Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
PART 26 : KEPERGIAN


__ADS_3

Muncul di pikiran Cestania, ia bertanya tanya mengapa Medeia berubah pikiran sekarang? Seperti ada hal yang telah dia sembunyikan darinya dan yang lainnya.


"Bagaimana dengan ujian para siswa? "Ujar Cestania menatap lekat bola mata Medeia.


Medeia mengerti arti tatapan itu lalu kembali membalasnya dengan jawaban yang tidak memuaskan untuk Cestania.


"Kalian uruslah"ujar Medeia berjalan cepat menuju gerbang sekolah.


Para wartawan mulai mengambil gambar sebanyak banyaknya toh Medeia paling jarang muncul di publik kecuali saat Medeia masih belum menjadi Ceo di Royal intertaimen.


"Apa anda ada hubungan dengan Pria yang ada saat acara peresmian sekolah anda? "


"Bagaimana kalau dia di debutkan saja menjadi artis itu akan sangat menguntungkan"


"Boleh kah kami mewawancarainya? "


Pertanyaan demi pertanyaan terlontarkan dari mulut para wartawan itu, karena merasa terlalu berisik Medeia membuka pembicaraan.


"Sebelumnya saya akan mengatakan pada kalian, sebelum kalian datang kemari, apa kalian sudah memikir kan kalau kalian bisa menganggu aktifitas dan kefokusan para siswa? Ini adalah kawasan sekolah, jika orang luar membuat keributan pihak lain akan menyelesaikannya di sidang"ujar Medeia.


Para wartawan seketika terdiam, mendengar kata kata mereka menyadarkan mereka lalu sebagian dari mereka pun pergi, tapi sebagian lainnya tidak mempedulikannya.


"Kami tau nona Bliard akan mengatakan ini, tapi kami hanya menjalan kan tugas kami sebagai wartawan apa ada yang akan melarang kami? "


"Sayang sekali, sebelum berbicara anda harus memikirkannya terlebih dahulu, tugas kalian memang mewawancarai dan mencari berita untuk publik tapi apa kalian berhak untuk menganggu ketenaran sebuah sekolah? Apa lagi yang bisa kalian katakan? Jika ada yang ingin kalian katakan maka katakanlah di pengadilan semenit lagi"ujaredeia tetap tenang.


"Nona bolehkah saya menanyakan sesuatu? "


"Katakan saja di pengadilan "kesal Medeia mengepal tangannya.


"Saya dengar anda akan menikah dengan seseorang? "


"Dari mana kau mendapat rumor tidak jelas ini? "Ujar Medeia sedikit kebingungan.


"Indentitas pelapor tidak bisa kami sebar luaskan "


"Lebih baik kalian semua tunggu di sini kedatangan pihak berkewajiban, kalian pastikan tidak ada satu pun di antara mereka yang lolos dan melarikan diri, jika tidak bonus tahunan kalian akan hilang"perintah Medeia.


"Baik nona muda"


Setelah itu Medeia masuk kembali menemui teman temannya yang duduk di ruang istirahat sambil menunggu kedatangan Medeia dengan cemasnya.


Medeia duduk di dekat Chaiden sambil menyandarkan kepalanya yang pusing.


"Ada apa Medeia? "Khawatir Medusa.


"Tidak apa apa, hanya saja jadwal ujiannya di percepat saja takutnya mereka akan mulai bertindak"ujar Medeia lesuh.


"Mereka? Apa musuh sudah mengabari mu? Kenapa tidak memberi tahu kami? "Marah Medusa.


"Apa apaan ini Medeia! "Kesal Cestania membentak Medeia dengan keras.


"Kalian begitu sibuk mana mungkin aku menganggu kalian saat kalian tengah beristirahat? "Ujar Medeia menghela nafas nafas panjang.

__ADS_1


"Baiklah, apa yang dia katakan? "Ujar Medeia menenangkan Cestania yang juga berusaha untuk tenang.


"Sepertinya mereka akan menyerang kita, sejak awal targetnya itu aku bukan kalian, jadi.... "


"Jadi kami tidak perlu ikut campur? Sayang sekali kami tahu kau akan mengatakan ini"kesal Cestania.


