
Jaka meneguk kopi yang ia beli. Ia menunggu Sarah yang menyusun barang-barangnya. Mereka akan pindah dari kamar hotel itu ke apartemen milik Jaka.
"Sekali lagi aku harus berterima kasih padamu. Menyelamatkanku kesekian kalinya...",
"Entahlah. Mungkin kau harus membayarnya suatu hari nanti...",
Sarah merasa pipinya memerah. Ia berpaling dan melanjutkan dengan kopernya.
"Apa itu sudah semuanya?",
"Yeah... hanya dua baju dingin. Dan yang ini akan kubawa ke loundry...",
Jaka bangkit dan membuang gelas kopi kosongnya ke dalam tong sampah. Ia kemudian mengambil alih koper dari tangan Sarah.
"Ayolah... Kita akan terlambat makan siang dengan klien ku. Kalau kau tidak keberatan, kau bisa menjadi asistenku untuk saat ini...", Jaka menjelaskan. Ia tau semua itu hanya trik agar wanita itu tidak jauh-jauh darinya. Agar wanita itu tidak terlibat masalah lebih ekstrim lagi.
"Eemm... baiklah, Pak... Tapi... kalau boleh, saya mau menghubungi orang tua saya dulu... Saya ingin memastikan apakah mereka baik-baik saja...",
"Tenang saja, sudah ada beberapa orang yang saya suruh mengawasi mereka. Tidak akan ada yang berani mengganggu mereka. Lagi pula, semua sepak terjang Indra sudah saya laporkan pada Pak Ibrahim. Jika beliau mau, ia bisa menyeret anaknya itu kembali ke Indonesia dan berdiam di sana... Ia membuat terlalu banyak masalah...", jelas Jaka.
Sarah merasa lega sekaligus tidak enak.
Ia masih mengikuti langkah kaki Jaka. Ia masih tidak yakin apa benar semua masalahnya selesai.
Jaka menghentikan langkahnya. Sarah yang tidak melihat kedepan menabrak punggung orang itu.
"Eh, sorry...", jelas jaka saat berbalik menghadap Sarah "Ini, Seseorang di klub itu yang bernama James mendapatkannya dari Margo. Ia memberikannya padaku.",
Sarah tersenyum lebar saat menerima ponsel itu.
"Kau sebahagia itu?",
"Aku ingin menghubungi keluargaku. Aku juga ingin selfie dan menyimpan memori selama berada di sini. Jarang-jarang aku bisa kesini... Oiya... Setelah pertemuan dengan klien nanti, apa aku boleh pergi ke suatu tempat?", Sarah bertanya pada Jaka karena hanya orang itulah yang bisa ia andalkan saat ini.
"Ke tempat wisata? Tidak masalah. Tapi aku akan ikut...",
__ADS_1
Sarah terdiam.
"Oke... tapi aku bukannya ingin ke tempat wisata, aku ingin mengunjungi keluargaku... Entahlah... sudah lama, aku juga tidak tau apa ia masih tinggal disana...",
"Kau punya keluarga disini?",
"Ya... Saat sekolah dasar, aku pernah tinggal dengannya selama dua tahun...",
"Baiklah, setelah selesai dengan klienku, kita akan pergi berkunjung...",
°°°
Sarah tidak menyangka kalau Jaka akan membelikannya dua setel gaun hanya untuk bertemu dengan kliennya siang ini.
"Ini mahal sekali Pak... Satu saja...", Sarah berusaha menolak. Tapi ia tau kalau penolakannya sia-sia.
"Yang satu lagi simpan saja. Mungkin aku akan mengajakmu kencan. Kalau kau tidak keberatan", jelas Jaka dengan nada suara yang agak berat. Tampaknya ia sendiri mengucapkannya dengan susah payah.
Sarah sendiri memerah mendengar penjelasan blak-blakan Jaka.
°°°
Jaka mengatupkan rahangnya.
"Kau... tidak pernah terlihat secantik ini saat di kantor",
Sarah tertunduk.
Mengapa orang ini semakin blak-blakan?
"Saya menggunakan kemeja. Bukan gaun...", jawab Sarah semampunya.
"Kurasa bukan karna hal itu...", dengan mengumpulkan keberaniannya, Jaka mengulurkan tangannya pada wanita dihadapannya itu.
Sarah menyambutnya tanpa ragu-ragu.
__ADS_1
°°°
Sarah terkesan dengan kemampuan berbisnis Jaka. Ia heran, mengapa dengan usianya yang sematang ini, ia belum menikah lagi. Ia juga tidak habis pikir bagaimana bisa wanita yang dulu jadi istrinya, menghianatinya begitu saja. Sejauh ia bekerja dengan tuan Ibrahim, ia tidak pernah mendengar berita negatif tentang Pak Jaka.
Jaka yang sedang membahas masalah proyek tebaru Emerald Auto dengan koleganya itu, terlihat begitu profesional. Padahal seperti yang ia beritahukan pada Sarah, kolega baru nya ini adalah teman SD nya.
"Maaf Pak, saya permisi ke toilet...", Sarah meminta ijin.
"Saya juga", ucap wanita yang di ajak Pak Robert. Wanita itu adik dari Pak Robert yang luar biasa centil. Dari tadi hanya memperhatikan Pak Jaka dan dengan terang-terangan berusaha menggodanya.
°°°
"Hei... Kau asisten Mr. Jaka kan... Apa dia sedang singel? Dia tipeku banget...", Tanya Angel dengan bahasa Indonesia yang lumayan fasih.
"Eeemm, well... dia singel sih. Tapi kurasa kau bukan tipenya...", jawab Sarah dengan pasti "Maaf... saya permisi...",
"Apa kau juga menginginkannya? Kau asistennya kan? Kalau kerja yang profesional lah...",
Sarah menghentikan langkahnya yang baru akan masuk toilet nomor tiga. Ia agak jengkel dengan kata-kata wanita itu.
Oke, sedikit iseng tidak akan membunuh siapapun...
"Baiklah kalau kau begitu penasaran... tapi jangan bilang Pak Robert ya.... Saya tunangannya Pak Jaka. Kami kemari dalam rangka menemui keluarga saya...", jelas Sarah diiringi dengan senyum kemenangan "Dia tidak ingin teman-temannya disini tau, karena ia sedang banyak urusan juga. Ia tidak ingin ditodong untuk melakukan party... you know lah...",
Hihihi... biar tau rasa...
Wanita itu terlihat jengkel. Ia kemudian meninggalkan Sarah yang juga mengacuhkannya.
Ehm, maaf ya Pak... Habisnya wanita itu sangat menyebalkan...
♡
♡
♡
__ADS_1
bersambung....