
Rafaela membangunkan Zilian yang tertidur nyenyak di king zizenya dengan nyaman hingga melupakan waktu bahwa hari ini adalah hari pertamanya dalan bersekolah.
"Zilian! Hey bangunlah kalau tidak mau terlambat"Rafaela mengoyang goyangkan tubuh Zilian yang masih membuka matanya.
"ZILIAN!!! "Teriak Rafaela yang akhirnya membangunkan Zilian.
"Apaan? "Kaget Zilian menatap Rafaela yang menahan tawanya.
"Kenapa? "Tanya Zilian kebingungan meminta penjelasan pada Rafaela.
"Hehehehehe..... Sudah sana mandi nanti lambat ke gedung sekolah nih"
Rafaela mendorong Zilian masuk ke dalan kamar mandi dan mengunci kamar mandi setelah Zilian masuk.
Setelah beberapa menit Zilian keluar ia tampak begitu segar, ia mengeringkan rambutnya dengan santai sambil duduk di kasur yang sudah di rapikan oleh Rafaela.
"Nih seragam sekolah mu"ujar Rafaela yang selesai mengenakan seragamnya.
"Oh iya makasih, bareng ke sekolah yah, tunggu in"ujar Zilian bergegas mengenakan seragamnya.
Rafaela menunggu Zilian di sofa sambil membaca novel ke sukaannya.
Zilian keluar dan dengannya anggun menghampiri Rafaela yang menganga lebar melihat Zilian yang cocok mengenakan pakaian sekolah, ia tampak cantik dan menawan pikir Rafaela.
"Mau makan apa nih? "Tanya Zilian yang memegangi perut munggilnya.
"Apa ajah boleh kok"ujar Rafaela.
"Daging mentah? "Ujar Zilian iseng.
"Hah? "Kaget Rafaela.
"Canda kok, yuk ke meja makan aku yang masak"ujar Zilian menarik lengan Rafaela ke meja makan.
Zilian menuju lemari penyimpanan rotinya dan mengambil beberapa roti dan berbagai selai ke meja setelah meletakannya ke meja Zilian kembali ke dapur membuat telur ceplok.
"Hmmmm harum..... Oh iya mau susu atau jus yah? Bawa dua duanya ajalah repot amat"ujar Zilian membawa dua botol yang berisikan susu dan jus lalu membawanya ke meja.
"Nih udah ku olesi selai"Rafaela menaruh roti yang sudah ia buat ke piring Zilian dan mulai membuat roti untuk dirinya sendiri.
Zilian mengangguk "mau minum yang mana? "Tanya Zilian.
"Susu ajah biar sehat "senyum Rafaela.
Zilian menuangkan susu putih ke gelas Rafaela dan memberikannya lalu ikut duduk bersama menyantap makanan.
"Kamu udah tau kamu di kelas mana? "Tanya Rafaela dadakan.
"Em.... Aku belum kasih tau sih tapi udah ku minta kemarin malam sama kepala sekolahnya kalau aku sekelas sama kamu ajah"ujar Zilian masih memakan rotinya, ini roti kedua.
"Eh? Emanhnya bisa gitu? "Bingung Rafaela, setahunya kelas siswa akan di tentukan oleh para guru.
"Bisa kok kalau itu aku"senyum Zilian.
"Pasti ada alasannya"Rafaela menatap Zilian agar memberinya penjelasan dengan baik.
"Karena aku anak keluarga Beliard hahahahahaha...... "Tawa Zilian puas akan jawabannya sendiri.
"Hahahahaa... Dasar anak kolongmerat! "Tawa Rafaela.
"Kamu sendiri anak kolongmerat kan?! "Ujar Zilian menarik nafas .
"Ih udah deh, yuk ke kelas "ajak Rafaela.
"Ya udah deh"ngalah Zilian.
Mereka pun membereskan piring mereka dan segera pergi ke kelas mereka, di sepanjanh jalan Rafaela terus memberi tahu letak letak kelas dan beberapa ruangan yang memang tidak searah dengan jalan menuju kelas mereka.
"Btwwww kita kelas berapa yah? "Tanya Zilian.
"Kelas tiga semester dua "jawab Rafaela.
"Lah kok cepet banget yah? Kirain kelas pertama Sma? "Heran Zilian.
