
Lima bulan yang tersisa untuk pergi ke dunia roh pheonik yang terkenal akan legendanya akhirnya datang di saat yang cukup menguntungkan bagi Medeia.
Tapi bagaimana dengan teman temannya yang ia tinggalkan di apartemen sekolah yang ia bangun dengan tujuan memerbanyak pasukan penyerang?
Semuanya hanya untuk menunggu datangnya hari di mana akan ada peperangan yang merugikan dan menguntungkan kedua belah pihak. Tidak ada yang tau siapa yang akan berkhianat di antara banyaknya kerumunan.
Aneh jika tidak ada yang menjadi mata mata di dalam sebuah organisasi seperti yang didirikan Medeia. Terkadang pengkhianat bisa saja berupa keluarga, temn ataupun kerabat teman.
Maka dari itulah medeia menghindari kepercayaan yang terlalu mengandalkan orang lain dan terus beransumsi bahwa yang harus ia andalkan tidak lain hanya dirinya sendiri. Karena jika Medeia mengganggapnya teralalu serius ia sendiri tidak akan bisa menahan rasa yang lebih pahit dari penderitaan manusiawi.
Perasaan itu tidak lain adalah 'kehilangan dan pegkhianatan' selain dari itu tentu saja akan ada rasa penyesalan yang akan mengakibatkan orang yang tersakiti merasa bersalah, menyesal dan mengundang datangnya rasa dingin yang tidak lagi ingin mempercayai siapa pun dan menutup sebelah pandangannya tanpa mendengar dan melihat dari sisi lain yang bisa mengatakan hal yang sebenarnya.
Medeia pergi ke negara Pheonix mencari keberadaan setengah batu itu, aneh benar benar aneh. Mengapa demikian?
"Ck, sepertinya mereka sudah pergi sehari lebih awal dari ku? Keluarlah! "Ujar Medeia tersenyum kecut.
"Kami tidak tahu kau akan melakukan seperti ini! Kami mengerti kau tidak akan melakukan sesuatu tanpa perhitungan apa pun, tapi setidaknya kau ceritakanlah"ujar Medusa.
"Kau pikir salah satu dari kalian akan mendengarkan omong kosong dari ku? Aku tau akan ada mata mata di sisi ku baik teman atai siapa pun itu! Aku hanya menghindari pertemuan dan penjalanan misi dengan kalian agar aku bisa tahu siapa dia sebenarnya"ujar Medeia berusaha untuk tidak membuat keributan.
Medusa mengertakan giginya melihat keputusan bodoh Medeia yang sama sekali tidak menguntungkan diri sendiri "dasar teman ku yang bodoh! Setidaknya kau percaya dengan ku kan? Aku tau kau tidak ingin merasakan hal lebih dari yang kau lakukan pada kami dulu, tapi kembalilah dan kerjakanlah tugas yang ingin kau lakukan bersama sama, siapa pun pengkhianat nanti lupakan dan anggap dia tidak lebih dari orang asing yang masuk dan mengacaukan segalanya"ujar Medusa.
"Khukhukhukhukhu..... Kau pikir aku akan mendengarkan ocehan mu? Dasar tukang coppy! "Ujar Medeia mengikat Medusa palsu dan membawnya ke kediaman Pheonix teman seperjeuangannya dulu bersama dengan Medusa.
"Heh.... Bodoh! Kau kira aku akan percaya? Medusa yang ku tahu itu kasar ****! Sesempurna apapun kau menyerupai wujudnya tapi kau tidak akan bisa menyerupai hati murni orang yang kau tiru! Akan ku serahkan pada Pheonix untuk hukuman yang pantas kau terima! "Kesal Medeia menyeretnya dengan rantai berduri biru di tengah kerumunan.
"Asal kau tahu! Orang bernama Medusa ini dan kelompoknya sudah datang dan mencari keberadaan mu! "Ujarnya berusaha mempropokasi tujuan Medeia.
"ku katakan pada mu, apa yang kau lakukan ini semuanya sia sia, ku beritahu yah. Meski mereka datang kemari, mereka tidak akan mencari ku karena mereka tahu kalau aku akan datang ke tempat yang sama nanti dan bertemu dengan mereka, apa yang ku lakukan itu tidam ada hubungannya, terlwbih lagi lari dari kenyataan itu bukanlah sifat ku"ujar Medeia memantapkan tekatnya.
