
...~~~...
Saat tiba di distrik V1 Zilian sama sekali tidak merasakan tanda tanda adanya musuh di sekitarnya, mata tajamnya mengitari lingkungan sekitarnya dengan teliti seolah olah tidak ingin melewatkan petunjuk sekecil apapun.
Ia tidak ingin melewati sedikitpun tanda tanda yang akan menuntunnya menemui mereka, entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa merekalah yang menunggunya.
"Ketua, kami semua telah mengecek aurah luarnya sama sekali tidak ada yang janggal sejauh ini, bagaimana jika kita mengecek daerah dalam? "Usul para agen yang bertugas bersama dengan Zilian.
"Tidak perlu, aku yang akan mengeceknya sendiri terlalu berbahaya jika kita masuk secara berkelompok, lebih baik kalian jaga di luar saja tunggu tanda dariku jika aku membutuhkan bantuan kalian" ujar Zilian tegas.
"Baik dilaksanakan! "Ujar mereka serempak.
Zilian mengangguk, ia pun melangkah masuk ke dalam pabrik tua yang telah lama ditinggalkan oleh pemiliknya.
Tidak pernah terbesit rasa takut sedikitpun dibenak Zilian ia justru memantapkan langkahnya memasuki ruangan pertama yaitu 'Lobi'.
Zilian terlalu malas untuk mengeceknya satu persatu jadi dia memeriksanya dengan energinya.
Ia menyebarkan energinya ke seluruh kawasan pabrik bahkan menembus hingga keluar pabrik, energi yang begitu kuat membawa hawa tajam dan menusuk hingga tulang tulang orang yang mengenainya.
Sama halnya dengan yang di rasakan oleh para agen yang bertugas berjaga diluar pabrik sesuai perintah Zilian, mereka mungkin hanya dapat bertahan kurang lebih 20 menitan selebihnya mereka bisa mati karena kehabisan oksigen mengingat seberapa pekatnya energi yang Zilian keluarkan.
Zilian menatap ruangan paling atas tepatnya lantai 8, ia berjalan mencari tangga darurat untuk sampai disana, mana mungki Zilian menaiki lift yang sudah rusak bukan?
Meski berjalan menaiki tangga dari lantai pertama hingga ke lantai 8 Zilian akan tetap baik baik saja meski memakan waktu untuk sampai disana.
Jangan lupakan kalau dia bukanlah manusia biasa, yah meski kadang ia lupa kalau dia memiliki otak buktinya dia bisa teleport tapi dia malah memilih untuk berjalan kaki.
Zilian meregangkan tubuhnya setelah sampai sekitar 10 menitan yang lalu, ia kembali menatap tajam ke arah sekeliling ruangan hingga berakhir menatap langit langit.
"Kau punya kekuatan untuk berubah menjadi apapun yang kau inginkan tapi kau malah cosplay menjadi kembaranmu? "Ujar Zilian mendongak menatap Ayna yang sedang menempel di dinding.
"Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga memiliki kekuatan tapi kau dengan bodohnya berjalan sampai sini padahal kau bisa menggunakan portal" ejek Ayna tidak terima dengan ucapan Zilian yang mengatakan bahwa dia bersaudara dengan cicak.
"Olahraga" ujar Zilian dingin.
Hanya bisa menghela nafas, Ayna melakukan teleport ke samping Zilian yang hanya diam tak merespon apapun.
"Dan kau sebaiknya kau keluar" ujar Zilian melirik ke dalam sebuah lemari yang terlihat rusak karena termakan waktu.
"Apa kabar? "Sapa Metxana tersenyum canggung.
Zilian tidak merespon apapun ia lebih memilih mengabaikannya, kini posisi Zilian tengah duduk di atas meja berdebu yang ada di dalam ruangan itu.
"Kalian ada urusan apa sampai datang kemari? "Tanya Zilian menatap mereka secara bergantian.
