Kisah Ratu Rubah

Kisah Ratu Rubah
PART 12 : RENCANA PERTUNANGAN


__ADS_3

Medeia meregang kan tubuhnya, terasa badannya kaku terus terusan berbaring di kasur, dua orang menyebal kan itu memaksa Medeia untuk terus beristirahat padahal lukannya sudah sembuh.


"Ayah terus saja memaksa ku seperti ini lebih baik ku suruh saja dia kembali ke klan saja"ujar Medeia dengan wajah datarnya.


"Sayang ku, bagaimana ke adaan mu? Apa sudah mendingan? "Ujar Aiden menghampiri Medeia dengan senyuman hangatnya.


"Aku berjanji tidak akan mengambil keputusan yang membaya kan nyawa ku, mending di sayat pisau saja dari pada terus berbaring tanpa bergerak sedikit pun"datar Medeia.


Aiden tertawa, ia merasa istrinya ini berada di dalam jiwa Medeia, sifat dan kepribadian mereka semuanya mirip.


"Ayo makan dulu, oh iya kau akan tinggal di dunia manusia? "Tanya aiden menyiap kan makanan untuk Medeia.


"Aku sudah terbiasa, soal putra mu itu dia sudah ku angkat menjadi penerus klan meski aku tahu darah keturunan klan ada pada ku"ujar Medeia memakan sarapannya.


"Kenapa kau tidak ingin menjadi penerus klan kita? "Ujar Aiden menatap Medeia yang masih makan.


"Aku benci pertengkaran, di sana terlalu ribet, lagi pula jika aku menjadi penerus klan aku akan menjadi terus mendapat banyak masalah"


"Tujuan ku hanya ada satu menyatukan kembali keluarga kita yang terpecah belah dan menghancur kan musuh yang berniat menyakiti klan ku dan manusia"ujar Medeia mengebrak meja dengan keras membuat meja itu hancur lebur bersama dengan makanan dan lantai yang menjadi rata.


"Ayah merasa dejavu"ujar Aiden berkeringat dingin.


"Hari ini aku akan ke kantor, ku saran kan untuk mu kau lebih baik kembali ke klan membantu putra mu itu jangan sampai dia terluka, jika dia mati jangan harap aku bersedia menganti posisinya"dingin Medeia berjalan meninggal kan ruang makan dengan suasana hati kesal.


"Hai Medeia apa kabar mu? "Sapa Rika.


"Minggir"kasar Medeia.


Rika terdiam memaku melihat temperamen Medeia yang berubah delapan puluh derajat, sepertinya dia berada dalam mode iblis penghancur.


.


.


.


.


.


.


.


Medeia duduk di ruangan kantornya memikir kan masalah soal manusia yang memiliki kekuatan, apa tujuan mereka memberi kekuatan ke manusia seperti mereka padahal manusia ini mungkin akan mati tidak seperti Medeia yang bisa hidup beribu ribu tahun sekali pun.


Satu hal yang selalu mengganjal di kepalanya soal perasaan yang tidak asing, seberapa keras pun Medeia mengingatnya itu juga sia sia.


"Maaf menganggu ada rapat klien sekarang"ujar Eva mematah kan situasi.


"Batal kan"dingin Medeia.


"Mereka ini klien penting di perusahaan, mereka sudah berteman lama dengan keluarga klan everanto kita"ujar Eva memaksa.


Medeia menatap Eva dengan tatapan mematikannya ia tidak mau tau acara apa yang harus Medeia lakukan itu tidaklah penting.


"Baik saya mengerti"ujar Eva yang keluar dari ruangan dengan nafas berat.


DRTTTTT


Ponsel Medeia berdering, ia mengangkat telpon dari nomor yang tidak ia kenal dengan nada ketuasnya, Medeia menjawab telpon itu.


"Aku sibuk, berhentilah menelpon ku jika tidak ada yang penting "ketus Medeia ingin menutup telepon.


"Tunggu ini aku..... "


Sebelum orang itu melanjut kan pembicaraannya Medeia sudah duluan mematikan saluran telpon dengan kasar lebih tepatnya menghancur kan ponselnya.


"Sepertinya ratu di buat kesal, entah apa yang membuatnya sekesal seperti ini"batin Eva ketakutan.