"Buang buang energi saja menyeret sampah seperti mu!"
Medeia membuat portal waktu dengan kode kordinat yang sudah menjadi salah satu cara Medeia berhubungan dengan Pheonix yang kini menjadi pemimpin setelah peperangan bertahan hidup. Medeia mengirim orang yang ia tangkap menggunakan kode kordinatnya kepada pemimpin Pheonix.
Setelah selesai Medeia yang baru menyadari bahwa ia menjadi pusat perhatian kini hanya berjalan tanpa ekspresi, karena merasa terganggu Medeia terpaksa melepas energinya yang membuat seluruh wilayah kekuasaan Pheonix merinding dan mendapat perubahan cuaca massa buatan Medeia.
Pemimpin mereka menyadari bahwa ia mendapat pesan aurah dari teman seperjuangannya dulu, benar saja orang yang dikirim Medeia sampai tepat di depan tahta di mana Phwonix tengah duduk dengan bulu yang merinding.
"anak ini! Benar benar suka menjadi pusat perhatian yah!? Huh... Sudahlah pesan mu akan ku lakukan setelah selesai dengan urusan merepotkan nanti"ujar pemimpin Pheonix mengirim bulu berapinya ke Medeia sebagai tanda akses pemberiannya di wilayah kekuasaan sang Pheonix api.
Mencari ataran seluas ini menguras energi Medeia yang kini merasa kelelahan, ia mengabari sang Pheinix es untuk menemaninya.
"Yo teman terkasih dan terganas sekaligus"sapa Pheonix es.
"Jangan berpura pura dekat dengan ku"dingin Medeia.
"Asal kau tahu saja, aku ini bersikap sehangat ini hanya pada mu tahu"ujar Pheonix es yang mengerucutkan bibirnya.
"ASHAKA MARUZH VHENIK (SELAMAT BERTEMU VHENIK) "ujar Medeia.
"ASHAKA MARUZH MEDEIA MISX (SELAMAT BERTEMU TEMAN KU MEDEIA" Ujar Vhenik.
"Sudah lama kita tidak bertemu seperti ini "ujar Medeia.
"Benar bukan? Aku ini memang kesepian di istana es ku tapi tidak menutup kemungkinan aku tidak memiliki penduduk seperti yang kau kira dulu"ujar Vhenik.
"Tidak tahu kau ini ngaur dalam berbicara atau memang kau berkata jujur"ujar Medeia yang meremehkan Vhenik.
"Kyahahahhahahahahahaha....... Aku memang tidak bertarung dengan tujuan yang sama seperti kalian bertiga dulu, tapi alu hanya tertarik bekerja pada orang yang lebih kuat dari ku, yah satu satunya yang ku akui itu hanya diri mu, sang rubah dengan energi aneh"senang Vhenik.
"Bagaimana soal penduduk? Ingat baik baik, aku tidak suka di gantungin seperti ini! "Peringatan dari Medeia membuat Vhenik tersenyum kaku.
"Ya sudahlah, aku membuat klon yang menyerupai seperti diri mu, aku sudah memberi sebagian dari ingatan ku tentang diri mu, mereka akan mendengarkan perintah dari mu meski mengorban kan nyawanya sekali pun itu tidaklah masalah"ujar Vhenik berubah ke mode sifat dinginnya.
__ADS_1
"Dasar kau burung berhati dingin! "Ujar Pheonix api yang tiba tiba menyerang ke arah Vhenik yang tidak bergeming dari tempatnya bersama dengan Medeia yang berada di dalam api.
"Kau malah menunangkan minyak ke dalam api yang membara"dingin Vhenik.
"YO ASHAKA MARUZH SHEXIW MERYONIX (YO, SELAMAT BERTEMU SI EMOSIAN 'MERYONIX)
"Seperti nama mu, Meryonix dalam bahasa isyarat kita sang esmosi"ejek Medeia.
"Terserah kalian mau bilang.... Eh? Kenapa kau ada di sini? "Kaget Meryonix.
"Kalian boleh mengamuk"ujar Medeia.
"Seperti dulu, masi peka"bangga Vhenik.
"Yang harusnya bangga itu aku ****! "Matah Meronix.
"Mati saja kalian! "Serang klan manusia tanah.
"Sebanyak ini? Hahahaha mengalahkan ku dengan jumlah? Mimpi! "Ujar Vhenik tersenyum dengan mengangkat tangannya ke atas.
