
Medeia bersiap turun menemui teman temannya termaksud ayahnya, sebelumnya Medeia mengajak mereka untuk bersenang senang bersamanya ketika ia sampai ke kediamannya.
"Bagaimana? Apa kalian sudah siapa? "Ujar Medeia mengamati penampilan mereka.
"Tentu, di sana pasti ada banyak makanan"ujar Rika kesenangan.
"Tentu, makan apa yang kalian ingin kan tidak perlu sungkan sekali pun kalian ingin menghancurkannya juga akan ku kabul kan untuk kalian"ujar Medeia tanpa expresi.
"Hahahaha yang benar saja kau ini"tawa Riko.
"Dasar kau anak durhaka, kau ini anak mereka juga tau meski aku ini tidak mau mengakui sih"ujar Aiden.
"Sudahlah waktu ku untuk membuat proposal sekolah nanti akan semakin banyak yang terbuang"ujar Medeia berjalan keluar.
"Hei kau tau tidak? Medeia tidak seperti biasanya ada apa dengannya ini? "Ujar Rika menyadari tingkah laku Medeia.
"Mungkin saja ia tidak mau di jodoh kan"tebak Riko.
"Kau ini Medeia itu tidak akan bersikap seperti ini hanya karena masalah sepeleh"kesal Rika.
"Cukup, jangan buang buang waktu cepat pergi ke mobil kalian masing masing"ujar Chaiden mengigat kan.
"Oke boss"ujar Riko berlari keluar.
"Eva apa berkas yang ku suruh kan sudah kau siap kan? "Ujar Medeia menatap datar Eva.
"Sesuai perintah ratu"ujar Eva.
"Bagus"
Medeia masuk ke dalam mobil pribadinya menuju ke kediaman everanto bersama dengan teman temannya.
Tidak terasa mereka sampai di kediaman keluarga everanto, Medeia memasuki gerbang kediaman dengan anggun di ikuti teman temannya yang menatap takjub halaman luas.
"Apa ini istana? Lebih mewah dari vila yang kita tempati"ujar Rika ngiler.
"Jaga sopan santun kalian, apa terlalu mengaget kan kalau rumah pengusaha sulses dunia memiliki rumah seperti ini? Sudah wajar bukan"ujar Lucas bodoh amat.
"Ck, ya sudahlah kalian ini tidak akan mengerti perasaan wanita itu bagaimana"kesal Rika berjalan ke dekat Medeia.
"Kalian tidak perlu sungkan anggap saja rumah ku adalah rumah kalian"ramah Medeia.
"Sikap mu yang seperti ini hanya membuat ku merasa berhalusinasi merasa kan surga yang indah tapi ternyata aku berkhayal di dalam neraka"ejek Rika.
"Terserah apa kata mu"uhar Medeia.
"Anak ku...... Apa kabar sayang? Mamah rindu dengan mu, kenapa tidak kembali ke rumah sesekali sih? "Ujar Calista memeluk erat Medeia.
"Lepaskan tangan mu dari anak ku"batin Aiden.
"Lepaskan"dingin Medeia.
"Ada apa nak? "Kaget Calista.
"Langsung ke intinya"
Medeia menatap tajam Calista yang membuatnya tertegun, melihat suasana semakin mencengkram nenek Medeia datang.
"Cucuku sayang ayo masuk dulu"bujuk neneknya.
"Aku akan mendengarkan kata kata mu kali ini nenek, jika nenek bukan dari keluarga ini mungkin keluarga ini sudah ku hancur kan sedari dulu"kesal Medeia.
"Di mana sopan santun mu! Aku tidak pernah ingin melahirkan anak seperti mu yang tidak tahu diri! "Bentak Daffi dengan gebrak kan meja.
Medeia tersenyum kecut melihat kejadian yang terus berulang ketika dia kembali ke rumah terkutuk ini.
"Oh yah? Apa kau akan mengeluar kan aku dari kartu keluarga? Silah kan saja aku tidak akan takut justru yang harus berhati hatk itu adalah kau"ujar Medeia melewati Daffa.
PLAK
"Beraninya kau membentak anak ku!? Ingat batasan mu di sini"kesal Calista.
