
...~~~~...
Disebuah ruangan mewah yang dipenuhi dengan buku dan beberapa patung seorang gadis cantik berdiri kokoh disana.
Seorang pria dengan tubuh kekarnya tengah sibuk menatap dokumen yang berada di tangannya serta beberapa dokumen tertumpuk di hadapannya tepatnya di atas meja kerjanya.
Perhatiannya tiba-tiba saja teralihkan saat seseorang memasuki ruangan kerjanya setelah ia memberikan izin padanya.
Tampak seorang pria bertubuh kekar dan berwajah rupawan memasuki ruangan lalu membungkuk hormat dengan tangan yang memegangi dada bagian kirinya yang merupakan salah satu etiket seorang bangsawan.
"Salam yang mulia" ujarnya sopan matanya menunduk ke ubin lantai.
"Kau tahu aku benci mengulangi perkataan yang sama" peringat Fiberyt jengah dengan kelakuan sopan Harold padahal dia tidak perlu seperti itu jika mereka bertemu secara pribadi seperti saat ini.
Harold meneggakkan kembali punggungnya lalu menatap tegas sosok yang berada di depannya ini yah bisa di bilang dia adalah atasannya.
"Miles telah bergerak lebih awal ke daerah timur kerajaan sepertinya tikus itu kembali membuat ulah lalu faksi bangsawan baru telah aku tangani, setelah perintah anda saat di hutan barusan" lapor Harold menjelaskan seluruh kegiatannya yang merupakan perintah Fiberyt sendiri.
Fiberyt mengangguk saja sambil meletakkan dokumen yang barusan ia baca ke atas meja, ia tahu Harold mampu menangani semua situasi tentu karena akal cerdik dan
kesadisannya.
Sebuah ingatan tiba-tiba saja terlintas di otaknya hingga menghasilkan smirik yang dapat Harold yakini sebuah pertanda buruk untuknya.
"Bagaimana dengan gadis itu? Apa kau telah mengurusnya? "Tanya Fiberyt menatap Harold seolah ingin jawabannya segera.
"Sesuai dugaan, dia memanglah dalang dari kekacauan dua minggu yang lalu dan ada kemungkinan akan semakin parah lagi" ujar Harold menghela nafas berat.
Lady itu benar benar membuat Harold bekerja keras setiap harinya, tidak hanya mengurus masalah politik ia juga harus di sibukkan dengan urusan medan peperangan karena dia adalah inti taktik perang kali ini sedangkan Miles?
Anak itu lebih sering menghabiskan waktunya dengan melatih para prajurit kerajaan dan tentu prajurit dari divisinya sendiri mana mau dia membantu Harold yang nota benenya adalah orang paling merepotkan di dalam hidupnya.
"Awasi saja dia ketika festival datang, dari pada itu aku lebih tertarik mendengar apa yang ada di kepalamu itu" ujar Harold mengetuk ngetukan jari telunjuknya di meja kerjanya sambil menatap Harold penuh minat.
Harold mendumel kesal, sialan ini hal yang paling tidak ia sukai ketika berhadapan dengan Fiberyt tentu karena Fiberyt selalu dapat membaca pikirannya.
"Kenapa hanya pikiranku saja yang bisa kau tebak sedangkan yang lainnya tidak?! "Pikir Harold tidak mengerti akan takdirnya dan jalan yang ia tempuh sekarang, terlalu sial itulah yang selalu Harold rasakan ketika berhadapan dengan Fiberyt.
Tubuhnya tiba-tiba saja bergetar kedinginan, manik matanya melirik ke arah Fiberyt yang ternyata adalah dalang dari penyebab Harold kehilangan kendali akan tubuhnya sendiri.
"Kau ini tidak adil, Miles tampak santai sedangkan aku? Heh, saking sibuknya aku lupa letak kediamanku dimana dan sekarang kau sepertinya...."
Harold meneguk paksa salivatnya, sebaiknya ia berhenti mengoceh jika tidak uh, ia tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Cih, aku tidak tahu informasi ini benar atau tidak seterusnya kau nilai saja sendiri aku malas berfikir" ujar Harold mengambil sesuatu yang berada di balik jas hitamnya.
Setelah mendapatkan apa yang ia mau dia pun melangkah maju lalu meletakkan sebuah surat ke hadapan Fiberyt yang hanya menatapnya.
"Seseorang memberikannya padaku saat berada di hutan sesaat sebelum aku menghampirimu" ujar Harold setelahnya ia tidak peduli lagi dengan keputusan pria di depannya.
Harold membukanya dengan santai lalu membacanya.
"Hmmm, pemikiran yang unik" ujar Harold jelas sekali dia begitu tertarik.
Tatapan kembali Fiberyt layangkan pada Harold yang tentu saja membalasnya dengan decihan, sungguh hari yang sangat merepotkan.