"Jangan jangan kamu nggak sekolah yah biasanya? "Tebak Rafaela dan memanh benar Zilian tidak tertarik dalam hal sekolah apalagi aktivitas yang sering di lakukan manusia.
"Uhukkk sebenarnya eh... Itu... Pernah tapi di keluarin kata guru nggak usah belajar otak ku udah kepenuhan ilmunya"alasan Zilian.
"Oh gitu yah? Bagus dong tinggal nyari kerja "senang Rafaela.
"Enak pala lu peang? bentar! "Ujar Zilian menatap penampilan Rafaela dengan seksama.
"Kenapa? Ada yang salah sama aku? "Bingung Rafaela.
"jelas banget kamu salah dalam hal berpenampilan, pasti bakal jadi bahan omongan, penampilan mu mulai dari rambut, cara memakai pakaian seragam dan yang utama kacamata mu terlalu mencolok bisa di bilang kamu terlihat seperti cewek cupu dan ahemmm nggak usah di terusin"ujar Zilian.
"Udah terbiasa kok nggak papa "rendah Rafaela.
"Nggak papa pala lu peang! Cewek kalau bilang nggak papa itu berarti ada apa apannya, eh mana kamar ganti olahraga? Anterin ke sana"pinta Zilian.
"Eh? Ya udah biar ku antar"ujar Rafaela.
Setelah mereka sampai di ruang ganti, Zilian menarik Rafaela masuk dan mulai memerhatikan kembali bagian mana yang perlu di perbaiki.
"Tutup mata"perintah Zilian.
"Mau ngapain? "Khawatir Rafaela.
"Nurut ajah di jamin aman kok"ujar Zilian menyakinkan.
"Ya udah deh, aku percaya "ragu Rafaela.
"Percaya kok masih ragu sih? "Cibir Zilian.
Zilian mengerakan jari jarinya ia memberi bentuk pada rambut Rafaela dan menyingkirkan kacamatanya lalu memuluskan kulit Rafaela.
"Bagus nih, natural banget eh bulu matanya di lentik kin deh"
Zilian mengerak kan tangannya dengan sangat pelan lalu memberikannya sedikit kekuatan pada mata Zilian yang memang katanya rabun jika tidak memakai kacamata.
"Udah"Zilian menyengir lebar di hadapan Rafaela yang tidak merasakan apa apa.
"Kok senyum senyum gitu? "Bingung Rafaela.
"Nih ada cermin liat deh baik baik"ujar Zilian mengarahkan cermin ke wajah Rafaela.
__ADS_1
Rafaela membelalakan matanya kaget akan penampilannya, bukan hanya itu ia malah tidak menggunakan kacamata.
Ia menatap Zilian khawatir kalau ini hanyalah mimpi, Zilian yang mengerti pun mengeleng gelengkan kepalanya menandakan ini adalah nyata.
"Bagaimana kamu bisa lakuin? "Heran Rafaela yang meminta penjelasan.
"Oh itu nanti kalau udah pulang ku kasih tau deh"senyum Zilian.
Rafaela yang masih di buat bingung hanya menunduk dan berusaha memahami situasi yang baginya seperti tidak nyata.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di dalam kelas Zilian dan Rafaela terus di kerumuni entah itu teman sekelasnya atau para siswa di kelas lain yang menghampirinya.
"Eh ini beneran Rafaela yang di kelas kita? "
"Masa ia? Bukannya dia itu si kutu buku? "
"Biasanya kan dia kek cupu cupu gitu? "
"Wah kamu dari mana? "
"Siswa pindahan yah? "
Di tengah kerumunan itu seorang guru menegur mereka untuk duduk di bangku mereka.
"Baik"ujar Helly memulai aba aba.
Setelah berdo'a mereka pun duduk diam mendengarkan nama mereka di sebut oleh guru itu.
"Hari ini kita kedatangan murid baru, tolong perkenalkan diri dulu"
Zilian berdiri dengan tenangnya ia pun mulai memperkenalkan diri "hallo semuanya nama saya Zilian Beliard mohon bantuannya yah teman teman "senyum Zilian lalu duduk kembali.
