Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
S2. PART 50


__ADS_3

...~~~...


Mata Zilian mulai terbuka secara perlahan mencoba melihat apa yang ada disekitarnya, hal paling pertama yang ia lihat adalah kegelapan tanpa ada satupun cahaya.


Tidak ada secercah cahaya sedikitpun yang ada disana, entah kenapa kekuatan Zilian tidak dapat ia gunakan bahkan energipun tidak dapat Zilian rasakan keberadaannya seolah olah tertahan oleh sesuatu yang bahkan Zilian tidak tahu itu apa.


Tempat macam apa ini? Mungkin itulah yang Zilian pikirkan mengenai apa yang ia lihat sekarang, kegelapan dan kegelapan hanya itu, aneh sekali bukan?


Bayangkan saja jika sedang mati lampu, oh sungguh itu tidak nyaman seolah olah kegelapan itu tidak berujung sama dengan apa yang Zilian rasakan sekarang.


Tempat ini bahkan lebih mengerikan dari alam kematian! Tunggu, apakah dia berada di dimensi lain alam kematian?


Oh ayolah, Zilian bahkan tidak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana tubuhnya bahkan terasa remuk entah apa yang telah terjadi sebelumnya.


"Ugh, dia mengirimku kemana? Tempat apa ini? "Ujar Zilian terus memperhatikan sekitarnya meski tidak ada hal yang menarik, ingat hanya warna hitam yang ada disana.


Zilian memutuskan untuk berjalan ke depan dan terus berjalan tidak tahu ingin kemana yang penting Zilian jalan saja mengikuti apa yang ia inginkan.


Langkahnya terhenti kala melihat sebuah sinar yang datang menghampirinya.


Sosok yang dipenuhi cahaya itu berbanding terbalik dengan tempat yang Zilian pijak sekarang, tempat yang diselimuti kegelapan dan aurah yang mencengkram.


Matanya yang tajam terus menatap tanpa henti soson yang berjalan kearahnya, ia tidak ingin ceroboh untuk saat ini terlebih ini bukanlah daerah yang Zilian kenali.


"Zilian? "Ujar sosok itu setelah agak dekat dengan Zilian.


"Siapa kau? "Ujar Zilian tajam, bagaimana sosok itu tahu dirinya?


"Apa itu kau sayang? "Ujarnya tersenyum bahagia kala telah berada dihadapan Zilian, tangisnya pun pecah membuat Zilian merasakan sesak di dadanya tapi ia sendiri tidak menyadarinya dan memilih memasang wajah datarnya.


"Ibu, kenapa kau ada disini? Jangan bilang kau menyelinap masuk? "Ujar Zilian santai.


Bukannya menjawab Medeia malah melenggang pergi menjauhi Zilian yang heran dengan perilaku aneh Medeia yang semakin lama semakin jauh darinya.


Atensinya terganggu oleh sesuatu yang terus mengenai punggungnya, Zilian berbalik menatap kearah belakang tapi ia tidak menemukan apapun.


Saat berbalik kedepan Medeia telah hilang digantikan oleh Dedliona yang tertawa sambil mengejar Devosliona dan Candy, sangat bahagia itulah yang Zilian lihat.


"Jelas sekali ini hanyalah sebuah ilusi tapi kenapa aku ingin mempercayai apa yang kulihat di hadapanku ini? Ada apa ini? Ini bukanlah Zilian yang mengendalikan tetapi emosi, bukankah begitu? "Batin Zilian tersenyum simpul.


Kakinya perlahan berjalan mendekati mereka saat jarak mereka semakin dekat tiba tiba saja mereka menghilang saat Zilian tengah menunduk.


"Liona? "Ujar Zilian, ia berbalik untuk mencari Dedliona dan yang lainnya entah kenana mereka pergi.


Matanya yang tajam terus mencari keberadaan mereka bertiga tapi nihil ia tidak menemukan sosok yabg ia cari, ia bahkan berlari untuk mencari mereka sungguh Zilian cemas sekarang.


"Liona tolong jawab aku! "Teriak Zilian masih berlari.


"Zizi, tolong.... "Ujarnya lirih hampir tak terdengar.


Zilian mendengarnya tapi ia tidah tahu dimana asal suara itu terlebih kekuatannya tidak dapat digunakan saat ini dan tentu saja ini benar benar menyulitkan Zilian.


"Dimana?! "Teriak Zilian semakin cemas.


"B-belakang.... "


Zilian menoleh, ia mendapati Dedliona, Devosliona dan Candy terjebak kedalam pasir hisap hanya tangan yang tampak terlihat.


"T-tidak, cepat pegang tanganku! "Teriak Zilian, tangannya terulur kesalah satu dari mereka entah siapa yang akan berhasil ia selamatkan setidaknya Zilian telah berusaha.


