
Medeia tidak tidur semalaman bersama dengan Eva yang tertidur di meja kerjanya yang berada di ruang baca Medeia.
Medeia mengambil selimut untuk Eva lalu bergegas mandi lalu turun.
Setelah selesai mandi Medeia menyuruh agennya untuk menebar kan undangan pembukaan sekolah hari ini ke kalangan bangsawan, Medeia memanggil Meira untuk menemuinya di ruang baca.
"Hai kak, apa kabar? "Sapa Meira.
"Baik, terimakasih sudah membantu ku mengurus perusahaan, untung saja kau ada jika tidak entah perusahaan itu hancur atau tidak"tawa Medeia.
"Sekolahnya bagaimana kak? "Ujar Meira.
"Hari ini adalah peresmiannya, besok sudah boleh mulai menerima siswa sari kalangan mana pun"senang Medeia.
"Syukurlah"Meira ikut senang.
"Apa yang kau ingin kan sebagai hadiah? "Ujar Medeia.
"Tidak ada, aku melakukannya juga untuk keluarga kita jadi tidak perlu ada acara pemberian hadiah seperti di novel zaman dahulu kala"canda Meira.
"Baiklah, kalau kau butuh bantuan katakan saja aku akan membantu mu jika kau membutuh kan bantuan ku"ujar Medeia menepuk pundak adik sepupunya.
"Oke, aku akan kembali ke rumah untuk beristirahat"ujar Meira hendak keluar.
"Tinggal lah di sini untuk merayakan peresmian sekolah"ujar Medeia menahan Meira.
"Baiklah kalau kakak yang menyuruh"patuh Meira.
"Mau beli gaun tidak? "Tanya Medeia.
"Tidak perlu, stock di rumah sih ada banyak"ujar Meira tidak enak.
"bagaimana dengan pakaian baru yang akhir pekan ini baru ku beli di korea? "Usul Medeia.
"B-benar kah? Mau mau"senang Meira.
"Aku tau kau pencinta desainer buatan korea, pergilah ke kamar ku untuk memilih gaun di sana juga ada beberapa sepatu hak tinggi dan beberapa perhiasan kelas atas, semuanya di desain oleh Han Jeon"ujar Medeia.
Meira terharu mendengar semua barang yang ia ingin kan ada di rumah sepupunya "aku tau kakak sudah menyiapkannya sejak awal, kakak yang terbaik"peluk Meira.
"Aku pun tau kalau kau selalu di tindas dengan ibu tiri mu itu kan? Mulai sekarang kau tinggal lah bersama dengan ku urusan persetujuan aku bisa membungkam siapa pun yang tidak menyetujui kemauan ku"dingin Medeia.
"Kakak sepupu tidak perlu ikut campur dalam masalah ku, aku tidak apa apa kok"ujar Meira menguat kan diri.
"Jangan berbohong, aku akan berbicara dengan paman nanti di acara perjamuan, kau tenanglah aku tidak akan dalam masalah"ujar medeia menenang kan.
"Tapi... "
"Jika tidak naik kau akan kehilangan kesempatan untuk memilih aksesoris terbatas desain terpopuler itu loh"ujar Medeia tersenyum manis.
"Tidak..... Baik aku akan mendengar kan kakak sepupu kali ini"tawa Meira.
"Semua aksesoris itu mulai hari ini adalah milik mu"ujar Medeia membuat Meira menangis di tempatnya.
Meira menunduk kan kepalanya menangis tersedu sedu, selama ia tinggal di rumah itu dia sama sekali tidak pernah mendapat kasih sayang dari ibu tirinya bahkan saudara tirinya memperlakukannya sebagai pelayan yang bahkan lebih rendah dari itu.
Mereka hanya akan bertinggkah baik jika ayahnya datang, Meira tersenyum hangat sambil memeluk Medeia dengan erat melepas seluruh rasa sakit yang selama ini ia tanggung sendiri.
"Sudah sudah, aku akan membangun kan Eva dulu, kau pilihlah gaun yang kau mau nanti aku akan melihat mu, oke? "Senang Medeia.
"Terimakasih kak"ujar Meira keluar dari ruang baca Medeia.
"Hah.... Yang benar saja, tunggu aku membuka kedok mu di depan umum, kau melakukan ini padanya sama saja mengantar nyawa mu pada musuh, berhati hatilah bibi"dingin Medeia.