"Aku yakin kau telah membacanya lebih awal dariku" lanjut Fiberyt penuh minat.
"Semua saling terhubung, sudah ku pastikan sesaat urusan kerajaan selesai ku rasa ini lebih dari cukup, yang mulia" tekan Harold pada jabatan yang tengah di sandang sahabat masa kecilnya ini.
"Kau telah bekerja keras, sehari setelah festival di adakan aku akan mengangkatmu sebagai Grand Duke pertama sepanjang sejarah kerajaan ini jadi bersiap siaplah" ujar Fiberyt menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kesayangannya.
Fiberyt menatap wajah sahabatnya itu yang sama sekali tidak memiliki ekspresi senang akan posisinya yang baru saja ia angkat.
"Kenapa kau menatapku begitu hah? "Sembur Harold menatap sinis ke arah Fiberyt yang memasang wajah bingungnya.
"Kau.... Tidak senang? "Ujar Fiberyt memiringkan kepalanya pertanda ia tengah di landa kebingungan, Harold memang unik dan karena itulah menjadikan alasan mengapa Fiberyt menujuknya sebagai seorang Duke ia tertarik dengan kelakuan anehnya.
Lihat saja sekarang apa yang tengah dilakukan Harold di depan Fiberyt, ia duduk menyilangkan kakinya di atas lantai ruangan kerja Fiberyt tidak peduli dengan etiket bangsawannya.
"Naik jabatan hanya akan membuatku tidak punya waktu, tugas yang sulit datang, waktu tidurku juga akan terganggu lalu apa yang harus aku lakukan hah? Ini lebih baik di sebut berita duka! "Kesal Harold mengingat waktunya akan semakin minim untuk bersatai.
"Kalau begitu sebagai perayaan atas jabatanmu itu aku memerintahkanmu untuk mengajak pemilik surat ini agar tetap berpihak dengan kita, akan semakin sulit jika kehilangan orang sehebat dirinya" ujar Fiberyt yang berhasil membuat Harold untuk pertama kalinya ingin segera berpisah dengan dunia.
"Sudah kuduga kau tidak akan membiarkanku bersantai" batin Harold tertekan.
__ADS_1
Harold bangkit lalu menatap sinis ke arah Fiberyt yang tampak santai saja.
"Kalau begitu aku undur diri, jaga dirimu jangan sampai kau memperpanjang usiamu" ujar Harold berbalik badan dan keluar dari ruangan yang selalu berhasil membuat seorang Harold harus berfikir ribuan kali sebelum menginjakkan kaki ke dalan ruangan itu.
Sesaat setelah kepergian Harold, Fiberyt mengerutkan keningnya yang terasa sakit, tatapannya berubah menyendu.
"Meski terasa samar tapi aku ingat energi itu adalah energi milikmu" ujar Fiberyt menatap ke arah luar jendela dimana sebuah patung gadis cantik tengah menampilkan senyuman manis nan cerahnya di iringi lautan bunga mawar biru di sekelilingnya.
Senyumanya seolah menyihir hati Fiberyt yang sedingin bongkahan es itu menjadi menghangat bukan hanya dirinya saja tapi bagi seluruh manusia yang berada di bawah pemerintahan kerajaan Baxeria.
Gadis yang selalu menebarkan semyumannya yang sehangat mentari, menggantikan hangatnya matahari yang selama ini tidak pernah menampakkan diri semenjak kepergiannya.
Bahkan setelah kepergiannyapun dunia masih menunjukkan akan keberadaan dirinya seolah mengatakan gadis itu akan tetap ada dan akan selalu ada untuk mereka semua.
"Aku sangat mengharapkanmu kembali padaku" ujar Fiberyt tulus sangat tulus, ia akan selalu emosional jika ia kembali menatap sosok yang sangat ia rindukan.
Ia sadar akan kenyataan yang terus menamparnya tapi ia selalu saja menutup mata selalu seperti itu.
Meski itu ilusi sekalipun Fiberyt akan tetap mengejarnya walaupun itu mebuatnya harus menyimpan rasa yang tak memiliki ujung.
Hanya harapan dan harapan bersarang dalam dirinya, harapan akan pulangnya sosok berharga dalam hidupnya.
VICTORIA AXERIA CALDWELL
•••
Zilian memasuki danau dingin bersama dengan Alastor yang ikut menyelam, keduanya terus menyelam tidak peduli dengan rasa dingin yang menusuk ke tubuh mereka tetap melanjutkan kegiatan mereka hingga sampai ke tempat tujuannya.
Sebuah lapangan salju yang begitu luas langsung terlihat jelas, pepohonan tinggi menjulang ke atas dan ada beberapa semak belukar disana.