"Sialan, siapa sebenarnya dia mengapa begitu akrab tapi juga terasa asing"teriak Medeia kesal setengah mati ia menjambak rambutnya sendiri saking kesalnya.


"Apa tujuannya membangun manusia seperti mereka? Apa tujuannya sih? Merepot kan, jika aku mengetahuinnya akan ku bunuh kau"marah Medeia.


Medeia memijat batang hidungnya ia di buat pusing dengan sosok misterius itu, kepalanya se akan ingin meledak.


Setelah berdebat dengan akal nuraninya dan keinginan duniawinya, akhirnya Medeia memutus kan pendapatnya dengan kepala dingin


"Aku akan mengumpul kan orang orang yang memiliki kekuatan seperti Chaiden dan melatih mereka"ujar Medeia tiba tiba tercerah kan.


Medeia mencari cari ponselnya di segala tempat tapi tidak dia temu kan hingga akhirnya Medeia mengingat kalau dia baru saja menghancurkannya.

__ADS_1


"Ehemmm Eva tolong kau hubungi semua pekerja bangunan tinggkat atas untuk membangun sekolah universitas, usaha kan semua bahannya langka dan berharga"ujar Medeia bersikap tenang.


"Hanya sekolah untuk apa anda ingin membuatnya semewah itu? "Bingung Eva.


"Kerja kan saja, apa susahnya sih"kesal Medeia kehilangan ketenangannya.


"Jangan lupa kata kan semua perusahaan yang mengundang ku ke acara mereka untuk tidak menunggu ku, kata kan saja aku sibuk"dingin Medeia.


"Baik, terserah anda ratu"ujar Eva menarik nafas beratnya.


Medeia kembali mengerja kan denah sekolah itu dan bentuk sekolahnya bagaimana nantinya ia juga membangun apartemen gratis dengan fasilitas termewah yang pernah ada.


Setelah selesai Medeia kembali membuka layar laptoopnya dan mencari lahan yang sesuai dengan luas denah sekolah.


"Hallo ini dari pihak lahan bangunan, ada yang bisa saya bantu? "Ramah karyawan dari seberang.


"aku akan membayar 20 miliar untuk tanahnya, proposalnya akan sampai di sana setengah jam lagi"ujar Medeia langsung ke inti.


"B baik, terima kasih ini atas nama siapa? "Tanyanya dengan mata uang.


"Ceo muda group royal" ujar Medeia seadannya.


"Maaf sudah langcang kami akan menjamin kualitasnya anda tenang saja nona"ujarnya senang.


"Bagus, laku kan dengan baik"puas Medeia menutup saluran telpon.


Karyawan itu meloncak kegirangan "kyaaak aku berbicara dengan nona Medeia, pertanda baik akan segera datang pada ku"ujar karyawan itu senang setengah mati.


Setelah menghabis kan waktu yang lama di kantor akhirnya Medeia kembali dengan ke adaan lesuh dengan mata menyipit di karena kan kurang istirahat.


"Setan bikini batom"teriak Aiden mengheboh kan se isi apartemen.


"Apa kau benar benar ayah ku? Kini aku meragu kan status mu sebagai ayah ku"ujar Medeia mengancam.


"Maaf sayang ku, lagi pula kenapa kondisi mu seperti ini seperti arwah gentayangan yang kelaparan selama ribuan tahun"ejek Aiden.


"Sudahlah, aku ingin mengerja kan proposal ku dulu, jika tidak ada yang penting aku akan kembali ke ruang baca"ujar Medeia berjalan masuk.


"Anak ini"ujar Aiden menghela nafas panjang.


RUANGAN BACA MEDEIA


"Kalian ini punya nama tidak? "Ujar Medeia mengerja kan proposalnya.


"Tidak"ujar mereka bersamaan.


"Bagaima jika aku memberi kalian nama? "Ujar Medeia menatap mereka yang tengah sibuk membaca buku sejarah.


"Terserah"ujar mereka kembali bersamaan.


"Haish.... Oke kau rambut merah bernama lucas dan kau berambut hitam campur biru bernama kelvin"


"Mulai sekarang nama ini adalah nama penhubung ikatan kita"ujar Medeia sombong.


