
Di pagi hari yang biasanya cerah kini menjadi suram bagi Zilian dan Rafaela, di meja makan mereka hanya saling menatap satu sama lain lalu kembali berfokus sarapan pagi.
Zilian tidak tahan dengan sikap Rafaela yang tiba tiba menjadi pendiam bahkan saat mereka latihan bersama mereka hanya diam saja kecuali saat menjelaskan.
Setibanya di kantor Zilian langsung menarik tangan Rafaela untuk duduk di sofa.
"Kenapa tidak mengajak ku bicara? "Ujar Zilian dengan raut wajah sedihnya.
Rafaela menunduk, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri agar tidak melampiaskan emosinya pada Zilian.
"Aku hanya mengira kau tidak akan mempercayai ku saja "ujar Rafaela menatap Zilian dengan mata yang akan mengeluarkan air mata.
"Dari mananya aku tidak mempercayai mu? Dari mana pemikiran bodoh mu ini berasal? "Marah Zilian yang mengebrak meja.
"Kau tahu? Beberapa hari yang lalu kau tampak menyembunyikan sesuatu dari ku, makannya aku jadi curiga kau tidak akan mempercayai ku lagi dan menjauh dari ku" ujar Rafaela sedih.
Zilian memeluk Rafaela yang masih menahan diri, tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.
"Jangan berfikir yang tidak tidak, bagaimana pun kau adalah teman ku satu satunya sepanjang hidup ku" ujar Zilian melepas pelukannya.
Rafaela mengangguk, ia mengusap air mata yang tersisa di pipinya dan mencoba untuk kembali tersenyuk tapi entah kenapa itu sama sekali tidak berhasil.
TOK TOK TOK
Ketukan pintu mengagetkan Rafaela yang langsung menghindar dari Zilian yang kini menatap Rafaela cemas.
"Masuklah! "Ujar Zilian merapikan cara duduknya.
"Ini aku Liosya, aku datang untuk pemotretan bersama dengan Rafaela kan? " ujar Liosya tersenyum pada Rafaela yang membalas dengan senyuman.
"Pergilah aku akan kesana beberapa menit lagi setelah mengurus masalah pemasaran" ujar Zilian tidak mau tahu lagi mau melakukan apalagi untuk Rafaela.
DI RUANG PEMOTRETAN
Liosya duduk di sofa sambil menunggu make upnya selesai di perbaiki bersama dengan Rafaela yang hanya duduk diam memperharikan para staff yang tengah bekerja mempersiapkan pemotretan mereka.
"Kenapa? Gugup? "Tanya Liosya mendekat pada Rafaela yang justru menjauh dari Liosya.
"Tolong menjauhlah dari saya kita tidak sedekat itu nona Liosya" ujar Rafaela dengan nada tidak bersahabat.
"Baiklah, maaf karena bertindak kurang sopan nonan Rafaela, oh iya saya penasaran apakah anda percaya pada siklus reinkarnasi? Aku hanya bertanya, tidak di jawab pun tid.... "
Ucapan Liosya terpotong karena ucapan Rafaela yang menatapnya tidak suka.
"Saya tidak tahu kenapa anda membahas hal ini tapi bagaimana pun aku merasa hal ini pernah terjadi pada manusia bukan? " ujar Rafaela serius.
__ADS_1
"Kau pernah memimpikan sesuatu yang begitu asing dan merasa mimpi itu begitu nyata? Jika kau pernah mengalaminya maka kau harus memastikannya dengan cara apakah setelah kau bangun kau merasakan hal yang sama dalam mimpi mu? "Ujar Liosya dengan senyukan yang sulit di artikan.
"Ya, aku pernah merasakannya entah kenapa aku merasa kau begitu dekat dengan ku tapi hal seperti ini tidak bisa di buktikan hanya dengan kata kata bukan? "Ujar Rafaela tersenyum kecut.
"Duduklah di dekat ku, akan ku perlihatkan ingatan mu yang menghilang itu" ujar Liosya menepuk nepuk sofa di dekatnya.
Tidak tahu angin apa yang membuat Rafaela begitu menurut, ia duduk di dekat Liosya yang merasa puas.
...~^°^~^°^~...
KERAJAAN BONEKA
Di saat yang sama di kerajaan boneka, Jadey yang tengah mengawasi mereka dibuat terkejut akan hal yang ia lihat.
Monxai pun ikut terkejut dengan apa yang mereka saksikan dilayar monitor milik Louish yang sama sekali tidak merespon.
"Gawat! Hubungi Hanabi untuk segera kesana jika tidak Rafaela tidak akan bisa di selamatkan lagi! "Panik Jadey yang segera menghubungi beberapa rekan agen rahasia miliknya untuk segera keluar dari tempat khusus Jadey menuju area kantor Zilian.
Laurel dan Leix saling memandang satu sama lain, mereka berdua mendekati Jadey yang sibuk mengetik di layarnya.
"Aku dan Leix akan pergi, kakak tenanglah kami tidak akan terluka sedikit pun" ujar Laurel meyakinkan.
Jadey mengeleng, ia menatap mereka dengan kerutan kening di dahinya "tidak, aku tidak akan mengizinkan kalian untuk pergi saat ini, kita akan pergi bersama saat Hanabi dan yang lainnya sampai di sana"
"Kita bertugas sebagai pengintai agen pengobatan dan bantuan, biarkan mereka mengurusnya terlebih dahulu" ujar Jadey.
