
...~~~~...
Suara dengusan keluar dari bibir ranum Zilian yang tengah memijat pangkal hidungnya pusing.
Ada puluhan buku yang Zilian baca dan dari semua buku itu tidak ada satupun yang menurut Zilian penting dan berguna baginya.
Rata rata yang ada di dalam buku itu hanya membahas tentang sejarah kerajaan, masa pemerintahan dan ada banyak lagi cerita yang sama sekali tidak memberikan informasi yang Zilian inginkan.
Meski begitu Zilian tetap membaca bagian yang menarik perhatiannya ketika selesai dia akan mencari buku lain lagi untuk ia baca.
Tapi ada satu hal yang aneh....
"Apa tidak ada cerita tentang sang putri? Kenapa hanya ada cerita Raja dan Ratu? Yang paling menjengkelkan disetiap buku cerita sang pangeran mahkota itu pasti akan dibahas! "Celoteh Zilian mencakar buku itu kesal.
"Aku mencari cerita putri bukan pangerannya! "Teriak Zilian geram.
Zilian melempar bukunya secara asal lalu membaringkan tubuhnya yang terasa letih akibat terlalu lama terduduk disana.
Sepertinya Zilian harus mencari tahu dari orang orang secara langsung atau datang ke perpustakaan, mungkin saja akan ada pencerahan disana.
"Akan lebih baik jika mengumpulkan informasi diluar sana sekalian menghapal beberapa daerah mungkin akan berguna nanti" gumam Zilian menghela nafas berat setelahnya.
"Istirahat saja dulu nanti akan ku pikirkan lagi" ujar Zilian memejamkan matanya lelah.
Sulit bagi Zilian sekarang, tidak ada orang yang ada di sampingnya walaupun ada tapi orang itu jauh tidak mungkin jugakan Brant datang kemari hanya karena dirinya kebosanan?
"Apa ada cara untuk menghubungi, Brant? Aku tidak tahu apakah Brant dapat masuk kemari atau tidak tapi tidak ada salahnya aku mencari ramuan untuk menyamarkan seseorang lalu cari tahu apakah mengirim surat keluar perbatasan diperbolehkan atau tidak, jika dilarang maka satu satunya cara hanya...." Zilian tampak tertekan dengan apa yang baru saja ia pikirkan.
"Menyamar sebagai mata mata kerajaan? "Pikir Zilian ragu akan apa yang barusan ia katakan padahal sudah jelas Brant melarangnya masuk ke dalan istana sebelum ia mendapatkan pendukung.
"Itu sih harus masuk ke kerajaan dan tentu saja akan sulit untuk bergerak, akan gawat jika prajurit mencurigaiku dan si pangeran itu aku yakin dia akan sadar lebih awal ketika aku memasuki kerajaan" ujar Zilian mengerutkan keningnya pusing.
Kepalanya terasa ingin meledak jika memikirkan banyak hal secara bersamaan.
"Argh, lupakan itu! Cari orang dulu baru dipikirkan, jika terus begini bisa bisa semuanya akan kacau" teriak Zilian melempar bantal yang ada disampingnya.
Pelayan yang baru masuk dibuat kaget dengan bantal yang terbang ke arahnya.
"Nona? "Ujar pelayan itu ketakutan.
Zilian yang sadar ada orang lain selain dirinya langsung merubah ekspresinya dalam hitungan detik menjadi begitu datar.
"Ada apa? "Tanya Zilian pada seorang wanita yang menundukkan kepalanya ketakutan.
"M-makanannya" ujar pelayan itu gemetaran.
"Simpan saja di atas meja aku akan memakannya nanti" ujar Zilian santai.
Pelayan itu dengan cepat memasukkan troli makanan kedalam kamar Zilian dengan kepala yang masih setia menunduk.
"Apa aku boleh bertanya? "Tanya Zilian mendudukan tubuhnya ditepian ranjang.
"Y-ya? "Beo pelayan itu kikuk.
"Apa aku boleh bertanya? "Ulang Zilian dengan sabar.
"Tentu, ya tentu saja nona. Apa yang anda ingin ketahui? "Ujar pelayan itu cepat dengan badan yang membungkuk.
"Kemarilah" Zilian menepuk kasur kosong di sebelahnya, pelayana ini terlalu sopan padanya.
"Eh? "Bingung pelayan itu ragu, mungkin saja dia salah dengar bukan?
"Kemari dan duduklah, tidak ada penolakan" ujar Zilian sedikit memaksa, dia tahu wanita itu akan menolaknya.
