
Sudah 4 minggu kediaman Bliard terus memperketat keamanan, sama sekali tidak ada tanda tanda penyerangan dari pihak musuh. Tentunya hal ini memicu beberapa pemikiran dari beberapa pasukan.
Hal ini membuat Zilian pusing dengan protes dari Jadey yang terus mendesaknya untuk mengurangi pengawalan dan keamanan tapi Zilian terus menjawab hal yang sama bahwa peperangan tidak lama lagi akan terjadi.
Tentu saja Jadey semakin kesal karena alasan yang terus Zilian katakan padanya.
Di hari ini Jadey datang menemui Zilian yang sedang terduduk dengan wajah bengingnya. Jadey mengetuk pintu.
"Masuk" ujar Zilian.
"Kalau kau datang untuk menyuruh ku mengurangi keamanan maka kau hanya datang sia sia,sebaliknya pekerjaan mu malah tertunda bukan? "Ujar Zilian yang memainkan rambut panjangnya.
"Kali ini bukan hal itu, aku datang untuk mengkonfirmasi tujuan pengembangan alat pengintai" ujar Jadey memanggil Lause untuk masuk.
"Lause memberi hormat pada pemimpin" ujar Laose membungkuk hormat.
"Ada maksud apa lagi kalian? "Ujar Zilian yang berdiri mendekati Jadey dengan tatapan tajamnya.
"Aku berfikir untuk membuat beberapa teknologi canggih dengan menyalurkan kekuatan inti kedalamnya tapi aku dan Laose tidak memiliki pengalaman apapun di bidang alat seperti ini" ujar Jadey menjelaskan.
Zilian berfikir sejenak lalu kembali berjalan ke tempat duduknya.
"Aku memberi mu izin untuk mengembangkannya, beri tahu pada ibuku bahwa aku memberikan perintah untuknya dalam pengembangan alat ini" ujar Zilian.
"Baiklah, kalau begitu tentang peperangan yang kau maksud aku menemukan beberapa kejanggalan dari rekan tim pengintai, mereka sepertinya akan memulai peperangan sebentar lagi" ujar Jadey.
"Kejanggalan? "Tanya Zilian merasa aneh.
"Benar, aku tidak bertindak membunuh mata mata yang sudah dia tanam tapi lebih tepatnya aku ingin menguras informasi darinya tanpa membuat si pemimpin tidak menyadarinya, sayang sekali kau sama sekali tidak memberikan perintah untuk mengurangi jumlah keamanan" ujar Jadey kecewa.
"Aku sudah tahu maksud mu dari awal, aku menentangnya juga memiliki alasan. Rencananya aku akan mengetatkan keamanan dan memberikan celah pada pengintai musuh bergerak dengan mulus, jauh sebelum pengintai musuh masuk ke dalam kawasan ku aku sudah memberitahu pada mereka kecuali kau"
"Aku tidak mau mengundang peperangan yang tidak di perlukan dan melukai pasukan kita, tentu saja ada celah untuk kita membunuh mereka tapi tunggu ada waktu yang tepat kalian boleh bertindak sesuka hati "ujar Zilian santai.
"Bertindak sesuka hati? Lumayan juga lah bisa menggila "senang Jadey.
"Karena itulah tolong jangan membuat ku merasa terpojok karena pemikiran mu yang konyol" ujar Zilian menatap kesal pada Jadey yang membuang muka.
__ADS_1
"Tapi bagaimana jika rencana anda gagal? "Tanya Laose serius.
"Jika gagal aku masih ada rencana lain, aku memiliki kepercayaan diri yang tinggi bahwa rencana ku tidak akan gagal" Zilian menatap ke arah luar jendela.
Beberapa saat mereka bertiga asik membahas rencana seseorang dari tim regu pengintai. Jadey memukul pria yang masuk tanpa meminta izin padanya.
"Beraninya kau masuk tanpa mengetuk pintu! "Gertak Jadey.
"Maaf ketua, tim musuh datang menyerang di arah utara dengan ribuan pasukan boneka beracun dan beberapa pasukan keamanan tingkat tinggi" lapor pria itu menunduk takut.
"Cih, sepertinya sudah saatnya kita memberi perintah penyerangan" ujar Laose dengan wajah tegasnya.
"Kalau begitu, terserah pada kalian saja aku akan keluar jika situasi sudah tidak memungkinkan" ujar Zilian.
"Terserah, kau antar pesan pada regu tim penyerang untuk memberikan bala bantuan ke sana. Aku dan Laose akan ke sana menahan serangan musuh. Persiapkan tim medis" ujar Jadet yang keluar bersama dengan Laose.
"Selamat bertarung" gumam Zilian kembali menutup matanya melihat apa yang terjadi di kawasannya.