"Ada satu hal, mereka mengatakan bahwa penganggu sudah di taklukan sisanya tinggal kita saja, sepertinya mereka tidak ingjn ada yang ikut campur dan mengambil keuntungan"ujar Medeia.


"Kalau begitu, para wartawan sebanuak itu? Apa mereka juga bagian dari rencana mereka? "Ujar Medusa.


"Benar, tinggal empat bulan lagi kita akan berangkat ke dunia para Yokai, waktunya begitu mepet, untuk saat ini kita selesaikan dulu ujiannya untuk memperkuat mereka, di arena ujian besok aku akan..... "Lagi lagi ucapan Medeia terpotong.


"Sebentar mereka harus menjalani tahap pengabungan dan melawan ku besok"ujar Cestania mengingatkan.


"Kalau begitu tidak ada ujian ke dua"ujar Medeia seolah olah tidak ada yang begitu penting dari waktu.


"Jadi? "Bingung mereka semua.


"Sampai kapan kalian akan berdiskusi? Begini saja untuk besok lebih baik menjelaskan dan mempraktekan pada mereka agar mereka mengerti, dengan begitu besoknya lagi langsung saja bertarunv dan mengasah cara bertarung mereka"ujar Chaiden tidak ambil pusing.


"Dasar pemalas! "Ujar Medeia tersenyum kaku.


"Dari pada mendengar kalian berbicara tanpa henti mending akhiri saja dengan cepat"ujar Chaiden bodoh amat.


"Ide yang bagus juga sih, mereka pasti akan menyerang kapan saja, hah.... Baiklah kita semua akan berkumpul di lapangan pelatihan, aku akan menggunakan segel untuk mengamati pergerakan energi mereka"ujar Medeia ikut bermalasan.


"Ketularan lagi deh"ujar Riko.


"Eh? Hei Riko kau bisa mengajari mereka tidak? "Ujar Lucas menepuk keras pundak Riko.


"Istirahatlah untuk besok"ujar Medeia meninggalkan mereka.


"Aku juga akan ke kamar"ujar Kelvin ikut pergi.


Perlahan mereka seluruh bubar, kecuali Cestania. Dia merasa aneh akan apa yang baru saja di lihatnya, Medeia memang terlihat dingin sepanjang waktu walapun terkadang dia akan peduli pada mereka jika tidam ada yang menjanggal pemikirannya. Tapi kali ini berbeda tatapannya menyimpang ketertekanan.


Keesokan harinya seluruh anggota berkumpul kecuali Rika dan Minho yang sudah berangkat lebih awal dari pada mereka menuju inggris dengan kawalan ketat dari pengawal bayangan Medeia.


Setelah mereka berkumpul, Eva mulai memberi isyarat pada Medeia untuk mulai membuat segel, setelah membuat segel Medeia membuka pembicaraan.


"Baik semuanya, kali ini kalian boleh memilih guru yang inginkan, jika kalian memilih satu guru yang sama maka kalian boleh bertanding, pemenangnya akan menjadi muridnya"ujar Medeia.


"Tapi sebelum itu bukankah kalian harus menunjukkan kemapuan kalian? Kami takut kalian akan menipu kami "ujar Cloude.


"Benar, kami ingin mendapatkan guru yang bertalenta"ujar Jay.


"Ku harap kalian tidak mengecewakan ku"ujar Hanabi menatap mereka dengan dinginnya.


"Jangan lupa hukuman kalian nanti"ujar Cestania mengingatkan.


Mereka hanya tersenyum hambar mendengar kata kata Cestania yang begitu membuat mereka tidak enak badan.


"Pilih siapa di antara kami yang akan bertarung? "Ujar Medusa dengan ramahnya.

__ADS_1


"Orang berambut biru ke putih putihan itu dengan pria aneh yang berpakaian serba hitam itu"ujar Hanabi tanpa ada rasa bersalah.


"Jaga omongan kalian"peringat Eva.


"Baiklah"ujar Medeia.