"Apa yang akan ratu lakukan pada mereka? "Tanya Eva yang mengucek matanya dengan tangan.
"Kau sudah bangun? Hah.... Ayo sarapan, kali ini aku sendirj yang akan memasak"ujar Medeia.
"Eh? Mengapa tiba tiba? "Bingung Eva.
"Hanya untuk merayakannya saja, ayo makanannya akan segera ku buat kau bantulah aku membangun kan mereka semua "ujar Medeia berjalan keluar menuju dapur.
Eva menjalan kan perintah Medeia, ia membangun kan semua penghuni dengan ekornya .
"Hoammmmmmm"ngantuk Medusa.
"Jangan ganggu dong"kesal Cestania.
"Kaliam berdua! Bangun dong"kesal Eva memukul pantat mereka berdua.
"Sakit! "Ringis Medusa.
__ADS_1
"Ku beri kalian waktu 1 menit untuk bersiap turun ke bawah kalau tidak mematuhi ku anggap ini tidak menghormati perintah ratu"kesal Eva keluar dari kamar tidur Medusa dan Cestania.
"menurut mu harus bagaimana? "Tanya Medusa memeluk bantal gulingnya.
"Ikuti saja, mari cari aman saja"usul Cestania yang tetlelap ke dalam tidurnya.
"Cari aman? Kau sendiri tertidur, jadi kan saja alasan deh, aku mau tidur ngantuk habis semalam nonton drakor bareng"ujar Medusa yang juga tertidur kembali.
Medeia sudah selesai memasak tinggal menaruh hidangan di meja, saat menaruh makanan ia hanya melihat Chaiden dan Kelvin yang masih dalam keadaan linglung.
"Dimana yang lainnya? "Ujar Medeia melihat kesekeliling.
"Tidur"ujar Chaiden menstabil kan dirinya.
"Kakak ku sedang cuci muka tunggu saja selama 15 menit nanti juga akan turun"ujar Kelvin.
"Baiklah kalian makan saja dulu"senyum Medeia lalu kembali ke dapur untuk mengambil masakannya.
"Kenapa kau juga ikut turun? Bukannya kau sakit? "Ejek Kelvin.
"Luka ku sudah sembuh, sentuhannya memang ajaib"ejek Chaiden memanas manasi Kelvin.
"Heh.... Aku rasa dia melakukannya hanya karena merasa kasihan"ujar Kelvin mencicipi masakan Medeia.
"Masih mending"santai Chaiden.
"Lebih baik kau menyerah saja"peringat Kelvin.
"Belum tentu"
Pertempuran antara Chaiden dan Kelvin terus berlanjut hingga mereka memutus kan untuk mengganti tempat duduk mereka dengan jarak yang cukup jauh.
Medeia melihat perubahan kedua orang ini, Medeia hanya menghela nafas panjang melihat pertengkaran mereka meski dia sendiri tidak tahu kalau dialah yang tengah di ribut kan.
"Makanlah ini, aku membuatnya untuk mu agar luka mu segera sembuh, habis kan"ujar Medeia.
"Terimakasih"ujar Chaiden menatap Kelvin dengan wajah cemberut.
"Tunggu ada satu lagi, ini untuk mu aku membuat resep baru entah enak atau tidak"ujar Medeia memberi sebuah kue yang terlihat seperti puding tapi bukan puding.
"Enak"ujar Kelvin senang.
"Makanlah, bagaimana dengan sup buatan ku? "Tanya Medeia ke Chaiden.
"Kue ini teksturnya lembut dan manis seperti orang yang membuatnya, senang rasanya memakan kue ini"puji Kelvin.
"Makan saja! Jangan banyak bicara"kesal Medeia.
"Baik"ujar Kelvin.
".... "
Eva turun bersama dengan Lucas dengan tawa yang lebar, berbincang dengan gembiranya sampai mereka duduk di meja makan. Medeia menyeduh teh untuk mereka berdua yang masih asik ngobrol.
"Benar kah? Nanti akan ku bantu deh"senang Eva.
"Jangan lupa setelah acaranya selesai"peringat Lucas.
"Hoaaammmm drakornya bagus banget"senang Medusa menepuk pundak Cestania.
"Nonton bareng memang yang terbaik"ujar Cestania.