"Sebentar sebelum itu aku lupa menanyak kan sesuatu, sebelumnya kau kan sangat membenci ku nah sekarang kau mengikuti ku sekarang, apa kalian memiliki niat jahat? "Ujar Medeia dengan nada membunuh.


"Niat jahat memang tidak ada tapi niat memanfaat kan masih ada"ujar Lucas.


"Sama saja"datar Medeia.


"Kalian tidak ada tujuan lagi yah? "Tanya Medeia masih memeriksa Proposolnya.


"Kami merasa kau itu tidak asing dengan orang yang kami kenal, mungkin saja kau adalah kerabat dari orang yang kami kenal"ujar Lucas menaruh bukunya.


"Aku juga merasa aneh sejak bangun dari kejadian itu, bagaimana pun aku tidak mau tau intinya apa yang terjadi di masa lalu bukan lagi urusan ku"ujar Medeia tidak peduli.


"Aku memutus kan ikut denga mu itu karena ingin mencari tahu indentitas mu, kekuatan mu ini terasa sangat aneh"ujar Lucas.


"Terserah kalain mau apa, aku juaga tidak merasa keberatan jika kalian mau mengikuti ku tapi ingat jangan membocor kan indentitas ku dan yang paling penting jangan sampai kalian membuat ku kecewa"dingin Medeia.


"Baiklah"singkat Lucas.


"Aku ingin pendapat kalian soal proposal ku, setelah selesai datang lah ke taman vila tengah jika kaliab sudah selesai berdiskusi"ujar Medeia meletak ka proposalnya di depan Lucas.


"Orang ini, tanpa persetujuan pun ia masih berani menyuruh orang lain, bagaimana kalau aku akan menghancur kan proposalnya"batin Lucas.


"Oke"


Medeia berjalan keluar dari ruang baca menuju taman tengah vilanya ia bermain ayunan yang ada di tamannya dengan sambutan sunar matahari yang akan tenggelam di arah barat.


"di mana kah diri mu ibu? "Tangis Medeia.

__ADS_1


"Ini salah ku karena tidak bisa menjadi lebih kuat seperti mu, jika saja aku mendengar mu untuk tidak berhubungan dengan Kei sialan itu, mungkin semuanya tidak akan terjadi" ujar Medeia nenyalah kan dirinya.


"Percuma menyalah kan diri seperti itu, itu juga tidak akan menyelesai kan masalah"ujar Chaiden yang datang secara tiba tiba.


"Kenapa kau ada di sini? "Kesal Medeia meyeka air matanya.


"Mencari ketenangan"jawab Chaiden singkat.


"Oh"ujar Medeia tak kalah singkat.


Medeia terdiam sejenak memikir kan masalah yang ia alami ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk mencari keberadaan ibunya.


"Hei, mr, dingin menurut mu aku harus mulai dari mana untuk mencari keberadaan ibu ku? "Ujar Medeia menatap matahari terbenam secara perlahan.


"Pikir kan dengan baik masalah yang terjadi di masa lalu dengan teliti lalu simpul kan dengan otak mu, percuma kau memiliki kemampuan aneh seperti itu jika pemiliknya bodoh, itu akan melahir kan generasi yang mungkin tak kalah bodohnya"ujar Chaiden memain kan ponselnya.


"Kau ini, aku iti serius tau"kesal Medeia.


"Apa yang ku kata kan tadi itu juga serius"ujar Chaiden menatap Medeia yang menatap matahari denagn kesal.


"Gadis ****, coba pikir kau memiliki kekuatan yang tidak terbatas begini berbeda halnya dengan ayah mu, jika di kihat mungkin ini ada sangkut pautnya dengan manusia seperti ku"


"Aku memiliki kekuatan yang aneh menyesuai kan kepribadian ku, jika ada yang bisa melakukannya bukan kah itu juga menyangkut paut kan ibu mu yang memiliki kekuatan yang sama seperti mu? "Ujar Chaiden percaya diri.


"Mengapa kau tidak mencurigai aku? Mungkin saja aku adalah pelakunya kan? "Tanya Medeia.


"Apa otak mu tidak bekerja? Dasar kau gadis **** jika memang kau yang melakukannya bukan kah itu sudah jelas? Dari awal kau tidak akan bekerja sama dengan kami"kesal Chaiden.


"Intinya jika memang bukan ibu mu yang melaku kan ini semua pasti ada orang lain selain kau dan ibu mu" lanjut Chaiden menghela nafasnya.