"Dan yah ibu, bertahun tahun ini kau selalu percaya dengan suami tercinta mu ini dan sibuk menjalani asmara dan mendekat kan dia pada ku tapi sayang sekali aku tidak pernah menerima adanya seorang pria sepertinya di keluarga ini"ujar Medeia menatap tajam lalu meninggal kan mereka berdua.
RUANGAN MAKAN MALAM
Medeia duduk berdekatan dengan neneknya yang sibuk mengobrol dengannya mengenai masalah perkantoran dan perjodohannya.
"Cucu ku yang tersayang, sudah lama nenek tidak melihat mu main ke mari, sepenya cucu kecil ku ini sudah beranjak dewasa yah"senang nenek.
"Hm..... "
"Apa kau tidak bisa melupakan masa lalu mu? "Cemas nenek.
Medeia mengeleng pelan lalu menatap neneknya dengan tatapan lemah lembut ia meyakin kan neneknya agar tidak terlalu cemas.
"Tenanglah nek, aku cucu mu tidak akan mengecewa kan mu, lagian hanya kau yang ku punya di keluarga ini dan juga kakek"ujar Medeia tersenyum hambar.
"Jangan di paksa kan Medeia, kakek mu akan datang sebentar lagi, persiapkan telinga mu yah"ujar neneknya menahan tawa.
"Inilah momen yang paling ku benci jika datang ke sini"datar Medeia memasang headset dan menyetel lagu apa saja.
__ADS_1
"Selamat datang kakek"ujar pelayan menghormat.
"Cucu ku sayang! Kemana kamu pergi? Sudah lama aku terpisah dengan mu dan kau menghindar dari ku? Hiks hiks cucu ku kau semakin lama semakin tega yah"dramastis.
KRIK KRIK KRIK
Semua yang ada di sana di penuhi dengan tawa terkecuali Medeia yang terus melihat kalung yang ia kena kan.
Chaiden menatap iba Medeia yang berusaha terlihat tangguh di hadapan keluargannya padahal ia tertekan dengan kedua sisi dengan masa lalu yang berbeda.
Sedangkan Kelvin, ia diam diam membalas dendam mengguna kan kekuatannya dengan mencampur racun ke dalam makanan Calista tanpa memikir kan apa yang akan terjadi.
Menguntung kan saja Riko menyadari tindak kan Kelvin ia dengan cepat menawar kan diri untuk berpindah tempat.
"Hey kau sialan, apa kau pikir ini akan menguntung kan? Kami juga tau apa yang Medeia rasakan bodoh, berfikirlah secara logis"bisik Riko.
Kelvin kembali menggangkat racunnya lalu memberi isyarat pada Riko, Chaiden tersenyum licik sepertinya ia harus lebih berusaha lagi.
Tidak lama setelah mereka bercanda ria bersama sama hal yang tidak mengenak kan akhirnya datang. Seketika ke adaan ruangan menjadi sunyi, suasananya kembali dingin.
Medeia sama sekali tidak menyambut kedatangan Calista bersama denagn Daffa yang berwajah kesal, mereka duduk di dekat Medeia.
Nenek Medeia yang juga turut tidak suka mengusir Daffa dengan Calista kasar ke kursi lainnya.
"Di sini masih ada banyak kursi kosong, aku dan cucu ku ingin mendiskusikan soal proyek kerjasama ku harap kau mengerti Calista"dingin nenek.
"Dengar kan ibu mu, jangan mencari masalah di depan teman teman Medeia"ujar kakeknya ikut menimpal balik.
"Aku ini anak kalian! Kenapa kalian begitu tidak mengiginkan ku? "Kesal Calista.
"Keluarga kita hanya mengandal kan kepercayaan masing masing ketika kepercayaan itu pecah maka tidak ada lagi kesempatan lain"ujar kakek.
"Hanya karena laki laki sialan itu? Dia sudah mencelakai ku "ujar Calista marah.
"Diam kau! Jika kau masih ingin hidup maka berhentilah berbicara satu huruf"bentak Medeia.