"Seperti yang kau ketahui aku yakin kau telah mendengar sendiri isi ramalan itu selain itu aku yakin kau tahu kami siapa" ujar Ayna maju untuk berbicara mewakili Metxana yang hanya diam tidak berani mengajak Zilian untuk berbicara.
"Ya" jawab Zilian singkat padat dan jelas.
Ayna berdecih pelan, ia melirik ke arah Metxana yang mengeleng pertanda melarangnya untuk melakukan perlawanan.
"Langsung keintinya saja, aku akan mengantarmu kesana untuk menjalankan tugasmu sekarang kondisi tuan eh maksudku Dedliona sedang buruk jika kau tidak pergi sekarang juga maka jiwanya akan terkikis hingga musnah untuk selamanya, waktunya tersisa 10 menit lagi sebelum jiwanya benar benar hancur" ujar Ayna panjang lebar, tersirat kesedihan di pupil matanya yang bulat.
"Apa? Tunggu waktunya.... "Ucapan Zilian segera disela oleh Ayna dengan cepat ia menampilkan portal perak yang ada di hadapan mereka bertiga, portal yang begitu asing dan unik.
Zilian terdiam seribu bahasa menatap portal itu, ia tidak ingin masuk tapi jika dia memilih itu Dedliona tidak akan pernah bisa membuka matanya.
"Katakan apa yang ingin kau tanyakan? "Ujar Metxana akhirnya memberanikan diri untuk berbicara meski dia sendiri masih merasa ragu.
Zilian menatap Metxana dengan tatapan sendu, "Secepat inikah? "
"Maafkan kami" ujar Metxana sendu dia menjadi tidak tega tapi jika ia menahan Zilian tetap disini maka sebagai gantinya nyawa anaknya akan hilang untuk selamanya.
Zilian tersenyum kecut, "kenapa harus aku yang pergi? Bukankah ini takdir yang menyangkut kehidupan Dedliona? Bukankah ini tanggung jawabnya kenapa harus aku yang melakukannya? "Ujar Zilian mengerukan keningnya ada rasa sakit menghantam hatinya saat tahu dia harus pergi menggantikan sahabatnya itu.
"Karena Dedliona tidak dapat melakukannya sendiri ada kutukan yang melarangnya untuk kembali kesana" jawab Metxana seadanya.
"Lalu apa hubungannya dengan kehancuran dunia ini? Lalu kenapa kami berdua yang harus menjalankan takdir sialan itu? "Tanya Zilian dingin, matanya berubah menjadi merah.
"Aku tidak dapat memberitahumu, kaulah yang harus mencari tahu sendiri jawaban dari pertanyaanmu itu" ujar Metxana.
Zilian menghel nafas gusar, ia tidak habis fikir dengan kedua wanita asing yang ada di hadapannya, datang untuk membawanya pergi dengan alasan yang begitu menyakitinya padahal harusnya Dedli yang pergi.
Jujur saja Zilian kesal akan berita ini bukan karena dirinya tidak ingin menyelamatkan nyawa sahabatnya hanya saja ini terlalu mendadak, Zilian rela mengorbankan nyawanya jika memang perlu tapi ayolah beri dia waktu untuk menghabiskan waktu walapun dia sendiri tidak dapat merasakannya setidaknya ada kenangan itu sudah cukup.
"Kalau begitu bisakah kau mengabulkan keinginan ku? "Tanya Zilian.
Metxana mengangguk dengan cepat, "Apapun itu akan ku kabulkan" ujar Metxana menganggukan kepalanya dengan tegas.
"Benarkah? Apa kau berani bersumpah? "Ujar Zilian lagi.
__ADS_1
"Aku sudah mengatakan apapun, baiklah aku bersumpah akan mengabulkan apapun permintaanmu" ujar Metxana.
Zilian tersenyum simpul, "Baiklah, kalau begitu tolong jawab dengan jujur pertanyaan tadi dan beberapa pertanyaanku lagi"
Metxana terdiam, dia terlalu sibuk dengan rasa bersalahnya dengan Zilian sehingga kehilangan fokusnya.
