
Setelah pemilihan guru akhirnya Medeia kembali ke kamarnya, lagi lagi gangguan orang tidak di kenal itu kembali menghantuinya, dengan emosi yang memuncak Medeia membanting teleponnya dan menghancurkannya berkeping keping.
Suara hantaman dari ruangan Medeia mengundang teman temannya untuk datang dan memastikan keadaan Medeia yang setengah mati menahan amarahnya.
Yang ada di sana hanya memandang Medeia bingung, bagaimana tidak bingung dia sendiri baru masuk langsung menggila, sebabnya saja sampai tidak jelas begitu.
"Tenang dong "ujar Medusa yang kembali menjadi dirinya sendiri.
"Kalian kenapa kemari? "Tanya Medeia menatap mereka dengan wajah yang tampak begitu lelah.
"Akhir akhir ini tinggkah mu begitu aneh, apa ada masalah yang menganggu mu? "Ujar Cestania memastikan.
"Hanya masalah kecil, kalian tidak perlu ikut campur, fokus saja mengurus sekolah ini dan terimakasih sudah selalu ada di saat aku membutuhkan kalian dan menjadi teman yang dapat ku percaya"ujar Medeia tersenyum hangat meski ia merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi.
"Sudahlah, kami ini sudah tenang jika kau baik baik saja, sekecil apa pun masalahnya tetap harus kau diskusikan bersama kami kalau kau memang menganggap kami teman"ujar Cestania.
"Benar, kau pasti mengerti maksud kami bukan? Dasar rubah betina"ejek Medusa.
"Kalian pasti lelah, kembalilah aku juga ingin beristirahat"ujar Medeia berpura pura lelah.
"Anda pikir saya akan tertipu oleh jebakan anda? "Batin Eva.
"Aku akan menemani anda"ujar Eva.
"Baiklah, aku benar benar lelah untuk berbicara lebih dari ini"ujar Medeia pasrah membaringkan dirinya di kursi panjang yang ada di ruangannya.
"Melihat ini kami jadi percaya kalau ucapan mu tadi bukanlah ke bohongan"ujar Medusa yang akhirnya percaya.
"Kalau begitu kami keluar dulu, selamat beristirahat"ujar Lucas keluar bersama dengan yang lainnya.
Tidak lama setelah mereka pergi telepon ruangannya tiba tiba berdering, ia terpaksa menganggkatnya , sebelum menganggkat telepon Medeia sengaja membuat penghalang suara agar Eva tidak mendengarnya.
"Ada apa kau menelpon lagi? Ku mohon jangan ganggu aku"ujar Medeia benar benar lelah.
"Sepertinya anda kelelahan yah? Tapi tuan saya ingin berbicara dengan anda"ujarnya.
"Baiklah "pasrah Medeia.
"Hallo, apa kabar Medeia Beliard, lama tidak saling mengobrol"ujar orang itu.
"Jangan sok kenal dengan ku!!! "Ketus Medeia.
"Kalau begitu, buka laci di meja mu yang bagian pertama, kita lihat apa kau tidak akan mengenal diri ku ini"ujar orang itu penuh kepercayaan diri.
Medeia mengerutkan alisnya, ia merasa ragu untuk membukannya karena sedari tadi ia merasa terikat oleh aura benda yang paling ia takuti.
Tapi karena Medeia kelelahan, tanpa pikir panjang ia terpaksa membukannya dan alhasil.
"Maaf kan aku sudah membuat mu seperti ini, tapi tidak ada cara lain lagi, apa kau ingat aku pergi karena aku ingin melindungi mu? "Ujar orang itu dengan nada sedih.
"Kau! Reza! Apa yang kau ingin kan lagi dari ku?! "Tangis Medeia.
"Lepaskan kalung ini! Ku mohon aku takut! "Mohon Medeia.
"Asalkan kau datang kemari maka aku akan melepaskan segelnya, datanglah pada ku Medeia"ujarnya kali ini melalui teleportasi yang tengah berdiri di hadapan Medeia.
"Siapa kau! "Teriak Eva.