"Benar, hei ku dengar dengar ada berita kecelakaan deh di kota B bagian jalan raya ke arah selatan dari resor loh"hebos Rika.
"Benar, banyak yang mati di jalan itu"ujar Meira yang juga ikut bergabung.
"Ada yang aneh"selidik Riko.
"Aku melihat dari kamera perekam salah satu pengunjung saat itu, lalu ku rekam untuk ku perlihat kan kepada kalian"ujar Rika mengetik di laptopnya dengan cepat.
"Coba kalian lihat"ujar Rika.
Seluruh yang afa di sana kecuali Kelvin pergi ke dekat Rika dan melihat rekaman itu, mereka terkejut melihat kejadiannya. Terlihat di video itu sama sekali tidak ada yang mencurigakan.
Jalanan aman aman saja tidak ada yang salah tapi mengapa bisa ada kecelakaan, Rika juga menjelas kan bahwa mobilnya baik baik saja tidak ada yang salah dari hal ini.
"Kasusnya sangat rumit, butuh waktu panjang untuk menyelidikinnya jadi polisi memutus kan untuk menutup jalan itu untuk sementara waktu, resort itu pun juga kena imbasnya"ujat Meira.
"Benar, sayang sekali pihak resor juga harus terlibat padahal mereka tidak tau apa apa"perihatin Riko.
"Semuanya pasti ada hubungannya dengan geng geng itu, satu geng sudah kita beres kan, tapi masih banyak yang perlu di urus makannya aku membutuh kan manusia ini dan memperkuat mereka agar sedikit berguna selain itu mereka tidak akan di salah guna kan jadi semuanya aman aman saja"ujar Medeia makan.
__ADS_1
"Benar, besok sudah mulai pendaftaran siswa kan? Bagaimana dengan siswa biasanya? "Ujar Cestania sedikit keberatan.
"Tenang saja, itu akan berjalan layaknya seperti kehidupan sekolah biasanya, di sini ada gedung lain untuk menempat kan mereka yang memiliki kekuatan "ujar Medeia.
"Jangan terlalu gegabah, mereka ini terlihat kuat, bagaimana pun kita tidak boleh menganggap remeh musuh sekecil apa pun kemampuan mereka itu tetaplah musuh"ujar Cestania.
"Tenanglah aku memiliki dukungan dari geng ku, mereka cukup untuk megguling kan mereka "ujar Medeia.
"Baiklah, mari makan kalian akan menghadiri acara peremian sekolah nantinya, jadi beristirahatlah nanti akan cukup melelah kan"ujar Medeia.
Jam yang sudah di tentu kan untuk menghadiri pesta pun tiba. Medeia menyambut para tamu dengan ramah, neneknya pun ikut datang untuk memeriah kan suasana bersama dengan paman dan bibinya yang juga ikut datang.
Meira bersembunyi di belakang punggung Medeia takut melihat mereka menariknya nanti untuk bergabung. Medeia menyadari kelakuan Meira.
"Wah, sekolahnya begitu mewah, keponakan bibi ternyata berbakat yah"senang bibi.
"Terimakasih atas pujiannya"ramah Medeia.
"Berusahalah, aku akan menemui nenek dulu, bibi mu akan membantu mu menyambut tamu"ujar paman Medeia yang berjalan meninggalkan istrinya bersama dengan Medeia.
"Eh? Meira? Ternyata kamu juga ada di sini yah? Ayo ikut ibu bergabung ke meja saja"pura pura.
"Ibu... Aku akan menemani kakak sepupu"tolak Meira.
"Anak ini! Mentang mentang sudah ada pelindung sudah bernyali besar"
"Jangan menyusah kan pekerjaannya, mungkin kau juga lelah ayo minum dulu"ramahnya.
"Tidak perlu, saya dengar bibi Lydia akhir akhir ini sering datang ke pemakaman bibi Zhania? "Ujar Medeia santai.
"Benar, bagaimana pun dia adalah ibu kandung Meira"ujar Lydia tersenyum manis.
"Lalu mengapa bibi tidak mengajak Meira untuk mengunjungi ibunya? Melain kan anda seorang diri datang menjengguknya? Menurut yang saya ketahui, 2 tahun ini saat bibi Zhania meninggal, Meira hanya datang hari itu dengan jangka waktu yang sangat singkat lalu kembali ke kediamannya, dan sampai sekarang dia sama sekali tidak pernah mengunjunginnya lagi"
"Apakah bibi mengurungnya? "Ujar Medeia menatap Lydia dengan tatapan mengintimindasi.