Leix menepuk pundak Jadey yang menatapnya heran "akan ada hujan darah jangan sampai para manusia terkena setetes pun hujan ini jika tidak mereka akan terinfeksi" ujar Leix.
Jadey mengerti maksud Leix, ia segera menghubungi pasukan naga yang saat ini di ambil alih oleh Chaiden.
"Hallo, ini aku Jadey bisakah kau mengerakan pasukan naga kehidupan untuk eksekusi manusia ke tempat yang aman? Buat portal secepat mungkin agar mereka aman "ujar Jadey mengirim transmisi suara pada Chaiden.
"Baiklah aku juga akan membangkitkan pasukan kematian ku kau tenang saja, umumkan di stasiun tv saluran agar mereka berteduh di dalam rumah atau bangunan lainnya agar memungkin mereka selamat" ujar Chaiden.
"Baik"
Jadey segera memecahkan pasword lalu membuat berita yang sudah ia edit dengan bantuan Leix yang begitu jenius dalam soal peretas.
"Lumayan mudah, kakak kau urus saja para agen yang ada di kantor nona Zilian, serahkan soal penyiaran pada ku" ujar Leix masih berfokus mengetik untuk setiap saluran stasiun tv di setiap negara.
Mereka begitu sibuk dalam hal ini, Laurel menyelinap keluar untuk membantu Louish mempersiapkan senjata dan mengirimkannya pada Agen yang tengah bertugas mengeksekusi para manusia sebelum turun hujan darah.
DI DUNIA MANUSIA
Saat ini dunia manusia tengah di gemparkan akan siaran televisi yang tiba tiba menyiarkan akan hujan darah, meski ada sebagian manusia yang menganggap kalau ini hanyalah ke isengan saja dan tidak mempedulikannya.
__ADS_1
Di sisi lain saat ini di ruangan pemotretan perusahaan Zilian, Liosya menampilkan wujud aslinya yang ternyata adalah seorang iblis yang sudah tampak familiar bagi para agen yang tengah berusaha merusak penghalangnya.
"Kalian yang menganggap diri kalian begitu suci dan baik hati sebenarnya tidak lebih buruk dari sampah sekali pun" sinis Devossliona.
Tidak sendiri, Devosliona membawa rekan rekannya untuk menyerang mereka. Yah sepertinya Devosliona sudah merencannya sejak lama.
"Lepaskan Rafaela! "Teriak Zilian yang tengah mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan penghalang yang di buat Devosliona.
"Kau tidak pantas berada di dekat Rafaela, aku tidak mau kau mengotori bangsa iblis ku" Devosliona menyerang Zilian yang terlempar keliar dari perkantorannya.
"Hanzel, Yon, kalian urus soal penambahan iblis untuk klan kita "perintah Devosliona yang menyerahlan Rafaela pada Isekai.
"Slayer demon kau bawa Rafaela kembali nanti akan menyusul setelah membereskan wanita menjijikan itu" ujar Devosliona membuka penghalangnya.
Ia melompat turun menemui Zilian yang berusaha menahan gejolak yang terus menyerang di dalam tubuhnya.
"Bagaimana rasanya? Apakah sakit? Inilah balasan kalau kau mengkianati teman sendiri" sinis Devosliona mengangkat Zilian ke udara lalu memotong angan dan kaki Zilian dengan tatapan kosong.
Zilian berusaha menahan rasa sakitnya, ia juga masih memberontak agar bisa menyelamatkan Rafaela.
"Kenapa aku tiba tiba melemah begini? Kenapa kekuatan ku tidak berfungsi? "Batin Zilian melemah.
"Merasa tidak berguna bukan? Lebih baik kau menjadi tidak berguna selama lamanya!!! Rasakan ini! "Devosliona menyerang Zilian dengan cakarnya.
SRASHHHH.....
"BERANI BERANKNYA KAU MUNCUL KEMBALI? KAU BAHKAN BERNIAT MEMULAI PEPERANHAN DENGAN KU? "Marah Solydia yang tidak lain adalah pemimpin organisasi samurai di jepang.
"Kau! Menyingkirlah dari jalan ku! "Marah Devosliona yang membangkitkan iblis dari tanah dan udara.
"Lama tidak bertemu Solydia "ujar Slayer Demon yang masih membawa Rafaela di dalam sebuah gelembung.
Zilian yang mulai tertekan kini tidak dapat menahan amarahnya hingga sebuah kekuatan kembali terpicu padanya.
Semua pasukan agen suruhan Jadey berkumpul untuk melindungi Zilian bersama dengan Medeia, Chaiden, Celviona, Veisha, Xelly dan Yelly, Kelvin dan yang lainnya ikut bergabung untuk mengalahkan Devosliona.
Suara tawa Devosliona yang hanya menunjuk mereka semua dengan tatapan menghina dan merendahkan mereka membuat Medeia tidak tahan untuk menyerangnya.
"Mari kita lihat, siapa yang akan menang saat ini. Kalian atau aku" ujar Devosliona penuh dengan keyakinan.
"Pastikan Rafaela aman dan persiapkan jalur kembali setelah mereka sudah siap menjalankan rencana kita" Devosliona memberikan transmisi suara pada rekan rekannya.
...~~~...
*Mari kita lihat bagaimanakah keseruan mereka nanti saat pertarungan akankah Rafaela di bawa pergi di pihak iblis atau akan kembali ke tangan Zilian.
__ADS_1
Bagaimana dengan Manusia yang jumlahny begitu banyak? Akankah mereka selamat atau tidak?
Mari tunggu kelanjutan karya ku yah temen temen 😘😘😘*