Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 62


__ADS_3

...~~~~...


Zilian berjalan disekitaran kamarnya jenuh duduk diam menunggu seseorang yang masih belum datang, apa mungkin dia melupakannya? Ah, jangan sampai.


Hampir setengah jam Zilian menunggu, ini membuatnya benar benar merasa bosan, ralat sangat bosan lebih tepatnya.


Zilian memutuskan untuk membaringkan tubuhnya sambil memikirkan rute mana yang akan dia lewati menuju perumahan barunya, jujur saja dia sendiri merasa tidak sabaran utuk melihatnya.


Rumah itu berada di tempat dimana jauh dari keramaian dan dapat menyulitkan pihak manapun untuk menggeledah rumahnya jika itu memungkinkan.


"Untuk sekarang tidak ada masalah tapi kedepannya akan semakin sulit sebelum pergi, informasi yang aku dapatkan masih kurang dan kekuatanku sekarang masih terlalu lemah" pikir Zilian menyadari kelemahan pada dirinya sendiri.


Hidup dalam kekuatan luar biasa yang telah dia bawa sejak ia lahir membuatnya lupa akan kemungkinan dimana dia bisa saja kehilangan itu semua.


Karena itu juga Zilian menjadi sangat bergantung dengan sihir dan kemampuannya dari pada kekuatan fisiknya, karena itulah kali ini dampaknya sangat terasa pada Zilian.


"Terlalu cepat memutuskan memanglah tindakan yang gegabah, akan aku tunda hingga aku menguasai ilmu bela diri setidaknya untuk bertarung dan untuk melindungi diriku sendiri" ujar Zilian mengerutkan keningnya saat merasakan dirinya benar-benar terlihat lemah.


"Menyedihkan" gumam Zilian pada dirinya sendiri.


"Aku tidaklah sesempurna itu tanpa kekuatan, pengalaman bertarung di duniaku mungkin aku akan lebih kesulitan dari pada saat ini dan satu hal lagi pertarungan tadi.... "


Zilian memincingkan matanya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan rumit.


Pikirannya beralih pada sekelompok para bandit yang telah ia bereskan, ia secara perlahan mengingat moment itu dalam pikirannya, sensasi saat ia menebas mereka dan apa yang ia rasakan pada dirinya.


"Aneh, apa ada hubungannya dengan membunuh seseorang kita akan merasakan dampaknya? Kurasa tidak, tapi kenapa aku merasa seperti tertusuk tombak dengan racun yang membuat tubuhku ingin sekali hancur dan meledak secara bersamaan? Ugh, sangat menyakitkan" ujar Zilian memejamkan matanya mencoba melupakan momen menyakitkan itu, rasa itu benar nyata adanya.


Padahal saat ia melawan para bandit Zilian dapat merasakan dirinya yang berbeda mengatakan untuk tidak bertindak lebih jauh tapi tubuhnya malah merespon jauh dari peringatan itu.


"Aku sering memperhatikan Solydia saat berlatih pedang dulu lalu menirunya secara diam diam di taman belakang, mudah yah? itu mudah karena aku masih memiliki sihir yang membantuku tapi sekarang gerakan halus itu berubah menjadi kaku" ujar Zilian menatap tangannya yang terlihat bengkak setelah berlatih pedang.


"Berlatih lebih sering mungkin akan membantuku memperkuat skil dan ketahanan tubuhku setidaknya aku tidak tinggal diam seperti orang bodoh, kebetulan ada hutan dibelakang rumah itukan? Itu akan cukup untuk ku tebas mungkin? "Batin Zilian terkekeh membayangkan para pohon yang akan tumbang karena menjadi sasaran empuknya.


Saat sibuk dengan pikirannya tiba-tiba saja Gailen masuk dengan pakaian yang rapi, wajahnya tampak begitu senang membuat Zilian menatap bingung ke arah Gailen yang kikuk.


"Kenapa kau berpakaian serapi itu? "Tanya Zilian yang langsung mengubah posisi tubuhnya, ia bangkit dari acara rebahannya lalu duduk di tepian ranjang.


"Apa nona lupa, bukankah saya akan mengikuti nona mulai sekarang? "Ujar Gailen mengingatkan, mungkin saja Zilian melupakannya.


"Eh? Ah... Tentu saja! Ayo pergi sekarang juga" ujar Zilian yang langsung menarik Gailen keluar dari kamarnya setelah mengingat apa yang telah terjadi.


Zilian menatap Gailen yag terlihat sedikit gelisah, seperti memikirkan sesuatu.


"Mereka tidak berhak membuatmu merasa rendah Gailen, lihatlah secara teliti aku baik baik saja sampai sekarang bukan? Itu menandakan kau bukanlah orang yang membawa kesialan pada orang-orang di sekitaranmu" ujar Zilian sambil menutup pinti kamarnya pelan.


