
...~~~...
Sehari telah berlalu semenjak kedatangan Zilian mengunjungi Cecillia dan tepat hari ini akhirnya Zilian dan Cecillia sepakat untuk menyamar di sebuah desa yang lokasinya lumayan jauh dari kota dan istana.
Mereka sepakat untuk mengamati setiap desa lalu membuat laporan mengenai desa itu kemudian membantu secara diam-diam tanpa sepengetahuan pihak istana.
Mereka berangkat dengan menaiki kereta kuda sederhana, menggunakan pakaian yang masih layak untuk dipakai, semuanya dilakukan agar dapat berbaur dengan lebih baik.
Butuh waktu 2 hari agar mereka sampai di desa, bukan hanya jarak saja yang menjadi penghalang tapi kondisi jalanan yang dilewati dipenuhi tumpukkan salju tebal.
Karena kondisi jalan tidak lagi cocok untuk dilewati dan untuk kenyamanan serta keselamtan kedua penumpangnya akhirnya sang kurir memutuskan memberhentikan kereta dan meminta kedua penumpangnya untuk turun.
"Maaf nona, saya hanya bisa mengantar anda sampai disini saja, tolong jaga diri anda baik-baik disini" ujarnya tidak enak hati.
"Tidak apa pak, ah ini uangnya terimakasih telah mengantar kami" ujar Cecillia menyerahkan sekantong uang pada pemilik kereta lalu berjalan menghampiri Zilian yang hanya diam.
"Jaraknya masih sangat jauh, diperkirakan akan sampai dalam sehari dihitung jalan masuk dan waktu istirahat" ujar Zilian dengan mata yang kian menajam menatap apapun yang ada di hadapannya.
"Kalau begitu tinggal gunakan sihir saja bukan? Kita akan sampai dalam waktu singkat, mungkin hanya akan memakan beberapa menit, aku bisa melakukannya dan menjamin ucapanku barusan" ujar Cecillia berpendapat.
"Hoh? Kenapa tidak bilang dari tadi hah?! "Kesal Zilian, untuk apa membuang waktunya selama 2 hari belakangan ini?
"Kaukan tidak bertanya" jawab Cecillia enteng.
"Ck, sebaiknya kita segera kesana aku tidak ingin membuang-buang waktu lebih banyak lagi" ujar Zilian memilih untuk mendiamkan emosinya yang sama sekali tidak akan menguntungkan baginya.
Zilian langsung bergerak dengan kecepatan kilat, meski ia tidak dapat menggunakan sihir dia masih dapat menggunakan kekuatan fisiknya.
Yah saat ini Zilian tengah berlari dengan memusatkan seluruh tenaganya pada kedua kakinya dan tubuh bagian atas membungkuk agar angin tidak menerpa dirinya hingga memperlambat gerakannya.
Cecillia sendiri memutuskan untuk mengikuti apa yang Zilian lakukan, meski seorang Lady dia bukanlah Lady yang manja, kesehariannya bukanlah untuk menghabiskan harta keluarganya, ia lebih memilih berlatih bersama dengan penjaga mansionnya dari pada menghadiri pesta teh yang berisikan mulut busuk para bangsawan.
Hanya dalam beberapa menit mereka berdua akhirnya sampai di tempat tujuan, jauh dari perkiraan awal, tempat yang sekarang mereka pijaki sungguh sangat mengerikan.
Badai salju menguyur tempat para penghuni desa yang tidak layak lagi untuk dipakai, pakain tipis yang telah robek, badan yang kurus dan pucat, orangtua dan anak-anak menderita akan cuaca dingin serta rasa lapar yang telah mereka rasakan dalam kurung waktu yang lama membuat Cecillia tanpa sadar mengerang.
Zilian melirik perubahan emosi Cecillia yang semakin lama tampak tak terkendali.
"Apa menghancurkan kerajaan itu sulit? Apakah membunuh para cecunguk itu merupakan kejahatan? Jawab aku Zilian" ujar Cecillia menoleh menatap Zilian yang tampak terkejut.
"Matanya berubah?! "Batin Zilian yang dibuat tertekan akan aurah pekat yang dikeluarkan Cecillia.
Tampaknya Cecillia marah, tatapannya itu membuktikan betapa emosinya ia melihat ketidak pedulian para pejabat serta anggota kerajaan pada rakyatnya.
"Mereka memakan daging mahal serta meminum anggur mahal, berpesta riang di atas penderitaan orang yang bekerja keras demi keberlangsungan kehidupan mereka dan keluarganya, padahal mereka dan orang yang ada disini adalah manusia, perbedaan apa yang ada di antara kita hah?! "Ujar Cecillia geram, matanya kian menggelap.
