Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
PART 20 : KERJASAMA


__ADS_3

"Jika kau ingin berada di posisi yang sama maka akan ada pengorbanan untuk itu" by medeia beliard.


^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°^•^°*^


Exel datang menemui Medeia yang duduk di taman kediamannya bersama dengan Cestania yang tertawa terbahak bahak, melihat kedekatan Cestania yang semakin lama semakin akrab dengan Medeia membuatnya semakin marah.


"Hahahaha.... Sangat lucu, oh iya teman laki laki mu itu sedang ada yang mengejar mu loh"ujar Cestania menyenggol Medeia yang tengah meminum teh.


Medeia menghela nafas, ia menaruh kembali tehnya di meja lalu kembali membalas Cestania yang tesenyum licik.


"Siapa yang kau maksud? "Tanya Medeia.


"Yang selalu memakai pakaian berwarna serba hitam itu, bukan kah dia begitu tampan? "Goda Cestania.


"Sama sekali tidak, jika kau mau kau bisa mengejarnya"ujar Medeia tenang.


"Maaf, tapi aku sudah punya aku tidak akan mengkhianati perasaanya pada ku"ujar Cestania menyombong kan diri.


"Benarkah? Siapa dia? "Ujar Medeia tersenyum kemenangan.


"Dia adalah pria paling sempurna di jagat raya ini, dia orang yang sangat lembut, pengertian dan juga bonus dia sangat tampan, tinggi dan juga berbahu lebar, tidak seperti teman ku yang selalu berwajah dingin"


"Di bandingkan dengannya kekasih ku teman ku ini seperti iblis yang mematikan, untung saja dia masih sedikit memiliki hati terhadap rekan rekannya jika tidak mungkin dunia ini tidak akan ada penghuninya"ejek Cestania.


"Terserah mau bilang apa toh itu bukan urusan ku"pasrah Medeia.


"Hahaha.... Mau mencari informasi dengan ku? Jangan harap Medeia"tawa Cestania yang menyadari trik Medeia.


"Hah... Baiklah, kau mau tau dia siapa kan? "Ujar Cestania.


"Tidak"kesal Medeia.


"Sudah ku duga kau akan marah lagi, ayolah aku akan memberi tahu mu"ujar Cestania memelas.


"Percuma kau memelas pada ku, aku ini kan iblis tak berhati"kesal Medeia mengepal tangannya.


"Oke, dia adalah kakak mu"ujar Cestania memberi tahu.


Medeia kembali berfikir apa benar dia memiliki kakak? sepengetahuan Medeia ia pernah menyelidiki silsilah keluarga beliad dan hanya dirinya yang menjadi satu satunya penerus dari keluarganya.


Jika pun itu benar Medeia memiliki kakak laki laki pasti dia akan menjabat sebagai ceo di perusahaan terusan keluarga beliard, bagaimana pun laki lakilah yang paling berhak untuk menerus kan bisnis di keluargannya.


"Menurut situasi sekarang, kakak ku yang kau maksud itu pasti bukan dari dunia manusia kan? "Ujar Medeia menebak.


"Bagaimana yah? Indentitasnya terlalu rahasia jika di bicara kan di sini"ujar Cestania menyadaru keberadaan Exel yang dari tadi menatap Medeia tidak suka.


"Sudahlah, aku tidak peduli memiliki kakak atau tidak, tujuan ku lebih penting dari itu"ujar Medeia memahami kode dari Cestania.


"Bagaimana kalau kita menemui kakak ku di kalangan masyarakat sekarang? "Usul Cestania sambil mengalih kan pembicaraan.


"Oke, udara di sini mulai memanas, bagaimana kalau kita pergi sekarang? Aku juga ingin tahu bagaimana pergerak kan musuh saat ini "ujar Medeia.


"Oke"


Mendengar ini, Exel dengan cepat memberi tahu ketua untuk memperketat keamanan dan melarang siapa pun untuk keluar dari lingkungan markas.


Sesuai dengan rencana, Cestania dan Medeia tersenyum senang tanpa pikir panjang ia langsung menjalan kan bagian dari rencana terpenting mereka. Jika dia ingin membatalkannya juga pasti dialah yang akan di curigai.