Medeia membuat tembok penghalang yang terbuat dari energi untuk menjamin kekuatannya tidak bertebaran dan mengenai mereka yang tidak bersangkutan.


"Jangan sungkan, anggap saja aku musuh bebuyutan mu"ujar Kelvin melepas bulu kehitamannya di mana mana.


Medeia tersenyum, ia juga melepaskan ekor sembilannya menunggu Kelvin untuk menyerangnya terlebih dahulu. Benar saja yang di lihat Medeia itu adalah bayangan pengganti sedangkan yang asli sudah ada di belakang bersiap menusuk pedang kegelapan pada Medeia tapi sayang trik ini tidak berhasil.


Arena yang bulunya bertebaran adalah kawasan Kelvin, dia dengan mudah akan membunuh lawannya tanpa ampun, tapi Medeia berbeda, karena energi tidak terbatas ada padanya ia dengan mudah menyebarkannya dan merasakan setiap gerakan Kelvin dengan mudahnya.


Pertarungan sengit terjadi, mereka yang menonton tercengan melihat mereka bertarung, sebenarnya gerakan mereka hampir tidak dapat terlihat.


Medeia melepaskan hawa dingin yang membuat Kelvin hampir membeku di tempat tapi itu juga masih bisa Kelvin hindari, melihat ini cukup sulit Medeia terpaksa mulai serius untuk mengakhiri pertarungannya.


Energi yang sudah Medeia kumpulkan secara diam diam dengan mengandalkan ekornya akhirnya sudah mencapai batas, Medeia mengangkat sebelah tangannya dan memusatkannya, lima elemen sudah terkumpul Medeia mengabungkan setiap elemen menjadi kekuatan baru.


Cahaya, logam, es dan lain lainnya susah terkumpul, selain itu Medeia membuat kabut baru yang lebih tebal dari kabut yang di buat Kelvin, kini Kelvin merasa tersudut. Tanpa memakan waktu lebih lama lagi Medeia melepas semua kekuatannya secara bersamaan lalu membuat lagi yang baru.


Pada akhirnya serang terakhir Medeia mengenai Kelvin dan membuat luca yang begitu fatal, tapi Medeia sedari awal menyiapkan segel penyembuhan untuk Kelvin jauh sebelum mereka bertarung.


Melihat kekuatan Medeia yang begitu hebat mereka langsung memilih Medeka terkecuali Cloude, Chouse, Alpha dan Hanabi. Mereka masih tetap ingin melihat pertarungan lainnya.


Setelah berjam jam akhirnya pertarungannya berakhir, mereka mulai memikirkan pendapat mereka masing masing.


"Ternyata guru yang paling ramah ini..... Ternyata Medusa yang terkenal itu? Yang benar saja"ujar Violeta tidak percaya.


"Aku juga begitu, guru killer itu juga sampai di jadikan batu pajangan, untung saja dia bisa mengubahnya kembali menjadi manusia kalau tidak akan ku hancurkan saja"ujar Hanabi.


"Sialan kau bocah, lihat saja nanti akan ku habisi kau"marah Cestania.


"Kalian katakan guru yang ingin kalian pilih"ujar Medeia sedikit terburu buru.


"Aku memilih orang guru Chaiden saja"ujar Cloude.


"Aku guru Medeia saja"ujar Hanabi.


"Aku tidak berani berebut, guru Lucas saja deh"ujar Violeta.


"Kelvin"ujar Chouse.


"Aku pilih guru Medusa saja"ceria Jay.


"Tidak ada yang mempedulikan ku"ujar Cestania membatu.


"Hah..... Kau kira hanya kau saja? Aku pun tidak laku sekarang"ujar Riko lesuh.


"Baiklah malam ini kalian datanglah ke ruang makan di apartemen ku, nanti akan ada yang harus ku bicarakan pada kalian"ujar Medeia langsung pergi.


"Apaan sih dia ini? "Batin Hanabi.

__ADS_1


Setela pertarungan itu Medeia kembali ke ruang belajarnya untuk membaca buku sambil menenangkan isi kepalannya yang sedari tadi berputar putar tanpa henti.


__ADS_2