__ADS_1
"B-baik" ujar pelayan itu dan akhirnya berjalan mendekat lalu berakhir duduk di samping Zilian walaupun dia sedikit waspada pada Zilian.
Zilian menatap pelayan itu dengan pandangan yang rumit, pelayan itu bisa saja curiga padanya jika langsung bertanya tentang putri yang hilang itu bahkan kerajaan sendiri tampaknya menutup rapat kasus putri mereka, pastinya memiliki alasan tidak mungkin sebuah kasus yang melibatkan keluarga kerajaan bukanlah hal yang dapat diabaikan begitu saja.
"Tanyakan yang lain saja untuk saat ini" batin Zilian.
"Jadi siapa namamu? "Ujar Zilian lembut dia tidak boleh membuat suasana menjadi tegang.
"Eh, n-nama saya G-gailen" jawab Gailen gugup.
"Nama yang bagus, sepertinya kau gadis yang istimewa yah" ujar Zilian tersenyum tipis.
"Tidak, ah maaf tapi anda.... "
"Yah padahal aku ingin lebih dekat denganmu tapi sepertinya kau tidak nyaman yah? "Ujar Zilian mencoba tampak seramah mungkin.
"Bukan seperti itu" panik Gailen dia takut Zilian salah paham padanya.
Zilian terkekeh pelan, gadis itu terlalu menanggapi sesuatu secara berlebihan dan itu tampak lucu, nampaknya dia gadis yang polos.
"Ah aku lupa, apa kau pernah mendengar cerita itu? Katanya ada seseorang yang katanya mengirim surat keluar dari perbatasan kerajaan" ujar Zilian mendekatkan wajahnya lalu berbisik pelan.
"Saya pernah mendengarnya tapi bukankah dia seorang pria? "Ujar Gailen merasa aneh.
"Benarkah? Aku mendengarnya sih dia seorang gadis" ujar Zilian berbohong, tidak disangka ternyata itu memang per tejadi.
Tentu saja itu semua bohong, hahaha perlu sedikit bumbu untuk mendapatkan informasi walaupun cara itu salah sih tapi Zilian tidak peduli.
"Itu sering terjadi, tapi siapapun itu dia sungguh berani, entah dia berhasil kembali atau tetap berada di istana sekarang" ujar Gailen tampak tertarik.
"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi tapi itu sama saja jika membatasi ruang gerak warga bukan? Terutama soal kebutuhan sehari hari kita, makanan dan minuman itu dibutuhkan di tempat ini" ujar Zilian mengeluh memang benar bukan?
Di cuaca sedingin ini membuat beberapa tanaman kesulitan dalam bertahan dan ada banyak tumbuhan yang tertimbun salju jika tidak mendapat bantuan dari para manusia.
"Sungguh situasi yang tidak menguntungkan" gumam Zilian menghela nafas dengan kepala yang mengeleng.
Zilian menatap Gailen yang terduduk diam tampak memperhatikan lantai kamar.
"Aku juga mendengar kalau pihak istana sedang mengadakan pesta rakyat, apa anda mau hadir? "Ujar Gailen tiba tiba.
"Entahlah, terlalu berisik jika aku kesana dan juga pasti akan ramai" ujar Zilian tampak tidak tertarik.
Gailen mengerutkan keningnya bingung, padahal orang orang menantikan pestivalnya tapi Zilian malah berbanding terbalik.
"Kenapa nona tidak ingin datang? "Tanya Gailen dengan tampang polosnya terlihat jelas dia penasaran.
Zilian menatap wajah Gailen sejenak setelah itu ia kembali menatap buku yang masih berada di atas meja yang dia gunakan tadi.
"Tampaknya dia mulai menerima keberadaanku" batin Zilian tersenyum simpul.
"Apa ada hal yang menarik disana? "Tanya Zilian.
"Hal menarik? "Beo Gailen, bukankah pestival memang indentik dengan hal hal yang menarik?
"Maksudku, hm.... Ya orang penting misalnya? "Ujar Zilian cepat saat menyadari perubahan wajah Gailen.
"Tentu saja! Yang mulia pangeran mahkota akan datang langsung disana" ujar Gailen bersemangat.
"Itu berarti akan ada penjagaan ketat" batin Zilian berfikir.
"Hanya itu? "Tanya Zilian tidak yakin tidak mungkin hanya pangeran mahkota saja disana pasti ada beberapa bangsawan atau orang terpandang yang mengikutinya sebagai pendamping walaupun tujuan utama mereka tidak luput dari mencari keuntungan dan ketenaran.