Di arah utara, Miyaku terus menggila bersama dengan boneka buatannya. Dia terus membuat ribuan boneka beracun dan terus menyuruh mereka untuk menyerang tanpa takut bonekannya di hancurkan.
"Akan kubunuh kalian! Jika aku mati aku akan tetap membawa salah satu dari kalian menemani ku" ujar Miyaku terus membuat boneka.
Kali ini boneka yang Miyaku buat berbeda dari yang dia buat tadinya. Boneka saat ini semakin membesar dengan tingkat kekuatan yang berbeda beda.
Di sisi lain Jadey masih sibuk menetralkan racun yang ada di bawah perlindungan Laose yang terus menembak dan menebas para boneka yang tidak ada henti hentinya menyerang kawasan bagian luar.
"Kalau begini kapan mereka berhenti menyerang?" kesal Laose.
"Jika mau menghentikannya maka carilah tubuh intinya" uhar Jadey yang menarik pedangnya dan membantu Laose berperang.
"Kalau begitu aku serahkan pencariannya pada mu, aku akan menahan mereka sampai tim bantuan datang" ujar Laose.
"Enak sekali kau berbicara, aku seorang diri mencari rajanya? Bisa bisa aku mati lebih dulu sebelum menemukannya. Luka dalam ku masih belum seutuhnya pulih jika melawan, aku tidak yakin akan menang" ujar Jadey.
"Kalau begitu tunggu Solydia dan rekannya ke sini" balas Laose yang mengeluarkan peledak peringatan pada tim lawan.
"Heh..... Bertahan saja sebisanya jika tidak memungkinkan maka mundurlah aku akan membantu mu menahan mereka. Jangan sampai terkena racunnya" ujar Jadey yang melompat ke udara melihat seberapa banyaknya boneka yang menyerang mereka.
__ADS_1
Lumayan lama mereka menahan mereka akhirnya tim penyerang bantuan datang dan membantu Jadey dan Laose bertarung.
Solydia menerobos kerumunan lawan dan memberikan perlindungan dan celah untuk tim medis membawa rekannya yang terluka kembali ke dalam kawasan.
Bagi Solydia memusnahkan mereka bukanlah hal yang sulit bagi Solydia yang ahli dalam bidang samurai di tambah dengan pengalamannya.
Solydia mendekati Jadey yang berusaha dengan sekuat tenaga menahan kerumunan boneka yang menggila.
"Kau kembalilah untuk memulihkan diri, luka dalam mu semakin parah takutnya kau tidak akan sanggung melawan yang sebenarnya" peringat Solydia yang membantu Jadey.
"Cih, aku adalah dokter mana mungkin aku menyerah? jika kembali maka akan memakan waktu lama, keburu mereka membunuh ku, dasar bodoh dimana kau menaruh otak mu? " kesal Jadey.
"Heh, kau yang bodoh. Jelas jelas sudah tidak sanggup tapi masih di paksakan "balas Solydia.
"Lebih baik kau membantu ku mencari pemimpin boneka ini dia sangat kuat aku seorang tidak mungkin bisa bertarung. Dia lebih unggul jika berada dalam pertarungan solo" ujar Jadey tegas.
"Baiklah. Aku ikut dengan mu tapi ingat untuk tidak memaksa diri ku sendiri untuk melawan jika memang tidak mungkin maka mundurlah biarkan aku yang maju "ujar Solydia.
"Berhentilah mengoceh, telinga ku sakit karena mu tahu! "Bentak Jadey menyerang ke arah Solydia yang langsung menahannya dengan pedangnya.
"Jika saja Leix atau Laurel ikut kita pasti bisa unggul dalam peperangan sayang sekali kedua bersaudara itu mengalami luka parah, oh iya bagaimana keadaan mereka? "Tanya Solydia.
"Sekarang kau semakin cerewet di banding saat pertama kali aku menemui mu di jepang" kesal Jadey yang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Baiklah, bagaimana kalau kau berubah menjadi elang sedangkan aku membantu mu menahan gerombolan ini? "Ujar Solydia.
Tanpa membalas Jadey langsung mengubah dirinya menjadi elang berukuran besar dan mencengkram kuat bahu Solydia dengan cakarnya.
"*Wanita ini mau membunuh ku yah? Cakarnya terlalu kuat! "Batin Solydia menahan sakit.
"Hehehehe..... Salah sendiri minta aku jaadi Elang, sekalian balas dendam" batin Jadey senang*.
Zilian yang menyaksikan kelakuan dua orang ini tanpa sadar tersenyum.
"Ku akui mereka lumayan kompak tapi sangat di sayangkan Solydia lumayan pandai dalam memprovokasi Jadey yang notabenenya emosian" gumam Zilian masih memantau mereka berdua.
Berlanjutttt.....
__ADS_1