Rencana awal mereka adalah membuat seluruh anggota inti saling mencurigai lalu di tengah tengah dari keributan itu Medeia dengan leluasa bisa memasang jebak kan dan menghancur kan organisasi itu dan mengambil batu itu dari tangan ketua organisasi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sebulan telah berlalu pasukan dari organisasi itu datang dan menyerang markas pusat secara langsung. Sesuai dengan dugaan Cestania semuanya terjadi setelah Medeia selesai memasang jebakan dari segala arah.


Cestania akhirnya beraksi setelah Medeia selesai "sudah ku duga orang dari organisasi pesc pasti itu kau"tuduh Cestania menunjuk Siko.


"Apa? Mana mungkin aku, aku sudah mengabdi untuk organisasi ini selama bertahun tahun dan kau mencurigai ku? "Kaget Siko.


"Aku rasa di sini yang bertingkah laku aneh itu Exel"tuduh Reina.


"menurut ku itu juga benar, dia tidak pernah datang untuk rapat perencanaan"bela Siko.


"Bagaimana menurut mu Medeia? "Tanya Cestania.

__ADS_1


"Saat ini situasi di luar markas tengah terjadi peperangan, sebaiknya kita juga datang dan membantu pasukan untuk memukul mundur pasukan mereka sekalian kita bisa tahu siapa yang akan panik jika aku melaku kan sesuatu nantinya"ujar Medeia memberi solusi.


"Bagaimana? "Tanya Cestania memasti kan.


"Setuju, untuk membukti kan kalau aku bukan mata mata organisasi itu"ujar Siko mengiyakan saja.


"Oke"singkat Reina.


"Bagus, kalau begitu aku dan Medeia akan mencari tahu dan menangkap pelakunya di dalam markas, kalian ulur waktu sebisa kalian, jangan memaksa kan diri"ujar Cestania memberi perintah.


"Tenang, aku tidak akan membiar kan semuanya berakhir tanpa ada barang bukti"ujar Reina pergi duluan sambil menarik Siko menjauh dari Cestania dan Medeia.


"Sesuai rencana"ujar Cestania.


"Sekarang mengadu domba antara ketua dan Exel"lanjut cestania memberi kode pada Medeia.


"Mengerti, orang orang ku sudah mengepung kedua pasukan, teman teman ku juga sudah berada di posisi siap serang, sisanya tinggal mereka "ujar Medeia.


"Kau ikutlah dengan ku ke ruangan batu kuno itu, setelah aku memukul tembok maka masuk dan ambil lah, ingat sesuai kan waktu sebelum mengambilnya, tepat jam 12 malam ambil dengan cepat lalu keluar dari markas"ujar Cestania.


"Tenanglah"ujar Medeia.


Mereka pergi ke tempat mereka masing masing, Cestani mengguna kan kekuatan tembus pandangnya pada Medeia agar nanti dia bisa bergerak leluasa untuk mengambil batu itu.


Cestania mengetuk pintu dan masuk menemui Askar yang duduk santai melihat pertarungan mereka di komputer.


"Maaf menganggu ketua"ujar Cestania membungkuk.


"Ada apa kau datang kemari? "Tanya Askar.


"Menurut saya, batu itu seharusnya di bawa menjauh dari markas agar tidak jatuh ke tangan musuh, selama ini kakak sibuk mengurus sisanya di dunia atas "ujar Cetania.


"Apa anak ini masih belum mengetahuinya? Lebih baik di lakukan secepat mungkin"batin Askar.


"apa maksud mu melepas jebakan agar kau membawanya ke tempat yang aman? "Tebak Askar.


"Benar, di takut kan mata mata dari pesc akan datang dan merebutnya, saya tidak ingin mengambil tidak kan yang gegabah"ujar Cestania.


"Kalau aku tidak mau bagaimana? "Kesal Askar.


"Kalau begitu andalah yang patut di curigai"senang Cestania.


Cestania mengungci kekuatan Askar dengan cepat lalu mengambil alih pikiran Askar dengan memasuki tubuhnya sebagai wadah peledak pusatnya nanti.


Setelah selesai membuka kunci jebakan Cestania memukul tembok dengan keras hingga membuat gedung markas bergetar hebat.


"Apa aku memukul terlalu keras? "Batin Cestania.