Zilian mulai menarik tangan seseorang yang kini telah berada di hadapannya.


"C-candy? "Ujar Zilian terbata bata, ia kembali mengulurkan tangannya berharap masih dapat menyelamatkan keduanya, meski telah terlambat.


"Ini semua salahmu, andai kau datang lebih cepat kakak pertama dan Devosliona tidak akan mati! "Ujar Candy menatap penuh kebencian pada Zilian yang mematung.

__ADS_1


"Kau bahkan tidak pantas berteman dengan kakak pertama! "


"Kau pikir aku ingin menyelamatkanmu hah?! Tidak sama sekali! "Teriak Zilian.


"Lalu kenapa aku yang kau tolong bukan kakak pertama? "Ujar Candy menatap nyalang ke arah Zilian yang tersulut emosi.


Dia adalah Candy bukan Dedliona maupun Devosliona, ini membuatnya kecewa meski begitu Zilian berusaha menyembunyikannya.


"Hihihi, kasihan sekali kau ini" ujar seseorang disamping Zilian.


"Karena kau mereka mati" ujarnya lagi jari jarinya yang lentik menunjuk ke arah pasir hisap tempat dimaba Dedliona dan Devosliona tadi.


"Padahal dia sangat mempercayaimu tapi kau malah menghianatinya? Luar biasa sekali Zilian" ujarnya di iringi tawa devilnya dia tampak puas melihat Zilian begitu menderita.


"Apa yang haris kulakukan? "Tanya Ziluan, tatapannha terlihat begitu kosong.


Sosok itu tersenyum simpul, "pergilah kearah selatan maka kau akan bertemu dengan orang yang telah membunuh sahabatmu" ujarnya


Zilian berjalan menjauh tanpa ingin melihat sosok yang telah memberinya petunjuk sungguh pikirannya di penuhi cara balas dendam.


Sosok itu menatap kepergian Zilian dengan wajah datarnya, ia pun perlahan menghilang diiringi terpaan angin yang tiba tiba saja mengencang.


Satu satunya yang dapat menarik Zilian adalah sebuah cermin yang terpasang ditengah pohon kering.


Zilian mendekat mendapati bayangannya yang tengah tersenyum padanya.


"Apa kau yang membunuh Dedliona?! "Ujar Zilian penuh penekanan.


Sosok itu memiringkan kepalanya sembari tersenyum tipis, "bukankah aku dan kau itu sama? "Tanyanya balik.


"Aoa hubungannya denganku? "Ujar Zilian tidak terima dirinya yang disalahkan.


"Naif sekali, asal kau tahu orang yang membunuhnya adalah KAU! "Ujarnya meninggikan suaranya.


"Tidak"


"Itulah kau, tidak peduli kau menutup mata untuk ini pada kenyataannya kaulah yang membunuh mereka "ujar sosok itu menunjuk kearah Zilian.


Sosok itu melayang keudara lalu menciptakan bayangan yang sama dengan dirinya, sedangkan Zilian hanya menatap bayangan dirinya yang terus tertawa receh di udara.


"Pembunuh"


"Pengkhianat"


"Pembohong"


"Iblis"


Zilian menunduk, ia tidak mengerti apa yang terjadi, ia tahu ini semua hanyalah ilusi tapi kenapa? Kenapa semunya terasa begitu nyata? Apa ini ilusi ataukah sebuah kenyataan?


Jika kenyataan lalu kenapa teman, sahabat dan orang yang sangat Zilian jaga ada disini? Bukankah hanya dirinya yang melintasi waktu?


"Arggghhhh, kepalaku sakit! "Erang Zilian memegangi kepalanya yang terasa begitu menyiksanya.


Melihat Zilian mulai kesakitan sosok itu mulai mengerumuni Zilian lalu memeluknya.


"Hihihihi, apa kau merasa sakit? Hn, baiklah kau ingin mereka selamat bukan maka akan kukabulkan dengan satu syarat kau harus memainkan sebuah permainan bersama kami" ujarnya lembut.


"Bagaimana jika aku kalah? "Tanya Zilian dengan nada dingin.


Sosok itu melepas pelukannya lalu tertawa, ia mendekatkan wajahnya pada Zilian.


"Jika kami kalah kami akan menuruti perintahmperintahmu, jika sebaliknya kau harus menjadi salah satu dari kami dan selamanya terkunci di hutan ini" ujarnya dengan senyuman simpulnya.


Zilian terdiam sejenak lalu mengangguk setuju, "baik"

__ADS_1


Mereka mulai menjauh dari tubuh Zilian, tatapan mereka mulai kosong, pakaian yang mereka kenakan berubah menyerupai pakaian yang Zilian gunakan.