"Kyaaaaa manis banget cantik pula ya ampun"
"Iya, buset dah nggak nyangka ada cewek secantik ini"
"Tipe aku banget nih "
"Bisa temenan nggak yah? "
"Keknya dia ramah deh orangnya? Siapa tau bisa deket"
"Baik semuanya, kembali fokus minggu depan akan di adakan ujian semester dua kalian tahu setelah ujian semester ini kalian akan di hadapkan dengan ujian nasional saya harap kalian belajar dengan baik terutama siswa yang baru masuk jika ada kesulitan bisa melapor di kantor"
"Baik bu"
"Kalau begitu pelajaran hari ini buka halaman duaratus enam belas, jadi pelajaran ini bla bla bla bla"
Zilian menelengkupkan kepalanya ke meja ia benar benar tidak tertarik mendengarkan penjelasan apa pun ia cukup melihat buku saja dan merekamnya di dalam otaknya itu sudah cukup.
Akhirnya jam pulang pun berbunyi, Zilian dengan cepat menarik tas dan berlari kecil ke arah Rafaela yang tengah membereskan buku pelajarannya.
"Cepetan"ujar Zilian yang ikut membantu.
"Iya, sabar dong"
"Zilian tinggal di asrama mana? Bareng yuk? "
"Eh? Ini lagi ada urusan di kantor sama Rafaela kalian duluan ajah "ujar Zilian terus menyenggol lengan Rafaela.
"Aku bisa temenin kok"
"Nggak papa takut ngerepotin, duluan yah sampai ketemu besok"Zilian menarik paksa lengan Rafaela keluar dari kelas.
"Bentar Zilian itu buku ku... "
"Tinggalin ajah, besok balik juga kok"
Mereka berlari dari kelas ke asrama, Zilian membaringkan tubuhnya yang lelah karena berlarian tadi bersama dengan Rafaela yang kini mendengus kesal.
"Maaf yah"ujar Zilian menyesal.
"Iya deh nggak papa"ujar Rafaela yang ikut berbaring di dekat Zilian.
"Masih ingat nggak waktu pagi tadi? "Tanya Zilian.
"Iya inget, yang waktu di ruang ganti kan? "Ujar Rafaela memastkan.
"Iya, kamu percaya nggak kalau mahkluk astral kayak siluman itu ada? "
__ADS_1
"Percaya nggak percaya sih habisnya nggak pernah lihat langsung tapi perasaan ku bilang mereka bener bener ada tapi nggak tahu mereka tinggal di mana "jawab Rafaela.
"Kalau dia ada di depan kamu gimana? "
"Asalkan baik aku bakal nerima kok"
Zilian berdiri ia merentangkan tangannya ia tersenyum lembut ke arah Rafaela yang bingung karena tingkah aneh Zilian.
Beberapa saat ekor rubah Zilian pun muncul.
"K-kamu? "Kaget Rafaela.
"Iya, aku bukan manusia tapi siluman"senyuk Zilian.
"Beneran?! Huaaaaaa ekornya panjang banget ada sembilan lagi kek di novel yang ku baca! "Histeris Rafaela yang bangun untuk memeluk ekor Zilian.
"Hihihihi hahahahaha geliiiiii"
Zilian berubah ke wujud rubahnya, bau bunga Anyelir pun memenuhi kamar itu.
"Harummmm"ujar Rafaela.
"Seneng nggak? Ku kira kamu bakal kaget terus pingsang gitu atau manggil orang buat gebuk kin aku hahahaha"tawa Zilian yang masih berwujud rubah.
"Aku nggak sekejam itu Zilian"Rafaela terus mengenggam ekor Zilian gemas dengan bulunya yang begitu halus.
"Kamu dan keluarga mu sama? "Tanya Rafaela.
"Yap benar sekali, selain itu kamu percaya nggak dengan dewi bulan? Dia ibu dari ibu ku tepatnya nenek "ujar Zilian.
"Berhenti sekolah yuk? "Ajak Zilian.
"Eh? Tapikan keluarga ku bakal marah"khawat Rafaela.
"Tenang ajah kamu bakal kerja di group Royal Entertaimen kok nggak usah takut biar aku yang urus"ujar Zilian.
"Hemmmmm ya udah deh tapi aku tetep belajar yah? "Pinta Rafaela.
"Iya aku yang bakal urus itu kamu tenang ajah"
Zilian mengangkat Rafaela dengan sembilan ekornya ke udara terkadang Rafaela berteriak girang karena ke isengan Zilian yang terus melemparkannya ke udara.