Gailen terdiam, "tidak ada yang tahu takdir kedepanya nona" ujar Gailen tersenyum pahit.


Zilian menyungingkan senyuman smiriknya, "kalau begitu mari kita buktikan selama kau berada di sampingku nanti, entah aku mati atau mendapatkan kesialan yang datang tanpa akhir akan ku pastikan pikiranmu itu salah Gailen" ujar Zilian percaya diri.


Zilian menatap ke arah pintu kamarnya sejenak lalu terkekeh pelan.

__ADS_1


"Kau lupa menyembunyikan aurahmu bodoh "Ujar Zilian bergumam pelan setelahnya ia menarik lengan Gailen menuruni tangga penginapan.


"Anda bicara dengan siapa tadi? "Tanya Gailen penasaran, dia mendengarnya meski terdengar samar.


"Anak yang sempat kubantu kemarin" ujar Zilian jujur, tidak ada untungnya dia berbohong pada Gailen.


Gailen menganggukan kepalanya mengerti, "tentang apa yang anda katakan waktu itu saya setuju" ujar Gailen tersenyum penuh arti.


"Tentu saja, kau tidak akan menggunakan pakaian serapi ini sambil menenteng tas besar seperti itu jika kau menolak tawaranku" ujar Zilian di iringi kekehan melihat tingkah Gailen yang menggemaskan.


"Sepertinya anda memang peka" ujar Gailen ikut terkekeh.


Zilian menarik nafas panjang setelahnya menghela nafas, ia menatap Gailen yang sibuk menundukkan kepalanya menatap lantai penginapa sambil berjalan dengan senyuman manis di wajahnya.


"Apa kau tidak menyesal? "Tanya Zilian yang membuat Gailen menghentikan langkahnya bersamaan dengan Zilian.


"Tidak sama sekali nona, bahkan jika anda menginginkan hidup saya pasti akan saya berikan" ujar Gailen yakin, dia tidak akan pernah menyesali keputusannya kali ini karena Zilian adalah pilihan yang tepat untuknya sekarang dan untuk selamanya.


"Bicara apa kau? Jika aku mau aku bisa saja membunuhmu saat pertama kali bertemu" ujar Zilian menjitak keras kepala Gailen yang memayunkan bibir seksinya.


Zilian tersenyum senang, tampaknya dia berhasil membuat Gailen mempercayai dirinya.


"Dengar, hidupmu adalah suatu keberuntungan, keberadaanmu sekarang bukanlah sebuah kesialan entah kau menghargai hidupmu atau tidak tapi aku yakin dari sekian banyaknya orang yang menutup mata padamu pasti ada segelintir orang yang peduli padamu termasuk aku salah satunya" ujar Zilian menepuk pundak Gailen pelan berharap Gailen dapat lebih bersemangat lagi.


"Aku tahu kau membenci dirimu sendiri begitu pula dengan nasibmu tapi kumohon hiduplah untuk orang-orang yang menyayangimu meski kau sendiri tidak tahu apakah keberadaan mereka benar adanya setidaknya kau akan mendapatkan kekuatan dari keyakinan itu" ujar Zilian menatap lembut ke arah Gailen yang mengangguk kecil tanda ia merespon.


"Karena itulah aku berada disini" ujar Gailen tersenyum hangat, hatinya terasa nyaman dan sedikit merasakan kepercayaan yang sempat menghilang.


"Aku senang mendengarnya" balas Zilian tulus.


Zilian kembali melanjutkan langkahnya menemui pemilik penginapan yang berada di depan penginapan.


Zilian dengan tenang melakukan negosiasi pada pemilik penginapan untuk membebaskan Gailen meski sulit tapi pada akhirnya Zilianlah yang memenangkan perdebatan itu tentu dengan sedikit bumbu ancaman dan uang.


Dan berakhirlah Zilian tengah menatap hiruk pikuk aktivitas beberapa orang yang tengah sibuk dengan urusan mereka sendiri.


Zilian menatap ke arah Alastor yang mengintip dari balik pohon toko sebelah.


"Berhentilah bersembunyi bocah, kemari" ujar Zilian yang mau tidak mau menerbitkan senyumannya yang sehangat mentari pagi saat Alastor malah menurutinya dengan wajah yang begitu datar meski datar Zilian dapat melihat telinga Alastor yang memerah.


"Aku tidak lagi sendiri, sekarang ada kalian yang menemaniku sekarang" ujar Zilian merangkul pundak Gailen yang berada di sebelah kanannya sedangkan dari sebelah kiri ada Alastor yang dengan pasrah mengikuti Zilian, tangannya di gandeng oleh Zilian.