Perlahan tercipta sebuah ruangan yang di penuhi oleh cermin tenru memantulkan bayangan mereka, merekapun memasuki cermin itu sedangkan Zilian berdiri di tengah tengah ruangan itu.


"Khikhikhi, kau hanya perlu menebak dimana aku waktumu sampai bunga di mekar" ujarnya, suaranya begitu kencang bahkan menggema di dalam ruangan itu.


"Gunakan senjata apapun yang kau inginkan" lanjutnya.


"Bagaimana caranya? "Tanya Zilian bingung, disini sama sekali tidak ada senjata yang bisa Zilian gunakan lalu bagaimana Zilian harus lakukan?


"Pikirkan saja selanjutnya terserah kau" ujarnya.


"Apa dia sedang berbaik hati? "Batin Zilian.


Sosok itu mulai menyerang sesaat setelah Zilian mengenggam pedangnya tanpa ampun.


Berbagai serangan Zilian patahkan tidak sedikit juga luka yang ia dapatkan dari pertarungan mereka.


Jangan lupakan sihir milik Zilian menghilang jadi dia mau tidak mau harus bertarung menggunakan fisik meski terlihat dengan jelas perbedaan dan seberapa sulit Zilian menghadapinya.


Meski diawal Zilian unggul dalan pertarungan Zilian tetap merasakan kelelahan ia juga tidak mengerti kenapa disaat menyerang bayangan yang ada di dalam cermin itu malah dirinya yang merasakan rasa sakitnya seperti Zilian menyerang dirinya sendiri.


Zilian mundur sejenak, "ugh, tidak boleh Dedliona di.... "


Zilian menangkis sebuah anak panah yang melesat kearahnya dengan cepat.


Melihat Zilian tampak begitu kelelahan sosok itu mulai tersenyum penuh kemenangan.


"Menyerah? "


"Mati saja kau! "Kesal Zilian.


Ini tidak adil, dia dapat menggunaka sihir sedangkan Zilian hanya menggunakan sebuah senjata biasa? Mengesalkan sekali.


"Aku terlalu bodoh menerima tantangan ini jelas jelas jelas tahu apa yang akan terjadi tapi sudahlah semua telah terjadi" batin Zilian menghela nafas berat.


Zilian terus mencoba menyerang bayangannya berusaha mengabaikan tubuhnya yang remuk karena serangannya malah terpantul padanya.


Zilian terjatuh lemas, tubuhnya mati mati sekarang, "tidak boleh" gumam Zilian.


Zilian kembali bangkit tapi usahanya berujung sia sia, Zilian memerlukan kekuatannya tapi sepertinya itu tidak mungkin.


Pasrah akan keadaan dan takdir yang Zilian alami meski ia harus berakhir sekarang, ia sangat kesakitan sekarang berdiripun ia tidak sanggup lagi.


Tekatnyapun seketika sirna begitu saja, kenapa ia harus terlihat lemah dimata orang lain seperti ini?


"Andai saja kekuatanku bisa kugunakan dia pasti akan kuhancurlan! "Batin Zilian.


Tatapannya tak henti hentinya menatap tajam kearah bayangannya yang sama sama menatap remeh padanya.


"Karena jiwamu unik maka akan ku akhiri dengan mengambil jiwamu sekarang" ujarnya mulai keluar dari cermin, bibirnya tanpak mengucapkan sesuatu.


Ribuan pedang kini melayang diatasnya dan sebuah bayangan menahan tubuh Zilian agar tidak dapat melawan meski itu percuma karena Zilian sama sekali tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan.


"Maaf, janjiku untuk kembali sepertinya tidak akan tercapai. Sejak awal kemari aku bahkan kalah telak, menyedihkan bukan? Hahaha, setidaknya aku senang terlahir didunia ini berkat itu aku dapat mengenal kalian, semoga jiwaku dapat bereinkarnasi dikehidupan selanjutnya" batin Zilian tersenyum kecut.


Tepat saat Zilian menyelesaikan kalimatnya pedang itu bergerak kearah Zilian dengan kecepatan tinggi.


"Maaf.... "Gumam Zilian menutup matanya dengan tenang.


Merasa begitu lama dan tidak ada yang terjadi padanya Zilian memutuskan untuk melihat apa yang terjadi.


Sebuah uluran tangan dihadapannya, Zilian menatap kearah pemilik tangan itu yang ternyata tengah tersenyum tulus padanya.


Zilian mengelengkan kepalanya dengan pelan ia memberi tanda dengan matanya, pria itu mengerti apa yang Zilian maksud ia pun menunduk lalu membawa Zilian pergi dari sana.

__ADS_1


Zilian hanya diam saja, entah kenapa matanya mulai sulit ia kontrol dan berakhir menutup dengan sendirinya.


Berlanjutttt....


__ADS_2