"Kenapa? Apa kau akan melanggar sumpah mu? "Ujar Zilian tajam.
"A-aku.... "
"Waktunya sudah habis selamat tinggal temanku sampai berjumpa di masa depan jika berjodoh" ujar Ayna melambaikan tanggannya lalu menyengir lebar setelah berhasil mendorong Zilian masuk kedalam portal.
Zilian hanya pasrah membiarkan dirinya tersedot kedalam portal, ia hanya dapat melihat wajah Ayna yang tengah menyengir dan melambaikan tangan munggilnya ke arahnya.
"Jangan sampai aku melihat mu lagi atau akan ku pastikan seluruh anggota badanmu terpisah" ujar Zilian mengirim pesan suaranya lebih tepatnya telepati.
Ayna tertawa geli, sungguh senang membuat orang orang kesal, tidak bukan itu yang terpenting sekarang.
"Yang mulia ratu aku sudah membereskannya untukmu" ujar Ayna bangga akan tindakannya.
"Astaga kau ini! Waktunya masih ada 2 menit bagaimana ini? Apa kau sudah menaruh koordinat yang benar? "Tanya Metxana panik.
Ayna kembali menyengir, "kodenya salah, aku tidak sengaja membawanya ke lokasi berbeda" ujar Ayna menatap ke arah lain.
Metxana menepuk keningnya sakit, ia tidak tahan lagi dengan sikap jahil Ayna yang tidak pernah ada habis habisnya.
"Aku belum memberitahunya tentang tugasnya kenapa dia dibawa kesana" ujar Metxana pening.
"Aku yang akan pergi menemuinya tapi kekuatanku lumayan terkuras sekarang, ku harap dia baik baik saja sampai aku kesana" ujar Ayna penuh harap.
"Semoga saja" ujar Metxana membenarkan.
'Sepertinya anak itu lebih penting untukmu dibanding putri sulungmu itu' ujar Hades tiba tiba tentu saja mengejutkan Metxana.
"Tentu saja, dia pergi untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya Liona selesaikan sekarang aku tidak perlu secemas itu karena Liona sekarang baik baik saja hanya saja, entah dia bisa menyelesaikannya atau tidak" ujar Metxana menghela nafas lesuh.
'Aku tahu apa yang kau pikirkan kau ingin membantunya melindungi bumi inikan dari serangan pendatang baru itu? Ku harap kau tidak ikut campur tangan jika kau melanggar perintah ini maka kau akan menghancurkan bumi ini secara tidak langsung' peringat Hades suaranya begitu tegas.
Metxana mengangguk mengerti, ia sempat berfikir begitu tapi ia sadar jika ia ikut campur tangan maka apa yang seharusnya Liona lakukan kedepannya akan terganggu, tentu saja itu sangat buruk.
"Sebenarnya untuk apa ramalan ini dilakukan? "Tanya Metxana tidak mengerti ia sendiri bingung dengan ini semua.
'Mereka berdua adalah dua roh yang bertanggung jawab menjaga keberlangsungan kehidupan di sini, roh pertama bertugas atas keseimbangan, hukum dan perdamaian mahluk hidup dan untuk roh kedua memiliki tugas untuk memisahkan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada sebelumnya seperti sihir'
'Untung saja mereka tidak memperlihatkan sihir pada manusia jika tidak mungkin apa yang ia lakukan sekarang akan lebih parah dari ini' ujar Hades dengan nada marah.
Metxana mengerti sekarang, "jadi ini sebagai pelatihan apakah mereka layak atau tidak menempati posisi itu sekaligus memberi mereka hukuman? "Tebak Metxana menaikan sebelah alisnya.
'Benar sekali, sebaiknya kita kembali ke istana sekarang' ujar Hades memilih menyudahi pembicaraan mereka.
"Ya" balas Metxana menuruti perintah Hades.
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
__ADS_1
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Candy sampai ke lokasi ia langsung menerobos penjagaan di distrik itu secara paksa.