Aurah Medeia membuat merwka yang ada semuanya bungkam seketika, Aiden yang menyaksikan kelakuan putrinya semakin berkidik ngeri melihatnya, jika istrinya masih ada dan bersatu dengan putrinya ini mungkin dunia akan hancur dalan hitungan detik.
Sudah setengah jam mereka menunggu kedatangan tamu yang akan melamar Medeia tapi mereka sama sekali tak kunjung datang.
"Kami tidak membutuhkan menantu yang tidak tepat waktu untuk cucu ku"marah nenek.
"Makan malam kali ini aku ubah menjadi makan malam untuk tamu kehormatan cucu ku"putus kakeknya.
"Maaf kami terlambat, jalan menuju kemari sedikit macet"ujar Sea menyela percakapan.
"Oh ternyata itu anda pangeran Sea, menurut ku jalan di skni sepertinya tidak macet dan di mana sopan santun mu? "Ujar Medeia dengan nada menghina.
"ku rasa kau tidak memiliki hak untuk bicara sebagai ayah di sini, bukankah begitu ayah tiri?"dingin Medeia.
"Aku tidak membutuh kan suami seperti mu"lanjut Medeia.
"Aku sudah lama mengenal anda nona Medeia saya harap anda bisa menjadi pendamping ku dan menjadi ratu inggris"ujar Sea membujuk.
"Akan ku pertimbangkan, pernikahan bukanlah permainan anak kecil"ujar Medeia penuh arti.
"Baik, saya akan berusaha"ujar Sea membungkuk hormat.
"Menurut ku sih aku tidak masalah yang harus menyetujui pernikahan ku ada di tangan nenek, kakek dan juga....... "
Medeia berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Aiden yang duduk berdekatan dengan Chaiden.
"Dan juga ada di tangan ayah angkat ku dan juga orang kepercayaan ku ini"ujar Medeia mengenggam masing masing sebelah tangan mereka.
Yang ada di sana tercengang melihat tinggkah laku Medeia yang tjba tiba berubah drastis ke mode terlembutnya.
"Yang di sebelah mu itu siapa? Kenapa nenek tidak menyadari ada pria tampan sepertinya"ujar nenek Medeia menatap Chaiden dari bawah ke atas.
"Dia orang yang penting bagi ku, semua tamu yang ku bawa ini adalah teman kepercayaan ku"ujar Medeia memperkenal kan mereka.
"Hahaha kedepannya kalian bisa datang kemari, langsung masuk saja, mulai sekarang aku adalah nenek kalian juga, jangan sungkan"senang nenek.
Kakek Medeia berdiri lalu menghampiri Aiden dengan tatapan introgasi, seperti ingin menerkamya.
"Kau ayah angkat cucu ku? "Tanya kakek yang masih menatapnya.
"Benar, aku sudah menganggap anak ku itu seperti anak kandung ku"ujar Aiden di antara senang dan kesal.
"Cucu ku itu jika mempercayai satu hal dia akan selalu percaya tapi jika kau menghancur kan kepercayaannya maka kau akan hancur sampai ke akar akarnya"ujar kakeknya memperingati.
"Entah mengapa sikapnya mirip dengan istri ku"ujar Aiden menggaruk kepalannya yang tidak gatal.
"Kedepannya aku akan mengandal kan mu untuk menjaga cucu kesayangan ku, jaga dia baik baik apa pun yang ia ingin kan lakukan saja jika tidak ada uang kata kan saja pada ku"ujar kakek.
"Tudak perlu, sebagai ayahnya aku akan memenuhi kebutuhan dan keinginannya apa pun itu"ujar Aiden percaya diri.
"Kalau begitu, rekaman ini akan menjadi bukti untuk kedepannya"ujar kakek kembali ke tempat duduknya.
"Aku tidak tau harus senang atau kesal melihat anak ku ini memiliki keluarga yang seperti ini"batin Aiden di diam menangis.
Medeia melirik ke arah Sea yang tengah menatapnya kagum tapi Medeia tampak cuek ia justru terburu buru pergi dengan alasan menyelesaikan proyek pembangunan sekolah.
__ADS_1
"Apa? Kau membuat sekolah? Dengan fasilitas terlengkap lalu kau bilang gratis? "Kesal Calista.