Di sisi lain Medeia dengan cepat masuk, ia di buat pusing dengan lorong lorong yang membuatnya kembali ke tempat yang sama.


"Kalau begini terus, aku bisa mati bersama mereka bukan kah sama saja kalau aku menggali kuburan ku sendiri"kesal Medeia.


"Aku lupa kalau ruangan itu bisa di aliri dengan energi mu"ujar Cestania tertawa terbahak bahak.


"Siala kau! Awas setelah aku berhasil mengambil batu itu akan ku buat ku menjadi sambal makanan ku nanti"marah Medeia.


Dengan rasa kesal Medeia mengaliri energinya mencari sumber energi yang menghisap kekuatannya setelah mengaliri energinya cukup lama, akhirnya Medeia menemui batu itu.


Tanpa pikir panjang Medeia mengumpul kan energi nya di tangannya lalu memukul tembok itu sambil melampias kan emosinya.


"Sialan, sepertinya dia benar benar marah, hanya sekali pukul temboknya hancur, pukulannya 1000 kali lipat lebih mematu kan dari pukulan ku "batin Cestania berkeringat dingin.


Setelah puas memukul tembok, medeia berjalan masuk mengambil batu itu lalu keluar melalui segel yang sudah Medeia persiap kan dengan Eva.


Mendapat kode dari Medeia, Eva segera mengaktifkannya dan membawa Medeia ke luar dari kawasan Markas.


Di sisi lain Cestania menerima pesan angin dari Medeia, setelah menerima pesan darinya Cestania keluar dari tubuh Askar lalu mesang segel peledak energi peledak lalu keluar mengguna kan portal buatan dari Eva.


Medeia menembak ke langit untuk menanda kan agar orang orangnya segera menyelesai kan peperangan dengan segera.


Bertepatan dengan tembakan itu, teman teman Medeia juga berkumpul di belakang Medeia dengan selamat.


"Syukurlah semuanya sudah berakhir"ujar Medeia.


Di saat Medeia asik melihat peperangan sebuah serangan dengan kecepatan tinggi menyerangnya, Chaiden yang melihat serangan itu dengan cepat mengaktif kan tanda bulu hitam yang ia tanda ka di leher Medeia.


Darah bercucuran di punggung Chaiden, wajahnya berkerut manahan sakit dari serangan memati kan itu.


Medeia menatap Chaiden tak percaya, dia sama sekali tidak tahu kalau Chaiden memberinya tanda di lehernya, melihat pengorbanan Chaiden membuat Kelvin merasa selangkah lebih lambat untuk melindungi Medeia dari bahaya.


"Kenapa kau merela kan nyawa mu pada ku hah? Aku bisa menghindarinya aku tidak butuh kau mengorban kan nyawa mu hanya karena aku"bentak Medeia.


"Diamlah sebentar"ujar Chaiden dengan nada rendah.


Medeia menghela nafas lalu membalas pelukan dari Chaiden sambil menyembuh kan luka Chaiden yang tengah tidak sadar kan diri dalam pelukan Medeia.


"Aku rela memberikan nyawa ku untuk mu, asal kan kau selalu aman"batin Chaiden sebelum tidak sadar kan diri.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


Medeia merawat Chaiden selama tiga hari di vilanya menantikan agar dia sadar dengan cepat. Akhirnya waktu yang di tunggu tunggu Medeia akhirnya datang.


"Jangan mencoba coba membohongi ku dengan trik murahan seperti ini"ujar Medeia menyadari Chaiden sudah siuman.


"Ternyata kau memang sulit untuk di dekati, dasar wanita tidak peka"kesal Chaiden.


"Lalu kenapa kalau aku tidak peka? Itu juga bukan urusan mu"ujar Medeia menyuapi Chaiden dengan bubur.


"Aku menyukai mu"ujar Chaiden berterus terang.


Seketika Medeia terdiam memaku ia harap apa yang di kata kan Chaiden tadi hanyalah ilusi dari Cestania.


"Huachuuu..... Siapa yang mengutuk ku sepagi ini? "Kesal Cestania.


Chaiden yang melihat Medeia yang salah tinggkah tersenyum kecil, ia jadi ingin menggoda Medeia.


"Aku mengatakannya dengan serius"ujar Chaiden.