Zilian berjalan sedikit lebih jauh sambil meneliti sekitarannya, Alastor sendiri hanya mengikuti langkah Zilian yang entah akan membawanya pergi kemana.
"Apa kau yakin aku dapat menggunakan sihir disini? "Tanya Zilian terduduk di atas salju, tangannya menyentuh salju itu lalu menelitinya.
"Sesaat sebelum menyelam aku telah memasang barier perisai agar menjadi pembatasnya, kau bebas menggunakan sihir apapun" ujar Alastor yang membuat Zilian mengulas senyum tipis.
Zilian melepas topengnya bersamaan dengan Alastor yang memundurkan dirinya sendiri saat merasakan energi Zilian yang tanpa tanda apapun langsung menyebar begitu saja.
Ayunan tangan yang bergerak halus nan lembut itu berhasil menciptakan sebuah kerajaan luas nan tinggi di hadapan Alastor yang sontak membulatkan matanya.
Berbagai tumbuhan aneh bermunculan!
Salju yang awalnya Alastor pijk kini berubah menjadi padang rerumputan hijau.
Meski salju tetap turun anehnya udara terasa lebih hangat selain itu salju yang menyentuh permukaan tanah akan langsung menghilang begitu saja, hal ini membuat Alastor diam tak berkutik.
"Bagaimana? Ini cocok untuk menjadi markas utama kita, sekarag energiku akan menjadi dasar utama mereka dalam pelatihan nanti" ujar Zilian puas akan hasil kerjanya.
Rasanya begitu melegakan setelah Zilian kembali mengaktifkan sihirnya, wajar sajakan ia sudah lama tidak menggunakan sihir yang selama ini menumpuk dalam dirinya.
Alastor menatap Zilian dalam, "tentu saja lagi pula mereka telah berkumpul sekarang sesuai perintahku" ujar Alastor yang kembali ke sifatnya yaitu datar dan dingin.
"Panggil aku kakak" ujar Zilian yang berhasil menimbulkan kerutan di dahi Alastor.
"Apa dia sakit? Sikapnya aneh sekali hari ini" batin Alastor meski begitu ia tetap mengiyakan keinginan Zilian.
"Kakak? "Ujar Alastor tetap menurut, tidak ada gunanya juga dia menolak bukan?
Zilian tersenyum senang, ia mengandeng legan munggil milik Alastor untuk memasuki kerajaan barunya yang tentu saja terbuat dari es meski begitu ada tanaman yang menghiasinya di dalam sana.
"Ini adalah kerajaanmu Alastor, kaulah yang akan memimpin penuh seluruh kawasan kerajaan ini, kau jugalah yang akan menetapkan aturan dan merubahnya, kau bebas melakukan apapun disini" ujar Zilian tersenyum puas, ada rasa bangga pada dirinya sendiri.
"Asalkan dibawah pengawasanmu" ujar Alastor menatap Zilian yang membalasnya dengan gelengan pelan.
"Sudah aku katakan bahwa kau bebas Alastor, aku tidak akan mengendalikanmu, kau telah banyak membantuku karena itulah anggap saja kerajaan ini sebagai hadiah dariku" ujar Zilian lembut.
"DAN TOLONG BERHENTILAH BERSIKAP FORMAL PADAKU BODOH! "Teriak Zilian secara tiba-tiba dan dengan santainya Zilian menyentil jidat mulus Alastor hingga menimbulkan bekas.
Alastor mengusap keningnya yang terasa berdenyut, sentilannya sungguh tidak main.
"Ugh, sakit! "Batin Alastor mendumel.
"Bisakah kita bicara kak? "Ujar Alastor yang langsung memunculkan sebuah sofa dan meja di tengah ruangan nan luas itu, sofa itu berasal dari cicin penyimpanannya, sekarang ruangannya saat ini kosong melompong.
"Tentu, katakan saja" ujar Zilian santai, ia langsung mendudukan bokongnya di sofa panjang itu.
__ADS_1
"Beberapa orang telah terpilih untuk masuk ke dalam organisasi, lumayan sulit untuk merekrut mereka yang memiliki kekuatan dan bakat yang spesial menginggat mereka tengah mebgawasi kita sekarang" ujar Alastor menghela nafas pelan.
"Aku juga merasa begitu, karena itulah aku menunda perjalananku ke pulau untuk sekarang aku harus fokus meningkatkan kekuatan fisikku serta membangun indentias sementara setidaknya indentitas yang dapat melakukan kerusuhan tapi secara bersamaan juga disegani" ujar Zilian terus terang.
"Kalau begitu tinggal buat rumor sajakan? Saat ini ada beberapa bangsawan yang mencurigakan jadi untuk bekerjasama dengan mereka sebaiknya perlu di pikir ulang dulu, aku bisa membantumu mencari bangsawan yang cocok sebagai latar belakang pengaruhmu nanti" ujar Alastor mengemukakan pendapatnya.