Lydia mulai panik, ia mulai mencari alasan untuk menghindari Medeia tapi selalu bisa di atasi oleh Medeia.
"Tidak lama setelah bibi Zhania meninggal anda datang dan merayu suaminya yang tengah berduka, lalu membuat alasan bahwa anda menghamili anaknya agar paman ku menikahi anda, bukan kah begitu bibi? "Ujar Medeia tersenyum licik.
"Kau tidak memiliki bukti untuk itu"ujar Lydia menenang kan dirinya.
"Ini adalah masalah keluarga ku, aku tidak akan diam dan mempermalu kan keluarga yang sangat ku cintai ini"ujar Medeia menjentik kan jarinya.
Rika datang dengan membawa leptopnya dengan wajah puas akan rumor yang membuatnya senang. Rika memutar video itu yang sudah terhubung di layar yang sudah Medeia persiap kan.
Semua orang menyaksi kan kelakuan menjijikan dari Lydia yang tunduk karena malu, Lydia menatap marah Medeia yang tersenyum sangat puas akan pembalasannya.
"Baik, apa kah tayangan ini sudah cukup? "Ujar Medeia.
"Paman jika anda masih tidak percaya anda bisa melihat rekaman CCTV di rumah anda, kebetulan CCTV nya adalah produk buatan ku yang ku hadiah kan untuk paman tempo lalu, anggap saja ini sebagai hadiah karena paman sudah melindungi ku sejak kecil"ujar Medei menayang kan video saat Lydia menyiksa Meira.
Meira menangis katakutan melihat video itu. Medeia memeluk erat adik sepupunya menguatkannya.
"Cukup, Lydia hari ini gelar mu sebagai istri keluarga Beliard telah di cabut, jangan pernah kembali lagi jika aku melihat mu masih ada di negara ini maka kau akan kehilangan nyawa mu"ketus Jai.
"Sayang, ini semua adalah fitnah"ujar Lydia berusaha mempertahan kan harga dirinya.
"Keponakan ku tidak pernah berbohong! Kau tidak pantas ada di sini! Tugas ke amanan tanggkap dia dan jeblos kan dia ke dalam penjara atas kasus meracuni sahabatnya sendiri"ujar Jai kesal setengah mati.
"Maaf sayang, yah tidak tahu kalau dialah yang meracuni almarhum ibu mu, maaf kan ayah"tangis Jai memeluk Meira.
"Ayah tidak salah apa apa, semuanya salah bibi Lydia yang gila karena harta, maafkan lah bibi ayah"tangis Meira.
"Kau terlalu baik sama seperti ibu mu di masa lalu, karena kecerobohan ku makannya ini semua terjadi, maaf kan ayah. Mulai hari ini ayah akan membuat mu bahagia seperti masa lalu"ujar Jai meyakin kan Meira.
Meira mengeleng ngeleng "jangan membuat janji yang mustahil ayah, kebahagiaan ku ada di kakak sepupu biar kan aku membantunya, ayah fokuslah mengurus anak ibu"ujar Meira.
"Sayang.... "Tangis Jai.
"Tenanglah ayah, aku akan menjaga diri ku sendiri kok, aku sudah dewasa"ujar Meira meyakin ka Jai.
"Baiklah"pasrah Jai.
"Tenanglah paman, aku ada untuk adik ku, anak mu akan berada di bawah perlindungan orang orang ku, kau berfokuslah dengan mereka yang masih kecil ini, didik mereka dengan baik jangan sampai sifat ibu mereka melengket pada mereka"ujar Medeia.
"Baiklah"senang Jai mengusap air matanya.
"Ternyata wanita itu ****** yah, tampangnya saja yang bagus ternyata berhati iblis"
"Aku tidak akan membiarkannya bebas, kasihan anak sulungnya aku akan membantunya untuk membalas kan dendamnya"
__ADS_1
"Benar benar serigala berbulu domba, aku akan berhati hati dalam memilih istri"
Medeia tersenyum kemenangan senang melihat mereka ada di pihaknya, jika ada yang menebusnya keluar dari penjara, maka masih ada para bangsawan yang akan menjadi saksi dan kembali menjebloskannya ke penjara.