"Eva, jangan mendekat! Diam di tempat ini perintah"ujar Medeia dengan suara gemetaran.
"Yang mulia"tangis Eva.
"Baik aku akan memenuhi permintaan mu tapi ku mohon lepas kan dulu, aku benar benar takut, lepaskan ku mohon, kepala ku tidak bisa menahannya lebih lama lagi"pinta Medeia dengan tubuh yang tak berdaya.
__ADS_1
"Baik"
Kalung itu terlepas dari tubuh Medeia yang membuat Medeia terdiam, ia melihat Eva yang menangis ketakutan melihat Medeia yang juga terlihat tak berdaya dengan ketakutan yang menyelimutinnya.
"Maaf Eva, tapi kau tidak boleh terlibat, ingat semua yang terjadi di sini hanyalah mimpi saja, anggap diri mu mengalami amnesia, lupakan yang terjadi dan bangunlah tanpa mengingat apa pun, katakan pada mereka bahwa aku tidak ada "ujar Medeia mengjipnotis Eva yang kini terjatuh ke lantai.
Dengan berat hati, Medeia pergi bersama dengan Reza yang membawanya menuju portal dengan pelukannya. Dalam hitungan detik, mereka segera sampai di istana di mana Reza tinggal.
"Maaf membuat mu sampai setakut ini, apa kau merasa sakit? "Ujar Reza lembut.
"Tidak ku sangka orang yang ku anggap kakak ini ternyata begitu antusias menjadikan ku ratu yang sebenarnya"ujar Medeia.
"Kau adalah adik ku, meski kita beda klan dan wujud tapi bagaimana pun kau akan tetap adik tersayang yang akan selalu berada di hati ku"ujar Reza memeluk Medeia erat.
"Mengapa kau sampai melakukan hal ini pada ku? Kau tau kan kalung itu begitu menyakitkan baik fisik mau pun batin? Kau dengan gampangnya menggunakannya pada ku? "Ngambek Medeia.
"Kau tau aku ini bagaimana bukan? Aku sengaja melakukannya agar bisa memastikannya apa kau benar benar memiliki ingatan lain selain diri mu yang sekarang, orang itu juga mengancam ku tapi sayang sekali dia tidak akan bisa menyakiti mu"ujar Reza melepas pelukannya.
"Dia sepertinya begitu berpengaruh"khawatir Medeia.
"Sudah jangan di pikirkan, untuk sementara kau tidak boleh berhubungan dengan manusia dulu, kau dalam situasi tidak menguntungkan sekarang, jika kau memang ingin pergi ke pheonix maka kau harus memilih dua jalur yang akan dia berikan pada mu"ujar Reza dengan berat hati mengatakannya.
"Kapan dia akan kemari? "Ujar Medeia tidak karuan.
Reza tidak ingin Medeia khawatir karena rencananya akan gagal untuk datang ke kota Pheonix tapi dia juga harus memilih antara menyelamatkan nyawanya atau pergi ke sana tanpa wujud.
Ada hal buruk yang akan terjadi pada adiknya ini, mengingat dirinya adalah pemilik dari energi tidak terbatas yang telah terwariskan oleh seseorang sebelum dia, yah mungkin ini akan menjadi hal hal yang sulit untuk di lalui Medeia karena orang itu sepertinya akan tetap membawa Medeia pergi.
Melihat kakaknya ini tengah memikirkan sesuatu yang tidak di ketahui Medeia membuatnya marah dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Reza yang masih bengong memikirkan sesuatu dengan tampang seriusnya.
Medeia memutuskan untuk pergi berkeliling di temani oleh para pelayan yang menunjukkan jalan untuk Medeia. Dengan ramahnya Medeia mengajak mereka ke ruang cemilan untuk memakan cemilan bersama sama dengannya.
Para pelayan hanya tersenyum hangat melihat kepribadian Medeia yang ternyata sudah di ketahui apa maunya, anggap saja kepergok sama pelayan lagi ngambil permen tanpa melihat sekeliling.
"Kalau begitu, katakan pada tuan muda kalian bahwa aku sendiri yang akan pergi menemuinya, kalau dia melarang ku jangan salah kan aku sendiri yang bertindak"ujar Medeia penuh tekat.