Cecillia mengerutkan keningnya lalu menggertakan giginya, lagi dan lagi Cecillia tidak mampu menahan dirinya.
"Mata yang sungguh mengerikan" ujar Zilian tampak takjub meski hanya sesaat.
Cecillia menutup kedua bola matanya yang semakin menghitam, yah semakin hitam dari warna awalnya.
__ADS_1
"Jangan menatapnya Zilian, kau bisa mati" ujar Cecillia yang terus-menerus menutup matanya, keringat dingin pun membanjiri tubuhnya yang kian memucat.
"Kumohon menjauhlah" ujar Cecillia yang merasa Zilian masih belum meninggalkannya padahal ucapannya tadi sudah sangat jelas bagi Zilian, entah apa yang Zilian pikirkan.
Sebentar lagi tubuhnya akan segera berubah dan ini tidak baik untuk Zilian maupun orang yang berada di sekitarnya.
Cecillia berdecih pelan saat Zilian tak kunjung pergi, jika terus begini akan ada nyawa lagi yang menghilang, Cecillia denga terpaksa harus menahan diri setidaknya hingga ia menjauh dari desa.
Hanya dengan satu langkah Cecillia langsung menghilang dari hadapan Zilian yang diam menatap ke arah utara dimana angin berhembus dengan singkatnya.
Senyuman tipis terukir diwajahnya, ia pun mulai bergerak mencari Cecillia yang entah pergi kemana sekarang.
"Aku akan menemukanmu dimanapun itu, Cecil" ujar Zilian semakin mempercepat langkahnya.
Ia terus melesat ke utara hingga ia tak lagi mendapatkan petunjuk apapun, ini memang lumayan jauh jika dibandingkan dengan jarak awal menuju desa mungkin 2 kali lipat.
"Hm? Masih ada waktu hingga malam hari cari dia dulu saja" gumam Zilian menghela nafas pelan.
Ada apa dengan Cecillia yang begitu ketakutan? Zilian harus tahu penyebab rekannya itu seperti anak kesetanan, jika terus begini Zilian yakin kekuatan Cecillia akan disalah gunakan terlebih tadi Zilian menyadari disaat Cecillia menahan sesuatu dan disaat Cecillia marah sesuatu menguar dari tubuhnya dan itu sangatlah menganggu ketenangan Zilian.
Disaat itu pasti akan sangat berbahaya, bagaimana jika pihak iblis itu datang lalu menghasutnya, dunia akan segera hancur jika Cecillia berdiri di pihaknya!
Zilian menatap sekelilingnya tidak ada apapun disana, hanya ada padang salju dan angin yang berhembus dengan kencangnya.
Tubuh Zilian tanpa sadar mulai bergetar, tampaknya merasa kedinginan meski begitu itu tidak memudarkan tekad Zilian yang terlanjur jauh dari desa, akan rugi jika kembali bukan?
"Dia pasti ada disekitar sini aku yakin, ini sangat jauh dari desa tidak mungkin anak itu pergi ke ujung dunia inikan? "Ujar Zilian mengeleng pelan dengan pikiran anehnya.
"Kenapa juga jejaknya hilang di tempat sedingin ini? Apa dia sengaja karena tahu aku mengikutinya?" Zilian diam sejenak saat merasa ada hal yang janggal.
"Ingin membunuhku hah?! "Kesal Zilian yang menatap tajam ke arah sampingnya dimana sebuah siluet tengah memandangi dirinya.
Siluet itu tetap mematung meski tahu keberadaannya telah diketahui oleh targetnya.
"Keluar kau sialan! Kau mau melihatku mati kedinginan begini? "Teriak Zilian yang semakin kesal.
Zilian menekuk lututnya lalu memeluknya tentu saja dengan wajah yang ditekuk.
Jika terus begini dia akan mati konyol, pikir siluet itu.
Dengan tenang ia berjalan mendekati Zilian yang sama sekali tak memiliki niatan untuk menatapnya lagi.
"Aurahnya memang menarik tapi akan sangat disayangkan jika mati begitu saja" pikirnya lagi sambil menyungingkan senyumannya yang penuh akan niat buruk.
Zilian tiba-tiba saja menoleh dengan mata yang melotot saat pria itu duduk di sebelahnya dengan jari yang telah terangkat ke udara membuat sebuah perisai hangat untuk keduanya.
"Apa kau melihat sosok wanita lewat di sini dengan pakaian yang sama denganku? Jawab, aku tidak punya banyak waktu" ujar Zilian tanpa basa basi.
