Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 63


__ADS_3

...~~~~...


Di sebuah pelelangan yang hanya dihadiri oleh para bangsawan kelas atas kini Zilian masuki dengan mudahnya bersama dengan Alastor.


Mereka tengah duduk di salah satu kursi dengan membawa papan berbentuk bulat dengan angka tertentu disana yang akan mereka gunakan ketika menawar harga.


Zilian merasa curiga dengan Alastor, dia benar benar membuat Zilian harus berfikir dua kali untuk bersamanya apa lagi meminta bantuan padanya.


Kalian tidak curiga kenapa Zilian dapat masuk ke dalam pelelangan yang sangat teliti dan ketat dalam hal indentitas?


Itu semua karena Alastor, sebelum masuk Zilian di hadang oleh beberapa penjaga untuk pemeriksaan dan saat itu Zilian juga sempat berdebat dengan mereka hingga wakil pelelangan iut turun tangan.


Alastor yang melihat wakil pemilik lelang langsung berjalan menghampirinya dan tampak sedang membicarakan sesuatu sesaat setelahnya terlihat wakil pemilik lelang membungkuk hormat lalu mempersilahkan Zilian masuk bahkan sampai di kawal hingga ke kursi tempat mereka duduk.


Zilian mendengus pelan memikirkan kejadian itu berulang kali dan Alastor tahu apa yang Zilian pikirkan.


"Aku berada di pihakmu" batin Alastor sambil melirik kesamping dimana Zilian duduk.


"Nona, apa aku boleh bertanya? "ujar Alastor tanpa menoleh sedikitpun pada Zilian, dia menatap datar objek di depannya.


Zilian terhetak dari alam bawah sadarnya, ia dengan cepat menoleh melihat Alastor dengan tampang dingin tak tersentuhnya.


"Y-ya? Tentu saja, ada apa? "Ujar Zilian.


"Apa arti Alastor bagimu? "Ujar Alastor santai.


Zilian terkekeh lucu dengan pertanyaan Alastor, "apa kau bertanya tentang arti dari namamu atau.... " Zilian mendekatkan wajahnya lalu menghembuskan nafasnya tepat di ceruk leher Alastor.


Alastor tampak menegang tapi hanya 5 detik saja setelahnya dia kembali seperti biasanya.


"Kau? "Ujar Zilian berbisik tepat di daun telinga Alastor.


"Ugh, tolong menjauhlah nona aku ini seorang pria" ujar Alastor dengan suara beratnya.


"Jadi yang mana? "Ujar Zilian yang dengan jahilnya menyenggol lengan Alastor kuat.


"Keduanya" jawabnya masih berusaha untuk mengontrol diri, telinganya bahkan memerah karena ulah Zilian.


Zilian menatap lurus ke depan sambil menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Alastor bagiku sama seperti diriku sendiri, kau tahu kenapa? Karena kau yang sekarang sama seperti aku dulu, jadi arti Alastor bagiku adalah orang yang dapat ku percaya sekaligus orang terpenting di hidupku selain mereka" ujar Zilian dengan tatapan yang melembut.


Zilian balik menatap Alastor yang ternyata sedari tadi memperhatikanya, dengan pelan Zilian mengelus surai rambut Alastor.

__ADS_1


Mungkin karena sibuk berbicara dengan Alastor Zilian jadi lupa kalau dia datang kemari untuk mencari pria itu sekalian saja dia memperhatikan semua bangsawan yang mungkin bisa dia manfaatkan untuk kedepannya.


Zilian menatap mereka satu persatu lalu tersenyum tipis melihat salah satu Lady yang menarik perhatiannya.


"Siapa dia? Wanita dengan gaun putih berambut kuning itu? "Tanya Zilian pada Alastor yang sempat menatap ke arah yang sama.


"Dia adik dari Lord Casland, dia Lady Hestia putri tunggal keluarga Marquess" jawab Alastor datar sama sekali tidak berminat.


"Lalu orang berjubah itu? "Tanya Zilian lagi, kali ini ia ingin menguji Alastor.


Alastor melirik orang berjubah itu sejenak lalu kembali mrnatap ke arah atas podium dimana penanggung jawab acara telah tiba dan memasuki ruangan.


"Duke dibagian kanan bawah dan prajurit berbakat pertama dari divisi 1 berada tepat di jalan keluar pelelangan" ujar Alastor yang langsung mendapat jitakan maut dari Zilian.


"Itu belum seberapa" bisik Zilian dengan tatapan yang kian menajam.


".... " tidak ada respon apapun yang Alastor tunjukkan, dia hanya menatap pelelang yang tengah menjelaskan barang lelangnya hari ini.


Zilian memperhatikan setiap gerak gerik para bangsawan terutama orang berjubah itu yang Alastor yakini adalah Duke.