"Saya senang mengikuti nona! "Pekik Gailen bersemangat tidak lupa dengan senyuman ceria yang terukir di wajah tampannya.


"Ya, aku pun" batin Alastor menghangat.


Zilian tengah sibuk melatih dirinya di hutan tepat dibelakang rumah barunya, sebenarnya tadi dia sedang sibuk membereskan kamarnya tapi Gailen memaksanya untuk beristirahat saja dan membiarkan dirinya yang berberes.


Zilian tampak fokus dengan manekin yan dibuat oleh Alastor, yah anak itu terus mengikuti Zilian kemanapun dia pergi dan itu terjadi sejak mereka bertiga saling bertemu.


Alastor tidak tanggung-tanggung memasang perisai tingkat tinggi disekeliling rumah demi keamanan Zilian.

__ADS_1


Jangan bertanya tentang kekuatan Alastor karena Zilian sendiri terkejut dengan kekuatan Alastor yang semakin meningkat drastis dan entah bagaimana Alastor menguasainya secepat itu padahal ini pertamakalinya dia menggunakan kekuatanya.


Padahal Zilian hanya membantunya melepas segel yang menahan pusat energi dan kekuatannya tidak disangka malah menjadi begini.


Entah dia jenius atau memang pernah menggunakan kekuatannya sebelum ini hanya Alastor yang tahu, Zilian tidak ingin memaksanya untuk mengatakan apapun.


Zilian menyeka keringatnya, ia berjalan mendekati Alastor yang sibuk menambahkan jumlah manekin untuk Zilian gunakan berlatih nanti sepertinya Zilian harus mengurungkan niatnya untuk menebas pohon di dalam hutan.


"Hah, melelahkan sekali" keluh Zilian menaruh pedangnya tepat di sampingnya.


Alastor memberikan kain pada Zilian dalam diam lalu kembali menyodorkan sebuah botol ramuan padanya.


"Dari orang itu" ujar Alastor datar.


Zilian mengamati kedua botol ramuan yang Alastor berikan padanya tadi lalu sedetik kemudian menatap tajam botol itu.


Melihat perubahan suasana hati Zilian dengan cepat Alastor segera memberikan sebuah kertas pada Zilian yang tanpa pikir panjang langsung membukanya.


"Brengsek, aku menyuruhmu membuat dua jenis ramuan tapi kenapa hanya ada satu jenis? Lalu apa apaan ini? Salah bahan kau bilang? Kalau begitu aku boleh membunuhmu dengan alasan aku tidak sengajakan? "Ujar Zilian tersenyum.


Alastor diam saja, terserah Zilian mau melakukan apa yang jelas jika ada masalah Alastorlah yang akan menanganinya.


Zilian berjalan menuju kamarnya, beberapa menit kemudian Zilian keluar dengan pakaian yang berbeda.


Alastor yang dari tadi menunggu Zilian keluar langsung menghampirinya.


"Dia tidak berada disana" ujar Alastor santai.


"Bagaimana bisa kau tahu? "Tanya Zilian heran.


"Saat mengambil ramuan aku mengikutinya " ujar Alastor jujur.


Zilian menatap Alastor yang begitu santai menjawab pertanyaanya.


"Dimana dia sekarang? "Tanya Zilian tak ingin membuang-buang waktu lagi dia harus menemuinya untuk mendapat penjelasan.


"Pelelangan" ujar Alastor yang langsung mendapat tepukan hangat di pundaknya.


"Kau mau ikut? "Ajak Zilian yang mendapat anggukan pelan dari Alastor.


Zilian sudah menduga jawabannya, tidak di ajak sekalipun Alastor akan pergi mengikutinya secara diam-diam.


Sebelum pergi Zilian menemui Gailen terlebih dahulu untuk memberikan satu botol ramuan tadi padanya lalu satunya lagi untuk Alastor.


Ramuan itu memang untuk mereka, Zilian hanya membutuhkan satu ramuan untuk membantu Brant memasuki kerajaan Baxeria walaupun Zilian tahu Brant pasti dapat masuk meski sulit tapi tidak ada salahnya Zilian mempersiapkannya bukan? Bisa saja nanti akan berguna.


Kembali pada Zilian yang telah pergi bersama dengan Alator sedangkan Gailen tetap berada di rumah padahal Zilian mengajaknya untuk pergi bersama tapi pria itu menolak dengan alasan dia masih sibuk berberes rumah.


Jadilah Zilian hanya pergi berdua bersama Alastor, sebelum ke pelelangan Zilian mampir ke toko baju untuk mengganti pakaian mereka agar menyerupai para bangsawan tidak lupa dengan topeng sebagai pelengkap tambahan.


"Semoga saja ada yang hal menarik" batin Zilian.

__ADS_1


Berlanjutttt....


__ADS_2