"Tapi.... "
"Berani melawan ku? "Kesal Medeia menatap tajam pelayan itu.
"Baik saya akan menyampaikannya, kalian jaga nona muda saya akan pergi untuk menyampaikannya pada tuan muda"perintah kepala pelayan itu.
"Aku benci menunggu"ujar Medeia memperingati.
"Saya mengerti"ujar pelayan itu pergi meninggalkan Medeia dengan pengawasan para pelayan.
Karena sifat Medeia yang begitu plin plan ia tidak butuh izin untuk pergi kemana saja yang ia mau karena dia tidak suka terikat dengan apa pun yang dapat merugikan dirinya dan orang orang kepercayaannya.
Reza yang menerima laporan dari kepala pelayan hanya menghela nafas panjang, ia tau kalau Medeia akan pergi tanpa mendapatkan izin apa pun, sedari awal Reza sudah menduganya maka dari itu ia sengaja tidak menyulitkan Medeia, ia justru membawa seorang tentara hitam terkuatnya untuk membawa dan menjaga Medeia tanpa sepengetahuannya.
Dengan menggunakan teleport Medeia dapat sampai ke tempat tujuannya dengan bantuan penjaga bayangan milik kakaknya , tapi masuk tanpa izin di wilayah asing sama saja membawa nyawa ke tangan musuh.
"Anda telah memasuki wilayah kami tanpa izin dari ketua kami"ujar pelayan itu.
"Kalian mundur saja, aku di perintahkan langsung oleh ratu untuk menanganinya"ujar seorang wanita dengan wajah datar.
"Sial juga aku ini, ku akui kau ini memang kuat sama dengannya tapi apa hebatnya menjadi kuat? Sekuat kuatnya kau, aku tidak akan pernah mengakui kekalahan ku nantinya"ujar Medeia percaya akan dirinya.
"Kalau begitu buktikan, mungkin jika kau dapat mengalahkan ku, ratu mungkin akan memberi mu kesempatan untuk memberi mu akses masuk "ujarnya yang tiba tiba menyerang.
"Ck, jika bukan karena perasaan aneh ini, mana sudi aku menemui kalian"batin Medeia kesal.
Pertarungan di antara Medeia dan suruhan orang pemimpin wilayan ini akhirnya mengakibatkan kerusakan besar yang menghancurkan setengah bangunan wilayahnya.
__ADS_1
Tidak menyangka Medeia dapat di pojok kan dan berada pada di ambang kematian yang entah ia akan selamat atau tidak di tangan orang yang sama sekali tidak memandang apa itu nyawa.
"Huh... Serius deh, kau ini mau membunuh ku? "Tanya Medeia.
"Orang luar yang masuk di wilayah kami akan berakhiran mayat saja"datar wanita itu.
"Kau pasti tau wujud ku kan?hihihi"senyum licik Medeia.
Medeia menatap mata wanita itu dan membisik kan agar ia segera membunuhnya, ketika ia mengaktifkan senjatanya untuk menusuknya, Medeia mengganti posisinya menjadi sang pembunuh.
"Mati kau brengsek"ujar Medeia mengambil alih kendali senjata wanita itu.
CRATTTTTTTTT
Dengan akhir yang memuaskan Medeia berhasil membunuh wanita itu, tapi ia merasa ini terlalu mudah untuk di katakan hasil dari pertarungan.
"Kau menang, akan ku antar kau masuk menemui ratu kami"ujar wanita itu yang berada di belakang Medeia.
"Sudah ku duga kau tidak akan semudah itu ku tangani, meski dengan nyawa taruhan sekali pun aku tidak akan mudah mengalahkan mu "ujar Medeia mengacungkan jari jarinya.
Karena pertempuran tadi membuat tubuh Medeia melemah hingga membuatnya kembali ke bentuk awalnya yaitu Rubah.