Ia juga menunjukkan tentang kekuatannya dan memanggil sembilan rubah penjaganya, ia membuat angin, api, air, tanah, petir dan logam lalu menunjukkannya pada Rafaela.
"Rafaela"ujar Zilian.
"Iya? "Jawab Rafaela yang sibuk bermain dengan Aglia.
"Kamu udah tau kalau aku bukan manusia jadi bakal ku kasih tau deh kalau aku datang ke sini sebenarnya nyari kamu buat melindungi mu nggak tau mau lindungi dari aoa tapi nenek bilang gitu"ujar Zilian berterus terang.
"Jadi maksudnya aku ini bakal jadi tuan mu? "Tebak Rafaela.
"Iya"
"Hahahahaha meski pun tuan tapi kita tetep temen yah jangan manggil aku tuan loh kalau manggil tuan aku ngambek loh"ancam Rafaela.
"Ngambek ajah nanti nggak bakal lihat bulu ku lagi loh"ancam balik Zilian.
Seseorang mengetuk pintu jendela kamar Zilian, Zilian yang tau itu siapa pun segera membuka jendela dengam wujud manusianya.
"Ada apa? "
"Ibu ratu sudah tau anda telah menemukan tuan anda jadi sekarang anda di panggil ke mansion utama"
"Okey aku ngerti, beresin sisanya di sini"ujar Zili kembali menutup jendela.
"Udah saatnya kamu ikut aku Rafa"ujar Zilian membuat portal.
"Aku nggak bakal di bunuh kan? "Takut Rafaela.
"Nggak bakal kok, kamu kan tuan ku kakau kamu di apa apa in aku jamin mereka bakal ketemu ajalnya"
"Ya udah deh, soal sekolah? "
"Udah ku bilang kan tadi? Orang utusan ku bakal hilangin keberadaan kita di sini mereka bakal ngira kita dari awal itu nggak ada"ujar Zilian.
"Gitu yah... Gimana cara masuk di portal? "
"Kamu jalan santai ajah, anggep pintu "ujar Zilian.
Rafaela mengangguk lalu memasuki portal lalu di susul oleh Zilian.
Portal yang di buat Zilian menuju ke mansion utama.
"Selamat datang tuan dari cucu ku sang penerus"sambut Kaguya dan Celviona.
"Kamu sudah besar yah Zilian"ujar Hexilia dengan senyuman lembutnya.
"Tumben sekali anda datang ke mansion utama? "Tanya Zilian dengan tatapan dinginnya.
"Hey kau tidak ada bedanya dengan ibu mu itu! Sama sama menjengkelkan"kesal Hexilia.
"Langsung ke intinya! "Dingin Celviona.
"Hah.... Kau juga sama saja, argghhh ya sudah lah, menurut yang ku lihat di gambaran ini saat peperangan dulu seperrinya ada seseorang yang selamat dan kini entah di mana dia sekarang"ujar Hexilia.
"Kalau memang yang kau katakan benar, beberapa bulan yang lalu ini aku merasa ada seseorang yang menggunakan segel perpindahan jiwa, posisinya tidak terlalu jelas intinya dia berada di dunia manusia"ujar Kaguya.
"Ck, pasti ada yanh berkomplotan dengan mereka"ujar Medei yang tiba tiba muncul bersama dengan Veisha saudaranya.
"Mama ngerasa nggak aurahnya? "Tanya Veisha.
"Aku? Nggak ada tuh"pede Celviona.
"Kalau gitu dia sekarat dong"ujar Veisha dengan kesimpulannya.
"Ibu pikirkan saja bagaimana menghadapi mereka untuk kedepannya, sebaiknya kalian mengumpulkan pasukan takutnya mereka ada rencana lain"ujar Zilian yang selalu waspada.
"Kau juga lindungi Rafaela tuan mu itu, jika terjadi apa apa padanya maka kau selamanya tidak akan bisa merasakan emosi apa pun"ujar Veisha.
"Itu Salah satu syarat untuk menjadi tuan mahkota kehampaan dan mengaktifkan kekuatan gabungan itu"ujar Medeia yang menatap Zilian dengan tatapan sendu.
Zilian mengangguk mengerti pada Medeia yang sangat jelas kalau dia itu khawatir akan keselamatan anaknya.
^^^Tunggu part selanjutnya yah temen temen 😺😺😺😸😸😸😸^^^
__ADS_1