Salju berdatangan dan menyerang ke arah musuh dan membekukannya di area yang sudah di tentukan Vhenik, karena ia tidak suka dengan api maka tentu saja ia akan menyerang sekaligus membayar apa yang dia lakukan tadi.
"Kalian ini, berhentilah membuat ke gaduhan, kepala ku sudah pusing mencari batu akik itu, kalian malah malah bikin nambah"kesal Medeia mengunci pergerakan Vhenik.
"Sialana kau ini! Kau sengaja yah membuat ku membekukan si api itu lalu kau bisa se enaknya melakukan seperti ini? "Kesal Vhenik.
"Kalau ia kenapa? Kau ingin membalas pun tidak akan bisa karena jika kau menyerang ku itu sama saja dengan menyerang tubuh kalian sendiri"ujar Medeia memperlihatkan tanda yang ia buat.
"Memang benar rubah itu penuh akan akalan licik yang mematikan"ujar Vhenik.
Medeia menghancurkan bongkahan batu yang membekukan Meryonix yang tidak tahu akan kejadian yang di alami Vhenik. Sedangkan Vhenik tersenyum licik.
"Hei, kenapa mereka tiba tiba datang dan menyerang kita? Padahal sang pembuat juga tidak ada di sekitar sini? "Heran Meryonix.
"Kecuali memang ke inginan mereka sendiri"ujar Medeia.
"Apa maksud mu sih? "Bingung Vhenik.
"Tidak tahu mereka bergerak karena di kontrol atau atas keinginan mereka sendiri "ujar Medeia.
"Hal yang tidak pasti tidak perlu di lakukan, sesuai sifat mu bergerak sesuai situasi itu kini berguna untuk saat ini"ujar Vhenik.
Medeia mendekat ke salah satu batu yang cukup besar mengamati sekitarnya dengan teliti. Tentu saja sifat Medeia yang sulit mereka tebak memberikan seribu pertanyaan di benak mereka.
"Hn... "
"Sedang apa anak ini? "Ujar Meronix menatap datar ke arah Medeia dengan tenang. Meski terlihat tenang pikirannya sudah bertannya seribu kata.
"Kami tahu kau ini penuh perhitungan tapi gini gini juga kasih tahu dong"ujar Vhenik.
SYUHHHHHHHH~~
Tidak ada balasan. Medeia hanya fokus pada apa yang ia pikirkan tanpa memikir kan apa yang di pikirkan dua insan yang merasa terkacangi.
Setelah selesai mengamati, Medeia berjalan dengan ekspresi datarnya, meninggalkan dua orang yang mengikutinya tanpa pertanyaan lagi.
Berjalan menelusuri tempat yang sama berulang kali tanpa tahu apa yang akan di lakukan Medeia. "Yang benar saja kita berjalan di tempat yang sudah kita telusuri bersama ini maksudnya apaan sih? "Kesal Meronix.
"Haish.... Kalem dong esmosi"ujar Vhenik menghela nafas panjang.
"Hah.... Yang benar saja deh, melihat yang di lakukan anak ini membuat kepala ku pusing saja"ujar Meronix.
"Memimpin dengan mengandalkan kekuatan hanya akan membawa kehancuran dan malapetaka, akal sehat juga di perlukan untuk memimpin dengan bijak"ujar Medeia yang akhirnya berbicara.
__ADS_1
"Saat berbicara pasti akan ada teka teki mematikan ini lagi, aku tahu arti dari perkataan mu ini bukan hanya terdengar dari artian ucapan tadi bukan? Aishhh intinya artinya sangat berarti deh"emosi Meronix.
"Aku berbicara bukan dengan kalian"santai Medeia.
"Kyahahahahaha... Makan itu dasar anak esmosi"tawa Vhenik.
"DIAM!!! "Bentak Medeia menatap mereka dengan tatapan membunuh.
"Kau sendiri berisik"
"Aku tidak memiliki niatan untuk memghancurkan rumah kalian"ujar Medeia berusaha tenang setenag tenangnya.
"Kau berasal dari klan rubah, klan mu ini mulutnya tidak dapat di percaya"
"Oh? Mungkin tidak semuanya perlu di percaya"ujar Medeia.
"Mau menghancurkan rumah kami kan? Mengakulah kau dasar rubah busuk! "Serang mereka.
