
Merasa sudah cukup lama Laurel memutuskan untuk menemui Leix dengan santainya hanya duduk sambil merenung di atas pohon pinus yang lebih besar dari ukuran pohon pinus dewasa pada umumnya.
Laurel menatap ke arah apa yang sedang ia tatap. Betapa terkejutnya Laurel saat melihat pemandangan yang selama ini tidak ia duga.
"Bagaimana mungkin mereka bisa berubah menjadi manusia? "Kaget Laurel.
Leix menatap adiknya yang masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Ada masalah? "Tanya Leix.
"Apa maksud mu? Apa kau kira ini wajar?! "Ujar Laurel menatap nanar sang kakak yang memalingkan pandangannya ke para iblis yang tengah berubah menjadi manusia.
"Aneh yah? "Tanya Leix kembali.
"Apa mata mu buta?! Jelas jelas ini aneh! Di dalam penelitian yang di katakan kak Jadey bukankah para manusia yang terinfeksi menjadi iblis akan selamanya menjadi iblis sekaligus sifat mereka yang berubah drastis menjadi gila seperti iblis yang ada di Lab kak Jadey" ujar Laurel yang sama sekali tidak mengerti.
Leix tersenyum tipis melihat kebodohan adiknya ini, padahal seharusnya dengan sekali melihat dia harusnya tahu apa yang sedang terjadi.
"Ku rasa musuh kita bukanlah mereka, setelah melihat apa yang terjadi saat ini dan kejanggalannya aku sudah mengerti maksud mereka menyerang kita" ujar Leix.
Laurel menatap tidak mengerti pada pola pikir kakaknya, yah meski memang terkadang sulit bagi Laurel menangkap maksud dari perkataannya.
"Katakanlah dengan jelas kak! "Gertak Laurel yang tidak sabaran.
"Mereka membuatkan surga untuk mereka yang menderita, manusia yang berkecukupan tidak mereka ubah karena mereka tidak memiliki kesulitan apa pun di banding mereka yang hidup secara pas pasan, mereka yang melakukan tindakan kriminal pun di bersihkan pikirannya melalui pergantian sel sel di tubuh mereka seperti menghapus ingatan yang tidak baik dari diri mereka" jelas Leix panjang lebar.
"Jadi apa yang ku dengar tadi tidak salah?" kaget Laurel yang mulai mengerti situasi.
"Giliran mu" perintah Leix yang mendapat anggukan dari Laurel.
Laurel menjelaskan semua yang ia dengar bahkan merekam pembicaraan mereka. Di tengah obrolan mereka seseorang yang duduk di cabang atas pohon pinus pun mulai melempar kacang ke kepala Laurel.
Kedua bersaudara ini sedari tadi mengetahui keberadaannya tapi memilih untuk diam dan tetap membahas argumen mereka.
"Senang membicarakan masalah klan kami? "Ujar Candy melompat turun ke cabang mereka berdua.
Laurel terlebih dahulu mengambil ancang ancang dengan menodongkan belatinya pada Candy. Laurel takut Candy akan menyerangnya, berbeda dengan Leix yang justru bersikap tenang. Dengan helaan nafas berat Leix maju dengan tangan kosong.
__ADS_1
"Apa yang kau... "
"Diam! "Bentak Leix.
Seketika Laurel menurungkan belatinya tapi meski tidak menggunakan senjata Laurel masih dapat menyerangnya dari kejauhan.
Candy tersenyum sinis melihat kelakuan Laurel yang semakin membuatnya ingin memainkan beberapa argumen nakalnya pada Laurel yang begitu polosnya.
"Lupakan saja, aku datang kemari hanya untuk memperingati kalian untuk pergi dari sini secepat mungkin! Sebagian dari klan ku tidak sebaik apa yang kau dengar Laurel, aku sudah mempersiapkan rute pelarian kalian" ujar Candy menatap ke arah Laurel yang membalas dengan tatapan membunuh.
"Aku mengerti, kau sebaiknya menghilangkan aurah kami yang menempel pada mu "peringat Leix yang melempar botol pada Candy yang di tangkap dengan baik olehnya.
"Ku mohon, atas nama ku dan kakak pertama kalian pertimbangkanlah terlebih dahulu" Candy melemparkan sebuah buku pada Leix dan kemudian menghilang dari pandangan mereka berdua.
Leix membuka buku itu dan menemukan peta yang sudah di gambar dengan baik oleh Candy.
"Apa kau yakin dia tidak sedang menjebak kita? "Ujar Laurel waspada.
"Tergantung, tetap waspada" ujar Leix yang lebih dulu pergi. Laurel mengangguk paham lalu mengikuti kakaknya dari belakang.
Selama perjalanan mereka sama sekali tidak merasa ada yang janggal meski seperti itu Laurel tetap waspada. Benar saja saat mereka sampai di perjalanan dekat sungai, boneka pembunuh berlompatan keluar dari dalam air dan menyerang mereka.