Ini alasan kenapa Zilian tiba-tiba saja duduk di atas tumpukkan salju di bawah badai salju, orang waras mana yang melakukan tindakan bodoh seperti Zilian kecuali dia memang tidak memiliki akal?
"Entahlah Lady, saya tidak melihat siapapun disini kecuali anda dan saya" ujarnya lembut.
__ADS_1
Zilian memalingkan wajahnya yang tampak mengejek pria di sampingnya ini.
Dia tinggi dan berwajah rupawan, matanya berwarna sebiru lautan serta rambut pirang panjang nan bergelombang, itu memang poin paling sempurna.
Bisa dipastikan pria ini sangat mencolok, hanya dia yang berambut pirang disini, mungkin? Dia bagaikan buah pisang yang terselip di sebuah kain kasa putih, terlebih wajahnya yang sangat-sangat mencolok!
"Tampangnya saja yang terlihat baik, cih pria yang penuh taktik dan begitu menjengkelkan, entah mengapa aku tidak menyukainya" batin Zilian membuang muka kesalnya.
"Mata itu sungguh dingin melebihi dinginnya cuaca di wilayahku, jiwa dan aurahnya membuatku hampir gila, akan ku bawa dan ku nikmati dengan pelan" gumamnya yang tentu saja Zilian mendengarnya.
"Hanya karena tanpa kekuatan kau meremehkan seseorang, bukankah tindakanmu itu tidak sopan, Lord? "Ujar Zilian yang membuat pria itu tersenyum, jujur saja jauh di lubuk hatinya yang terdalam Zilian tengah MEMUJI.
"Aku bisa membantu mencari temanmu, kita bisa melakukannya bersama-sama" ujar pria itu menawarkan diri.
"Aku tidak membutuhkan bantuan apapun, pergilah" ujar Zilian yang malah bangki, sungguh moodnya hancur sekarang.
"Ayolah Lady.... "
Sebuah belati melesat dengan cepat dan kini terbang entah kemana, leher pria pirang itu tampak tergores.
Salah sedikit saja jiwanya akan langsung berpindah tempat.
"Aku tidak akan ragu" peringat Zilian yang melangkah pergi lalu menjauh dari pria itu tanpa menoleh sedikitpun.
"Ck, sepertinya dia akan menjadi target utama pangeran mahkota, entah bagaimana nasib adiknya sekarang ku harap kutukannya segera terlepas dan aku dapat membawanya kembali ke istana" ujarnya.
Tuannya pasti akan marah jika ia langsung membunuh Zilian sekarang, tunggu beberapa bulan lagi rencana yang sesungguhnya akan segera dijalankan dan disaat itulah dunia ini akan berada dalan genggaman tuannya.
"Tunggulah tuanku, dunia ini akan segera merasakan amarah anda! "Teriaknya di iringi tawa mengerikannya.
"Diam kau" ujar Seseorang bertopeng dari balik punggungnya.
Tawanya tiba-tiba saja berhenti ketika mendengar suara yang sangatlah akrab baginya.
"Yo Uxy, tumben sekali kau datang menemuiku? "Ujarnya sambil tersenyum sinis ia menepuk pundak pria bernama Uxley yang diyakininya sebagai rekannya itu.
"Temui raja sekarang" perintahnya.
Pria itu menatap Uxley dengan seksama lalu berdecih sesaat setelahnya.
"Ini bukan perintah dariku, aku tahu dari detak jantungmu terutama emosimu" ujarnya dengan posisi yang memunggungi Uxley.
"Kau tampaknya lupa dengan posisimu, Helliv. Bukan hanya itu tampaknya alasan kau.... "
Helliv berbalik lalu mencekik leher Uxley erat, ia tidak peduli jika harus membunuh sekarang bahkan ancaman tuanya tidak akan membuatnya mengurungkan niatnya.
Sayangnya lawan yang ia hadapi sekarang adalah Uxley, pria tak kenal belas kasih, kini ia tengah mematahkan lengan Helliv hanya dengan gerakan mata saja.
"Aku tahu kau mencemaskan yang mulia tapi kecemasanmu yang berlebihan itu hanya akan menghambat rencananya, kau pasti tahu jika kau pria cerdas? "Tanya Uxley yang akhirnya terlepas dari cengkraman Helliv.
"Cari saja adik yang mulia lalu kembalilah, jika kau melenceng maka akibatnya akan sangat fatal, ingat aku melepaskanmu karena kesetiaanmu pada yang mulia tapi itu hanya akan bertahan hari ini saja selanjutnya terserah padamu" ujarnya lalu menghilang meninggalkan Helliv yang mengerang kesakitan.
__ADS_1
Berlanjutttt....