Medeia tidak melawan ia menerima serangan tanpa mempedulikan nyawanya, melihat Medeia yang sudah babak belur membuat manusia tanah itu berhenti dan membantu Medeia untuk bangun.
"Baiklah kau berhasil meyakinkan kami, tapi jika kau berkhianat maka jangan salah kan kami yang akan bersatu dan meledak kan diri di tempat ini"
"Terserah"ujar Medeia menyembuhkan dirinya sendiri.
"Aku tidak akan mengkhianati ucapan ku dan kepercayaan kalian, karena aku tahu rasanya di khianati baik ucapan sendiri atau dari ucapan orang kepercayaan"ujar Medeia dengan ekspresi datarnya.
"Tidak tahu kau berkata benar atau tidak karena ekspresi ku itu, asalkan kau tidak membuat ke gaduhan kami pun akan membantu mu jika kami bisa"
"Kau tahu di mana letak dari bagian batu ini? "Ujar Medeia.
"Heh... Kau bertanya pada orang yang benar, batu ini dulunya kami yang menjaga karena merekalah yang memberikan kami wujud ini, tapi melihat seseorang yang hampir bersatu dengan aurah batu itu, kami mempercayakannya pada orang itu, pergilah ke arah selatan ketika bertemu sungai ikutilah di mana arus itu mengalir maka kau akan menemukannya"
"Terimakasih, sebagai ungkapan pembuktian kalian berkumpul lah aku akan melakukan pembagian yang menguntungkan untuk bangsa kalian"ujar Medeia.
Seluruh manusia tanah yang memiliki wujud berkumpul mengelilingi Medeia yang berada di tengah sedangkan Meronix dan Vhenik berubah ke wujud burung dan terbang ke atas melihat apa yang akan di lakukan Medeia pada mereka.
Medeia mengangkat batu yang ia dapat bersama dengan teman temannya dulu, ia menyatukan energinya yang tidak terbatas ke batu itu dan batu itu menyalurkan energi yang ia terima menjadi energi kehidupan untuk para manusia tanah itu.
Selain itu batu itu menggunakan energi yang tersisa membangun segel pelindung yang hanya akan bisa di masuki jika para manusia tanah itu mengijinkan. Karena energi yans di salurkan oleh Medeia tidak berhenti, itu membuat segelnya semakin kuat.
Merasa kelelahan Medeia menghentikan penyaluran energinya pada batu itu yang akhirnya kembali ke genggaman Medeia dengan aman. Para manusia tanah itu memberi penghormatan pada Medeia yang memberikan mereka kehidupan yang abadi.
"Kalian tidak boleh merendahkan diri sendiri sampai seperti ini karena bagaimana pun kuat atau lemah. Kaya atau miskin, masyarakat atau pemimpin, bagi ku kita semua sama sama mahkluk yang memiliki kehidupan, tidak ada yang pantas kita rendahkan dan untuk kita lebihkan"ujar Medeia membuka hati yang paling buruk di antara mereka.
"Terimakasih tela menyinari bangsa ku"
"Aku akan pergi, jika suatu saat kalian dalam bahaya dua mahkluk yang ada di atas kita akan melindungi kalian"ujar Medeia tersenyum hangat.
"Entah mengapa kami merasa anda memberikan kami sesuatu yang lebih dari kehidupan abadi yang bahkan lebih berharga dari ini"
"Aku pun merasa ada yang aneh"ujar Medeia.
"Sepertinya ada yang salah terhadap diri anda, saya rasa ada sesuatu yang menahan kekuatan anda yang sebenarnya dan wujud anda entah mengapa terasa bukan hanya satu saja"
"Apa pun itu, aku tidak pedulu apa pun tapi entah menagapa tujuan awal ku menjadi agak melenceng"senyum Medeia.
"Selamat jalan pemimpim klan kami"ujar Mereka.
"Baiklah, jika aku tiada nanti kalian harus menjaga diri masing masing, karena perasaan ku memburuk"khawatir Medeia.
Mereka semua terdiam aurah yang begitu familliar agi mereka para manusia tanah membuat mereka semakin bertanya tanya dengan apa yang mereka rasa kan saat ini.
Akan kah apa yang terjadi di masa lalu ada hubungan dengan mereka atau tidak tergantung dari takdir yang akan mengaturnya, hanya tinggal menggunakan pemikiran untuk menganalisis apa yang akan terjadi untuk kedepannya.
__ADS_1