"Yang mengelolanya kan aku bukan lagi kau"ejek Medeia.
"Kau mau membuat keluarga kita bangkrut? Ibu lihat kelakuan cucu kesayangan mu ini, semakin lama dia semakin menunjak"ujar Calista tidak mau tau.
"Ini urusannya bukan urusan mu Clista everanto"ujar nenek dengan nada peringatan.
"Aku memiliki banyak koneksi kerajaan saja bisa ku hancurkan dengan mudah jika aku memang mau"ujar Medeia.
"Medeia bagaimana kalau kita jalan jalan di luar bersama? "Ajak Sea.
"Maa, pangeran aku akan kembali untuk mengerjakan proyek pembuatannya, ku rasa anda lebih tau betapa merepotkannya bukan? "Ujar Medeia tersenyum licik.
"Medeia apa kau sudah ingin kembali ke vila? "Ujar Aiden.
"Ya, ayah aku ingin mendiskusikan proyeknya dengan kalian semua"ujar Medeia memberi kode ke pengawalnya.
"Baiklah kalau itu ke inginan mu nak, ayah akan mengantar mu kembali"ujar Aiden berkharismatik.
"Hahahaha ayah yang paling mengerti aku"senang Medeia.
"Teman teman mari kita pulang"ajak Medeia.
"Oke, vila lebih adem"ujar Rika yang membanding banding kan.
"Kalau begitu, nenek kakek aku akan kembali dulu jika sekolah yang ku bangun sudah selesai aku akan mengundang kalian berdua untuk merayakanya.
"Aku akan menunggu hari bahagia ini, cucu ku tersayang"ujar nenek senang.
"Kau memang berhati emas"ujar kakek memuji.
"Kami undur diri, jaga diri kalian baik baik "ujar Medeia keluar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Medeia duduk di ruang tamu lelah setelah bersandiwara, mulai besok ia harus mengadakan rapat dengan direktur dari perusahaan di setiap negara.
"Eva, kenapa kau tidak berbicara di saat pesta tadi? "Ujar Medeia khawatir.
"Saya tidak pandai bersandiwara seperti mu ratu"ujar Eva menyeka keringatnya.
"Aku tau kau paling membencinya, setidaknya kau makan juga dong"ujar Medeia kesal.
"Aku mana mau makan makanan dari rumah itu meski pun aku mati tidak akan pernah memakannya"ujar Eva memaling kan wajahnya.
"Tenanglah, aku sudah tidak tertarik dengan masa lalu"ujar Medeia menatap kalungnya kembali.
Eva menghela nafas ia tahu betul karakter Medeia itu bagaimana.
"Yang benar saja ratu, mereka itu terlalu kejam, apa kau ingat saat jari jari anda di potong satu persatu karena memecah kan barang laki laki itu? Jika bukan karena aku yang menyembuhkannya dan meghilangkan ingatannya mana mungkin sekarang anda akan ada di sini dengan anggota tubuh yang utuh"ujar Eva berbicara tanpa henti.
"Apa itu perbuatan wanita tadi? "Dingin Aiden.
"Lupakan saja ayah, itu sudah berlalu"ujar Medeia menenang kan.
"Kau bisa memaafkannya tapi aku tidak akan membiarkannya hidup dengan tenang"kesal Aiden.
"Tenanhlah percuma membuang buang kekuatan aku ingin dia mati secara perlahan, aku sudah memiliki rencana, siapa pun yang membuat ku sengsara akan ku pastikan hidupnya tidak akan lama lagi, biar kan dia senang dulu"ujar Medeia.
"Ini barh keturunan ku"senang Aiden.
"Besok apakah aku bisa ikut ke kantor mu?"tanya Aiden.
"Mau apa kau? "Ujar Medeia merasakan firasat yang buruk.
"Anak ku ini kenapa kau berubah drastis? "Ujar Aiden mulai membuat drama.
"Sudahlah toh aku akan membawa mu kembali ke klan kalau kau menyusahkan ku"ancam Medeia.
"Hehehe, lihat saja aksi ayah mu yang tampan ini"senang Aiden.
"Akan ku tunggu"ujar Medeia tersenyum tipis.
__ADS_1