"Dimana ketua Zilian? "Tanya Candy berusaha mempertahankan posisinya.
"Tenanglah senior, ketua sedang menyelidiki area dalam tolong jangan menganggu" ujar salah satu agen yang menahan pergerakan Candy.
"Energinya masih ada itu berarti dia masih disekitar sini, harus cepat menemukannya" batin Candy.
Candy dengan terpaksa melawa mereka, merepotkan memang karena Candy tidak dapat membunuh mereka mengingat mereka merupakan rekannya.
Saat mereka bertarung tiba tiba saja energi Zilian menghilang, Candy mendadak diam apakah tebakannya benar?
"Apa Zilian dibawa pergi? Astaga bagaimana ini? "Cemas Candy.
Ia segera pergi meninggalkan para agen yang kebingungan dengan tingkah laku Candy selain itu pikiran mereka juga tertuju pada energi Zilian yang mendadak tiba tiba menghilang.
Mereka langsung berinisiatif untuk mengecek ke dalam meski mereka tahu ini melanggar perintah tapi mereka tidak dapat membiarkan ketua mereka dalam bahaya.
Berbeda lagi di istana kehampaan, istana itu kembali gempar saat Metxana mendapat kabar bahwa pria bernama Hades itu tiba tiba saja menghapus ingatan Dedliona tentang ramalan itu.
"Apa yang kau lakukan? Bisakah kau mengembalikan ingatan putriku tentang ramalan itu? "Ujar Metxana frustasi.
Hades mengeleng 'tidak, sudah kubilang ini adalah ujian untuk anakmu mau salah paham atau tidak itu adalah urusannya bukan urusanku' ujar Hades sama sekali tidak peduli.
"Bagaimana bisa kau melakukannya, ini terlaku kejam" ujar Metxana tidak setuju.
'Kau baru tahu? 'Ujar Hades berpura pura terkejut.
"Argh, hey masih ada banyak hal yang bisa kau lakukan selain menghapus ingatanya apalagi tentang ramalan itu! "Kesal Metxana.
'Ujiannya adalah menguji ikatan hubungan kesetiaan antara keduanya jika ia gagal juga tidak ada masalah karena yang menentukannya juga adalah Zilian dialah yang akan menyelesaikan semuanya'
'Zilian perlu menyelesaikannya jika saja Dedliona tidak masuk ke dalam lingkaran setan dan malah mengulangi kesalahannya yang dulu, mari kita lihat apakah Zilian akan melawan Dedliona ketika dia kembali atau tidak tergantung dari seberapa yakin Dedliona terhadapa Zilian dan seberapa kuat dia dapat menahan hasutanku nanti' ujar Hades serius.
Sudah cukup Metxana benar benar dibuat emosi sekarang. "Kau bilang tidak masalah? Bisa saja Liona akan mengamuk! kau lihat sendiri dia tidak tahu apa apa sebelumnya tentang ramalan itu lalu setelah ia terbangun dia tidak menemukan Zilian dimana mana terlebih Candy sepertinya tahu apa yang terjadi" marah Metxana, tangannya terkepal erat.
'Aku tidak peduli' ujar Hades santai.
"Kurasa ini semua kau yang atur alih alih sebuah ramalan" ujar Metxana mulai ragu, tatapannya meneliti kearah Hades yang memasang tampang datarnya.
'Semua sesuai ramalan biarkan saja ia berjalan menyesuaikan alur takdirnya sendiri' bantah Hades.
Metxana menghentak hentakan kakinya kesal, ia benar benar kesal sekarang dia pun keluar dari sana dengan mulut yang terus terusan mengumpati Hades.
Hades hanya dapat mengeleng ngelengkan kepalanya, kelakuan ibu dan anak memang sebelas dua belas tidak ada bedanya.
'Semoga beruntung Zilian dan untuk kau Dedliona semoga saja kau tidak mudah terhasut jika tidak harapan akan hancur mengingat siapa kau sebenarnya' batin Hades.
__ADS_1
Berlanjutttt....