Gailen dengan cepat mengelengkan kepalanya, "ini sesuatu yang luar biasa, nona! Duke dan Marquess akan turut hadir dalam pestival juga untuk menemani pangeran disana yang dimana ini pertama kalinya pangeran hadir" ujar Gailen antusias.
__ADS_1
"Sudah kuduga pestival itu memang tidak untuk aku datangi, lagi pula tidak ada alasan untuk tidak mencurigainya selain dia baru pertamakali menampakkan diri dia juga merupakan anggota kerajaan yang tidak mungkin turun tangan jika tidak ada alasannya, sebaiknya aku menghapal rute pelarian jika saja aku ketahuan suatu saat nanti itu lebih penting dari pada datang kesana mencari masalah" batin Zilian tersenyum tipis.
Zilian menarik jubahnya lalu mendorong Gailen keluar dari kamarnya tentu saja mengukir mimik wajah gembira disana.
"N-nona, anda? "
"Diam dan ikuti saja, kau kenal kota inikan kalau begitu antar aku untuk berkeliling" ujar Zilian kini menuruni tangga penginapan sambil menarik Gailen untuk mengikutinya.
"Tapi.... "
"Aku meminjam dia sebentar yah, akan aku kembalikan jika aku selesai berkeliling nanti! "Teriak Zilian pada pemilik penginapan yang sedang sibuk mengecek sekitaran penginapan.
"Nona tunggu sebentar! "Teriak pemilik penginapan panik.
"Bayarannya 5× lipat, pak" ujar Zilian sambil mengedipkan matanya sebelah.
Setelah itu Zilian membawa Gailen keluar dari penginapan dengan perasaan yang begitu senang.
"Pakai ini" ujar Zilian memberikan sebuah jubah pada Gailen.
"Cuacanya dingin" tambah Zilian saat Gailen tak kunjung mengambil jubah yang Zilian sodorkan.
"Baik" ujar Gailen malu.
Gailen menerimanya lalu memakainya, Zilian lagi lagi tersenyum tipis, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti tadi.
"Kau gadis yang unik" ujar Zilian tiba tiba.
Gailen mendengus kesal, selalu saja orang akan memandangnya seperti itu dan sekarang Zilian memberikan reaksi yang sama.
"Maaf tapi saya ini pria, nona" ujar Gailen tidak suka wajahnya terlihat begitu masam.
Zilian menghentikan langkahnya, ia menatap Gailen yang ikut berhenti bingung dengan Zilian yang membatu.
"K-kau pria?! "Pekik Zilian terkejut masih merasa tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Entah keberanian dari mana yang menghampiri Zilian, ya Zilian mengenggam dada pria itu setelahnya kembali dibuat syok untuk kedua kalinya dengan kenyataan yang baru menimpanya.
"Jika sudah tolong jauhkan tanganmu, nona. Ini tempat umum" ujar Gailen menunduk malu.
Seolah tuli, Zilian malah beralih memeriksa setiap lekukan diwajah Gailen dengan sangat teliti terutama lehernya dan benar saja ada jakung disana.
"Ungh, aku yakin semua wanita akan iri melihat parasmu" ujar Zilian yang jujur dia sendiri merasa iri.
Sesekali Zilian berdecak kagum menatap wajah Gailen, pria ini memiliki rambut seputih salju yang terurai bebas dan manik mata berwarna ungu muda.
"Aduh nona, mari jalan" ujar Gailen tersenyum kaku, seumur hidup Gailen tidak pernah mendapatkan tatapan seperti ini apalagi ini adalah hal pertama bagi Gailen, wajar saja jika Gailen merasa kurang nyaman.
"Baiklah, ayo jalan? "Ujar Zilian menarik lengan Gailen dari sana.
"Nona? "
"Zilian, panggil begitu saja" ujar Zilian menatap sekitarnya dengan begitu antusias.
"Baik, em itu.... "
"Lihat! Bagaimana jika kita kesana dulu? Sepertinya menarik" pekik Zilian tiba tiba.
Gailen menghela nafas nampaknya dia harus menuruti terlebih Zilian dulu baru berbicara nanti.
"Hehehe, selamat datang didunia yang hangat Gailen aku sendiri yang akan membantumu merasakan bahwa kau sangatlah berperang penting untu dunia ini bukn sebagai pria pembawa kesialan tapi sebagai pembawa angin kehidupan untuk siapapun yang ada didekatmu" batin Zilian tersenyum tulus disana.
Berlanjutttt....
__ADS_1