"Kenapa kau begitu yakin? "Ujar Medeia, ia tidak bisa berfikir dengan jernih untuk sekarang pikirannya benar benar di buat kacau.


Lagi lagi Chaiden menghela nafasnya ia mengernyit kan dahinya, bagaimana mungkin orang yang duduk di sebelahnya ini tiba tiba **** bahkan ini lebih dari penderitaan untuk Chaiden.


"Argh kau ini, apa masih belum mengerti? Aku ini salah satu dari manusia yang memiliki kekuatan yang sama dengan manusia lainnya, lagian aku memiliki perasaan yang aneh terasa ada ingatan yang menghilang"


"Firasat ku selalu benar, satu satunya yang ku ingat hanyalah ketika aku berusia 12 tahun ke atas aku melihat kedua orang tua ku di bunuh oleh Kei sejak saat itu aku masuk ke organisasi, anehnya aku tidak ingat apa apa lagi sejak usia di bawah 12 tahun"ujar Chaiden sibuk memikir kan kejadian semasa kecilnya.


"Ibu ku memang sadis tapi dia memiliki hati yang lembut, dia itu orangnya benci untuk mengeluar kan kekuatannya hanya dengan urusan seperti ini, jadi mana mungkin kan ibu ku yang melakukannya? Lagian dia sudab menghilang sejak lama"ujar Medeia tersenyum kecut.


"Tenanglah sekarang kau tidak sendiri, jika di ingat ingat kau sepertinya lupa berpamitan dengan seseorang"ujar Chaiden mengigat kan.


"Siapa? "Bingung Medeia.


Chaiden menjentik kan jarinya dengan senyunan isengnya.


"Sialan kau Medeia kau ini tidak pernah menghargai rekan mu yah! Kau tidak menghormati ku! Aku sih tidak apa apa tapi kakak ku, kau berhutang untuk ini"kesal Meisya.


"Susahlah dik, jika bukan dia yang bertarung habis habisan mungkin aku tidak akan ada di sini,Medeia maad kan kelakuannya yang tidak tahu etika ini"kesal Meira.


"Siapa yang tidak tau etika? Bukannya kau yah, kau meninggal kan aku dengan alasan ada hal penting yang ingkn kau laku kan dan meninggal kan tanggung jawjawab sebesar ini pada ku? Sekarang siapa yang tidak tau etika! "Bentak meisya


"Baiklah, Medeia ku tutup dulu yah sepertinya akan ada tsunami jumbo yang akan menimpa dunia manusia"ujar Meira langsung menutup aliran energi.


"Sialan kua Meira! Untuk apa kau mengobrol dengan ku kalau aku hanya menyimak dan mendengar kan pertengkaran yang merugi kan ini? "Kesal Medeia menghentak kan kakinya.


"Kau tidak tahu apa yang terjadi nanti"ujar Chaiden menahan tawa.


"Ada apa dengan mu tn, dingin? "Ujar Medeia penasaran.


"Lihatlah" ujar Chaiden kembali menjentik kan jarinya.


Tidak lama setelah itu mereka di penuhi tawa, seketika tamab yang tadinya tanpa suara kini di penuhi ledakan tawa.


"Hihihi, teruslah berkelahi kalian akan hihihihi terkena hukuman dengan adik kecil Ku, yah meski agak kesal sih di kata kata in tapi hasilnya lumayab menghibur hihihihi"tawa Medeia lepas.


"Hahahaha, adik mu ini meski terlihat imut tapu sebenarnya bermuka dua" ujar Chaiden tertawa kecil.


"Nona Medeia anda di perintah kan kembali ke kediaman everanto malam ini, anda harus tiba sebelum jam delapan malam"ujar Eva yang tiba tiba muncul.


"Kenapa mereka memanggil ku untuk kembali? "Bingung Medeia.


"Jika bawahan yang saya perintah kan tidak salah informasi dia mengatakan bahwa mereka merencana kan perjodohan nona.


"Apa? "Kesal Medeia.


"Lebih baik anda datang saja dulu"ujar Eva.


"Baiklah, beri tahu dia bahwa aku akan sedikit terlambat"ujar Medeia santai.


"Baik"

__ADS_1


__ADS_2