"Heh... Sudah ku duga mereka tidak dapat di percaya! "Ujar Laurel sinis.
"Hahahahahahahah"
Tawa mengelegar itu membuat telinga Laurel dan Leix bergema sehingga membuat mereka kesulitan dalam melawan jumlah boneka yang tidak di ketahui jumlahnya ada berapa.
"Khikhikhi.... Tidak ku sangka apa yang adik ku lakukan ini begitu hina" ejek wanita itu.
"Kau! Gila! Mundur kak! "Tubuh Laurel terasa berat dan sulit untuk di kendalikan. tubuhnya di paksa untuk bergerak membunuh Leix meski seperti itu Laurel masih tetap berusaha mengatur perasaannya dan menenangkan dirinya yang mulai panik.
Merasa terancam Laurel memutuskan untuk menggunakan kekuatannya agar sepenuhnya lepas kendali dari genggaman Miyaku yang duduk santai di atas pohon dengan secangkir tehnya.
"Kendalikan pikiran, lupakan emosi mu" teriak Leix yang juga berubah ke wujud tengkoraknya.
Tanaman merambat menjalankan perintah dari Laurel sedangkan Leix mengubah hawa dinginnya menjadi ribuan jarum yang mampu membekukan para boneka, baik itu benda sekeras apa pun jarum itu tetap akan membunuh objek yang sudah di tentukan oleh Leix.
__ADS_1
Setelah membuat mereka lumpuh Leix mengeluarkan asam panas dari tangannya dan menyebarkannya ke tanah. Pepohonan yang ada di sana semua meleleh begitu pula dengan para boneka yang terbakar di bawah panasnya asam pemusnah.
"Pertarungan yang menarik tapi aku tidak percaya jika kalian tidak ku buat mati di sini! "
Miyaku melayang terbang dengan ribuan boneka yang berubah hanya dengan menggunakan apa yang ada di sekitarnya. Boneka dari asam yang di buang Leix pun perlahan berubah menjadi boneka, pohon yang masih belum sepenuhnya terbakar berubah menjadi boneka dan banyak objek lainnya.
Laurel berdecak kesal melihat Miyaku yang dengan santainya masih duduk sambil meminum teh di atas udara bersama dengan kawalan bonekanya.
"Cih! Nona Hanabi saja tidak sehebat ini, jika melawan mereka dengan jumlah tak terbatas seperti ini yang ada kita akan benar benar berakhir "ujar Laurel merasa terpojok.
"Bodoh! Kekuatan tumbuhan merambat mu dapat mengatasinya "ujar Leix.
"Bagaimana dengan boneka asam itu? "Panik Laurel.
"Tenanglah, aku akan memadamkannya dengan hawa dingin ku" ujar Leix.
Laurel kembali fokus untuk menangkap semua boneka yang berterbangan di atasnya sekaligus menghalangi mereka yang hendak menyerang Leix.
"Jangan menyakiti kakak ku! "Geram Laurel yang menumbuhkan tumbuhan pemakan segalanya.
"Astaga! Bunga Drosera, hahahah.... Aku sangat menyukainya! "Histeris Miyaku yang melompat turun.
"Woah! "
Melihat peluang yang begitu besar dengan cerobohnya Laurel melahap Miyaku menggunakan Drosera. Dengan sekejap mata Laurel yang kaget mendapati tubuhnya tengah melekat di puncuk bunga Drosera.
"Sayang sekali kecantikannya hanyalah sebuah topeng" dengan perasaan sedih Miyaku kembali ke udara dan menyaksikan Laurel perlahan di lahap oleh tanamannya sendiri. Dengan tampang dinginya Miyaku melempar air mendidih ke tubuh Laurel.
Untung saja Laurel kembali mengubah dirinya menjadi Tengkorak dan melepaskan uap panas dari tulangnya dan berhasil lolos.
"Sialan! "Marah Laurel yang mulai mengaktifkan tanda di keningnya dan mulai mengejar Miyaku yang menjauh darinyanya.
"Anak itu terlalu ceroboh! Emosinya masih harus di perbaiki "gumam Leix yang langsung meninggalkan bonekannya dan mengejar adiknya yang dilanda emosi.
"Kekuatannya memang mematikan, memanipulasi keadaan, mata penanda dan akalan liciknya memang membuat musuh mudah terpancing dan mengikuti keinginannya. Perlahan musuh merasa tubuh sedang di kendalikan dan mengakibatkan musuh merasa terancam dan mengeluarkan kekuatannya "
"Mendapat informasi dan sekaligus memanipulasi pikiran lawannya lalu perlahan mengendalikannya. Semakin besar kekuatan dan emosi musuh maka semakin besar pula dia dapat mengendalikan musuhnya dan menguasai situasi, dia tidak lain adalah putri penguasa hati pikiran"
__ADS_1
Berlanjuttt....