Lay With The Devil

Lay With The Devil
Prolog


__ADS_3

Sarah Ayuasmara, lajang berusia 27 tahun yang merupakan sulung dari tiga bersaudara. Lulusan S1 keuangan dan sekarang sedang membangun karirnya di sebuah perusahaan besar. Sudah tiga tahun mengabdi diperusahaan itu, PT. AntiQ Jaya.


Bergerak dibidang properti dan barang antik, perusahaan ini merupakan satu-satunya yang masuk kedalam urutan Perusahaan dengan aset terbaik dan terbanyak, yang berasal dari Indonesia.


Jaka Sanjaya, bungsu dari lima bersaudara. Memiliki tiga kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki yang kini menetap di Amerika. Ia memiliki pekerjaannya sendiri selain menjadi karyawan magang di perusahaan ayahnya. Karna keluarga Sanjaya sangat kuno, silsilah keluarga mereka juga sangat jarang terekspos. Hanya pernikahan Melisa, anak sulung keluarga Sanjaya saja yang pernah jadi perbincangan publik karna pernikahannya dengan bule Australia bernama Steve.


Setelah Melisa, ada Kirana, kemudian anak laki-laki pertama, Indra. Setelah itu Citra dan terakhir Jaka. Perbedaan umur mereka sangat tipis, sekitar satu atau dua tahun. Tapi, perbedaan umur Citra dan Jaka lumayan jauh, sekitar tujuh tahun. Jadi, banyak yang mengira kalau Jaka bukan salah satu anak dari keluarga Sanjaya.


Sarah memiliki darah campuran Jerman yang cukup kental. Kakeknya, Rudolf Clay dalam perjalanan dagang saat bertemu neneknya, Ayuningtias Dewi. Walaupun begitu, hanya bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang bisa dipahami Sarah. Bahasa Jerman nilainya tiga. Cukup memprihatinkan.


Sarah Ayuasmara, ditahun pertamanya bekerja di PT. AntiQ Jaya, merupakan seorang Admin Logistik. Memasuki tahun ketiganya, ia kemudian meminta agar dipindahkan ke bagian Financial karna ada kedudukan yang kosong sesuai dengan ijasah S1 nya. Setelah menunggu hampir tiga bulan, posisi itu diberikan padanya. Bekerja sesuai pendidikan itu memang lebih enak dan terasa nyaman. Paling tidak hal itu yang ada dipikiran Sarah.


Jaka Sanjaya, seorang Direktur Emerald Auto diusianya yang masih muda, 35 tahun. Sudah pernah menikah dan hanya bertahan selama dua bulan. Kehidupan pribadinya seperti "disembunyikan". Ia bukan orang yang suka bersosialisasi. Satu-satunya tempat selain rumah yang sering dikunjunginya adalah kantor.


Rumah Keluarga Sanjaya


Sambil mengaduk kopinya, Tuan Ismail Sanjaya memperhatikan penampilan anak bungsunya sekali lagi.


"Mau disembunyikan bagaimanapun, bapak tau kalau itu kamu, Jak...", jelas Tuan Ismail yang usianya akan memasuki akhir enam puluhan.


Jaka terkekeh.

__ADS_1


"Dari bayi, kamu itu kami yang urus sendiri... bukan pengasuh atau bibi-bibi mu...",


"Bagaimana kalau panggil Sudir, tukang kebun yang baru sebulan kerja itu... apa dia bisa kenalin wajah 'baru'mu ini...", usul ibunya, Nyonya Ningsih sambil memangku kucing Maine Coon kesayangannya, Bulbul. Kucing itu menguap.


Usul itu masuk akal. Ia kemudian meminta asistennya Paul, untuk memanggil Sudir.


...


"Dir... berapa bulan sudah disini?", tanya tuan Ismail pada tukang kebunnya basa-basi.


Dengan wajah menunduk, Sudir menjawab seperlunya


"Satu bulan enam hari tuan...",


"Ia tuan. Sudah... kecuali yang di luar negeri...",


"Kalau bapak ini, kamu kenal?", tanya tuan ismail menunjuk Jaka yang duduk di depannya sekarang.


Sudir memperhatikan orang itu dengan seksama. Sambil mengerutkan dahi orang itu menggeleng.


"Belum tuan... tapi posturnya mirip-mirip tuan muda Jaka ya... tapi wajahnya itu gak mirip sih...", Sudir coba menjelaskan.

__ADS_1


Nyonya Ningsih terkekeh. Tuan Ismail hanya mengangguk-angguk.


"Ya sudah... kembali kerja sana... terima kasih atas pendapatnya...", tuan Ismail menjawab.


Satu hal yang dipelajari Jaka dari bapak nya. Jangan malu berterima kasih pada orang lain walaupun jabatan kita sudah sangat tinggi. Dan apa yang dikatakan bapaknya itu, benar-benar ia terapkan.


"Selama ini kamu tampil dengan ciri khas mu, yaitu brewok yang acak-acakan itu. Ibu senang kamu membuangnya, walaupun dengan alasan penyamaran ini. Tapi ibu yakin, karyawan bapakmu tidak ada yang akan mengenali jika kamu menambahkan sedikit lagi kesan lain dalam penampilanmu besok...", Nyonya Ningsih menyuapkan sebutir biskuit kucing pada Bulbul.


"Kan ini keinginanku juga bu... Sudah terlampau jauh kejahatan orang-orang yang berani bermain di perusahaan bapak. Tidak boleh dibiarkan. Semoga dalam waktu paling lambat dua bulan, orang nya sudah tertangkap ", Jaka melepas kaca mata yang merupakan bagian dari penyamarannya. Ia kemudian ikut menyantap makan siang yang baru selesai disajikan dihadapannya.


.


.


.


.


Nantikan kelanjutan episode nya ya... Jangan lupa like & komen. Supaya Saya makin semangat!


Kamu juga boleh ikut merangkai alur ceritanya loh...

__ADS_1


Kalau menarik, bisa jadi bagian cerita ini ya teman-teman 😉


__ADS_2