapa kekuatanmu tidak menghilang sepertiku? "Bingung Zilian, bukankah Brant juga harusnya kehilangan kekuatannya kalau begitu?
"Karena aku keturunan terakhir Elf murni pewaris penyihir putih" ujar Brant tampak begitu tenang.
"Kau memberitahuku hal sepenting itu apakah kau tidak takut jika aku mungkin saja pengikut orang yang mengincarmu? "Ujar Zilian heran dengan ketenangan Brant saat mengungkapkan jati dirinya.
Brant tersenyum tipis melihat ekspresi Zilian yang menurutnya begitu imut "Aku tidak sebodoh itu, energimu jelas jelas berbeda dari mereka selain itu aku dapat membedakan mereka dengan melihat saja dan kau berbeda dari orang orang yang selama ini kutemui, sedikit berkilau" ujar Brant tampak memperhatikan Zilian.
"Lalu aku ini jenisnya apa? "Tanya Zilian sambil menunjuk dirinya sendiri tentu dengan wajah cengongnya.
"Entahlah bisa saja seorang Elemental bisa juga seorang penyihir jika ada kemungkinan mungkin saja kau adalah Elf, tidak ada yang tahu. Energimu begitu aneh sulit menentukan kau berasal darimana" Brant mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Zilian dan bagaimana asal usulnya.
"Lalu bagaimana dengan kekuatanku? Apakah bisa kembali? "Tanya Zilian antusias bagaiman tidak? Ada banyak hal menarik yang ada didunia ini dan Zilian tentu haus akan hal hal baru.
"Tentu bisa tapi tunggu hingga besok itupun jika pemulihanmu cepat, aku perlu mempersiapkan beberapa hal untuk melihat masalah apa yang menahan kakuatanmu" ujar Brant tenang tidak lupa dengan dengan senyuman manis nan lembutnya.
"Tidak masalah, sebenarnya aku penasaran dengan dunia ini kenapa harus terbagi menjadi beberapa bangsa seperti itu? "Ujar Zilian meras tertarik untuk tahu lebih lanjut dan tentunya mengumpulkan informasi sebanyak banyaknya akan memudahkan Zilian kelak.
"Apa kau tidak mengingat apapun? "Ujar Brant menatap Zilian dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Tidak, jika ingat mana mungkin aku bertanya? "Kesal Zilian.
"Baiklah, sederhananya dunia ini memiliki 5 bangsa yah itu tadi Element, Penyihir, Elf, Siluman dan Iblis. Awalnya hanya ada 4 saja tapi seorang pendahulu dari bangsa Element menemukan mantra terlarang pemanggil iblis, sejak saat itu ia bergabung ke aliran iblis itu ada banyak orang yang kehilangan akalnya dan malah menjadi pengikutnya, jika bukan karena raja siluman yang mengalahkannya mungkin dunia ini akan dia kuasai" ujarBrant, nadanya begitu emosional.
"Apa dia telah musnah sepenuhnya atau sedang disegel di suatu tempat? "
"Tidak, dia abadi meski tanpa wadah dia masih menimbulkan masalah salah satunya menghasut kerajaan element yang berujung peperang yang hampir memusnahkan dunia ini, andai saja aku memiliki kekuatan yang lebih untuk membunuhnya" sesal Brant.
"Tak apa aku akan membantumu melawan mereka, aku berjanji" ujar Zilian menghibur.
"Hm, terimakasih" balas Brant tersenyum kecil.
"Apa yang akan kau lakukan nanti? "Tanya Brant.
Zilian tersadar, ia datang kemari awalnya hanya untuk menyelamatkan nyawa sahabatnya dan mencegah Dedliona yang berada di dunia ini untuk menghancurkan segala isi dunia ini.
Masalahnya Zilian tidak tahu harus bagaimana dan memulainya darimana tidak ada petunjuk apapun tentang keberadaannya sekarang.
"Ada apa? "Tanya Brant saat melihat Zilian termenung.
Zilian lagi lagi mengeleng "Tidak apa, Ah tadi kau bertanya soal apa? "Tanya Zilian mengalihkan pembicaraan.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? "tanya Brant untuk kedua kalinya.
Zilian kembali berfikir lalu menjawab dengan yakin, "Menciptakan perdamaian, akan kubuat dunia ini kembali seperti semula, begitu damai dan saling mengerti satu sama lain" ujar Zilian menatap Brant dengan pandangan penuh akan keyakinan bahwa ia akan mewujudkan itu tanpa ada kesalahan apapun.
"Kau mengingatkanku dengan tuanku sama sama memiliki ambisi dan pikiran yang mustahil untuk diciptakan meski begitu aku akan tetap membantunya" ujar Brant terkekeh pelan mengingat kenangannya selama bersama dengan tuannya.
"Kau memiliki tuan? "Ujar Zilian terkejut.
Brant mengangguk pelan "Sayangnya dia mengusirku entah karena alasan apa sikapnya begitu dingin dan berakhir mengirimku keluar dari sana" sedih Brant.
"Maaf" cicit Zilian merasa bersalah karena terlalu antusias bertanya tanpa memikirkna perasaan lawan bicaranya.
"Tak apa, setidaknya aku senang kau ada disini, semoga saja adanya kau disini apa yang barusan kau katakan padaku segera terwujud, aku akan membantumu mencapainya sama saat aku membantu tuanku"ujar Brant tersenyum hangat.
Zilian tersenyum senang, ia rasa perjalanannya tidak akan sesuram yang ia bayangkan setidaknya ada pria tampan yang akan menemaninya nanti.
Zilian mengulurkan tangannya sambil mengukir senyuman diwajahnya yang cantik, ia harap semuanya tercapai secepatnya agar dia juga dapat kembali kedunianya.
"Aku Zilian bersumpah akan menciptakan Perdamaian didunia ini dengan mengorbankan hidupku" ujar Zilian penuh tekat dan kesungguhan yang begitu terpampang jelas diwajahnya.
Brant terkekeh pelan ia lalu menjabat tangan Zilian lalu ikut mengatakan sumpah.
"Aku Brant Samuel Gailen bersumpah akan mengorbankan 7 kehidupanku termaksud dikehidupanku kali ini untuk menjalankan sumpah yang sama dengan sumpah sebelumnya yang pernah ku ucapkan, sumpah ini akan kualihkan kepada Zilian orang terakhir yang akan kupercayai terhadap takdir dunia ini padanya" ujar Brant penuh akan keyakinan.
Bertepatan setelah ia mengucapkan sumpah itu cahaya kebiruan dan keemasan menyelimuti mereka berdua dan pada akhirnya....
__ADS_1
Berlanjutttt....