Kemampuan lain Medeia adalah berasal dari penciumannya yang tajam yang dapat menganalisis kebohongan dari lawannya, makannya tadi dia sengaja menusuk tubuhnya saja dan melepaskan rohnya yang ada di tempat dimana ia di serang setelah itu ia kembali menyatukan luka tubuhnya dan menggabunggkannya kembali.
Setelah berjalan menelusuri bangunan yang penuh akan jebakan ia akhirnya sampai pada bangunan yang tertutup penuh akan kain putih dan merah yang di mana dia beristirahat.
"Akhirnya aku dapat memastikan bahwa itu benar benar kau"ujar wanita itu.
"Hihihihihihi"tawa Medeia.
"Lucu juga, perasaan ku mulai meningkat ketika mendengar suara menjijikan ini, kau tau apa tujuan ku bukan? "Ujar Medeia dengan tatapan tajamnya.
"Agresif sekali, tapi kau ada di dalam wilayah ku, sebaiknya kau tidak membuat ke gaduhan dengan kondisi fisik mu ini"peringat wanita itu dengan aurah yang lepas.
"Ck, aku tahu jadi cepatlah katakan aku ini siapa? "Kesal Medeia dengan mata melototnya.
Wanita itu terdiam sejenak, melihat Medeia yang menatapnya dengan tatapan yang tajam dengan aurah membunuh seperti dirinya yang dulu.
"Jika aku menyuruh mu memilih antara kekuasaan mu atau orang itu, apa yang akan kau pilih? "Nada bicara wanita itu berubah menjadi nada sedih yang mampu menusuk perasaan terdalan setiap orang yang mendengarnya tetapi beda halnya oleh Medeia yang hanya berdiri tegar tanpa tergoyahkan.
Medeia dengan wajah datanya menjawab tanpa berfikir bahwa orang yang dia katakan telah tertangkap dan mendengarkan semuanya dari awal.
"Apa yang ku pilih bukanlah urusan mu "dingin Medeia dengan senyumannya.
"Kalau begitu, apa yang ingin kau ketahui akan kau ketahui pada saat terakhir setelah kau bertemu dengan kakakmu dan menyatukan kembali batu yang kau cari dan setelah peperangan itu terselesaikan, ku harap di saat itu kau dapat mengatakan jawaban mu"ujarnya dengan suara menyerak.
"Sepertinya aku ini cukup keras kepala, baiklah a ku tepati tapi ku harap kau tidak akan kecewa akan jawaban ku nanti"ujar Medeia percaya diri.
"Antar dia kembali ke Reza jangan sampai aku berubah pikiran"dingin wanita itu.
Setelah pelayannya mengantar Medeia kembali pria itu keluar dengan tatapan dinginnya kecewa akan apa yang ia dengarkan tadi.
"Apa kau akan terus berpura pura amnesia? Ingat perjanjian mu pada ku, nyawanya kini tergantung dari pilihan mu jika kau salah memilih dia akan benar benar musnah dan mahkluk abadi lainnya juga akan terlupakan dan bumi ini akan hancur saat itu"tangis wanita itu.
"Aku tahu, tapi bagaimana pun semuanya tergantung rasa kepercayaannya pada ku dulu atau rasa kebenciannya pada ku setelah ia mengingatnya kembali, hanya perlu memilih itu bukanlah masalah besar"ujar pria itu putus asa.
"Kau adalah kematian kau akan tetap hidup meski nantiya dunia ini akan hancur! Suku mu akan tetap hidup! Tapi bagaimana dengan kami? Kau benar benar kejam! "Bentak wanita itu.
"Kau berdiri di pihaknya bukan berdiri di pihak ku! "Kesal pria itu.
"Dari dulu kau hanya tahu menipu kami para roh abadi! Kau sampai membuat sahabat ku menderita dan mengidap kutukan mematikan itu! Dasar kau sialan! "Teriak wanita itu.
"Kau akan mengerti pada saatnya nanti, selain kutukan yang ia terima aku aku pun mendapat dua kutukan, salah satunya tidak dapat mengatakannya jika aku mengatakannya aku akan musnah dan kau tau akibat jika aku musnah bukan? "Tanya pria itu mengingatkan wanita itu.
__ADS_1
"Ketidak seimbangan"