"Apa yang sedang kau katakan? Benar benar tidaj masuk akal"kesal Medeia dengan wajah yang memerah.


"Benar kah? Ratu ku? "Goda Chaiden.


Medeia melempar bubur ke wajah Chaiden lalu keluar dengan wajah memerah padam, sedang kan Chaiden hanya tertawa kecil melihat kelakuan Medeia.


Medeia duduk di taman vilanya berusaha menenag kan dirinya, hatinya berdegub kencang tidak seperti biasanya, perasaan yang merepot kan.


"Sialan, kenapa dia harus mengata kan kata kata menjijik kan seperti itu? Perasaan macam apa ini?! Membuat orang tidak bisa tenang"kesal Medeia menghentak kan kakinya beberapa kali.


Cestania datang bersama dengan Medusa yang membawa cemilan kemana mana di mana pun dan kapan pun.


"Cemilan ini enak loh, mau coba? "Tawar Medusa pada Cestania.


Cestania mengeleng ngeleng"tidak aku sedang diet"tolaknya.


"Yang benar saja"kesal Medusa.


"Bukan kah itu Medeia? "Lanjut Medusa menunjuk ke arah yang menoceh seorang diri.


"sepertinya kepalnya terbentur sesuatu ketika menjalan kan rencana kemarin"tebak Medusa.


"Salah, sepertinya dia sedang terbawa suasana"ujar Cestania.


"Bagaimana kalau kita goda saja? "Usul Medusa.


"Kau paling mengerti niat ku"senang Cestania.


Mereka mendekati Medeia lalu mengambil temoat duduk di dekatnya sambil menatap Medeia dengan tatapan senang.


"Ada apa dengan kalian? Suasana hati ku sedang tidak baik, sebaiknya kalian ambil jarak saja"kesal Medeia memperingati.


"Apa kau mendapat surat cinta? "Ujar Cestania menebak.


"Atau di kata kan secara langsung? Apa kah suasananya romantis? Bagaimana dengan pria itu? Apakah dia tampan seperti artis korea? "Ujar Medusa memain kan rambut Medeia yang panjang.


"Tidak ada! Apa yang sedang kalian bicara kan? "Kesal Medeia.


"Jangan lari dari kenyataan Medeia teman ku"ujar Medusa mulai iseng.


"Apa kau ketularan dengan wanita setengah iblis ini? "Ujar Medeia menunjuk Cestania.


"Oh? Biar ku tebak ka sedang jatuh cinta dengan pri itu bukan? Jika tidak salah ingat namanya adalah C-H-A-I-D-E-N"ujar Cestania.


Seketika Medeia terdiam tak berkutik mendengar ucapan Cestania yang tebakannya benar seratus persen.


"Kenapa terdiam? "Ujar Cestania memojok kan Medeia.


"Apa jangan jangan itu benar?"ujar Medusa ikut memojok kan Medeia.


"Menurut ku dia itu lumayan, selain tampan juga pintar yah walau sikapnya dingin tapi itu juga menguntung kan untuk mu, dengan sifatnya yang dingin wanita lain tidak akan betah untuk merayunya lama lama"ujar Medusa berfikir.


"Sudahlah. Aku tidak akan tertarik"ujar Medeia menyangkal.


"Kalau begitu, bagaimana jika kita bertaruh, jika kau memiliki perasaan dengannya maka kau akan mendengar kan perintah ku dengan Medusa jika sebaliknya kau memang tidam menyukainnya maka aku siap melaku kan apa pun yang kau ingin kan"ujar Cestania.


"Bagaimana jika kau meninggal kan kakak ku? "Usul Medeia membalas dendam.


"Dasar pembalas dendam, oke setidaknya ini akan menarik"kesal Cestania.


"Kalau aku tidak perlu"ujar Medusa mengemil.


"Kalau kau, jika aku menang maka kau berhenti mengemil dengan uang ku"ujar Medeia yang membuat Medusa tersedak.

__ADS_1


"Dasar kau wanita pelit, kalau begitu akan ku bukti kalau aku Medusa tidak akan pernah kalah"kesal Medusa melempar pembungkus cemilannya ke wajah Medeia.


Medeia berdiri dan mengejar Medusa dan Cestania yang berlari menjauh dari Medeia.


__ADS_2