"Sungguh? Kau yang terbaik! "Pekik Zilian kesenangan.
"Pengaruh? Identitas? "Pikir Alastor.
Alastor mengingat sosok yang bisa membantu Zilian nanti.
"Sepertinya wanita itu akan menurutiku" ujar Alastor percaya diri.
"Jika tidak menurut akan kupaksa dia sampai menurut" batin Alastor.
Zilian tampak ikut berfikir dengan apa yang barusan Alastor katakan.
"Ah, maksudmu Lilithya? Tidak ada wanita lain yang kau jumpai selain Lilithya bukan? Hanya dia yang memiliki reputasi yang lumayan" ujar Zilian yakin akan tebakannya.
Alastor mengangguk pelan membenarkan tebakan Zilian.
"Kenapa kau begitu yakin dia akan menerima tawaranmu? "Ujar Zilian curiga.
"Karena dia menyadari pergerakan mereka lebih awal dari pangeran serta Duke, dia telah bersiap lebih awal, lagi pula jika dia telah bergerak sendiri seperti ini pasti masalahnya begitu serius, untuk itu agar mengurangi dampak juga di perlukan sebuah rekan bukan? Tenang saja aku dapat membuatnya yakin akan tujuanku nanti" ujar Alastor tampak percaya diri.
"Bagaimana jika dia menolak? "Tanya Zilian penasaran dengan jawaban Alastor.
Alastor menyeringai dengan tatapannya yang lurus kedepan.
"Sudutkan saja sampai dia menyerah" ujar Alastor tanpa beban.
"Jika tidak? "Ujar Zilian lagi.
"Bunuh saja, mencari rekan bukanlah hal sulit bagiku" ujar Alastor masih dengan seringaiannya.
Zilian bergidik ngeri mendengarnya, bagaimana bisa Alastor memiliki pikiran yang begitu, uh sangat diluar akal sehat melihat umur Alastor yang terbilang masih muda di dunia ini.
"Terserah kau saja" ujar Zilian mengedikan bahunya dengan mata yang tertutup.
"Bagaimana dengan para bangsawan itu? Apa perlu-"
"Amati saja aktivitas mereka" potong Zilian cepat.
Ayolah Zilian tahu apa yang ada dalam pikiran Alastor sekarang.
"Bertindak tanpa ada pasukan itu hanya akan menjadi alasan bagi mereka menjalankan rencananya lebih awal dan ini sangatlah buruk untuk pihak kita, dan lagi mereka sedang bermain amankan? Dia tahu diri untuk tetap diam karena penguasa inti disini masihlah berkuasa" tambah Zilian menghela nafas berat, masalahnya terlalu berat.
Alastor mengangguk setuju dengan pendapat Zilian.
"Masuk ke dalam kerajaan bukanlah pilihan yang tepat, kerajaan saat ini telah di penuhi dengan para sampah kau pasti mengetahui ini lebih awal dariku kan? "Ujar Zilian melanjutkan.
Lagi dan lagi Alastor kembali mengangguk menjawab pertanyaan Zilian sebagai respon ia masih mendengarkan.
"Entah siapa pelakunya yang jelas dia tidak akan mudah diawasi" ujar Alastor mengetuk pegangan sofa sambil berfikir dengan wajah serius.
"Sudahlah, jika kau ingin membantu cukup buat daftar aktivitas para bangsawan lalu pengumpulan anggota organisasi, Gailen akan membantumu mengurusnya" ujar Zilian bangkit dari sofa sambil mengambil langkah peregangan tubuh.
"Apa yang akan kau lakukan nanti? "Tanya Alastor memperhatikan setiap gerak gerik Zilian.
"Tentu saja berlatih" ujar Zilian setelahnya berjalan keluar.
Zilian menyeringai menatap rerumputan hasil buatannya dengan pandangan puas.
"Berlatih membangun dua image untuk bermain dengannya" lanjut Zilian langsung menceburkan dirinya kedalam danau es itu lalu mulai bergerak mencari daratan sebelumnya.
Bukan hanya Gailen dan Alastor yang akan bekerja tapi Zilian akan ikut serta dalam pengumpulan informasi meski tidak sehebat Alastor dan selincah Gailen tapi Zilian dapat mengalihkan perhatian dengan caranya sendiri.
Melakukan pengalihan di dua waktu dan tempat yang berbeda!
"tampaknya aku harus menunda rencanaku ke pulau itu sedikit lebih lama dari rencana awal hingga semuanya dapat terkendali" pikir Zilian.
"Mari kita lihat siapa saja yang berguna nanti" ujar Zilian yang akhirnya kembali ke titik awal sebelum mereka menyelam.
Berlanjutttt....
__ADS_1