Sepertinya ada masalah sampai seorang pemimpin kesatria terbaik kerajaan turun tangan secara langsung.


Seorang wanita yang sedari tadi mengoceh di atas podiumpun beralih ke barang selanjutnya yang menjadi barang incaran Zilian.


"Barang selanjutnya adalah.... "Wanita itu tersenyum dengan sangat lebar sambil membuka penutup kotak, di dalam penutup itu ditampilkan sebuah buku lusuh nan tua.


"Dimulai dari harga 10 koin perak" ujarnya memulai lelang.


Zilian diam sejenak memperhatikan para bangsawan yang tengah merendahkan barang kali ini tanpa tahu barang apa itu sebenarnya.


"Sungguh menyedihkan, sepertinya kualitas lelang kali ini menurun drastis" ujar seorang Lady mendelik ketika melihat buku itu.


"Benar, mana ada yang mau membelinya" ujar Lady lain yang duduk berdampingan dengan Lady sebelumnya.


"Lalu kenapa barang itu di lelang di akhir? Aku kurang yakin ini berguna atau tidak"


Zilian mengelengkan kepalanya pelan, merasa kasihan denhan kedua Lady itu.


"Apa tidak ada yang berminat? "Tanya wanita itu menatap setiap bangsawan yang hadir dengan senyuman tipisnya.


"Kalau begitu-"


"100 koin emas" ujar Zilian dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Sontak pusat perhatian teralihkan padanya, berbagai bisikan tentangnya mulai terdengar jelas.


Seolah tuli dengan omongan mereka Zilian tetap santai dengan tatapan datar menuju podium dimana buku itu tengah di pamerkan.


Berbeda dengan Alastor yang tampak mengerang marah terbukti dengan aurah yang dia keluarkan untuk membungkam mulut merka yang berani menghina Zilian .


Bahkan wanita itu tampak gemetarab saat betemu pandang dengan Alastor.


"Cukup" ujar Zilian dengan mata yang ia pejamkan.


Dengan perasaan dongkol Alastor terpaksa menuruti perkataan Zilian dan memilih untuk diam saja.


"Sekali lagi kalian merendahkan nona maka nyawa kalian yang akan menjadi jaminan"


Suara Alastor tiba tiba saja memasuki benak para bangsawan terkecuali bangsawan yang memilih diam dan tidak ikut terta menghina Zilian.


"M-maaf sebelumnya untuk tuan yang ada disana tolong jaga kesopanan anda selama pelelangan dimulai" ujar seorang wanita lain yang baru muncul dari belakang podium.


Sontak yang ada disana mengalihkan pandangan mereka padanya, tentu karena aurahnya yang menenangkan, wajah dan sifatnya sungguh membuat suasana yang awalnya tegang menjadi santai.


Wanita itu melirik ke arah pria berjubah itu lalu beralih menatap ke arah Zilian dengan senyuman lembut di wajahnya, ia membungkuk hormat pada Zilian yang semakin dibuat fustasi, bisa bisa dia akan menjadi bahan pembicaraan setelah ini.


"Perkenalkan aku Lilithya penanggung jawab kedua yang akan mengambil alih pelelangan kali ini" ujarnya memperkenalkan diri, ia menyuruh wanita sebelumnya untuk pergi membiarkan dirinya sendiri di atas podium.


Netra antara Zilian dan Lilithya saling bertegur sapa, lumayan lama hingga Zilian memilih menatap kearah buku itu dengan wajah datar dan tatapannya yang sedingin es.


Para bangsawan semakin penasaran dengan Zilian, mereka terus menatap Zilian dan Lilithya bergantian.


"Lady? "Panggilnya masih dengan tatapan yang memperlihatkan ketertarikannya.


Zilian balas menatapnya tajam seolah mengatakan bahwa dia akan menghancurkan tempat ini sebagai gantinya jika dia masih tidak melanjutkan pelelangan.


Mengerti apa yang Zilian maksud ia pun dengan cepat berjalan ke arah buku itu berada.


"Bisakah Lady menjelaskan mengapa Lady menaruh harga mahal untuk buku ini? "Tanya Lilithya jujur saja dia merasa penasaran dengan jalan pikir Zilian.


"Sebelum itu kau sebaiknya memastikan harga buku itu sekarang aku tidak mau rugi" ujar Zilian berdecih setelahnya membuat seseorang terkekeh, dia terlanjur merasa jengkel.


Lilithya terkekeh pelan sama halnya dengan orang itu, "kurasa itu benar, jadi apa tidak ada penawaran lain? "Ujar Lilithya mengedarkan pandangannya ke seluruh bangsawan yang hadir.


"500 koin emas" ujar sosok berjubah itu membuka harga.


Zilian tersenyum tipis, sedangkan Alastor hanya dapat berdecak pelan.

__ADS_1


"Penawaran dimulai" batin Zilian.


Berlanjutttt....


__ADS_2